PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Sang Bodhisattva Siddharta Gautama.


__ADS_3

Meng Ling dan Tong Liung masing-masing mencari di setiap tempat, dari tempat tidur, kursi, dan setiap sudut kamar.


"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Meng Ling.


"Aku tidak menemukan apa-apa! Mungkin tidak ada apapun dari bagian tubuhnya yang tertinggal di kamar ini!" jawab Meng Ling.


"Kita cari lagi dengan teliti, siapa tahu kali ini kita menemukannya!" kata Tong Liung.


Mereka kembali mecari dari awal dan kali ini lebih teliti dan memeriksa secara seksama agar tidak ada yang terlewatkan.


"Ini apa?" tanya Tong Liung saat menemukan benda aneh.


Meng Ling segera menghampiri Tong Liung dan ikut melihat benda yang di temukan oleh Tong Liung.


"Ini mungkin sayap serangga kecil! Ah lupakan saja, ayo cari lagi!" kata Meng Ling kemudian dia kembali memeriksa di tempat yang lain.


Tong Liung sama sekali tidak bergeming, dia tetap memperhatikan benda yang menurut Meng Ling adalah sayap serangga.


Bentuknya seperti sayap serangga berwarna hijau dan sangat kecil, namun masalahnya benda tersebut lebih tebal dan tidak cocok untuk di katakan sebagai sayap.


"Sepertinya ini adalah sebuah kulit kuku! Namun kenapa berwarna hijau?" batin Tong Liung.


Biasanya kuku juga memiliki lapisan luar yang bisa terkelupas jika kuku tersebut mati atau terluka. Kuku yang mati atau terluka biasanya akan mengeluarkan lapisan luarnya sebelum akhirnya seluruh kukunya akan terlepas dari jari dan akan di ganti dengan kuku yang baru.


"Meng Ling, apa kamu yakin jika ini adalah sebuah sayap serangga?" tanya Tong Liung yang masih memperhatikan benda tersebut.


"Memangnya kamu kira apa?" Meng Ling justru balik bertanya sambil tetap mencari-cari di berbagai tempat.


"Ini seperti kulit kuku bagian luar yang terkelupas, mungkin saja ini adalah kulit kuku She Chin yang terkelupas saat selesai berlatih tanding dengan Fu Shen saat itu!" kata Tong Liung.


Meng Ling menghentika pencariannya dan kembali menghampiri Tong Liung untuk kembali melihat benda tersebut.


Meng Ling memungut benda tersebut dengan sebuah kain dan dia melihatnya dari dekat untuk memastikannya lebih teliti.


"Mungkinkah? Jika benar ini adalah kulit kuku nya She Chin, maka ini sudah lebih dari cukup!" kata Meng Ling.


"Dengan ini berarti kita bisa membuat Mayat Hidup nya bukan?"


"Jangan terlalu berharap, aku akan menyimpan ini hingga aku benar-benar sudah siap untuk melakukan nya!"


Tong Liung terlihat sudah tidak sabar sehingga dia kembali mendesak Meng Ling, "Sampai berapa lama? Kamu tahu kekuatan kita saat ini sudah menurun, jadi lakukan lah lebih cepat agar kekuatan Pertapa masih ada di aliran kita!" kata Tong Liung.


"Aku tahu, namun apa gunanya jika Ritual ku saja masih belum sempurna, yang ada hanya kegagalan saja! Jadi bersabarlah, nanti aku akan membangkitkan dua Pertapa sekaligus!" kata Meng Ling.


"Dua katamu! Siapa satunya?"


"Memangnya siapa lagi? Di aliran kita hanya ada dua pendekar yang memilki kekuatan Pertapa bukan?" kata Meng Ling.


"Tidak mungkin! Apakah yang kamu maksud adalah...!"


"Tepat sekali, dia adalah Fu Shen! Aku berhasil mendapatkan bagian sisa tubuhnya saat menyusup dan menyamar di Kerajaan Bumi Barat!" kata Meng Ling.


Tong Liung benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya, dia benar-benar tidak menduga jika Meng Ling sudah berpikir akan hal ini lebih jauh dari nya.


"Selama ini kau menyembunyikan rencana sebesar ini dari ku!" kata Tong Liung.


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini dari mu, hanya saja semuanya belum siap, dan aku juga tidak berencana ingin membangkitkan orang yang memilki kekuatan Pertapa, Namun sejak kematian Fu Shen, saat barulah aku memiliki ide," kata Meng Ling.


"Butuh berapa lama kamu untuk menyempurnakan ritual mu itu Meng Ling?" tanya Tong Liung.


"Tidak bisa di pastikan, ritual ini membutuhkan banyak energi, butuh banyak stamina yang dibutuhkan, belum lagi banyak persyaratan yang dibutuhkan, jadi kemungkian membutuhkan waktu sekitar Enam Purnama lagi untuk menyempurnakannya!" kata Meng Ling.

__ADS_1


"Itu tidak lama! Jika begitu aku akan sabar menunggu hingga Enam Purnama lagi, namun sebelum itu aku akan meminta kepada semua Sekte Aliran Hitam untuk menutup diri hingga Enam Purnama lamanya!" kata Tong Liung dan kemudian dia pergi keluar kamar dan di susul oleh Meng Ling.


***


Seluruh Sekte Aliran Putih dan Netral juga sama terkejutnya seperti Sekte aliran Hitam atas kematian She Chin dan Sekte Kalajengking Merah yang sudah di ambil alih dan berganti nama menjadi Sekte Penakluk Kegelapan.


Mereka tidak tahu apakah orang yang mengambil alih Sekte tersebut orang jahat atau orang baik.


Begitu jug dengan ke-empat Kerajaan yang ikut terkejut atas kematian She Chin, bagi mereka She Chin adalah seorang Pendekar Pertapa yang aktif akan urusan dunia, tidak seperti para Pertapa lainnya yang akan muncul jika ada kekacauan.


Semuanya berencana untuk bersatu dan mengetuk satu-persatu pintu Sekte-sekte aliran hitam sebelum mereka kembali menjadi kuat, namun mereka masih bingung dengan satu Sekte, yaitu Sekte Penakluk Kegelapan.


Sekte Penakluk Kegelapan adalah Sekte baru, namun kekuatannya melebihi kekuatan Sekte-sekte besar manapun.


Jika Sekte Penakluk Kegelapan adalah Sekte aliran hitam, maka mustahil rasanya untuk menyerang Sekte tersebut.


Jika Sekte Penakluk Kegelapan adalah sekte aliran Putih, itu juga mustahil karena seluruh anggotanya adalah mantan dari Sekte aliran hitam, di tambah lagi dengan Lima Hewan Iblis yang memilki kekuatan Pertapa.


Namun sudah hampir satu bulan tidak ada pergerakan ataupun yang lainnya, walau beberapa orang sempat melihat beberapa anggota Sekte Penakluk Bayangan yang berubah hingga 70 derajat.


Karena itu mereka beranggapan jika Sekte Penakluk Kegelapan adalah Sekte Aliran Netral, walau belum sepenuhnya di putuskan.


Mereka semua sibuk akan lahirnya Sekte baru yang di pimpin oleh seorang gadis, tanpa mereka sadari jika bahaya yang sebenarnya juga baru saja terlahir kembali.


Di Dunia lain dimana letaknya sangat jauh sekali galaxy Cincin Bintang, Ye Shi sedang terpana dengan tubuh batu She Long.


She Long berhasil memindahkan Jiwa nya ke tubuh Ming Zai. Kini She Long sudah memiliki tubuh baru, bahkan dia tidak lagi seperti yang dulu, seluruh tubuhnya utuh sebagai manusia dan bentuk tubuhnya tebentuk lebih berotot dari tubuh Ming Zai yang dulu.


"She Long, aku sama sekali tidak merasakan kekuatan dari dalam tubuh mu! Apakah cara ini berhasil?" tanya Ye Shi yang sama sekali tidak merasakan energi dari dalam tubuh She Long yang baru.


"Ini berhasil Ye Shi! Seharusnya kamu juga memindahkan jiwa mu kepada manusia seperti ku! Memang kamu tidak akan bisa merasakan seberapa besar kekuatanku, namun perlu tahu jika kekuatanku saat ini berada di atas kekuatan para Dewa, bahkan Cao Yuan sekalipun sudah bukan tandinganku!" kata She Long sambil melihati telapak tangannya sendiri.


"Bagaimana dengan Dewi Kegelapan? Apa kita akan menangkapnya lagi agar kembali kepada kita?" tanya lagi Ye Shi yang teringat kepada Qie Yin.


"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" tanya lagi Ye Shi.


"Ancaman terbesarku saat ini adalah Dewi Kegelapan, jika dia masih berada di pihak kita, maka kekuatan kita tidak akan ada yang bisa menandingi, namun jika dia sudah tidak berada di pihak kita, maka dia adalah musuh terbesar, dan aku harus membunuhnya sebelum kekuatannya pulih sepenuhnya!" jawab She Long.


"She Long, aku ingin melihat sebesar apa kekuatanmu saat ini! Tunjukkanlah padaku!"


She Long tersenyum tipis kemudian dia mengangkat satu jarinya keatas dan muncul bola kecil bercahaya merah.


"Bola energi Api Matahari ini mampu menghancurkan satu dunia, bahkan kahyangan sekalipun bisa musnah hanya dengan bola energi kecil ini!" kata She Long kemudian dia menjatuhkannya ketanah tempat mereka berdua berada.


She Long menjentikkan jarinya dan kemudian bola perisai segera tercipta dan membungkus mereka berdua.


Bola energi kecil merah masuk kedalam tanah dan kemudian tanah tersebut mulai retak dan retakannya melebar kemudian menjalar menjalar keseluruh dunia tersebut.


Semuanya terjadi karena bola energi kecil tersebut meledak di dalam tanah dan ledakannya membuat dunia tersebut juga akan ikut meledak.


Tidak butuh waktu lama bagi dunia tersebut untuk meledak karena saat cahaya dari dalam tanah keluar, dunia tersebut juga meledak dengan daya kejut yang sangat dahsyat sehingga dunia tersebut lenyap dari alam semesta.


Kini hanya perisai bola energi saja yang melayang di alam semesta, sisa dari ledakan dunia tersebut, dan di dalam perisai She Long dan Ye Shi sedang menyaksikan dunia tersebut hancur dan lenyap hanya dalam waktu singkat.


"Hebat, jika hanya satu bola energi sekecil itu saja mampu melenyapkan satu planet, bagaimana jika yang lebih besar lagi?" tanya Ye Shi.


"Jika yang lebih besar lagi, maka Nirwana sekalipun juga bisa hancur!" jawab She Long.


"Luar Biasa! Nanti aku akan meminta She Chin untuk mencari orang yang memiliki Pusat Roh Elemen Petir untuk aku gunakan juga!" kata Ye Shi.


Ye Shi tidak tahu jika di tempat She Chin tidak ada pendekar yang memiliki Pusat Roh Elemen Petir kecuali Chinmi, namun itu tidak akan mungkin karena saat mereka bertemu dengan Chinmi nantinya, dia mungkin juga sudah berubah dan mungkin saja sudah lebih kuat.

__ADS_1


Namun ada satu tempat yang tidak di ketahui oleh Ye Shi dimana tempat itu memiliki banyak pendekar yang memiliki kekuatan petir, Yaitu di dunia tempat Ho Chen berada.


Masalahnya tidak semudah itu dia bisa membuat kekacauan disana, karena disana masih ada Hanzi dan Wang Dunrui, dengan kekuatan mereka berdua saja sudah cukup untuk membuat Ye Shi terluka.


"Ayo kita secepatnya kembali ke Galaxi Cincin Bintang!" ajak Ye Shi.


"Sabarlah Ye Shi, aku ingin menikmati kekuatanku ini sebentar!" kata She Long.


"She Long, bagaimana jika sampai Cao Yuan menemukan kita?" tanya Ye Shi.


"Cao Yuan? Aku sudah tidak takut lagi jika harus bertemu dengan Cao Yuan maupun muridnya itu, jika perlu aku akan melenyapkan mereka sekarang juga!"


She Long dengan mengarahkan telapak tangannya kearah salah satu meteor yang terbang kearahnya, dan dengan sekali dorong, sebuah energi keluar dari telapak tangannya dan menghantam meteor tersebut hingga hancur menjadi debu.


"Aku tidak meragukan itu, namun bagaimana dengan para Bodhisattva, apakah kamu juga bisa mengalahkan mereka jika beberapa dari mereka juga ikut turun tangan?"


She Long langsung berhenti bergerak saat Ye Shi menyebut para Bodhisattva, bukannya dia tidak sanggup melawan salah satu dari mereka, namun jika yang datang tiga atau sampai lebih dari itu, maka mustahil baginya untuk bisa menang, bahkan satu Bodhisattva saja hanya bisa mengimbangi dan bukan mengalahkannya itu menurutnya.


"Kalau begitu kekuatan ku yang ini saja belum cukup mampu untuk melawan lebih dari satu Bodhisattva!" kata She Long sekaligus di belakang kepalanya muncul bundaran berwarna hitam bagai gerhana matahari.


Ye Shi terkejut saat melihat itu, kali ini dia juga merasakan kekuatan She Long, "Kekuatan Dewa Agung..!" seru Ye Shi.


"Iya ini adalah kekuatan Dewa Agung, namun ini masih belum cukup untuk bisa mengalahkan Bodhisattva, jika untuk mengimbanginya mungkin aku masih bisa!" kat She Long kemudian dia menghilangkan energinya.


"Kamu benar Ye Shi, seharusnya kita kembali dulu, sebelum aku benar-benar siap untuk menguasai seluruh alam semesta, sebaiknya aku lebih berkonsentrasi untuk memiliki kekuatan yang mampu mengalahkan Bodhisattva!" kata She Long kemudian dia meniupkan angin kedepan.


Sebuah lingkaran berwarna merah muncul dihadapan mereka berdua, itu adalah lingkaran portal milik She Long.


"Mari kita kembali untuk menemui She Chin!" ajak She Long kemudian mereka berdua segera masuk kedalam Lingkaran Portal untuk kembali Ke Sekte Kalajengking Merah.


***


Di Dunia Nirwana dimana Tempat para Bodhisattva berada, dua manusia sedang duduk di hadapan Sang Bodhisattva, dia adalah Siddharta Gautama salah satu Bodhisattva yang memiliki Enam Cahaya di tubuhnya yang memilki warna yang berbeda yaitu Jingga, Biru, Merah, Putih, dan Kuning.


Ho Chen dan Chinmi mendapat Bimbingan dari Siddharta Gautama akan mensucikan diri sekaligus mempelajari beragam kitab Sutra Budha dan membimbing mereka berdua untuk mempelajari Dharma.


Di samping itu mereka juga di ajarkan Filsafat sehingga pengetahuan mereka berdua semakin luas.


Jika biasanya seseorang berlatih untuk menjadi lebih kuat dan mencapai ketingkat yang lebih tinggi, namun yang di ajarkan oleh Siddharta Gautama adalah berbagai pencerahan dan pengetahuan antara Hidup Keabadian, Welas Asih, Dan masih banyak ajaran lainya.


Cao Yuan juga duduk di belakang mereka berdua dan ikut mendengarkan semua pencerahan suci dari Sang Bodhisattva.


Awalnya Cao Yuan hanya mengira jika Chinmi hanyalah manusia yang memiliki Takdir memiliki kekuatan Dewa, namun ternyata dia adalah salah satu murid dari Siddharta Gautama dan Chinmi juga adalah guru Cao Yuan di masa lalu.


Murid Siddharta Gautama sangat banyak dan Chinmi adalah salah satunya, sebelum dia terlahir sebagai Chinmi dia bernama Xin Jing Zi.


Xin Jing Zi di hukum bereinkarnasi ke berbagai dunia karena telah berani melindungi Dewi Kegelapan saat sedang menyerang Nirwana, dan sudah tidak terhitung berapa Reinkarnasi yang sudah di jalani oleh Xin Jing Zi.


Ho Chen juga sama seperti Cao Yuan yang tidak menduga jika Chinmi di kehidupan sebelumnya adalah murid Sang Bodhisattva.


Namun masalahnya, Chinmi sama sekali tidak ingat akan hal itu sehingga dia merasa tidak nyaman setelah Cao Yuan bersikap hormat padanya.


"Jangan memikirkan masa lalu, jangan memimpikan masa depan, konsentrasikan pikiran pada saat sekarang! Seperti orang lain di Alam semesta, Pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti! Seberapa banyak kau mencintai, Seberapa lembut kau menjalani hidup, dan seberapa ikhlas kau melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untukmu." kata Sang Bodhisattva Siddharta Gautama.


Chinmi duduk bersila dengan memejamkan matanya dan mendengarkan pencerahan dan Bimbingan dari Sang Bodhisattva.


"Pikiran terwujud sebagai kata! Kata itu terwujud sebagai perbuatan, perbuatan itu berkembang menjadi kebiasaan, dan kebiasaan mengeras menjadi karakter! Jadi perhatikan pikiran dan jalannya dengan hati-hati, Dan biarlah itu muncul dari cinta. Lahir dari kepedulian terhadap semua makhluk, saat bayangan mengikuti tubuh, Seperti yang kita pikirkan, demikianlah kita menjadi yang paling mengerti akan makna hidup dan akan mencapai kedamaian."


Chinmi dan Ho Chen mulai memahami akan pesan bijak yang di sampai oleh Siddharta Gautama.


Sudah beberapa bulan mereka berada di sana, sebelum mendapatkan pesan dan ajaran Siddharta Gautama, mereka lebih dulu mendapatkan pencerahan dari Bodhisattva Guan Ying.

__ADS_1


Tanpa mereka berdua sadari jika tiga cahaya dengan warna berbeda mulai terpancar dari tubuh mereka berdua.


__ADS_2