
Chinmi bernafas lega setelah berhasil membunuh Pemimpin kodok tersebut. Dia duduk di samping mayat Kodok tersebut.
Kali ini Chinmi benar-benar kehabisan Qi, andai dia diserang satu kali lagi oleh salah satu kodok yang terlemah sekalipun, sepertinya Chinmi tidak akan bisa menang.
Chinmi menatap mayat Kodok tersebut kemudian teringat akan sesuatu, "Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan mustikanya?" gumam Chinmi.
Chinmi bangkit kemudian mencari mustika kodok tersebut di sekeliling tubuhnya, Chinmi juga mencoba merobek kulit leher kodok tersebut dan ternyata pedangnya masih tidak bisa menembus kulit sang kodok.
"Sepertinya kulit ini memang keras dari luar saja," gumam Chinmi.
Saat dia menusuk rahang kodok tersebut, ternyata pedangnya mampu menembus kulitnya dari dalam, sedangkan jika ditusuk dari luar pedangnya sama sekali tidak bisa menggores kulit tebal tersebut.
"Apa yang kamu cari?" tanya Fan Yuzhen yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Chinmi, sedangkan Chinmi kaget dan hampir menebas Fan Yuzhen dengan pedangnya.
"Guru, lain kali jika mau muncul jangan secara tiba-tiba seperti itu," kata Chinmi dengan memasang wajah masam.
"Dimana mustika itu Guru? Kenapa aku tidak menemukannya?" tanya Chinmi.
Fan Yuzhen tertawa kecil kemudian membelah tubuh Kodok tersebut dengan menggunakan telapak tangannya saja membuat tubuh Kodok tersebut terbelah menjadi dua.
"Ini yang kamu cari? Ambillah ini adalah milikmu," kata Fan Yuzhen kemudian menyerahkan mustika kodok yang berwarna abu-abu tersebut kepada Chinmi.
"Sekarang kamu seraplah Qi dari mustika tersebut, caranya sama seperti menyerap Qi dengan cara meditasi, namun cara menyerapnya mustika ini harus melalui tanganmu,"
Fan Yuzhen juga menjelaskan jika Qi yang berada di mustika abu-abu tersebut setidaknya akan memberikan 30 sampai 40 persen Qi, sehingga Qi nya bisa kembali terisi.
Saat Chinmi sedang bertarung, sebenarnya Fan Yuzhen mengamatinya dari jauh, dia sengaja tidak membantu Chinmi saat muridnya kesulitan saat berhadapan dengan kodok putih tersebut. Fan Yuzhen ingin melihat bagaimana cara Chinmi untuk bisa melawan Kodok tersebut dengan kondisi Qi nya yang sudah tinggal sedikit.
Fan Yuzhen berdecak kagum saat menyadari jika Chinmi ternyata berhasil mengumpulkan Qi sambil bertarung, padahal Fan Yuzhen belum mengajarkan cara seperti itu.
__ADS_1
"Baiklah, untuk hari ini kamu bisa istirahat selama satu hari penuh," Fan Yuzhen merasa muridnya pantas untuk istirahat sehari penuh.
Chinmi langsung menatap gurunya dengan heran, "Kanapa tiba-tiba guru menyuruhku istirahat satu hari?" tanya Chinmi.
"Tidak ada, aku hanya ingin memberikan istirahat lebih untuk hari ini saja, dan setelah itu kita akan memulai membangun pondasi pertamamu," kata Fan Yuzhen.
Latihan hari ini bertujuan agar Chinmi bisa lebih siap untuk membangun salah satu pondasinya, dengan membunuh salah satu makhluk hidup, seharusnya Chinmi sudah memiliki mental yang kuat.
Namun ada satu yang masih mengganjal dipikiran Fan Yuzhen, saat Chinmi berhasil membunuh Kodok putih tersebut, tidak ada tanda-tanda atau expresi apapun di wajah Chinmi, padahal itu adalah pembunuhan pertamanya.
Semua Pendekar pasti akan mengalami guncangan atau Syok ketika mereka melakukan pembunuhan untuk yang pertama kalinya, apakah yang dibunuh itu manusia atau Hewan Iblis semuanya sama saja.
Pembunuhan Pertama biasanya akan terlihat seperti wajah yang terkejut, tercengang, dan bahkan sampai tidak mau bicara. Namun Chinmi justru berbeda, dia seperti tidak peduli akan apa yang telah ia lakukan.
Fan Yuzhen menatap Chinmi yang sedang duduk bersandar dibawah pohon, matanya terlihat sayup, dan wajahnya terlihat sangat kelelahan, dan pada akhirnya dia tertidur pulas.
Fan Yuzhen teringat akan perkataan Naga Api. Apabila yang dikatakan Naga Api itu benar, maka Chinmi bisa dipastikan akan menjadi seorang Pendekar hebat, dan Fan Yuzhen berharap Chinmi tidak salah arah jika suatu saat dia sudah menjadi Pendekar yang hebat.
Pada akhirnya Fan Yuzhen hanya mengehela nafas panjang, dia bertekad tidak akan pernah membiarkan Chinmi salah arah, jika suatu saat Chinmi harus membunuh seseorang demi sebuah kebenaran, dia akan mendukungnya. Namun jika Chinmi sampai membunuh seseorang karena Chinmi melakukan sebuah kejahatan, Fan Yuzhen sendiri yang akan menghukumnya.
***
"Arghhh....!!!"
Chinmi berteriak sekuat tenaga, dia berada di tengah-tengah pusaran air kecil, di dalam air tersebut terlihat seperti ada ratusan hewan aneh yang mengelilinginya.
"Bertahanlah Chinmi! Dan ingat jangan menahannya dengan Qi mu," kata Fan Yuzhen.
Chinmi hampir kehilangan kesadarannya. bagaimana tidak, Chinmi saat ini sedang di sengat oleh ratusan ikan listrik yang berukuran paha.
__ADS_1
Bentuk kepala Ikan tersebut tidak berbentuk seperti ikan pada umumnya. Kepalanya ikan tersebut seperti ikan Lele namun memiliki jengger di atas kepalanya seperti jengger ayam.
Namun dari jengger tersebut bisa mengeluarkan sengatan Listrik, satu ikan saja jika melepaskan sengatan Listrik tersebut mampu membunuh ikan yang jaraknya mencapai 20 meter dari arahnya.
Sedangkan saat ini ada sekitar ratusan ikan jengger yang melepaskan sengatan Listrik kepada Chinmi membuatnya hampir tidak sadarkan diri.
Chinmi merasa gurunya bukan ingin membantunya untuk membangun pondasi pertamanya, melainkan ingin membunuhnya.
Andai Fan Yuzhen bukan gurunya, mungkin Chinmi tidak akan mau jika disuruh seperti itu. Walau tubuhnya sakit akibat di sengat oleh ratusan ikan jengger listrik, Chinmi tetap berusaha untuk tetap bertahan.
Chinmi merasakan sengatan ikan listrik itu menembus kulit hingga ke tulang-tulangnya. Semakin lama sengatan tersebut semakin sakit sehingga Chinmi tidak lagi bisa merasakan tubuhnya sendiri.
Setelah lebih dari satu jam Chinmi berada di sana, Fan Yuzhen mengangkatnya. Chinmi merasa tubunya seperti mati rasa.
"Bisa bertahan selama satu jam itu sudah sangat bagus, aku tidak menyangka jika ternyata tubuhmu benar-benar begitu kuat, aku bangga padamu," kata Fan Yuzhen.
Chinmi hanya terdiam, jangankan menjawab, mau tersenyum pun rasanya sulit karena seluruh tubunya benar-benar seperti mati rasa.
"Baiklah kamu istirahat lima menit dulu, setelah itu kita lanjutkan lagi," kata Fan Yuzhen, dia tidak menyadari jika wajah Chinmi berubah menjadi buruk.
Lima menit adalah waktu yang singkat, jangankan Lima menit, istirahat satu jam saja rasanya masih kurang untuk Chinmi. Namun Chinmi tidak bisa menjawab atau membantahnya karena bibirnya benar-benar sulit untuk mengucapkan sebuah kalimat.
Tanpa bisa berbuat apa-apa Chinmi akhirnya kembali direndam di air tersebut, dan lagi-lagi Chinmi hanya bisa merintih setelah ratusan ikan tersebut melepaskan sengatan listriknya.
"Yang tadi itu apa?" Chinmi merasakan ada sesuatu yang asing dari dalam tubuhnya setelah mendapatkan sengatan tersebut.
Rasanya seperti gumpalan kecil yang memberikan sensasi yang berbeda dari yang lainnya. Karena tidak dapat berbicara akhirnya Chinmi hanya menyimpan rasa penasarannya, dan sengatan Listrik tersebut ternyata semakin lama rasa sakitnya terasa menghilang dan tergantikan oleh rasa yang aneh dan juga asing.
"Sepertinya beberapa ototnya sudah berkembang dengan baik!" kata Fan Yuzhen dengan tersenyum lebar kepada Chinmi.
__ADS_1