PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Medali Tujuh Bintang


__ADS_3

Walau mustika abu-abu dan mustika merah hanya sebesar kepalan tangan saja, namun jika banyaknya mencapai hingga lebih dari seribu tetap akan sangat terlihat berkesan bagi yang melihatnya.


Sebanyak 20 orang dikerahkan untuk menghitung dan memisahkan dua jenis mustika tersebut, sekitar hampir 30 menit mereka menghitung dan memisahkan mustika tersebut dan mereka mulai mencocokkan jumlah masing-masing hingga menjadi satu.


"Manager Du, tota semua mustika abu-abu yang sudah du hitung sebanyak 812 Mustika, sedangkan jumlah dari mustika merah sebanyak 197 biji." kata salah satu dari ke tujuh pendekar yang juga ikut menghitung.


"Baik terima kasih, sekarang pindahkan semuanya ke dalam gudang!"


Para pelayan dan ketujuh pendekar segera mengangkat mustika abu-abu yang di taruh di tiga keranjang besar yang terbuat dari anyaman bambu.


Mustika-mustika tersebut di pindahkan kedalam gudang penyimpanan dan akan dikeluarkan sedikit demi sedikit untuk di pasarkan dan di bagaikan di beberapa cabang di seluruh wilayah ke empat kerajaan.


Du Mong dan Chinmi melanjutkan kembali dengan menghitung total jumlah dari semua mustika tersebut.


"Untuk mustika abu-abu jumlahnya adalah 812 biji, berarti uangnya adalah 812 keping emas juga, sedangkan untuk mustika merah ada 197 biji dan total untuk uang dari mustika merah sebanyak 19.700 kini emas, dan total jumlah keseluruhan adalah 20,512 keping emas. Bagaimana apa itu benar?" tanya Du Mong setelah menghitung semua jumlah uang dari harga beli mustika milik Chinmi.


"A..! Em... I-iya!" Chinmi kebingungan sendiri untuk menjawab.


Chinmi mungkin adalah anak yang cerdas, namun beberapa hal yang tidak bisa ia kuasai, salah satunya adalah menghitung.


Chinmi sampai melihat sepuluh jarinya sendiri untuk menghitung, jika untuk mustika abu-abu, itu cukup mudah banginya untuk menghitungnya. Namun jika untuk menggabungkan harga kedua mustika tersebut, Chinmi benar-benar cukup pusing dibuatnya.


"Aku lebih baik menulis sajak dan membaca buku dari pada menghitung angka-angka yang menyebalkan itu!" gumam Chinmi dalam pikirannya.


Du Mong pergi meninggalkan Chinmi sendirian di dalam ruangannya. Dia pergi keberangkas untuk mengambil koin emas untuk diserahkan kepada Chinmi.


Bagi Asosiasi koin sebanyak 20,512 tidaklah banyak, karena penghasilan asosiasi setiap bulannya bisa mendapatkan penghasilan bersih sebanyak 5000 koin emas, jika dikali kan setahun maka akan mendapatkan 60,000 koin emas dalam setahun.

__ADS_1


Jika setiap cabang menghasilkan 60,000 setiap tahunnya, berarti setiap cabang asosiasi yang tersebar di seluruh wilayah keempat kerajaan akan sangat sulit dihitung penghasilannya, itu karena mereka memiliki cabang diberbagai kota-kota besar maupun kecil, di tambah dengan desa-desa besar yang ada di keempat wilayah Kerajaan. Yang jelas dalam setiap tahunnya aset yang mereka dapatkan dalam setahun bisa mencapai angka ratusan ribu bahkan sampai jutaan koin emas.


"Tuan muda Chinmi, ini dia uang mu!" kata Du Mong setelah pergi cukup lama.


Kini dia kembali dengan beberapa orang yang mengangkat 2 kotak berukuran panjang 80 cm dan lebar 50 cm dengan tinggi 40 cm, dan satu kotak berukuran kecil.


Kotak tersebut terbuat dari logam berwarna hitam, namun tidak tebal, dan setiap kotak berisi lebih dari 10 ribu koin emas, sedangkan satu kotak berukuran kecil berisi sekitar 400 koin emas.


"Mata Chinmi melebar saat Du Mong membuka kotak tersebut, Chinmi bisa melihat koin emas yang menumpuk di kotak tersebut, ini untuk pertama kalinya dia melihat koin sebanyak itu.


Kini Chinmi teringat akan sesuatu yang sudah ia lupakan, yaitu hadiah Koin sebanyak 100 juta koin emas bagi siapa saja yang berhasil menangkap dirinya sekaligus dengan pamannya, dan tentu saja Chinmi tidak akan melupakan orang yang menyuruh para pendekar untuk memburunya, siapa lagi kalau bukan Fu Shen, teman baik ayahnya sekaligus musuh tak terlihat bagi ayahnya.


Dengan koin emas yang saat ini Chinmi miliki, dia tidak akan kekurangan apapun dan bahkan dapat membeli apapun yang ia butuhkan, selama harganya tidak mahal, Chinmi tidak akan kekurangan koin emas tersebut selama 4 sampai 5 tahun kedepan, namun semua itu tergantung dari apa yang ingin ia beli.


"Tuan muda, sekarang bagaimana caramu ingin membawa semua uang ini?" tanya Du Mong karena kebingungan akan bagaimana Chinmi akan membawa ketiga kotak tersebut yang sangat berat.


"Aku memiliki tempat yang aman sekaligus bisa membawanya kemana-mana, jadi manager tidak usah risau," ucap Chinmi dengan tersenyum lebar sehingga membuat Du Mong dan beberapa orang yang ikut mengangkat kotak tersebut kebingungan.


"Tuan muda, jika ada barang-barang berharga lainnya yang bisa kami beli katakan saja, kami akan membelinya jika itu adalah barang berharga dan memiliki kualitas tinggi!" kata Du Mong setelah para pengangkat kotak tersebut pergi.


"Maaf Manager Du, aku tidak akan berada di Kerajaan ini lagi, jadi jika aku memiliki barang-barang berharga lainnya, tidak mungkin aku pergi jauh-jauh ke sini hanya demi menjual barang," kata Chinmi.


Du Mong terdiam sebelum akhirnya kembali bertanya, "Dimana Tuan muda tinggal?"


"Em.. Aku tinggal di mana saja!" jawab Chinmi.


Chinmi ingin bilang kalau dia tinggal di sekte Pedang Suci, namun mengingat dirinya sebentar lagi akan pergi mengikuti gurunya, dia tidak jadi bilang seperti itu sehingga memilih bulat tinggal dimana saja.

__ADS_1


"Hahaha..! Tuan muda ada-ada saja!" kata Du Mong yang merasa Chinmi seperti bercanda.


"Owh iya tunggu sebentar disini Tuan muda!" ucap Du Mong kemudian pergi ke sebuah pintu yang berada didalam ruangannya dan memasuki pintu tersebut.


Selama ini jarang sekali Du Mong membawa pelanggan manapun kedalam ruangan pribadinya, hanya orang-orang yang menurutnya dianggap penting seperti para Raja maupun para ketua sekte dari sekte-sekte besar.


Melihat Du Mong seperti mengambil sesuatu kedalam, Chinmi juga dengan cepat memindahkan ketiga kotak yang berisi ribuan koin emas tersebut kedalam permata kalungnya.


Du Mong keluar setelah Chinmi sudah terlihat duduk tenang sambil mengamati apa yang pegang oleh Du Mong.


"Tuan muda, bawalah ini jika kelak tuan muda ingin menjual sesuatu ke beberapa cabang asosiasi milik kami!"


Du Mong menyerahkan sebuah batangan logam berwarna emas dengan memiliki ukiran tujuh bintang, dua bintang berada di atas, dua di bawah, satu di kiri dan satu lagi di kanan, yang terahir satu bintang lebih besar berada di tengah-tengah.


"Manager apa ini?" tanya Chinmi sambil mengamati batangan yang seperti emas tersebut.


"Ini adalah medali Tujuh Bintang, saat ini hanya tuan muda dan ke empat raja yang memiliki medali Tujuh Bintang ini, dan itu artinya Tuan muda sudah di anggap sebagai pelanggan, bahkan adalah tamu kehormatan yang akan mendapatkan pelayanan khusus di setiap cabang kami." kata Du Mong menjelaskan.


"Tidak manager, aku tidak pantas untuk menerima ini!" kata Chinmi kemudian berniat mengembalikan medali tersebut.


"Tuan muda, hanya dengan begini tuan muda bisa membeli segala kebutuhan yang ingin tuan muda beli di toko kami, bahkan tuan muda akan mendapatkan potongan harga hingga 20 persen setiap membeli barang-barang dengan jumlah tertentu."


"Baiklah jika manager Du memaksa," kata Chinmi kemudian menyimpan medali Tujuh Bintang tersebut di balik bajunya.


"Tuan muda, di mana ketiga kotak tadi?" Du Mong kini baru sadar jika kotak yang berisi koin emas milik Chinmi kini sudah tidak ada di tempatnya.


Chinmi hanya tersenyum sambil menggaruk keningnya, "Aku sudah memindahkannya manager!" jawab Chinmi.

__ADS_1


Du Mong sangat penasaran akan kemana Chinmi memindahkan kotak uang yang bahkan dirinya sekalipun tidak akan sanggup untuk memindahkannya seorang diri dalam waktu singkat saja.


__ADS_2