PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Keputusan Bing Mei


__ADS_3

Bing Mei mendengar Neneknya memanggil Pendekar yang ia lawan dengan memangil nya suaminya cukup mengejutkannya.


"Nenek! Siapa dia itu? Kenapa Nenek memanggil dia dengan sebutan suami?" tanya Bing Mei yang keheranan karena yang ia tahu suami Zhihui atau Kakeknya sudah lama meninggal ketika dia masih bayi.


Zhihui menatap Bing Mei dan kemudian dia memberitahukan pada nya akan sosok pria di dihadapannya.


"Dia adalah Mendiang kakek mu yang di bangkitkan kembali oleh salah satu ketua Sekte aliran hitam, dan di sana itu adalah Ayahmu!" jawab Zhihui.


Bing Mei menoleh kearah Liang Zang yang sedang bertarung melawan Mao Li dengan tatapan tidak percaya.


"Benarkah dia itu ayahku?" tanya Bing Mei.


"Benar! Dia itu adalah ayah mu yang juga di bangkitkan dan menjadi Mayat Hidup!" jawab Zhihui.


"Istriku cepat menjauh..!" seru Liang Gwo saat tubuhnya kembali di gerakkan oleh Meng Ling.


"Sihir Cristal Es - Pembekuan Alam."


Liang Gwo melepaskan sihir Cristal Es kearah Zhihui dan Bing Mei dengan cara menyemburkan Kabut Kristal.


Zhihui terkejut namun dia tidak bisa menghindar sedangkan Bing Mei melihat itu segera memutar selendangnya.


Kabut Cristal tersebut terhisap dan berkumpul ketengah putaran selendangnya dan kemudian Qie Yin melepaskan kabut tersebut ke udara.


"Ternyata aku memiliki cucu yang sangat hebat!" kata Liang Gwo yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Jika dia memang Kakek ku? Kenapa dia menyerang Sekte nya sendiri?" tanya Bing Mei setelah berhasil membatalkan sihir Kakeknya.


"Tubuh kakek dan ayah mu sudah di kendalikan oleh orang yang telah membangkitkan mereka, karena itu Kakek dan ayah mu menyerang Sekte kita! Bisa di bilang mereka tidak bisa mengendalikan tubuh mereka sendiri," kata Zhihui.


"Nenek, masuklah kedalam dan pilihkan energi mu di dalam, disini biar aku dan Senior Bing Long yang menyelesaikannyai!" kata Bing Mei.


"Tidak Bing'er, aku harus tetap ikut bertarung juga demi Sekte kita!" jawab Zhihui yang menolak untuk beristirahat mengingat banyak murid-murid Sekte nya yang terluka.


Bing Mei hanya bisa menghela nafas panjang, dia tahu jika neneknya pasti akan menolaknya, "Baiklah terserah nenek saja! Berhati-hati lah Nek dan biar aku yang melawan Kakek serta ayah ku!" kata Bing Mei kemudian dia segera melepaskan energi nya yang sangat besar sehingga beberapa bangunan banyak yang runtuh berjatuhan dan kemudian berubah menjadi air.


Zhihui, Liang Gwo, Liang Zang dan semua yang bertarung baik itu musuh atau bukan sama-sama terkejut dengan besarnya energi milik Bing Mei.


"Ini bukan lagi tingkat Pertapa!" gumam Zhihui.


"Siapa gadis muda itu? Kekuatan yang ia lepas sungguh sangat besar sekali!" kata Liang Zang saat melihat kearah Bing Mei.


"Dia adalah putri mu Tuan muda," jawab Mao Li yang saat ini memegang lengannya yang terpotong sekali mengalirkan energi ke lukanya agar tidak kehabisan Darah.


"Putri ku? Jadi dia adalah putri ku yang kembar itu? Tapi mana saudara kembar nya?" tanya Liang Zang sekaligus mencari putrinya yang satu lagi yaitu Zhu Mei.


"Saudari kembar Ketua Bing Mei sudah meninggal, dan kini hanya tersisa dia saja yang saat ini sudah menjadi Ketua di Sekte ini!" jawab Mao Li sekaligus masih berusaha menahan sakit di lengannya.


Liang Zang terkejut karena tidak menduga jika salah satu putri kembarnya sudah tiada bahkan dia sendiri belum melihat wajah putri-putrinya, namun sekarang dia hanya bisa melihat salah satunya saja.


"Perlu kau tahu Tuan muda, putri mu adalah seorang pendekar yang sangat berbakat. Saat ini kekuatannya sudah melampaui kalian semua, dan dia sudah menjadi Pertapa di usia yang masih muda, dia juga adalah ketua sekte termuda setelah ketua Sekte Penakluk Kegelapan," kata Mao Li.


Liang Zang kembali terkejut, pasalnya dia sama sekali tidak merasakan kekuatan Bing Mei sama sekali, terlebih lagi Bing Mei dapat menahan serangan Liang Gwo tanpa kesulitan.


"Jaman sudah banyak yang berubah, anak-anak sudah tumbuh lebih kuat dari jaman generasi ku, aku sudah sangat bangga menjadi ayah nya, dan sihir apapun ini yang di gunakan untuk membangkitkan ku, ternyata ada untungnya juga karena aku bisa melihat putriku yang belum sempat aku lihat!" kata Liang Zang sambil menatap Bing Mei yang sedang menghadapi Liang Gwo.


Melihat Liang Zang yang tidak lagi menyerang, Mao Li berpikir jika Liang Zang sudah terbebas dari pengendalinya sehingga dia berniat untuk membuat kurungan.


Sebenarnya pemikiran Mao Li memang benar, Meng Ling saat ini lebih fokus mengendalikan Liang Gwo, karena dia tahu jika yang di hadapi Liang Gwo adalah Sang Pertapa Es.


Mao Li mencari pendekar pilar dan mengumpulkan sebanyak empat orang kemudian dia mulai menjelaskan rencananya.


"Dengar aku baik-baik, Tuan muda Liang Zang sudah tidak di kendalikan oleh pendekar yang membangkitkan nya, jadi kita akan mengurungkannya dengan Segel Kubah Es Formasi Bintang, jadi segera bersiaplah!" kata Mao Li.

__ADS_1


"Baik senior!" jawab mereka semua kemudian mereka segera berpencar di lima titik.


Liang Zang yang masih manatap Bing Mei dengan kagum terkejut saat melihat Mao Li dan empat pendekar yang memiliki kekuatan tingkat menengah sudah berdiri mengelilingi nya.


"Apakah kalian ingin mengurungku dengan Segel Kubah Es Formasi Bintang ciptaan Kakek?" tanya Liang Zang.


"Maafkan kami Tuan muda, kami terpaksa melakukan ini agar orang yang mengendalikan Tuan muda tidak bisa lagi mengambil alih tubuh mu!" jawab Mao Li.


"Sebaiknya kalian melakukan dengan cepat sebelum aku kehilangan kendali atas tubuh ku!"


"Tentu Tuan muda, aku harap Tuan muda tidak melawan dan mau bekerja sama."


Mao Li dan ke-empat Pendekar pilar segera membuat segel tangan dan secara bersamaan mereka meletakkan telapak tangan mereka ke atas lantai es.


"Sihir Es - Segel Kubah Es Formasi Bintang."


Sebuah garis bercahaya biru segera tercipta dan membentuk gambar bintang, sedangkan Liang Zang berada tepat di tengah-tengah garis bintang tersebut.


Tidak lama kemudian muncul dinding transparan dari garis tersebut dan akhirnya Liang Zang terkurung di dalamnya, namun Liang Zang masih bisa melihat jelas keluar.


"Sihir Es - Pukulan Beku."


Krakkk!!!


Liang Zang memukul dinding transparan tersebut dengan pukulan es terkuatnya, namun dinding tersebut hanya retak saja dan kemudian kembali seperti semula.


Dinding es yang transparan tersebut sangat kuat karena itu bukan sembarang dinding, melainkan adalah Sihir Segel yang mampu mengurung seorang pendekar Sihir Alam.


Walau bentuk dinding tersebut menyerupai bintang, namun mereka tetap menyebut dinding tersebut dengan nama Kubah Es Formasi Bintang.


Mao Li bernafas lega setelah berhasil mengurung Liang Zang di dalam segel Kubah Es Formasi Bintang tersebut, namun mereka tetap harus bisa mempertahankan Segel tersebut dengan cara tidak boleh melepaskan tangan mereka dari atas es.


Jika salah satu saja membatalkan sihir tersebut, maka segel akan terbuka. Karena itu mereka masih belum bisa bernafas lega karena bahaya masih mengancam mereka berlima.


"Bantu aku melindungi mereka berlima!" seru Zhihui saat melihat Mao Li dan ke-empat Pendekar pilar sedang mempertahankan Segel.


Zhihui segera kesana dan di susul oleh belasan murid lainnya, sedangkan Bing Mei masih berusaha menghindari serangan Liang Gwo.


Bing Mei sama sekali tidak menyerang karena dia tidak mau membuat kakeknya yang selama ini tidak pernah ia lihat harus mati untuk kedua kalinya, apa lagi harus mati di tangannya.


Liang Gwo berhenti menyerang Bing Mei untuk mengisi kembali energinya yang mulai terkuras, namun tidak lama energinya kembali penuh dan segera menyerang Bing Mei.


"Cucuku, kakek minta padamu untuk tidak ragu menghentikan ku! Jika kamu terus menghindar dan bertahan, itu akan sia-sia karena kekuatan ku tidak akan pernah habis," kata Liang Gwo yang berbicara sambil menyerang.


"Kakek aku tidak bisa menyerang atau menyakiti mu, jadi aku mohon jangan paksa aku! Sekarang aku hanya ingin mencari cara agar kakek ayah tidak di kendalikan lagi oleh orang lain," kata Bing Mei.


"Percuma saja Cucu ku, kami berdua sudah lama mati, jadi yang harus kamu lakukan adalah membebaskan Roh kami kembali ke akhirat!" kata Liang Gwo.


"Tapi Kek..!"


"Cucuku! Sebenarnya kakek juga ingin lama berada disini dan melihat mu, namun kakek sadar jika semua ini tidak benar. Sihir pembangkit ini sangat tidak baik, jadi jagan ragu lagi!" kata Liang Gwo kemudian dia melanjutkan serangannya.


Bing Mei hanya bisa menggigit bibirnya, walau merasa keberatan namun dia tidak bisa memungkiri semua ini jika kakek dan ayahnya memang seharusnya tidak berada di dunia lagi.


"Baiklah kakek jika itu memang keinginan kakek!" kata Bing Mei kemudian dia segera melepaskan energinya di hadapan Liang Gwo.


Sebuah gelombang kejut energi yang sangat besar dan kuat mendorong tubuh Liang Gwo hingga terhempas kebawah, dan es tempat dia jatuh langsung hancur sehingga hampir membuat salah satu penahan segel Kubah Es Formasi Bintang hampir tidak bisa menstabilkan posisinya.


Angin berhembus sangat kencang dan awan yang tebal di langit juga ikut tersapu gelombang kejut dari energi Bing Mei.


Zhihui hanya bisa membuka tutup mulutnya saat karena terkejut jika kekuatan Bing Mei yang meningkat secara signifikan.


"Kekuatannya melebihi kekuatan para Pertapa! Latihan apa yang sudah ia jalani?" batin Zhihui.

__ADS_1


Liang Gwo kembali bangkit kemudian dia menoleh kearah Naga Putih nya yang mulai melemah, sedangkan lawannya adalah Bing Long salah satu Naga dari delapan pemimpin Hewan Iblis tidak terlihat lemah.


"Dewa Naga milik Cucuku sama kuatnya seperti tuannya," gumam Liang Gwo yang mengira jika Bing Long adalah Dewa Naga yang di panggil oleh Bing Mei.


Bing Mei sendiri turun kebawah dan sesampainya di bawah, seluruh es yang hancur dan yang mencair langsung membeku, bahkan bekunya hingga sampai kelaut yang ada di luar perbatasan Sekte.


Bing Mei menyadari saat melihat Kubah Es Formasi Bintang yang menyegel ayahnya, dengan demikian dia jadi tahu jika segel itu bisa bisa menyegel mayat hidup.


"Senior Bing Long, mau sampai kapan senior mau bermain-main dengan Naga itu? Cepatlah karena aku akan segera menyegel kakek!" kata Bing Mei kepada Bing Long yang terlihat seperti sedang bermain-main dengan Naga putih milik Liang Gwo.


"Bing'er, kenapa kamu terburu-buru seperti itu, biarkan aku menikmati pertarungan ini dulu!" kata Bing Long sehingga membuat Liang Gwo terkejut karena Naga Putih yang dia kira milik Bing Mei ternyata bisa berbicara.


"Mau sampai kapan? Apakah senior mau menunggu hingga anggotaku banyak yang mati dulu?" Bing Mei melihat anggotanya yang mati bukan hanya karena bertarung melawan para Mayat Hidup, melainkan serangan Bing Long dan Naga Putih itu juga nyasar ke mereka hingga membuat beberapa anggota harus terluka.


"Baik-baik aku akan menyelesaikannya!" jawab Bing Long dengan nada kesal.


Bing Long membuka mulutnya dan seketika itu juga Bola es terbentuk dan kemudian dia melepaskan bola es tersebut kearah Naga Putih yang sudah melemah.


"Bola Energi Elemen Es Kematian."


Bing Long segera melepas bola es tersebut dan dengan cepat bola tersebut melesat hingga mengenai tubuh Naga Putih.


Naga putih milik Liang Gwo meraung sangat keras saat tubuhnya mulai membeku. Naga putih milik Liang Gwo yang memiliki tiga elemen kekuatan ternyata masih bisa di bekukan oleh Elemen Es milik Bing Long.


Namun sebelum Naga Putih itu membeku sepenuhnya, Naga tersebut menghilang menjadi asap.


"Sungguh Hebat sekali Naga panggilan milik Cucuku!" gumam Liang Gwo.


"Kakek maafkan aku karena sekarang adalah giliran kakek!" kata Bing Mei kemudian dia berseru dengan keras.


"Semua murid Sekte ku dengarkan baik-baik! Segera menjauh dari tempat ini agar kalian tidak terkena Segel ku!" seru Bing Mei yang di dengar dengan sangat jelas keseluruh wilayah Sekte.


Semua segera menjauh menuruti keinginan Bing Mei, sedangkan Mao Li dan ke-empat Pendekar pilar yang masih mempertahankan Segel mereka juga bingung apakah harus melepaskan segel mereka atau tidak.


"Kalian jangan khawatir lepaskan saja segel kalian dan segera menjauh dari sini!" kata Bing Mei.


Mao Li menatap kearah Zhihui yang juga mengangguk kepadanya agar menuruti perkataan Bing Mei, walau masih khawatir, namun Mao Li dan ke-empat Pendekar pilar akhirnya membatalkan segel mereka.


Setelah semua anggota Sekte sudah pergi menjauh, Bing Mei segera membuat segel tangan, dan para pasukan Mayat Hidup segera bergerak menyerang Bing Mei dengan mengepungnya.


"Sihir Segel Es - Pohon Dewa Es."


Bing Mei segera melepaskan Segel Es nya yang pernah gagal ia gunakan saat latihan, namun kali ini dia yakin jika Segel Pohon Dewa Es sudah bisa ia gunakan.


Seluruh Es yang ada di bawah kaki Bing Mei berubah menjadi biru dan para Pasukan Mayat Hidup langsung tidak bisa bergerak termasuk Liang Gwo dan Liang Zang.


Liang Zang kini sudah berada tidak jauh dari Bing Mei sehingga dia bisa melihat wajah putrinya dengan sangat jelas, begitu juga dengan Bing Mei.


Mata Bing Mei mulai berair karena ini untuk pertama kalinya dia bisa melihat wajah Ayahnya, namun pertemuan pertamanya sungguh dalam situasi yang sangat buruk karena dia harus menyegel ayahnya sendiri.


Secara perlahan-lahan, muncul banyak pohon es dari bawah dan secara perlahan pula tubuh para mayat hidup mulai terkurung oleh pepohonan yang terbuat dari es.


"Ayah! Maafkan anakmu ini karena berani memperlakukan ayah seperti ini!" kata Bing Mei dengan air mata yang mulai keluar, namun dia tetap mengarahkan jarinya keatas sekaligus cahaya biru juga terpancar dari ujung jarinya.


"Tidak putriku! Yang kamu lakukan ini sudah benar, justru ayah lah yang minta maaf karena aku sebagai ayah mu bukan melindungi melainkan menyerang mu!" jawab Liang Zang namun matanya juga berair karena dia merasa bersalah.


"Yang dia katakan oleh Zang'er benar Cucuku, kamu tidak salah dan kami tidak menyalahkan mu, justru kami merasa bangga padamu!" kata Liang Gwo.


Pohon Es semakin naik, sedangkan tubuh Liang Gwo dan Liang Zang sekaligus para pasukan Mayat Hidup lainnya kini sudah lebih dari setengah badan mereka yang tertutup oleh bekuan Es.


Air mata Bing Mei terus mengalir, dia sungguh tidak sanggup untuk menyegel kakek serta ayahnya, namun dia tidak memiliki pilihan lain, keputusan Bing Mei untuk menyegel mereka sudah bulat demi keselamatan Sekte dan semua anggotanya.


"Maafkan aku dan selamat tinggal! Aku menyayangi kalian!" kata Bing Mei kemudian dia mengangkat jarinya lebih tinggi sehingga Cahaya biru di jarinya berubah menjadi kelopak bunga teratai berwarna biru terang.

__ADS_1


__ADS_2