PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Kemunculan Li Fang


__ADS_3

Ke 23 Hewan Iblis yang mengelilingi Chinmi langsung melompat mundur. Ketika pedang tersebut menusuk Chinmi kepala Chinmi dengan cahaya birunya, pedang tersebut juga mengeluarkan suara bising lebih tajam dari sebelumnya.


Telinga para Hewan Iblis yang masih mengelilingi Chinmi juga tidak mampu menahan suara bising tersebut. Mereka semua juga ikut berteriak keras seperti Chinmi, namun teriakan mereka berbeda-beda suara.


Para Hewan Iblis tersebut berteriak dengan gerakan yang berbeda-beda, ada yang berteriak sambil berguling-guling di atas salju, ada yang berusaha menyumbat telinga dengan kuku tajamnya sendiri, dan ada juga yang sampai membenturkan kepalanya sendiri ke batu sampai hancur.


Berbeda dengan para Hewan Iblis, Chinmi justru berteriak karena kepalanya yang ditusuk oleh cahaya pedang tersebut.


Beberapa saat kemudian, Chinmi berhenti berteriak dan juga berhenti bergerak. Mata dan mulut Chinmi masih terbuka dengan menghadap kelangit.


Cahaya Biru Pedang tersebut juga terlihat keluar dari kedua mata dan mulut Chinmi. Tubuh Chinmi secara perlahan-lahan terangkat keatas dengan posisi masih berdiri.


Tidak ada yang melihat akan kejadian itu kecuali 23 Hewan Iblis saja yang baru mati kerana tidak kuat dengan suara bising tersebut.


Chinmi Sudah kehilangan kesadarannya sejak teriakannya menghilang, namun bukan karena pingsan, melainkan karena kesadarannya berpindah ketempat asing yang belum ia lihat sebelumnya.


***


"Bayangan Pedang Angin."


Yue Rong memutar kedua pedangnya dan diikuti oleh putaran tubuhnya. Energi Angin juga mulai terlihat mengikuti putaran tubuh Yue Rong dan kemudian melepaskan beberapa energi Angin yang sangat tajam kepada 3 lawannya.


Yue Rong saat ini bertarung dengan tiga pendekar dari Sekte Kelelawar Hitam, Dua berada ditingkat Pendekar Menengah Tingkat 1 dan 3, dan satu Pendekar berada ditingkat Pendekar Pemula Tingkat 3.


Kedua pendekar Menengah tersebut menahan serangan energi Angin milik Yue Rong dan kemudian memberi serangan balasan.


Baju Yue Rong yang berwarna putih panjang dengan warna biru dari bahu sampai kebawah kini sudah ada noda darahnya. Senjata milik dua pendekar menengah yang mirip seperti kail pancing besar telah membuat luka di bahu dan lengan Yue Rong.


Namun Yue Rong tetap berusaha untuk menahan rasa sakit di bahunya dan terus menyerang ketiga lawannya itu, walau di tahu jika dia tidak akan mungkin bisa menang.


"Kamu wanita yang cantik, namun sayang kamu harus mati di sini!" kata salah seorang pendekar Menengah tingkat 3 sambil tersenyum mengejek.


Yue Rong tidak menjawab. Dia tidak takut jika harus mati, apalagi mati karena bertarung melawan musuh dari sekte aliran hitam. Bagi Yue Rong ini adalah suatu kehormatan dari pada harus konyol atau menyerah kepada musuh.

__ADS_1


Namun ada satu yang membuat dirinya ingin berusaha tetap bertahan hidup, yaitu kekasih hatinya Li Fang.


Dia sama sekali belum siap jika harus berpisah dengannya, apa lagi mati tanpa diketahui oleh kekasihnya.


Yue Rong tidak menduga jika tugasnya untuk mengantar tiga murid sekte Pedang Suci untuk mengikuti pertandingan, harus berakhir dengan pertempuran dari serangan sekte aliran hitam.


"Li Fang, maafkan aku! Sepertinya di kehidupan ini, kita tidak dijodohkan untk bersama. Aku harap kita akan berjodoh di kehidupan berikutnya!" gumam Yue Rong kemudian mengalirkan Qi di kedua pedangnya dan menyerang ketiga lawannya dengan seluruh kekuatan yang ia miliki.


"Owh, kamu masih mau menari, baiklah mari aku temani!"


Pendekar yang berada ditingkat Pendekar Menengah tingkat 3 maju dengan dua senjatanya yang menyerupai kail pancing tersebut.


Perbedaan kekuatan antar keduanya jelas sangat terlihat. Jika satu saja sudah sulit untuk dihadapi, apa lagi jika sampai 3 Pendekar.


Kedua pendekar Pemula dan pendekar Menengah tingkat 1 juga ikut menyerang Yue Rong. Kini tubuh Yue Rong semakin mendapatkan banyak luka.


Xuao Lan yang saat ini berhadapan dengan salah satu Pendekar berbaju merah hanya bisa melihat Yue Rong yang diserang oleh tiga pendekar, dia sendiri juga tidak bisa membantu karena lawannya juga memiliki kekuatan yang sama dengannya.


"Dasar pendekar pengecut!" kata Xuao Lan yang sangat kesal akan cara bertarung dari sekte aliran hitam.


"Dasar wanita sinting!" gerutu Xuao Lan kemudian kembali menyerangnya.


Pertarungan antara Xuao Lan dan wanita dari sekte Kelelawar Hitam sangat berimbang, namun Xuao Lan lebih tidak diuntungkan karena konsentrasinya terbagi kepada Yue Rong.


"Aku tidak mau kamu secepatnya mati, jadi berseriuslah jika menghiburku," ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata kirinya.


Xuao Lan hanya bisa mengumpat dalam hati bercampur dengan rasa jijik melihat wanita tersebut bersikap demikian. Konsentrasinya memang terbagi saat ini, bukan hanya Yue Rong yang saat ini dalam kesulitan saja yang ia khawatirkan, melainkan Yue Yin yang menghilang sejak kekacauan pertama dimulai.


"Dia benar, sebaiknya aku memfokuskan dulu untuk mengalahkannya agar aku secepatnya membantu Yue Rong," batin Xuao Lan yang menyadari akan kesalahannya.


Xuao Lan pun kembali memusatkan pertarungannya melawan wanita tersebut, dia berusaha untuk lebih berkonsentrasi kapada lawannya yang menurutnya sangat menyebalkan.


Yue Rong sendiri sudah bertukar serangan dengan ketiga lawannya, sedangkan ketiga lawan yang dihadapinya terlihat sangat menikmati wajah Yue Rong yang menahan sakit akibat luka ditubunya.

__ADS_1


"Sudah gadis ini sudah tidak bisa menghibur kita lagi, kita habisi saja dia setelah itu kita mencari hiburan yang lain!" kata Pendekar yang berada ditingkat Menengah Tingkat 3.


"Baiklah ayo kita selesaikan saja!" jawab rekannya kemudian bersiap untuk mengeksekusi Yue Rong yang saat ini bersandar di tembok dengan satu tangannya memegang luka di perut.


Yue Rong hanya bisa menatap ketiganya dengan tatapan mata merah, namun dia sudah tidak bisa berbuat banyak. Yue Rong berusaha lagi untuk bangkit dengan satu pedangnya yang tersisa.


Dengan nafas sedikit lemah, Yue Rong berusaha kembali untuk menyambut serangan mereka yang menurutnya sebagai pertahanan terkahir sebelum mati.


"Hahaha.. menarik sekali gadis ini, masih berusaha bangkit walau tubunya sudah tidak mampu lagi. Baiklah aku akan mengakhiri hidupmu dengan cepat."


"Jurus Sayap Kelelawar."


salah seorang pendekar Menengah tingkat 3 berlari dengan cepat kearah Yue Rong dengan mengarahkan senjatanya yang menyerupai kail pancing tersebut dan berniat berencana untuk membunuh Yue Rong dengan sekali serang saja.


Namun pendekar tersebut tidak beruntung karena sebelum dirinya berhasil mendekati Yue Rong, sebuah serangan sihir mendadak datang menyerangnya.


"Sihir Bumi Tancapan Paku Bumi."


Pendekar tersebut yang terlanjur berlari kearah Yue Rong tidak sempat berhenti saat tanah dibawah pijakannya muncul tanah sebesar tiang rumah dengan ujung tanah tersebut berbentuk sangat runcing dan juga keras.


"Arghhh!!"


Tubuh pendekar tersebut menabrak runcing tanah tersebut sehingga tertusuk dan menembus perutnya. Pendekar tersebut memuntahkan banyak darah dari mulutnya, dia menatap kearah sosok pemuda yang berada tidak jauh dari Yue Rong, namun tidak ada kata-kata yang keluar karena mulutnya dipenuhi banyak darah sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya dalam posisi tubuh masih tertancap di batang tanah tersebut.


Yue Rong segera menoleh kesamping dan melihat pemuda yang datang dengan cara berlari padanya dengan wajah terlihat panik.


"Bertahanlah Rong'er...!" kata pemuda tersebut sembari menahan tubuh Yue Rong yang hampir tidak bertenaga karena kehabisan banyak darah.


"Li Fang, apakah itu sungguh kau..?" tanya Yue Rong dengan suara lemah.


"Benar ini aku..!" ucapnya kemudian mengeluarkan tiga buah pil dan memasukkannya kedalam mulut Yue Rong agar dia segera menelannya.


Yue Rong sebisa mungkin menelan pil tersebut kemudian duduk bersila untuk menyerap khasiat pil tersebut dengan Qi yang masih sedikit tersisa.

__ADS_1


Li Fang melihat keadaan Yue Rong yang mulai membaik bernafas lega karena pil yang ia berikan adalah pil untuk menghentikan pendarahan dan memberikan sedikit energi padanya.


Kemunculan Li Fang mengejutkan kedua pendekar yang saat ini mematung ketika melihat rekannya tewas dengan tubuh masih tertancap di batang tanah.


__ADS_2