
Ketujuh prajurit tiruan mulai menelan ludahnya saat merasakan kekuatan Qie Yin yang ternyata sangat jauh dan sulit untuk mengukur kekuatan Qie Yin yang terlalu besar.
Salah satu dari mereka bertujuh mulai gemetar dan kakinya lemas karena takut dan kemudian jatuh berlutut tak bertenaga.
"Nona Pendekar, kami tahu kami telah menyinggung Mu, namun kita sama-sama manusia yang seharusnya bisa saling memaafkan, jadi berilah kami kesempatan untuk hidup!" kata salah satu dari mereka dengan berharap Qie Yin bisa di bujuk.
Namun mereka tidak tahu jika yang mereka hadapi sekarang adalah mantan pendekar dari sekte aliran hitam yang tidak akan berpikir dua kali jika ingin membunuh musuh-musuhnya.
Tanpa menghiraukan mereka bertujuh yang berusaha membujuknya dan juga rasa takut yang menyelimuti perasaan mereka, Qie Yin mulia mengarahkan tapaknya yang terlihat ada pusaran debunya.
"Debu Penghancur Tahap Pertama."
Debu di telapak tangan Qie Yin mulai berputar dan membesar sebelum akhirnya berubah menjadi pusaran debu yang sangat besar.
Debu terebut tenyata bukan menggulung tubuh targetnya karena setelah debu tersebut menyerang ke arah ketujuh prajurit tiruan tersebut, debu tersebut justru berpencar dan masuk kedalam tubuh melalui mulut, hidung, telinga dan mata.
Mereka bertujuh mengira jika debu tersebut akan menggulung mereka sehingga hanya bersiap untuk bertahan, namun tenyata debu tersebut justru masuk kedalam tubuh mereka.
Mereka bertujuh menjerit kesakitan sesaat sebelum akhirnya tubuh mereka dengan cepat menjadi butiran debu halus dan habis tak tersisa.
Debu Penghancur memiliki beberapa tahap, namun setiap tahapnya sangat mengerikan dalam membunuh setiap targetnya, namun Debu Penghancur Tahap Pertama sebenarnya memiliki kelemahan, yaitu target harus bisa melindungi setiap lubang di tubuhnya.
Jika memiliki sihir elemen air walau hanya kekuatan mereka berada di tingkat Awal, namun itu sudah cukup untuk menahan serangan tersebut.
Semua penduduk desa yang sedang berbicara dengan Chinmi juga sempat melihat akan kejadian tersebut, mereka semua bersorak gembira setelah ketujuh prajurit tiruan lenyap tak tersisa.
Mereka semua berharap kepada Chinmi dan Chinmi supaya bisa menghentikan tindakan Tan Xia Lan yang terlalu semena-mena kepada para penduduk desa.
Setelah ketujuh prajurit tiruan tersebut lenyap, Qie Yin segera menghampiri Chinmi yang saat ini sedang bersama dengan para penduduk desa, terlihat jika Qie Yin sama sekali tidak terlihat menyesali akan apa yang sudah ia lakukan, sedangkan Chinmi tidak mempermasalahkan atas apa yang sudah Qie Yin perbuat.
"Saya mewakili seluruh desa mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan tuan dan nona pendekar. Nama saya adalah Zio Luo kepala desa di desa Tianqi ini!" kata pria yang terlihat sepuh.
"Tuan Zio tidak perlu seperti itu, kami melakukan semua ini karena ini sudah kewajiban kami untuk menolong sesama!" jawab Chinmi.
"Tan Xia Lan juga pernah berkata seperti itu saat baru datang dan menolong kami dari para penindas," kata kepala desa tersebut.
"Tan Xia Lan? Apakah para prajurit itu utusannya, dan kenapa para prajurit kerajaan Es Utara melakukan penindasan seperti ini?" tanya Chinmi.
"Ini terjadi sejak lima tahun lalu...!"
Zio Luo menceritakan akan pertama kali Tan Xia Lan tiba di desa Tianqi, mulai dari kebaikan nya hingga akhirnya berakhir seperti sekarang ini.
Kepala desa dan seluruh penduduk desa mencurigai jika Prajurit yang katanya kiriman dari wali kota untuk menjadi pengawal Tan Xia Lan kemungkinan palsu, namun tidak ada satupun yang berani untuk menyelidiki nya.
"Orang yang bernama Tan Xia Lan itu tinggal dimana?" tanya Qie Yin yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.
"Selama setahun ini dia tinggal di kota Xinde, disana adalah kota yang hidup saat malam hari!" jawab kepala desa Zio Luo.
"Hidup saat malam? Apa jika saat siang para penduduk di kota Xinde itu semuanya mati?" tanya Chinmi membuat semuanya termasuk kepala desa dan Qie Yin melotot kearah Chinmi.
"Ada apa, kenapa kalian menatap ku seperti itu? Nona Yin apa aku salah bicara?" tanya Chinmi setelah melihat tatapan mereka semua dan juga tatapan Qie Yin.
"Kamu ini...!" Qie Yin sudah tidak bisa lagi berkomentar apapun dan hanya menghela nafas panjang.
"Tuan pendekar, kota Xinde akan hidup saat malam! Maksudnya adalah akan sangat ramai saat malam sedangkan saat siang seperti biasa saja," kata Zio Luo.
"Setiap malam akan ada acara meriah dan juga ada pasar malam yang akan di buka selama semalaman penuh. Tidak hanya itu saja, disana akan ada rumah Bordil yang menyediakan banyak wanita penghibur yang sangat cantik, dan akan ada tempat perjudian yang kebanyakan pemain nya adalah para saudagar kaya dari berbagai penjuru!" salah satu penduduk menjelaskan lebih detail.
"Aku mengerti, baiklah kalau begitu karena sekarang desa kalian sudah aman, maka kami mohon pamit!" kata Chinmi.
Zio Luo terkejut begitu juga dengan semua penduduk desa, "Tuan dan Nona, menginap lah dulu malam ini di desa kami ini, kami ingin memberikan jamuan kepada kalian berdua," kata Zio Luo.
__ADS_1
"Maaf tuan Zio, namun kami benar-benar tidak bisa berlama-lama karena kami memiliki tujuan yang lebih penting dan juga mendesak! Jadi kami minta maaf karena tidak bisa memenuhi keinginan tuan!" kata Qie Yin.
"Baiklah jika kalian menolak, namun setidaknya tunggulah sebentar karena kami akan mengumpul kan semua harta yang kami miliki untuk hadiah kepada kalian."
Zio Luo ingin beranjak pergi dan berniat pulang untuk mengambil sesuatu di rumahnya, namun Chinmi menghentikannya.
"Tidak perlu tuan Zio, kami tidak membutuhkan imbalan atau hadiah apapun, maaf tapi kami harus pergi sekarang, selamat tinggal."
Chinmi memegang pergelangan tangan Qie Yin dan mereka berdua bergegas pergi meninggalkan Desa Tianqi.
"Benar-benar pemuda yang baik, tidak hanya hebat dan masih muda, namun hatinya benar-benar sangat mulia seperti seorang dewa!" kata Zio Luo yang masih memandangi Chinmi dan Qie Yin yang pergi menuju ke Kota Xinde.
***
Chinmi dan Qie Yin kini berada di pinggiran Kota Xinde, tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk sampai ke kota tersebut dan kini mereka berjalan memasuki kota yang terlihat seperti biasa-biasa saja.
"Kota ini seperti sebuah perkampungan yang sepi!" kata Chinmi.
"Yang di katakan oleh tuan Zio benar, kota ini terlihat besar namun terasa sepi, mungkin saat malam kota ini akan ramai!"
"Nona Yin, kita akan menginap di sini malam ini, apakah kamu keberatan?" tanya Chinmi.
"Terserah kamu saja, apapun yang ingin kamu lakukan aku akan mengikuti dan menurutinya!" jawab Qie Yin.
Mereka berdua segera mencari penginapan dan menemukan satu bangunan besar yang memiliki tiga lantai ke atas.
"Penginapan ini terlalu besar, aku yakin menginap di sini akan sangat mahal harganya, jika benar aku tidak mau menginap di sini!" kata Qie Yin mengamati banguanan besar berlantai tiga tersebut.
Qie Yin tidak memiliki banyak uang, selama ini dia hanya mengandalkan sisa uang yang ia miliki sehingga saat ini dia hanya memiliki sisa Lima belas keping koin emas saja.
"Tenang saja, mari kita masuk!" kata Chinmi membujuk Qie Yin untuk masuk, walau merasa berat hati, namun Qie Yin tetap menurut dan mengikuti Chinmi.
"Apa ini benar-benar penginapan? Kenapa aku merasa seperti berada di sebuah rumah yang akan mengadakan pesta?" tanya Qie Yin.
"Entahlah, mungkin ini memang penginapan yang memiliki desain yang berbeda!" kata Chinmi sambil menaikkan kedua bahunya.
Sebenarnya yang mereka masuki adalah rumah Bordil, karena itu banyak kain selendang warna warni bergantungan menjadi tirai yang menghiasi setiap dinding dan tangga dengan sangat indah.
Tanpa Chinmi dan Qie Yin sadari jika dari balik tirai ada seorang pria paruh baya sedang melihat mereka berdua dengan senyum bibir yang melebar dan sesekali mengeluarkan lidah menjilati bibir nya.
"Nyonya Fui, apakah kamu telah menemukan wanita penghibur baru malam ini?" tanya Pri tersebut kepada seorang wanita paruh baya juga dengan dandanan yang menor.
"Tuan Tan, kami masih..!"
"Sudahlah nyonya Fui, aku tahu kamu tidak akan mengumumkannya sekarang, namun aku sudah melihatnya, jadi aku minta sebelum pelanggan yang lain mendapatkan wanita itu, pastikan jika malam ini aku yang mendapatkan wanita cantik itu lebih dulu," kata pria tersebut kemudian melemparkan kantong ke depan wanita paruh baya tersebut.
"Ini seratus koin emas, jika wanita cantik itu sudah aku nikmati, maka aku akan menambahkan seratus koin emas lagi, bagaimana setuju?" kata pria paruh baya dengan tersenyum lebar.
Wanita paruh baya tersebut terdiam sambil memandangi kantong uang dihadapannya dan kemudian menatap kearah Qie Yin.
"Tuan Tan tenang saja, aku Fui Xixi tidak akan mengecewakan tuan Tan, aku pastikan wanita cantik itu akan tuan nikmati!" kata wanita tersebut yang bernama Fui Xixi sebagai nyonya pemilik tempat bordil tersebut.
"Baiklah aku tunggu nanti malam!" kata pria tersebut yang tidak lain adalah Tan Xia Lan.
"Kalau begitu aku akan kesana dulu!" kata Fui Xixi dan kemudian dia pergi menuju kearah Chinmi dan Qie Yin.
Chinmi dan Qie Yin saat ini melihat Fui Xixi yang berjalan kearahnya, melihat penampilan Fui Xixi yang berlebihan membuat Chinmi merasa sangat geli dan begidik ngeri.
"Riasan wanita ini sangat berlebihan bagai mayat yang dihiasi saja!" kata Chinmi.
Qie Yin juga sependapat dengan Chinmi, namun dia tidak menyuarakannya dan hanya melihat Fui Xixi yang berjalan kearahnya dengan senyum manis dan satu kipas ditangannya.
__ADS_1
"Selamat datang tuan muda dan nona muda!" kata Fui Xixi dengan memberi hormat manisnya.
"Nyonya eee..!"
"Fui, panggil saja aku Fui!" kata Fui Xixi.
"Nyonya Fui, kami membutuhkan dua kamar untuk menginap, apakah di sini masih ada kamar kosong untuk malam ini?" tanya Chinmi.
Senyum Fui Xixi semakin melebar karena tenyata Chinmi dan Qie Yin tidak mengetahui jika yang mereka masuki bukanlah penginapan, melainkan tempat pelacuran, dan yang lebih membuat Fui Xixi merasa senang adalah, tenyata Chinmi dan Qie Yin bukanlah sepasang kekasih.
"Ah tentu saja ada tuan muda dan juga masih banyak kamar yang kosong, jadi tuan silahkan saja memilih kamar tuan dan nona sendiri," kata Fui Xixi.
"Terima kasih nyonya Fui, namun bagaimana dengan harga, berapa kami harus membayar untuk semalam ini?" tanya Qie Yin.
"Tidak perlu di pikirkan, namun jika kalian ingin tahu kami hanya mematok harga yang sangat murah, cuma sepuluh keping perak saja permalam, dan itu sudah termasuk makan malam gratis, dan bagi tuan muda, kami juga akan mengirimkan wanita cantik untuk menemani tuan malam ini!" kata Fui Xixi.
"Wanita apa? Tidak-tidak, saya tidak membutuhkan itu nyonya Fui!" kata Chinmi.
Qie Yin menatap Chinmi dengan tatapan kaget kemudian berpaling dan menatap Fui Xixi dengan tatapan dingin.
"Nyonya Fui, kami tidak jadi pesan dua kamar, cukup satu kamar saja bagi kami berdua!" kata Qie Yin.
Chinmi terkejut mendengar hal itu, "Nona Yin apa yang kamu katakan?" tanya Chinmi dengan pelan.
"Diam saja, jika kamu protes berati kamu ingin di temani para wanita cantik malam ini," jawab Qie Yin dengan pelan juga, namun sebenarnya dia mulai mencurigai Fui Xixi, dia curiga mungkin saja mereka salah menginap.
Qie Yin juga tidak bermaksud ingin menginap satu kamar dengan Chinmi, namun ketika Fui Xixi berkata jika ada wanita cantik yang akan menemani Chinmi selama semalaman, Qie Yin merasa berat hati dan tidak terima.
Sedangkan Fui Xixi hanya tersenyum kecut, dia sadar jika dirinya sudah salah bicara, namun itu bukan masalah baginya, karena malam nanti dia sudah mempersiapkan obat tidur yang akan disuguhkan ke makanan Chinmi dan juga obat perangsang untuk Qie Yin..
Fui Xixi yakin jika Chinmi dan Qie Yin bukanlah seorang pendekar, dan jika pun seorang pendekar, kemungkian mereka berada di tingkat awal atau menengah, sedangkan obat yang akan ia berikan akan bisa membuat pendekar Sihir sekalipun tetap terpengaruh.
Namun satu hal yang Fui Xixi tidak ketahui jika mereka berdua sebenarnya bukanlah seorang pendekar Sihir, melainkan sudah melebihi para Pertapa, dan mereka berdua juga sama-sama kebal terhadap racun apapun terutama Chinmi.
"Baiklah mari saya akan antarkan kalian ke kamar kalian," kata Fui Xixi kemudian dia berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Qie Yin dan Chinmi.
Saat menaiki tangga, Qie Yin menoleh kearah balik tirai dan melihat seorang pria paruh baya yang sedang di pijati oleh empat wanita.
Pria paruh baya tersebut tenyata juga menatap kearah Qie Yin dan kemudian mengedipkan matanya kepada Qie Yin.
Qie Yin melihat itu merasa jijik dan kemudian dia memalingkan wajahnya dan menatap punggung Chinmi dan terus menaiki anak tangga.
"Hari ini kamu memalingkan wajahmu dari ku, namun nanti malam, kamu akan menatap wajahku sampai kamu puas dan aku akan menikmati tubumu itu," kata Tan Xia Lan.
"Tuan Tan, jadi nanti malam bagaimana dengan ku? Bukankah tuan tadi bilang kalau malam nanti menginginkan pelayanan ku?" salah satu wanita penghibur berkata manja kepada Tan Xia Lan.
"Kamu tenang saja, walau nanti malam kamu tidak bisa melayaniku, namun aku akan memberikan kalian semua masing-masing lima keping emas, jadi malam nanti aku minta pada kalian semua untuk membiarkan diriku menikmati wanita cantik yang tadi itu, emm!" kata Tan Xia Lan sambil menyentuh dagu wanita tersebut.
"Tuan muda benar-benar sangat baik, kalau begitu sering-seringlah seperti ini, jika perlu setiap malam!" kata salah satu wanita yang lain yang juga berkata dengan penuh manja.
"Hahaha..! Tenang saja, yang penting bagiku malam ini bisa menikmati wanita yang memiliki kecantikan Dewi itu, dan aku akan memberikan kalian semua uang sebagai rasa senang ku untuk malam nanti!" kata Tan Xia Lan tertawa keras sekaligus membagi-bagikan masing-masing lima koin emas kepada para wanita penghibur tersebut.
"Tuan Tan memang yang terbaik, aku sangat menyukai mu tuan muda," kata salah satu dari mereka setelah menerima koin emas tersebut dan mencium pipi Tan Xia Lan.
Tan Xia Lan sendiri juga merasa sengat senang dan tidak sabar menunggu malam datang dan membayangkan Qie Yin sudah berada di atas ranjang menyabut kedatangan nya.
"Malam ini akan menjadi malam terindah bagi ku! Hahahaha...!'' kata Tan Xia Lan dengan tawanya yang terdengar ke seluruh ruangan.
Sedangkan Chinmi dan Qie Yin sudah sampai di depan kamar mereka, dan Fui Xixi mempersilahkan mereka untuk masuk, namun tatapan Fui Xixi mengarah ke Qie Yin.
"Kau akan menjadi tambang emas ku malam ini!" batin Fui Xixi dan kemudian memohon ijin untuk menyuruh para pekerja menyiapkan makan malam untuk Chinmi dan Qie Yin.
__ADS_1