
***
Situasi di dalam pusat kota Kerajaan Api Timur sangat kacau, namun para penduduk kota mulai aktif beraktifitas setelah rasa duka mereka akan kehilangan beberapa anggota keluarga, teman, dan orang-orang terdekat.
Walau sudah beraktifitas seperti biasanya, namun di wajah mereka masih terlihat kesedihan.
She Chin berjalan dengan menggunakan pakaian seperti seorang pengembara, namun pakaiannya terlihat seperti pakaian seorang saudagar.
"Tuan! Mampirlah di warung kami! Hari ini kami menyediakan menu baru dan semuanya ada potongan harganya!" kata seorang wanita paruh baya yang mencari pelanggan baru karena warung makannya baru buka setelah sekian lama tutup.
She Chin hanya menatapnya dan tidak menjawab apapun, dia terlihat tidak tertarik sama sekali akan tawaran wanita tersebut dan terus berjalan.
Di sepanjang perjalanan, She Chin terus di tawari berbagai macam makanan dan barang-barang baru, namun semuanya tidak membuat She Chin merasa tertarik.
"Setelah berjalan hingga sampai di sebuah warung makan terbuka, dimana semua meja makan berada di luar dan disana juga banyak pelanggan yang makan, She Chin baru berhenti dan menduduki salah satu meja kosong yang ada di paling pinggir.
"Tuan, apa yang ingin tuan pesan?" tanya salah satu pelayan yang menghampiri She Chin saat melihat She Chin duduk di meja kosong.
"Berikan aku arak terbaik kalian, dan sediakan pula beberapa makanan ringan untukku!" kata She Chin.
"Baiklah tuan, mohon tuan tunggu sebentar, pesanan tuan akan segera dikirim!" kata pelayan tersebut.
She Chin hanya mengangguk pelan sambil mengibaskan tangannya kepada pelayan tersebut.
She Chin memperhatikan kesekelingnya, dia berusaha mencari informasi akan keberadaan Ming Zai, siapa tahu ada informasi di warung makan tersebut.
"Silahkan tuan, ini arak terbaik yang kami miliki, dan ini makanan ringannya!" kata seorang pelayan sambil meletakkan semua pesanan She Chin.
"Tuan, apakah tuan baru disini?" tanya pelayan tersebut.
She Chin menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar pertanyaan pelayan tersebut, "Memang nya kenapa? Apakah warung disini tidak mau melayani pendatang baru?" tanya She Chin.
"Eh, tidak bukan seperti itu! Tuan begini, di kerajaan ini setiap harinya akan diadakan pemeriksaan bagi orang asing yang masuk kesini!" kata pelayan tersebut.
"Em..? Kenapa seperti itu?" tanya She Chin.
"Ini semua ada hubungannya dengan Pangeran Ming!" jawab Pelayan tersebut.
She Chin mengerutkan dahinya, dia bingung kenapa pelayan tersebut mau memberikan informasi yang di cari.
"Pangeran katamu? Memangnya ada apa dengan pangeran?" tanya She Chin.
"Owh, ternyata tuan juga suka dengan kabar ini ya!" kata Pelayan tersebut dengan tersenyum lebar.
"Apa maksudmu, bukankah kamu sendiri tadi yang menjelaskan tanpa aku minta? Lagi pula ini juga demi diriku agar tahu jika aku diperiksa nantinya dan tidak terkejut, jadi coba jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa semua orang baru harus di periksa?" tanya She Chin sekali lagi.
"Jika tuan ingin tahu, setidaknya berikan aku uang informasi dulu, setidaknya Lima Keping perak, dan jika ingin tahu seluruhnya berikan aku Lima puluh keping perak!" kata pelayan tersebut.
Jari-jari She Chin seperti mau berubah menjadi hijau, dia ingin sekali membunuh pelayan tersebut karena berani meminta uang padanya, namun dia sadar jika dia tidak ingin mencari masalah atau keributan.
Karena dia tidak memiliki pilihan lain selain menuruti akan apa yang pelayan itu minta, lagi pula dia juga menginginkan informasi tersebut walau tidak gratis.
"Jadi kamu sengaja menjual informasi kepada orang baru? Ah sudahlah! Ini uang untuk mu, jadi beritahu semuanya padaku!" kata She Chin dengan memberikan satu koin emas pada pelayan tersebut.
Mata pelayan tersebut bersinar saat melihat sekeping emas di atas meja, "Owah...! Ini lebih dari yang aku inginkan!" kata pelayan tersebut sekaligus meraih koin tersebut kemudian menggigit koin tersebut untuk memastikan apakah koin tersebut asli atau tidak.
"Cepatlah jelaskan padaku!" kata She Chin.
"Tuan, aku memang sering menjual informasi kepada semua orang yang baru datang, dan yang akan aku jelaskan ini padamu adalah benar adanya," kata pelayan tersebut.
"Aku harap begitu, kamu beruntung saat ini perasaanku sedang baik, jadi cepat berikan informasi itu!" kata She Chin.
__ADS_1
Pelayan tersebut sedikit bingung akan perkataan She Chin, namun dia tetap akan menjelaskannya.
"Tuan, beberapa Minggu yang lalu saat ada bencana yang hampir membuat seuruh rakyat di Kerajaan Api Timur ini binasa, Raja Ming melepaskan semua tahanan karena takut tembok penjara roboh dan menimpa para tahanan, dan salah satunya adalah Pangeran Ming Zai."
She Chin mendengarkan sambil minum arak dan memakan cemilan, sedangkan pelayanan tersebut terus memberikan informasi kepada She Chin.
"Pangeran Ming Zai kabur saat semua tahanan sedang di giring ketempat yang lebih luas agar mereka selamat. Setelah itu pengawal para tahanan baru tahu jika pangeran sudah kabur dan menyampaikan hal itu pada Raja Ming," pelayanan tersebut terdiam sejenak untuk mengambil nafas sedangkan She Chin berpura-pura bersikap tenang namun sebenarnya dia penasaran.
"Raja Ming memerintah kan para prajurit dan satu Jendral untuk mengejar Pangeran Ming, namun setelah mereka berhasil menemukannya, mereka justru gagal menangkapnya kembali, itu karena ada orang asing yang memakai topeng menyelamatkan pangeran tersebut," kata Pelayan tersebut.
"Orang asing mengenakan topeng? Siapa dia?" tanya She Chin.
"Tuan, jika Jendral Lo Wei Xhen tahu identitas orang itu, pemeriksaan terhadap orang yang baru datang ketempat ini tidak mungkin ada!" jawab Pelayan tersebut.
"Owh..! Jadi karena itu setiap ada pendatang baru yang baru masuk ke kota ini akan di periksa? Berarti pangeran itu saat ini sedang bersama dengan Orang bertopeng itu!"
"Bisa ia, bisa juga tidak!" kata pelayan tersebut.
"Kenapa bisa begitu? Bukankah sudah jelas jika pangeran itu diselamatkan oleh Orang asing tersebut?" tanya She Chin.
"Menurut informasi pengeran itu berhasil kabur saat Jendral Lo Wei Xhen bertarung dengan orang asing tersebut, setelah mereka bertarung cukup lama, barulah orang asing tersebut berhasil kabur!" kata pelayan tersebut.
"Emm... Begitu ternyata, jadi ada kemungkinan pangeran itu sedang bersama dengan orang asing itu, namun bisa juga tidak! Lalu ada informasi yang lain?" tanya lagi She Chin, dia berharap ada petunjuk dari informasi selanjutnya.
"Tidak ada lagi tuan, nanti jika ada informasi baru, datanglah lagi kesini, aku pasti akan menyampaikan nya padamu, dan tentu informasi itu tidak gratis!" ucapnya.
She Chin hanya mengangguk dengan wajah terlihat kecewa, namun setidaknya dia sudah tahu jika Pangeran Ming Zai tidak ada di Kerajaan Api Timur.
"Kalau begitu saya kembali bekerja tuan, semoga informasi yang saya sampaikan ini bisa membantu tuan saat nanti mulai di periksa oleh para prajurit! Owh iya, terima kasih atas koin nya!"
She Chin tidak menjawabnya dia hanya menatap pelayan tersebut sesaat sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya.
Pelayan tersebut pergi sambil tersenyum puas dan menggenggam koin emas tersebut dengan sangat erat, dia merasa hari ini adalah hari keberuntungan nya.
Jika sampai She Chin di periksa, maka penyamarannya pasti akan terbongkar sehingga dia tidak mau berada di sana terlalu lama.
She Chin melatakkan beberapa koin perunggu di atas meja dan kemudian dia segera pergi meninggalkan warung tersebut, dan tanpa She Chin sadari ada tiga orang yang mengawasi She Chin.
Tiga orang tersebut tertarik saat melihat She Chin memberikan sekeping koin emas kepada Pelayan yang menjual informasi pada She Chin.
Setelah berjalan cukup jauh, barulah She Chin menyadari jika dirinya sedang diikuti oleh tiga orang dari belakang.
She Chin tersenyum tipis karena dia tahu jika mereka adalah para perampok yang kekuatannya baru berada di Tingkat Menengah.
"Kebetulan aku akan melampiaskan kekesalan ku terhadap pelayanan tadi pada mereka!" gumam She Chin kemudian dia berjalan kearah yang sangat sepi.
She Chin berhenti berjalan di sebuah gang buntu, sedangkan tiga orang yang mengikutinya tertawa melihat She Chin yang berhenti berjalan karena jalan yang ia lalui adalah gang buntu.
"Hohoho...! Lihatlah dia membawa kita ketempat yang sepi dan buntu, makanya jika kamu pendatang baru di kota ini, mintalah bantuan petunjuk jalan, dan kami akan membantumu! Namun sebagai imbalannya, kamu harus menyerahkan semua uang yang kamu miliki!" kata salah seorang yang bertubuh lebih kecil dari kedua rekannya dengan meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.
She Chin berbalik kearah mereka bertiga kemudian dia mengangkat kepalanya, namun ketiga orang tersebut tidak mengenali wajah She Chin.
She Chin menjilati bibirnya dengan lidahnya seperti orang yang sudah sangat bernafsu ingin segera membunuh mereka semua.
"Hai apa kamu tidak dengar? Sekarang kamu sudah tidak bisa kemana-mana, jika kamu ingin selamat, maka serahkan semua harta yang kamu bawa pada kami!" kata salah seorang lagi dengan nada membentak.
"Kalian ingin uang ini?" She Chin mengeluarkan sekantong uang dan menunjukkannya pada mereka.
"Serahkan pada kami, setelah itu kamu boleh pergi!" kata salah seorang lagi yang matanya melebar saat melihat kantong tersebut.
"Benarkah? Jika kalian memang menginginkannya, kenapa kalian tidak mengambilnya sendiri dari ku, itupun jika kalian mampu!" kata She Chin kemudian dia kembali menyimpan kantong tersebut di balik bajunya.
__ADS_1
"Kau benar-benar sudah bosan hidup! Ayo serang dan ambil uangnya!" kata orang yang bertubuh pendek.
Mereka bertiga menarik pedang mereka masing-masing dan kemudian berniat maju untuk menyerang She Chin.
Senyum She Chin semakin melebar dan kemudian aura pembunuh keluar dari tubuhnya dan aura tersebut membuat ketiga orang tersebut berhenti bergerak.
"Tu-tubuhku Ti..tidak bisa di.. di gerakkan!"
"A- aura apa ini?"
Mereka tidak tahu jika yang She Chin lepaskan adalah Aura pembunuh karena hanya She Chin yang memiliki aura tersebut.
Kuku She Chin berubah sedikit panjang dan berwarna hijau. She Chin berjalan kearah mereka dengan tenang dan setelah berada di hadapan salah satu dari mereka yang paling depan, She Chin berbicara kepada mereka.
"Kalian sangat beruntung karena mati di tangan ku! Owh iya, agar kalian tidak mati penasaran, maka kalian harus tahu jika yang akan membunuh kalian adalah She Chin, ketua Sekte Kalajengking Merah!" kata She Chin.
Mereka bertiga terkejut mendengarnya, mereka tidak menduga jika yang ingin mereka rampok adalah salah satu dari pendekar aliran hitam terkuat dan paling kejam saat membunuh lawannya.
Masalahnya mereka tidak pernah bertemu dengan She Chin, dan yang mereka tahu hanya nama dan gelarnya sebagai Pendekar Kabut Merah.
"Tu-tuan She! Ka-kami mi-minta maaf! Ka-kami tidak tahu ji..jika tuan adalah anda!" kata salah satu yang paling dekat dengan She Chin.
She Chin mendekatkan wajahnya kepada orang tersebut kemudian berbisik pelan sehingga membuat orang tersebut langsung pucat.
"Kau tahu! Aku ingin melihat tubuhmu membusuk sekarang juga!" bisik She Long.
Orang tersebut ingin langsung pucat, dia ingin menjawab namun tidak sempat karena satu kuku She Chin sudah lebih dulu melukai lengannya.
Kedua rekannya yang juga tidak bisa bergerak juga terkejut serta berkeringat dingin saat melihat tubuh rekannya mengeluarkan asap dan tidak ada suara jeritan dari rekannya.
Tubuhnya mulai mengeluarkan aroma busuk, dan kulitnya seperti terkelupas seolah-olah seperti bangkai yang sudah mati hampir lima hari dan semakin lama dagingnya berjatuhan dan seluruh isi dalamnya juga ikut berjatuhan dan menumpuk kebawah.
Kini hanya tersisa tulangnya saja masih ada beberapa daging yang masih menempel, dan tidak lama tulang tersebut jatuh menumpuk di atas tumpukan dagingnya sendiri.
Kedua rekannya ingin berteriak minta tolong, namun suara mereka seperti tersangkut di tenggorokan.
Mereka yakin jika tidak ada yang menolong mereka berdua, mereka pasti akan bernasib sama dan itu sudah di pastikan saat She Long kini berjalan kearah mereka.
Kini di hati mereka hanya di penuhi rasa penyesalan yang sangat besar, mereka merasa sangat bernasib sial karena salah target, bukannya mendapatkan hasil, mereka justru mendapatkan kematian dari seorang pendekar hebat dari aliran hitam.
"Kalian tidak perlu takut dan merasa khawatir, kalian juga akan mendapatkan cara kematian yang sama, dan aku jamin ini tidak akan lama, jadi nikmati saja kesakitan yang sesaat ini, dan setelah itu kalian akan merasa bebas dan busa menemui Raja Akhirat!" kata She Chin kemudian dia menempelkan kukunya kulit leher salah satu dari mereka kemudian berkata pelan.
"Sampaikan salam ku pada Raja Akhirat!" kata She Long kemudian dia menarik kukunya sehingga luka gores di leher orang tersebut mulai terlihat.
Begitu luka goresan dari kuku She Chin mulai dirasa, orang tersebut merasakan panas dari luka tersebut, rasa panas dengan cepat menyebarkan ke seluruh tubuh, dia ingin berteriak namun suaranya tidak keluar.
Panasnya semakin lama semakin meningkatnya seperti mulai membakar ke sekujur tubuhnya hingga ke bagaian dalam.
Tanpa bisa berbuat apa-apa hingga kesadaran orang tersebut hilang saat panas tersebut sudah mencapai otaknya dan kemudian seluruh tubuhnya juga mengeluarkan asap dan pada akhirnya nasibnya harus sama seperti rekan pertamanya yang mati dengan daging membusuk dan seluruh dagingnya yang terpisah dengan tulang nya menumpuk kebawah.
Kini She Chin menoleh kearah satu orang yang tersisa, She Chin bisa melihat dari matanya yang ketakutan serta terlihat syok melihat kedua rekannya yang mati dengan cara tragis dan menakutkan.
Jelas dia akan syok bercampur takut, di depan matanya dia melihat kedua temannya harus mati, terlebih lagi seluruh dagingnya yang terpisah, dan yang paling bikin merinding saat melihat kedua mata rekan nya yang keluar dan jatuh ketanah dan disusul oleh otaknya yang meledak dan kemudian jatuh hingga hancur.
Dia ingin pingsan namun tidak bisa, yang bisa di lakukan nya saat ini hanya bisa mengeluarkan air matanya saja sambil memejamkan matanya menunggu gilirannya untuk mati.
Setelah beberapa saat, dia membuka sedikit matanya karena penasaran She Chin yang tidak kunjung melukainya.
Namun saat dia membuka mata, dia sama sekali tidak melihat She Chin, bahkan tekanan dari aura Pembunuh juga sudah hilang.
Setelah menyadari dirinya bisa kembali bergerak, dia tidak lari melainkan berteriak dengan sangat keras dan minta tolong, setelah beberapa saat barulah dia jatuh pingsan karena sudah tidak kuat lagi saat mengingat kejadian yang menimpa kedua rekannya di depan matanya.
__ADS_1
Bisa dipastikan jika dia akan mengalami trauma, bahkan bisa saja dia menjadi gila dan dia akan dihantui rasa ketakutan.
She Chin sengaja membiarkan satu orang hidup karena dia yakin orang itu pasti akan mengalami trauma dan akan menjadi gila Setelah melihat Kekejaman dari Sang Racun Kabut Merah.