PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Firasat buruk


__ADS_3

***


Seluruh wilayah keempat kerajaan menjadi heboh, mereka semua membicarakan penyerangan sekte aliran hitam yang menggabungkan kekuatan mereka untuk menggempur kerajaan Bumi Barat.


Walau Kerajaan Bumi Barat bisa dikatakan menamg, namun penyerangan yang dilakukan oleh gabungan seluruh sekte besar dan kecil aliran hitam menuai kecaman.


Namun mereka akui jika kerajaan Bumi Barat ternyata sanggup menghadapi mereka dan berhasil menangkap beberapa anggota serta ketua salah satu sekte.


Salah satu yang paling terkejut akan kabar tersebut adalah kerajaan Angin Selatan dimana mereka sudah lama menjadi musuh bebuyutan dari kerajaan Bumi Barat.


Raja Shao Ming duduk di dekat kolam seorang diri dengan memijat kepalanya, dia tidak habis pikir jika kerajaan Bumi Barat ternyata memiliki pendekar misterius yang sangat hebat.


"Andai saja mereka mau berbicara padaku mengenai penyerangan itu, aku pasti akan memberikan bantuan prajurit pada mereka untuk menghancurkan kerajaan Bumi Barat itu!" gerutu Raja Shao.


"Zu Chin juga aneh, dia bilang pertunangan anakku dengan pangeran arogan itu akan membuat kerajaan Api Timur akan mendukung ku! Mana? Kenapa sampai saat ini masih belum juga ada kabar apapun?"


Raja Shao jelas merasa kesal karena sejak pertama kali purtinya bertunangan dengan pangeran Ming Zai, bukannya dukungan kerja sama yang ia dapatkan.


Yang lebih buruk lagi, Pangeran Ming Zai justru malah di penjara karena telah berusaha menyerang seorang pemuda asing.


"Jika terus begini, bisa-bisa kerajaan ku akan terus menjadi kerajaan lemah! Tidak-tidak aku harus berbuat sesuatu apapun itu, yang penting kerajaan ku menjadi lebih kuat dan bisa mengimbangi kerajaan Bumi Barat."


Raja Shao bangkit dan berencana ingin pergi, namun belum ia meninggalkan tempat tersebut, Jendral Tio Li datang menemuinya.


"Yang Mulia Raja Shao Ming, Jendral Tio memberi hormat kepada Yang Mulia, semoga Yang Mulia diberi panjang umur dan sehat selalu," kata Jendral Tio Li yang berlutut dihadapan Raja Shao.


"Bangunlah Jendral Tio! Sekarang katakan apa yang ingin kamu laporkan padaku?" kata Raja Shao.


Tio Li menurut dan bangkit kemudian mulai memberi laporannya, "Yang Mulia, ada menurut informasi yang saya terima, ternyata penyerangan tersebut tidak hanya melibatkan sekte-sekte hitam saja, ada sekitar lima sekte kecil dari aliran netral yang juga ikut dalam penyerangan tersebut."


Raja Shao mengerutkan dahinya setelah mendapatkan laporan tersebut, "Apa motif dari penyerangan itu?"


"Saya hanya dapat dua informasi mengenai hal itu, yang pertama adalah Tong Liung! Menurut kabar yang saya dengar, lima murid Tong Liung dari sekte Golok Setan ditangkap dan dipenjarakan oleh kerajaan, sedangkan yang kedua adalah kudeta."


"Kudeta? Siapa yang ingin memberontak?" tanya Raja Shao penasaran.


"Mantan Jendral kerajaan itu yang bernama Fu Shen si penghianat!" jawab jendral Tio Li.


"Fu Shen lagi? Aku pikir dia sudah mati, ternyata dia malah kembali lagi, tapi kenapa kabar akan kembalinya Fu Shen tidak ku dengar?"


"Maaf Yang Mulia, sepertinya hal ini memang di sembunyikan demi nama dan kehormatan kerajaan, Raja Tao pasti tidak mau jika kabar kudeta dari mantan Jendral nya tersebar luas hingga harus menjatuhkan nama kerajaan, dan katanya Fu Shen barhasil tertangkap karena kalah oleh pendekar bertopeng yang misterius," kata Tio Li mengakhiri penjelasannya.


Raja Shao terlihat senang, wajahnya yang kusut kini mulai terlihat cerah dan dia mulai tersenyum lebar.


"Jendral Tio, ini kesempatan kita untuk menjatuhkan martabat kerajaan itu tanpa harus menyerangnya, sekarang juga kamu panggil jendral Xiao Tao, kita akan mendiskusikan masalah ini di tempat ini saja!" kata Raja Shao.


Jendral Tio yang kebingungan hanya bisa menurut dan pergi untuk memanggil Jendral Xiao Tao, sedangkan Raja Shao membatalkan niatnya untuk pergi.


Setelah beberapa saat, Tio Li datang bersama Jendral Xiao Tao, mereka berdua segera berlutut di hadapan Raja Shao.


"Jendral Xiao, Apakah Jendral Lu Xinxi belum datang?" tanya Raja Shao.


"Mereka belum datang yang mulia," jawab Jendral Xiao Tao.


Jendral Lu Xinxi adalah jendral wanita berumur 40 Tahun, dia adalah jendral wanita pertama di kerajaan Angin Selatan sebelum akhirnya jendral Xie Ying juga menjadi jendral.


Sama seperti Jendral Lu Xinxi, Jendral Xie Ying adalah jendral wanita kedua. Umur jendral Xie Ying 37 tahun, dan saat ini kedua jendral wanita itu sedang bertugas bersama dan di lokasi yang sama juga.


"Maafkan Hamba Yang Mulia, jika boleh saya bertanya, kenapa Yang Mulia meminta hamba membawa jendral Xiao Tao menemui Yang Mulia?" tanya Tio Li.


"Karena hanya ada kalian berdua saja disini, aku ingin meminta bantuan kalian berdua, itupun jika kalian tidak keberatan."


Tio Li dan Xiao Tao saluang berpandangan, mereka berdua merasa heran atas sikap Raja Shao yang menurutnya sangat aneh.


"Yang Mulia, sudah tugas kami untuk melaksanakan perintah Yang Mulia, apapun yang ingin Yang Mulia perintahkan, maka kami akan siap untuk melaksanakan nya," jawab Tio Li.


Raja Shao menghela nafas panjang, dia juga sadar perkataannya terdengar sangat aneh.


"Tugas yang akan aku berikan ini adalah tugas kotor, aku tidak ingin ada yang mengetahuinya, jadi aku pastikan kepada kalian untuk merahasiakan akan misi ini," kata Raja Shao dengan suara sedikit di pelankan.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia, kami janji akan merahasiakan tugas ini!" jawab mereka berdua dengan jawaban yang sama dan hampir bersamaan.


"Baiklah, tugas yang akan aku berikan adalah!"


Raja Shao menjelaskan tugas rahasia tersebut dengan suara pelan sekaligus meminta mereka berdua untuk mendekat agar bisa mendengar dengan jelas.


Tio Li dan Xiao Tao terkejut bukan main saat mengetahui tugas tersebut, walau tidak berisiko bagi mereka, namun tetap saja menurut mereka tugas tersebut sangat memalukan.


"Apakah Yang Mulia yakin akan memberikan kami tugas aneh ini?" tanya Xiao Tao.


"Ssstt..! Pelankan suaramu!" kata Raja Shao kemudian kembali melanjutkan perkataannya.


"Tentu saja aku yakin, lagi pula untuk sebuah kemenangan memang harus melakukan hal kotor. Aku tahu tugas yang ku berikan ini sangat memalukan bagi kalian karena bertentangan dengan jiwa kesatria kalian."


Raja Shao kembali duduk dan bersandar di kursi, sedangkan Tio Li dan Xiao Tao saling memberi kode apakah mau melaksakan tugas tersebut atau tidak.


Xiao Tao menganggukkan kepalanya pertanda ia setuju, karena perintah raja memang wajib untuk di laksanakan.


"Baiklah Yang Mulia, kami akan menerima dan melaksanakan tugas itu!" kata Tio Li.


"Terima kasih Jendral, tapi ingat kalian tetap harus berhati-hati, dan jangan sampai ketahuan oleh siapapun juga termasuk orang dari kerajaan ku ini," kata Raja Shao.


"Kami mengerti Yang Mulia!" jawab mereka serempak.


"Bagus, kalau begitu pergilah dan kerjakan tugas dari ku segera!" kata Raja Shao.


Mereka berdua sama-sama membungkukkan badan dan berpamitan pergi dari hadapan Raja Shao.


"Aku tidak peduli apakah caraku kotor atau tidak! Demi kemenangan apapun akan aku lakukan," gumam Raja Shao sambil melihat ke langit.


***


Di ruang pengadilan kerajaan Bumi Barat saat ini, banyak sekali orang yang hadir untuk mengetahui keputusan Hakim terhadap Fu Shen.


Raja Tao, Li Xiang, Li Fang, Zuo Yujiu, Mei Xin, dan para menteri juga hadir disana, sedangkan Fu Shen sendiri berada di hadapan Hakim.


Sebelum aku memberi keputusan padamu aku mau bertanya padamu, apakah kamu mengakui semua kesalahan mu itu?" tanya Hakim.


Fu Shen tersenyum sinis sambil menatap kearah Li Xiang, "Untuk apa aku menjawab pertanyaan bodoh itu? Bukankah semua sudah jelas kalau aku memang bersalah," kata Fu Shen yang dalam kondisi kedua tangan nya diikat kebelakang.


"Iya akulah yang sudah memfitnah Li Xiang jika dia sudah membocorkan rahasia kerajaan kepada kerajaan Angin Selatan, namun sebenarnya akulah yang membocorkan nya.


Memang benar aku adalah seorang pengianat, dan aku sudah berusaha menyerang kerajaan ini, dan hingga hari ini aku masih berniat untuk membunuh Li Xiang dan akan aku rebut Kerajaan ini dan akan menggantikan kedudukanmu Raja Bodoh," kata Fu Shen sambil menatap ke Li Xiang dan Raja Tao.


"Lancang sekali mulutmu..!" bangkit Jendral Zuo Yujiu dengan menunjuk kearah Fu Shen.


Tidak hanya Zuo Yujiu saja yang geram akan perkataan Fu Shen, namun semua juga terlihat marah.


"Mohon semua nya diam..!" seru Hakim sehingga membuat semuanya terdiam.


"Fu Shen, kamu sadar akan perkataan mu ini? Apa kamu tidak takut jika aku memfonis dirimu dengan hukuman mati?" tanya sang Hakim.


"Silahkan Hakim, aku ingin tahu apakah ada senjata yang bisa menembus kulit ku ini!" jawab Fu Shen sambil tersenyum lebar.


Perkataan Fu Shen membuat semua orang yang ada di sana menjadi emosi karena Fu Shen terlihat congkak dan sombong.


Berbeda dengan yang lainnya, Li Xiang dan Li Fang mengakui hal itu, mereka berdua juga merasa heran karena Fu Shen sama sekali tidak berusaha untuk melepaskan diri.


Dengan kekuatan Fu Shen saat ini seharusnya sangat mudah baginya untuk meloloskan diri atau melawan balik.


Namun tidak satupun dari mereka yang menyadari jika sebenranya Fu Shen masih memantau apakah sosok pria bertopeng misterius tersebut masih ada atau tidak.


Fu Shen menunggu saat yang tepat untuk melawan jika sosok pria bertopeng tersebut memang benar-benar sudah tidak ada di kerajaan Bumi Barat.


"Fu Shen, kau terbukti bersalah dan juga berani menyerang kerajaan dan mengancam keselamatan Yang Mulia. Dengan ini pengadilan memutuskan akan menjatuhkan hukuman pancung, dan akan segera dilaksanakan nanti sore!" kata Hakim.


Semua orang yang hadir bersorak sorai seolah-olah sangat senang atas keputusan pengedilan, namun anehnya Fu Shen juga tertawa terbahak-bahak mendengar keputusan tersebut.


Semua orang langsung terdiam dan hanya bengong melihat Fu Shen yang sedang tertawa kesenangan.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang tidak beres otaknya!" kata salah satu orang yang ada di sana.


"Biarlah dia tertawa sepuasnya karena nanti dia akan mati juga," jawab rekannya.


Li Xiang sendiri merasa akan ada kekacauan saat pengeksekusian nanti, karena itu dia segera menghampiri Raja Tao.


"Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia tidak perlu ikut menghadiri nya nanti," kata Li Xiang dengan singkat.


Raja Tao mengerutkan dahi karena tidak mengerti akan perkataan Li Xiang, "Jenderal, aku sudah menunggu saat-saat seperti ini, kenapa aku tidak boleh hadir dan menyaksikan eksekusi Fu Shen secara langsung?" tanya Raja Tao.


"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba hanya meraksan firasat buruk akan terjadi nanti, jadi untuk beruaga-jaga sebaiknya Yang Mulia tidak perlu menghadirinya," kata Li Xiang menjelaskannya.


"Terima kasih Jendral atas perhatian mu padaku, namun aku tetap akan ikut menghadiri eksekusi tersebut. Lagi pula apa yang harus aku khawatirkan, bukankah nanti ada kamu yang akan melindungiku!" kata Raja Tao kemudian dia pergi meninggalkan Li Xiang.


Li Xiang sendiri tidak bisa tenang, dia memang akan melindungi Raja Tao dengan nyawanya, namun masalahnya dia sendiri tidak yakin jika firasat yang semakin tidak karuan tidak akan mampu ia hadapi.


Selain Li Xiang, tidak satupun dari semua orang yang menyadari atau merasakan firasat buruk, menurut mereka Fu Shen sudah kehilangan akal karena tertawa keras.


"Aku harus memperingatkan Zhinie dan Fang'er untuk lekas meninggalkan Kerajaan ini," gumam Li Xiang kemudian dia ingin beranjak pergi lalu kemudian dia teringat kepada seseorang yang menginap di rumahnya yaitu Ho Chen.


"Celaka, aku harus segera menyuruh anak itu untuk kembali ke kerajaan Api Timur!" kata Li Xiang kemudian dia bergegas pulang.


Li Xiang sampai di rumah dengan cepat, dia langsung melihat Zhinie dan Ho Chen sedang mengobrol di halaman rumah mereka.


"Xiang, kamu sudah datang? Mari duduk dan istirahatlah!" kata Zhinie sambil menuangkan secangkir teh kedalam cangkir kecil, sedangkan Ho Chen tersenyum lembut padanya.


Li Xiang segera duduk, namun wajahnya terlihat gelisah. Zhinie menyadari akan hal itu sehingga Zhinie bertanya padanya.


"Ada apa? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Zhinie.


Ho Chen sendiri hanya menghela nafas pelan karena mengetahui akan apa yang Li Xiang pikirkan saat ini.


"Tidak ada yang baik-baik saja! Zhinie, sebaiknya kamu pergi dari kerajaan ini, bawalah Fang'er dan keluarganya!" kata Li Xiang.


Zhinie terkejut mendengarnya, "Apa yang kamu bicarakan? Jelaskan padaku apa yang sebenarnya kamu khawatirkan.


"Paman, apa yang kamu khawatirkan, ingat jika orang tertawa senang saat mengetahui dirinya akan di hukum pancung, bukan berarti dia akan bisa membuat masalah," kata Ho Chen.


"Kau? Bagaimana kamu tahu?" tanya Li Xiang.


Ho Chen hanya tersenyum lembut menanggapi pertanyaan Li Xiang kemudian dia bangkit dan berbicara kepada Li Xiang.


"Apakah paman juga ingin memintaku untuk kembali ke kerajaan Api Timur karena takut situasi akan memburuk?" tanya Ho Chen.


Li Xiang hanya menganggukkan kepala nya dengan cepat tanpa bisa berbicara apapun karena terkejut akan pertanyaa Ho Chen yang tepat seperti apa yang ia pikirkan.


"Paman, tahukah paman kalau aku datang kesini tidak sendirian saja!" kata Ho Chen.


"Siapa maksudmu, apakah kamu membawa teman, tapi dimana? Dari awal kamu datang aku tidak melihat siapapun ikut datang bersamamu!" kata Zhinie.


Ho Chen tersenyum lembut kemudian menjawabnya, "Dia adalah pengawal ku, dan dia sering mengenakan kain putih dan topeng putih, saat ini dia berada diatas sedang menjagaku," kata Ho Chen sambil menatap langit.


Li Xiang terkejut mendengar nya, dia tidak menduga jika sosok pria bertopeng misterius yang menolongnya adalah pengawal Ho Chen, dia tidak tahu kalau sebenarnya Ho Chen lah sosok tersebut.


"Ja-jadi sosok pria bertopeng itu adalah pengawal mu?" tanya Li Xiang yang dijawab anggukan oleh Ho Chen.


"Ini membuktikan jika kerajaan Api Timur memang sangat kuat," batin Li Xiang di sertai dengan senyum kecut.


"Sekarang paman tidak perlu khawatir, nanti pengawalku akan ku suruh menemani Paman kesana sekaligus melindungi tempat kelahiran temanku Chinmi dari kehancuran," kata Ho Chen.


"Benarkah, ah terima kasih Chen, terima kasih!" kata Li Xiang yang merasa lega.


"Kalau bergitu aku mau istirahat dulu dikamar, jadi paman tunggu saja di sini, sebentar lagi pengawalku akan datang," kata Ho Chen.


"Baiklah aku akan menunggunya!" kata Li Xiang dengan penuh semangat.


Li Xiang sendiri tidak habis pikir jika Ho Chen memiliki pengawal yang sangat hebat, dia sendiri penasaran akan siapa sebenarnya sosok Ho Chen itu bisa memiliki pengawal hebat.


Ho Chen sendiri yang berada di dalam kamar langsung membuat banyangan, sedangkan dia sendiri segera mengenakan baju dan topengnya dan dengan cepat dia menghilang dari kamarnya dan hanya ada bayangannya saja yang berbaring di kasur.

__ADS_1


__ADS_2