
***
Ho Chen muncul halaman rumah Chinmi, dia menggunakan ingatan Chinmi untuk berpindah tempat, "Seharusnya itu memang rumahnya," gumam Ho Chen sambil menatap rumah Chinmi.
Ho Chen menoleh kebelakang karena merasa ada yang datang ke arahnya, terlihat seorang pria paruh baya menunggangi kuda, pria tersebut adalah Li Xiang yang baru pulang dari rumah Li Fang.
Li Xiang segera turun dari kudanya saat melihat pemuda yang tidak ia kenal, "Maaf, kamu siapa dan mencari siapa?" tanya Li Xiang kepada Ho Chen.
"Namaku Ho Chen paman, aku adalah teman Li Chinmi!" kata Ho Chen.
Dia terpaksa memanggil Li Xiang dengan sebutan paman walau sebenarnya umur Ho Chen jauh lebih tua dari Li Xiang.
"Owh, jadi kamu teman putraku?" Li Xiang tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.
"Maafkan aku Ho Chen, jika kamu kesini untuk menemui Chinmi, dia tidak ada di rumah!" kata Li Xiang.
"Aku tahu itu paman!"
Li Xiang mengerutkan dahi mendengar perkataan Ho Chen, "Kamu sudah tahu? Tapi kenapa kamu masih ingin menemuinya?" tanya Li Xiang.
"Aku kesini justru ingin menemui paman atas permintaan Li Chinmi!" jawab Ho Chen.
"Benarkah? Kalau begitu mari kita bicara di dalam saja!" kata Li Xiang kemudian mengajak Ho Chen untuk masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam, Li Xiang langsung menyuruh salah satu pelayan untuk membuatkan minuman untuk mereka berdua.
"Ho Chen ceritakan padaku bagaimana keadaan Putra ku sekarang, dan ada di mana dia sekarang?" tanya Li Xiang yang sudah tidak sabar ingin mendengar kabar Chinmi.
"Saat ini dia baik-baik saja, dia sedang melakukan latihan di tempat yang..!"
"Xiang, ini siapa?"
Ho Chen belum selesai berbicara tiba-tiba Zhinie muncul dari dalam.
"Kemarilah, akan aku perkenalkan dia padamu!" kata Li Xiang.
"Dia adalah istriku!" kata Li Xiang.
Ho Chen mengangguk dan menatap Zhinie yang sedang berjalan menuju kearah nya.
Ho Chen segera berdiri dan menyapa Zhinie terlebih dahulu, "Salam Bibi, namaku Ho Chen teman Li Chinmi," kata Ho Chen sambil membungkukkan badan.
__ADS_1
"Kamu temannya Chinmi? Apa kamu datang bersamanya?" tanya Zhinie sambil melihat ke sekelilingnya berharap melihat Chinmi.
"Apa yang kamu tanyakan? Jika dia juga datang pasti dia lebih dulu menemui mu!" kata Li Xiang.
Zhinie yang awalnya terlihat senang dengan senyum menghiasi wajahnya langsung menghilang setelah mengetahui jika Chinmi tidak ada.
"Maaf, mungkin aku terlalu merindukannya!" kata Zhinie dan menatap wajah Ho Chen.
"Namamu tadi Ho Chen bukan? Namaku Ma Zhinie, senang mengenal mu Ho Chen, aku tidak menyangka jika Chinmi memiliki teman yang sangat tampan, bahkan melebihi suamiku!"
Li Xiang segera menyenggol Zhinie saat Zhinie menyinggung ketampanannya, sedangkan Ho Chen tersenyum melihat tingkah Li Xiang.
"Ho Chen, ayo lanjutkan lagi cerita akan kabar Chinmi," kata Li Xiang yang berharap Ho Chen melanjutkan lagi ceritanya.
Li Xiang dan Zhinie sama-sama mendengarkan akan kabar Chinmi, dan Ho Chen hanya menceritakan akan apa yang ia ketahui saja.
"Owh iya paman, Chinmi memintaku untuk memberikan seruling ini pada kalian, dia berjanji setelah selesai dengan latihannya, dia akan kembali untuk mengambil seruling ini!" kata Ho Chen sambil menyerahkan seruling giok titipan Chinmi.
Sebenarnya seruling tersebut sebagai bukti agar Li Xiang dan Zhinie tidak curiga bahwa Ho Chen benar-benar mengenali Chinmi.
Namun ternyata sudah percaya sejak pertama kali Ho Chen menyebut dirinya sebagai teman Chinmi, padahal dia tidak lama mengenal Chinmi.
"Seruling ini adalah seruling warisan keluarga," kata Li Xiang sambil memegang seruling tersebut.
Ho Chen tersenyum lembut mendengar pertanyaan tersebut, walau dia tidak tahu nama-nama atau daerah yang ada di dunia Chinmi, namun dia dapat mendengar nama keempat dari pikiran Zhinie dan Li Xiang.
"Aku berasal dari kerajaan Api Timur!" jawab Ho Chen.
"Kamu berasal dari tempat yang jauh, memangnya kapan kamu akan kembali?" tanya Li Xiang.
"Aku masih ingin tinggal di sini selama satu bulan, dan setelah itu aku akan kembali menemui Li Chinmi!" kata Ho Chen.
"Kamu adalah teman anak ku, jadi aku akan menganggap mu sebagai anakku juga. Jadi tinggal saja disini!" kata Zhinie.
Ho Chen hanya membalas dengan anggukan dan juga tersenyum kecut saat Zhinie menganggap dirinya sebagai anaknya.
Jika dibandingkan dengan usia, seharunya dirinya sudah sepantasnya menjadi kakek buyutnya.
"Tuan Li, ada utusan kerajaan datang ingin menemui tuan!" salah seorang pelayan datang memberi tahukan Li Xiang jika di luar ada utusan dari kerajaan.
"Baiklah aku akan menemui mereka!" kata Li Xiang kemudian dia keluar meninggalkan Ho Chen dan Zhinie.
__ADS_1
"Ho Chen, apakah kamu juga seorang pendekar?" Zhinie bertanya karena sama sekali tidak merasakan kekuatan Ho Chen.
"Aku hanya pendekar yang memiliki ilmu sangat rendah!" jawab Ho Chen.
"Kamu pasti bercanda!" kata Zhinie dengan tertawa namun dia tertawa dengan menutup mulutnya dengan lengan bajunya.
"Kalau begitu mari aku akan menunjukkan kamarmu!" kata Zhinie.
Ho Chen mengikuti Zhinie yang ingin menunjukkan kamarnya, namun sebenarnya Ho Chen sendiri sedang mendengarkan akan apa yang utusan kerajaan itu sampaikan.
"Ini adalah kamar mu, di dalam juga sudah ada kamar mandi, semoga kamu betah tinggal di rumah kami ini!" kata Zhinie.
"Terima kasih bibi!" jawab Ho Chen.
"Tidak perlu sungkan seperti itu! Owh iya, di sana adalah ruang makan kami, jadi kamu bisa ikut makan bersama kami nantinya!" kata Zhinie kembali menunjukkan tempat makan keluarga.
"Bibi, maaf jika kedatangan ku membuat bibi dan sekeluarga menjadi kerepotan!" kata Ho Chen.
"Aku sudah menganggap mu sebagai anakku sendiri, jadi anggaplah rumah ini sebagai rumahmu juga!" kata Zhinie yang dibalas dengan senyum lembut.
"Kalau begitu aku akan pergi menyelesaikan pekerjaanku!" kata Zhinie berpamitan kepada Ho Chen.
Ho Chen mengangguk kemudian Zhinie pergi meninggalkan Ho Chen sendiri, sedangkan Ho Chen kembali ke kursi tempat ia duduk sebelum nya.
"Ho Chen maaf, aku harus pergi ke istana karena Raja memanggilku!" Li Xiang kembali namun dia harus pergi kembali.
"Apakah aku boleh ikut paman? Aku ingin melihat situasi istana kerajaan ini!" kata Ho Chen.
Dia harus bisa mendapatkan informasi mengenai kabar Ye Shi, jika hanya tinggal di dalam rumah atau pergi sendiri, itu hanya akan membuat para penduduk kota akan mencurigainya sebagai warga asing.
"Baiklah, namun aku harus ganti baju lebih dulu!" kata Li Xiang.
Ho Chen mengangguk dan menunggu Li Xiang yang sedang mengganti pakaiannya. Setelah beberapa saat Li Xiang kembali dengan mengenakan Zirah nya dan kemudian pergi ke istana bersama dengan Ho Chen.
"Kenapa aku merasa ada aura jahat tidak jauh dari sini?" batin Ho Chen saat dalam perjalannya menuju ke istana bersama Li Xiang.
Tanpa sepengetahuan Li Xiang, Ho Chen mengaktifkan Teknik mata Dewa nya dan melihat kearah sumber aura jahat tersebut.
Ho Chen melihat Dua orang sedang melayang di udara menuju ke arah istana, dan di bawahnya juga terlihat sekitar lebih dari dua ribu pasukan yang berbeda pakaian dengan senjata lengkap juga menuju ke arah kerajaan.
Walau jaraknya sangat jauh, namun Ho Chen bisa melihat dengan jelas, dan Ho Chen mengira kedua orang yang sedang terbang akan tiba ketika hari sudah malam, sedangkan kedua ribu yang terlihat seperti pasukan akan tiba saat pagi harinya.
__ADS_1
"Sepertinya akan terjadi perang! Kenapa aku datang tepat ada kejadian seperti ini?" batin Ho Chen.