PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pertandingan (1)


__ADS_3

Begitu Jendral Whu Lang mengatakan jika pertandingan sudah di mulai, semua peserta langsung lompat menjauhi para peserta yang tidak mereka kenal, bahkan yang mereka kenal sekalipun namun bukan satu sekte juga akan menjauh.


Semua penonton di buat penasaran dengan melihat para peserta yang mulai bertanding dibalik prisai es yang tebal dan juga transparan.


Xian Fai, Lian Cao dan Yue Yin segera merapat dengan saling membelakangi dan melindungi satu sama lain.


"Kalian ingat ketika kita bertarung bersama menghadapi kelompok Gadah Hitam?" tanya Xian Fai kepada Lian Cao dan Yue Yin namun tetap waspada.


"Tentu kami ingat!" jawab Lian Cao kemudian disusul oleh Yue Yin.


"Jika kita bekerja sama dan saling melindungi maka kita pasti bisa melewati ini, sama seperti kita menghadapi kelompok Gadah Hitam itu," kata Xian Fai.


"Awas ada yang datang..!" seru Lian Cao ketika melihat ada peserta yang berniat menyerang mereka dan terlihat mereka semua seumuran dengan Xian Fai.


Ketiga peserta tersebut sama-sama memegang pedang dan berhenti di hadapan mereka semua dangan saling berpandangan.


"Hehehe.. Kakak benar, ternyata dua anak kecil dengan satu penjaganya, mari kita buat mereka keluar dari arena ini!" seru salah satu dari mereka.


Xian Fai memasang muka masam ketika mendengar mereka menyebutnya sebagai penjaga anak-anak.


"Aku akan menghadapi anak perempuan itu!" kata salah seorang anak yang tubuhnya gemuk.


"Kalau anak itu akan menjadi bagianku!" ucap satunya lagi dengan menunjuk kearah Lian Cao.


Kini hanya tersisa satu saja dan yang pasti dia harus bertarung melawan Xian Fai, Karena hanya Xian Fai yang tersisa.


"Jangan takut, kita pasti bisa menang!" kata Xian Fai dan menggenggam pedangnya dengan erat.


Ketiga peserta tersebut langsung menyerang target masing-masing. Lawan Yue Yin memiliki tubuh pendek dan gemuk, namun tidak mengurangi kecepatan geraknya yang lincah.


Melihat lawannya yang cukup lincah itu, Yue Yin mencabut dua pedang pendeknya dan maju menyambut serangan dari anak gemuk tersebut.

__ADS_1


Trankk!!


Kedua pedang berbenturan dan sedikit mengeluarkan percikan api kecil dari benturan pedang tersebut.


"Owh boleh juga kamu gadis kecil, aku harap kamu tidak menangis memanggil ayahmu jika nantinya kamu kalah!" ejek anak gendut tersebut.


Yue Yin berusaha untuk tetap tenang dan tanpa memberikan komentar apapun, dia segera memberikan serangan susulan dengan menggunakan kedua pedangnya.


Yue Yin menggunakan Jurus yang di ajarkan oleh Yue Rong yaitu Pedang Merpati, walau kekuatan Yue Yin masih berada ditingkat Pemula, namun jurus pedang merpati masih bisa digunakan dengan sangat baik oleh Yue Yin.


Yue Yin terus menyerang dengan kedua pedangnya tanpa henti memaksa anak gendut tersebut mundur sedikit demi sedikit karena serangan Yue Yin yang terus menerus menyerang secara beruntun membuat si gendut dipaksa dalam posisi bertahan.


"Cih bagaimana anak ini bisa memiliki Ilmu Pedang yang hebat seperti ini?" si Gendut menggerutu dan berdecak kesal, dia tidak menduga jika Yue Yin yang memiliki tubuh kecil itu sangat lincah dan juga ilmu pedangnya sangat baik.


Yue Yin tetap memberikan serangan tanpa memeberikan si gendut tersebut kesempatan untuk menyerang balik. Ketika si gendut sudah sampai di pinggir prisai Es, Yue Yin menebas tali lencana perak bulat tersebut kemudian mengambilnya dan memberikan serangan terkahir kepada si Gendut.


"Pergilah menangis kepada ayahmu!" kata Yue Yin membuat si Gendut melotot karena itu adalah ucapannya yang ia kembalikan padanya.


"Pedang Sayap Merpati."


"Owh, jadi yang dari dalam bisa di keluarkan! Berarti yang dari luar tidak akan bisa lagi masuk kedalam," seru salah satu penonton ketika melihat si gendut keluar dari dalam arena dengan menembus prisai tersebut.


Semuanya berdecak kagum melihat Yue Yin yang masih muda mampu mengalahkan lawannya yang umurnya terpaut 3 tahun darinya, hal ini bisa dijadikan pelajaran jika umur dan kekuatan besar tidak bisa di jadikan patokan untuk bisa menang, hanya ketenangan dan kecerdasan untuk mencari kelemahan lawan adalah kunci dari strategi pertarungan tidak peduli sekuat apa lawannya.


Yue Yin bernafas lega sembari menatap lencana perak tanda peserta si gendut tersebut kemudian menatap Lian Cao yang masih bertarung melawan rekan si gendut.


***


"Kena kau..!"


Lawan Lian Cao sedikit lebih tinggi ilmunya di bandingkan dengan si gendut yang sudah dikalahkan oleh Yue Yin.

__ADS_1


Lian Cao sendiri sedikit terdesak akibat serangan pedang lawannya yang begitu gesit dan juga lincah. Namun Lian Cao tetap berusaha untuk mencari celah agar bisa menyerang balik dengan memperhatikan pola serangan lawannya tersebut.


"Menyerahlah, aku tidak mau kamu nantinya kamu mengompol di celanamu karena terkena serangan pedangku ini!" ucapnya kepada Lian Cao yang terkesan meremehkannya.


Lian Cao mendengus kesal setelah lawannya berkata demikian. Lian Cao sadar jika lawannya sedikit lebih hebat darinya, namun dia juga tidak mau menyerah begitu saja dan akan berusaha untuk bisa menang karena Yue Yin saja yang lebih muda sudah menyelesaikan pertarungannya.


"Apapun yang terjadi aku harus bisa menang!" kata Lian Cao kemudian maju menyerang terlebih dahulu dengan Jurus Pedang Angin Malam yang ia pelajari dari Mang Xin.


"Pedang Malam Tebasan Kegelapan."


Lian Cao mencoba mengalirkan Qi ke pedangnya, pedang Lian Cao mulai terlihat sedikit berubah warna karena Qi yang dimilikinya masih belum cukup untuk digunakan.


Lian Cao melepaskan tebasan pedangnya dengan satu kali ayunan membuat lawannya bersiaga dan bersiap untuk menyambut serangan energi milik Lian Cao.


Anehnya tidak ada tanda-tanda akan serangan energi yang datang sehingga lawan Lian Cao tersenyum mengejek.


"Bahkan kamu tidak bisa melepaskan serangan energimu kepadaku, jadi bagaimana caramu untuk mengalahkanku?" tanya lawannya dengan nada mengejek.


Namun belum selesai Lian Cao menjawab, tiba-tiba sesuatu mengenai pedangnya yang masih berada di dadanya untuk menahan serangan Lian Cao.


Lawan Lian Cao terlempar hingga ke pinggir prisai, dia sama sekali tidak melihat datangnya serangan tersebut sehingga tidak siap untuk menahannya, namun beruntung serangan tersebut tidak mengenai tubuhnya karena pedangnya masih belum di turunkan.


Di sisi lain Lian Cao juga sama kagetnya, dia juga tidak mengetahui jika serangannya sebenarnya masih bergerak namun tidak terlihat dan juga sedikit lambat.


Lian Cao mendekati lawannya yang berusaha ingin bangkit, dengan cepat ia mengarahkan pedangnya ke leher lawannya sehingga dia tidak berani untuk bergerak.


"Peraturan pertandingan memang tidak boleh membunuh, namun tidak dilarang untuk melukai. Berani kamu bergerak sedikit saja, maka pedang ini akan menggores kulitmu," kata Lian Cao kemudian meraih medali milik lawannya tanpa perlawanan.


"Sialan, aku tidak akan melupakan penghinaanmu ini!" ucap lawannya dengan geram.


"Jadi kamu akan merindukan aku? Terimakasih aku sangat tersanjung," kata Lian Cao kemudian membantu lawannya untuk berdiri keml mendorongnya dengan sangat cepat agar dia tidak melakukan perlawanan lagi.

__ADS_1


"Akhirnya..!" kata Lian Cao kemudian menatap Yue Yin yang datang kearahnya kemudian memperhatikan Xian Fai yang saat ini masih bertarung dengan satu lawannya yang tersisa.


"Masih banyak yang harus kita kumpulkan, sebaiknya kita segera membantu Senior Xian terlebih dahulu," kata Lian Cao kepada Yue Yin.


__ADS_2