
***
She Long berjalan di tengah-tengah kota dengan tenang, dia tidak memperdulikan tatapan orang yang memperhatikan nya.
"Bukankah dia itu Pangeran Ming? Dia datang lagi seperti tidak punya masalah!"
"Iya benar! Apakah para prajurit istana tidak melihatnya?"
"Entah mengapa aku lebih suka dia tetap berada di dalam penjara dari pada berkeliaran seperti itu!"
"Sepertinya tidak akan lama lagi dia akan membuat kekacauan lagi!"
Semua orang saling membicarakan Ming Zai atau She Long yang berjalan di hadapan mereka.
She Long sendiri terlihat masa bodoh dengan semua itu kemudian dia berjalan ke sebuah penjual manisan di depannya.
"Aku ingin tahu seperti apa rasanya makanan manusia ini!" kata She Long kemudian dia berhenti tepat di dekat manisan tersebut.
"Pa-pangeran Ming!" penjual manisan terkejut saat melihat Ming Zai sudah berdiri di dekat jualannya.
"Aku mau ini!" kata She Long dengan menunjuk ke tusukan manisan.
"Si-silakan Pangeran!" jawab sang Penjual.
She Long mengambil satu tusuk kemudian mulai memakannya satu biji, "Em.. Rasanya aneh! Kenapa tidak ada rasa Darah nya?" gumam She Long sambil mengunyah manisan tersebut.
Merasa tidak bisa menelan manisan tersebut di karenakan rasanya yang tidak sesuai dengan seleranya, She Long membuang manisan tersebut sekaligus yang berada di dalam mulutnya juga dia keluarkan di hadapan penjualnya.
"A-a..ada apa Pangeran? Apakah rasanya tidak manis?" tanya sang penjual yang terkejut saat She Long membuangnya.
"Rasanya tidak enak! Aku rasa makanan ini tidak baik untuk ku!" kata She Long kemudian berniat pergi.
"Pa-pangeran! Maafkan hamba, tapi pangeran harus membayar manisan yang Pangeran buang itu!" kata sang Penjual dengan gugup.
"Bayaran katamu? Apakah makanan tidak enak seperti ini pantas untuk aku bayar?" tanya She Long dengan meninggikan suaranya sehingga semua di dekat nya bisa mendengar suara Ming Zai atau She Long dengan sangat jelas.
"Maafkan hamba pangeran! Pangeran mungkin tidak menyukai nya, namun masih banyak orang yang suka dan mau membelinya!" kata Sang Pedagang.
"Aku harus membayar makanan ini dengan apa?" tanya She Long.
"Apa pangeran bercanda? Tentu saja dengan uang koin, harganya cuma Dua keping perunggu pertusuk!"
Semua orang menatap Ming Zai dengan tatapan heran karena melihat Ming Zai seperti orang yang tidak tahu terhadap uang.
"Aku hanya memiliki kedua tanganku saja, kamu tinggal pilih mau tangan kanan, atau tangan kiri?" tanya She Long yang mengarahkan kedua telapak tangannya kepada Sang penjual.
Sang Penjual merasa bingung dengan sikap Ming Zai, begitu juga dengan semua orang yang melihat hal itu.
"Pangeran! Hamba tidak mengerti," kata Sang Penjual.
"Tidak mengerti? Kamu hanya tinggal memilih salah satu dari ke-dua telapak tanganku ini! Mau pilih yang kanan atau yang kiri?"
Sang Penjual dengan ragu menunjuk telapak tangan Ming Zai dan kemudian Ming Zai tersenyum lebar.
"Kau sungguh pintar, kamu tahu? Dengan menunjuk tangan kananku ini, itu artinya kau meminta bayaran yang sangat mahal," kata She Long sekaligus tangan kanannya berubah menjadi api yang menyala-nyala seperti bara api.
Sang Penjual terkejut melihat itu begitu juga dengan semua orang, "Pa-pangeran! A-apa maksudnya ini?" tanya Sang penjual dengan wajah ketakutan.
"Kau meminta bayaran bukan? Dan kamu sudah memilih tangan kananku sebagai bayaran makanan tadi! Karena itu aku akan membayarnya, terimalah bayaran mu!" kata She Long kemudian dia memegang telapak tangan pedangan tersebut dengan tangan kanannya yang menyala.
Pedagang tersebut berteriak kesakitan karena tangannya terbakar, dan asap bau kulit dan daging terbakar menyebar ke berbagai arah dan mulai terbawa angin.
Semua orang melihat hal itu terkejut dan beberapa orang ada yang langsung lari untuk melaporkan hal ini pihak Kerajaan, namun beberapa orang ada yang menutup mulut mereka sendiri karena tidak tega melihat itu dan beberapa orang lagi ada yang berusaha untuk menghentikannya.
"Pangeran lepaskan dia!" kata salah satu orang yang memegang balok untuk mengancam Ming Zai atau She Long agar mau melepaskan pedagang tersebut.
Namun bukannya di lepas, She Long justru tertawa lantang dan kemudian mencengkram tangan pedangang tersebut lebih erat sehingga asap bau daging bakar semakin bertambah baunya.
Pedangang tersebut semakin keras berteriak sedangkan She Long tertawa terbahak-bahak seperti sangat menikmati teriakan pedangang tersebut.
Semua orang yang berniat ingin menolong kini menjadi ragu dan ada juga yang mulai takut, belum lagi suara teriakan pedagang manisan tersebut semakin melemah menjadi rintihan pelan karena kehabisan suara sebelum akhinya lengannya yang sudah matang terpotong dan pedagang tersebut jatuh sambil meringis kesaktian akibat lengannya yang sudah terpotong namun tidak mengeluarkan darah.
"Aku sudah membayar mu, dan ini adalah kembalian, jadi sekarang kita sudah impas!" kata She Long sambil memegang potongan lengan bakar yang sudah matang kemudian menciumnya.
"Ah, ini baru namanya makanan!" kata She Long kemudian dia mulai menggigit lengan pedagang tersebut dan memakannya.
Beberapa orang ada yang muntah dan sebagian lagi ada yang pingsan melihat Ming Zai memakan lengan pedagang tersebut seperti sedang memakan daging hewan bakar, dan terlihat Ming Zai sangat menikmatinya.
"Apa kubilang tadi! Dia pasti akan membuat masalah di sini!" kata orang yang sejak awal membicarakan Ming Zai.
Pedangang yang lengannya terpotong kini juga tidak sadarkan diri karena tidak mampu menahan rasa sakit sekaligus syok saat lengannya menjadi makanan Ming Zai.
"Pangeran Ming Zai! Serahkan dirimu dan ikut kami ke dalam Istana!"
__ADS_1
Beberapa Prajurit datang dengan membawa pedang dan tombak dan ada juga yang membawa panah dan menarik busur panahnya kearah Ming Zai.
"Em.. Kalian ingin membawaku ke Istana? Ada apa disana? Apakah kalian berencana menjadikan ku Raja?" tanya Ming Zai atau She Long sambil mengunyah makanan nya.
Para prajurit tersebut saling berpandangan, mereka sadar jika mereka tidak akan cukup mampu untuk menangkap Ming Zai.
Dua orang prajurit segera menolong Pedagang yang sudah tidak sadarkan diri itu untuk di segera di bawa ke tabib untuk di obati.
"Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan ku? Apakah kalian ingin membawaku ke istana kalian untuk menjadikan ku Raja?" tanya Ming Zai kemudian dia membuang tulang lengan Pedagang tersebut yang sudah habis.
"Sepertinya ada yang aneh sama pangeran Ming!" bisik salah satu dari mereka kepada rekannya.
"Aku juga merasakan itu! Sifatnya lebih kejam dan terlihat lebih menakutkan!" jawab rekannya yang juga berbisik pelan.
"Ming Zai...!"
Ming Zai atau She Long menoleh kearah sumber suara perempuan yang memanggil dirinya dari belakang para prajurit di hadapannya.
"Ming Zai anakku! Akhirnya kamu pulang Nak! Ibu sangat merindukan mu," kata wanita tersebut sambil berlari kearah Ming Zai.
"Ibu..? Apakah manusia itu ibu dari manusia yang aku gunakan ini?" batin She Long.
Wanita tersebut tidak lain adalah Permaisuri Pei Ling ibu Ming Zai yang berlari kearah She Long, sedangkan She Long bersiap untuk membunuh Pei Ling yang semakin mendekat kearahnya.
Pei Ling langsung memeluk tubuh Ming Zai di sertai dengan tangisan yang membuat She Long mengurungkan niatnya untuk membunuh nya.
She Long mengurungkan niatnya untuk membunuh Pei Ling bukan karena kasihan atau ada perasaan lainnya.
Saat merasakan pelukan Pei Ling yang penuh kasih terhadapnya, sebuah rencana langsung terlintas di pikirannya.
"Kemana saja kamu selama ini? Ibu sangat menghawatirkan mu! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Pei Ling yang melepaskan pelukannya dan memeriksa tubuh Ming Zai.
Ming Zai atau She Long hanya menjawabnya dengan anggukan saja kemudian Pei Ling kembali memeluknya.
Semua para prajurit hanya bisa menunggu mereka berdua, dan tidak berani menangkap Ming Zai selama dia masih bersama dengan sang Permaisuri.
Pei Ling melepaskan pelukannya dan kemudian dia menatap kearah semua para prajurit dihadapannya.
"Sekarang aku perintahkan kalian untuk berhenti memburu dan menangkap Putraku, barang siapa yang berani untuk menangkapnya, maka dia akan ku berikan hukuman mati!" kata Pei Ling.
Semua para prajurit hanya bisa saling berpandangan, perintah Permaisuri sama saja dengan perintah Raja, namun masalahnya, perintah Raja lebih utama.
"Apa kalian masih tidak mau mendengar perintahku?" tanya lagi Pei Ling yang terlihat tidak ingin menuruti perintahnya.
"Lalu tunggu apalagi, cepat pergi dari sini! Dan ingat, jangan ceritakan ini pada Yang Mulia, apa kalian dengar?"
"Kami mengerti Permaisuri!" jawab mereka semua kemudian segera pergi meninggalkan Ming Zai dan ibunya, namun masih ada beberapa prajurit yang menoleh ke belakang.
Semua orang melihat semua itu merasa aneh, Ming Zai sudah sangat jelas mencelakai orang, namun karena kasih sayang yang berlebihan dari sang Permaisuri sehingga dia menutupi kasalahan putranya.
She Long sendiri hanya tersenyum tipis melihat hal itu, kini dia tahu jika cinta kasih manusia juga bisa membutakan hati mereka sehingga tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
She Long berencana memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdayakan Pei Ling. Dia ingin menggunakan kasih sayang Pei Ling yang berlebihan itu sebagai senjata sebelum dia berniat untuk merebut Kerajaan Api Timur.
Kelak dimasa depan dia akan memasukkan para pasukan Hewan Iblis untuk menjadi penghuni Kerajaan Api Timur, dan secara terbuka akan menyerang seluruh dunia dan akan menjadi penghuni tunggal di dunia tersebut tanpa adanya manusia.
"Zai'er, sebaiknya kita pergi dari sini! Ibu akan mencarikan penginapan mewah untukmu, nanti ibu akan mencoba meminta ayahmu untuk mengampuni mu, nanti jika dia sudah berhasil ibu bujuk, ibu akan langsung menjemputmu," kata Pei Ling.
"Terserah ibu saja!" jawab Ming Zai atau She Long yang berpura-pura dirinya sebagai Ming Zai.
Mereka berdua segera pergi ke penginapan terbesar dan termewah di kota tersebut, jaraknya tidak terlalu jauh dari istana sehingga nantinya Pei Ling bisa datang kesana tanpa berjalan terlalu jauh.
***
Bing Mei dan para Pertapa lainnya sedang berlatih bersama di Dunia Bawah laut, mereka berlatih meningkatkan kekuatan mereka dan juga menciptakan Sihir baru.
Di samping berlatih, mereka sebenarnya menjaga tempat tersebut karena saat ini Kedelapan Naga sedang dalam proses penggantian kulit mereka.
Dalam proses ini, para Naga tidak akan bisa berbuat apa-apa, jika sampai ada mahluk yang berniat jahat pada mereka, maka para Naga itu akan sangat mudah untuk di bunuh, karena itu Bing Mei dan para Pertapa lainnya diminta untuk membantu menjaga tempat tersebut.
Para Naga khawatir jika keberadaan Dunia Bawah laut akan di ketahui oleh She Long maupun para pemimpin Hewan Iblis lainnya dan mengambil alih Dunia tersebut kemudian memaksa para Hewan Iblis yang ikut para Naga menjadi pengikut para Pemimpin Hewan Iblis.
"Guru, aku menciptakan sihir baru, tolong guru beri nilai!" kata Bing Mei.
"Baiklah coba kau tunjukkan pada kami!" kata Xie Wen.
Bing Mei menyatukan jari telunjuk kanan dengan jari tengah kemudian dia mengubahnya dengan ibu jari kanan menyentuh telapak tangan kiri.
"Sihir macam apa yang sudah dia ciptakan? Ini tidak terlihat seperti sedang membuat mantra tangan!" kata Xie Wen.
"Lebih baik kita lihat saja dulu sampai selesai!" kata Tian Xiang.
Mereka kembali memperhatikan Bing Mei yang sudah mengubah pola tangannya, posisinya kini sudah berubah dengan posisi dua jari telunjuk sudah menghadap ke depan.
__ADS_1
Xie Wen dan para pertapa lain sama-sama menaikan alisnya saat merasakan Hawa dingin mulai membekukan bagian tanah yang di injak oleh Qie Yin dan kemudian pembekuannya dengan cepat melebar hingga sepuluh meter persegi.
"Sihir Segel Es - Pohon Dewa Es."
Dari tanah yang beku mulai terlihat ada es yang bergerak ke atas seperti batang pohon yang tumbuh dan jumlahnya sangat banyak.
Bing Mei mengangkat kedua jari telunjuk nya keatas dan secara bersamaan pohon es tersebut juga semakin tinggi ke atas.
Namun setalah semua pohon es yang memiliki ujung yang sangat runcing itu sudah mencapai ketinggian Empat Meter, pohon Es tersebut berhenti naik dan Bing Mei mengeluarkan darah segar dari tepi bibirnya.
"Hentikan Bing'er jangan kamu teruskan lagi!" seru Xie Wen saat melihat Bing Mei yang tidak sanggup untuk menyelesaikan sihirnya.
Tanpa Xie Wen minta sekalipun, Bing Mei sudah membatalkan sihirnya karena sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskannya.
Setelah semua pohon es tersebut masuk kembali ke dalam tanah dan es yang membeku di kaki Bing Mei juga hilang, Bing Mei langsung membungkuk dan memuntahkan darah lebih banyak.
"Bing'er! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Xie Xie Wen sekaligus membantu Bing Mei.
"Aku baik-baik saja guru!" jawab Bing Mei.
"Dari mana kamu menemukan cara membuat Segel sihir Dewa itu?" Wu Tong bertanya.
"Aku pernah melihat itu di sebuah dinding Es di dalam Sekte tempat pemakaman keluarga, karena itu aku mencoba apakah ini benar-benar sihir hebat atau bukan!" kata Bing Mei yang mulai duduk untuk memulihkan kembali energinya.
"Itu namanya bukan Sihir baru!" kata Tian Xiang.
"Menurutku itu adalah sihir baru guru, karena tidak ada pengguna sihir Es yang pernah menggunakannya!" kata Bing Mei.
"Bing'er, sepetinya sihir yang sedang kamu pelajari itu tidak cocok untuk mu termasuk kita juga!" kata Xie Wen berasumsi.
"Kenapa guru bisa berkata demikian?"
"Sihir yang sedang kamu pelajari adalah sebuah segel tingkat tinggi, mungkin itu juga sihir baru yang belum sempat di gunakan oleh penciptanya dan akhiratnya dia meninggal jejak di dinding agar kelak ada yang mampu mempelajari dan menguasainya," kata Xie Wen.
"Aku juga berpikir seperti itu, dari energi yang terpancar, dapat di rasakan tekanan yang begitu kuat dari segel itu dan juga seperti banyak menyerap energi penggunanya!" kata Wu Tong.
"Aku tidak akan menyerah guru, aku akan mencoba meningkatkan energi ku lebih banyak lagi dan akan mencobanya lagi nantinya!" kata Bing Mei.
"Diam kalian semua! Sepertinya ada yang berusaha masuk kesini!" seru Tian Xiang.
"Em.. Benar sekali! Kenapa kita tidak bisa menyadari nya! Ayo kita tahan di pintu masuk!" kata Xie Wen.
Mereka ingin bergerak ke arah pintu masuk utama, termasuk Bing Mei yang masih belum sepenuhnya pulih, namun langkah mereka terhenti ketika pintu masuk utama mulai terbuka segelnya.
"Bersiaplah..!" seru Xie Wen.
"Seharusnya selain kita para pertapa tidak akan ada yang bisa membuka pintu dunia ini! Lalu kenapa masih ada orang luar yang bisa membukanya?" kata Wu Tong.
"Sudahlah, sebaiknya kamu konsentrasi saja, siapa tahu ada serangan dari luar pintu!" kata Tian Xiang.
Pintu masuk mulai terbuka oleh sebuah energi angin dari luar, dan kemudian seseorang berjalan masuk dan menutup kembali pintu masuk utama tersebut.
Mereka semua tidak bisa melihat dengan jelas selama beberapa saat dan bersiap untuk menyerang, namun semuanya berhenti bergerak setalah bisa melihat sosok tersebut lebih jelas.
"Gu-guru Fan..!" seru Bing Mei.
"Fan Yuzhen! Dia sudah datang?" tanya Xie Wen.
Fan Yuzhen yang berjalan dengan tenang kearah mereka dengan tersenyum lebar mulai menyapa mereka semua.
"Kalian semua berada di sini semua? Apakah ada sesuatu yang penting sehingga membuat kalian semua berada disini?" tanya Fan Yuzhen.
Tidak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Fan Yuzhen, mereka masih belum percaya jika Fan Yuzhen sudah kembali dan kali ini Aura nya sangat berbeda dari yang dulu.
***
Assalamualaikum!
Salam Damai dan salah sejahtera untuk kita semua.
Maaf saya tidak update selama dua hari karena sedang pergi ngelayat kerumah teman satu perusahaan yang meninggal dunia, dalam kesempatan kali ini saya ingin menjawab pertanyaan yang sempat saya baca, pertanyaannya tentang kenapa akhir-akhir ini update nya berkurang?
Jawabnya adalah: Karena saya juga memiliki kesibukan lain seperti bekerja, dan membantu istri mengurusi anak-anak.
Pertanyaan yang juga ingin saya jawab adalah: Mengapa ceritanya berbelit-belit dan hanya akan membuat jalan cerita semakin tidak jelas?"
Jawabnya adalah: Karena saya akan membahas setiap kejadian yang di alami oleh setiap tokoh, baik itu tokoh utama, peran pendamping, maupun antagonis, dan semuanya pasti akan ada hubungannya dengan cerita selanjutnya.
Tidak mungkin secara tiba-tiba saya menuliskan akhir cerita begitu saja bukan? Dan jika ada yang penasaran dan ingin bertanya apakah masih lama cerita ini tamatnya, dan berapa bab lagi akan tamat?
Jawabnya adalah: Di tunggu saja, jujur waktunya yang mungkin bisa saya percepat mengingat setelah cerita ini tamat masih ada yang harus saya lanjutkan kisah cerita DLE yang sempat terhenti.
Saya tidak bisa menjawab semua pertanyaan kalian semua, mungkin hanya sekian penjalasan dari saya, semoga kalian mengerti dan semoga juga tetap terhibur,
__ADS_1
Wasalam