PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pertandingan (3)


__ADS_3

***


Dua Putri kembar Mei tidak menduga jika ada gadis kembar lain yang sama seperti mereka, hanya umur mereka terlihat 3 tahun lebih tua dari mereka berdua. Saat ini kedua gadis kembar tersebut sedang berhadapan dengan mereka berdua.


"Terlalu cepat bagi kalian berdua untuk mengikuti pertandingan ini, lebih baik kalian berdua memberikan lencana kalian pada kami dengan baik-baik, jika tidak maka kami akan mengambilnya dengan kekerasan!" kata salah satu gadis kembar tersebut.


"Zhiao Ling, dari pada kamu bicara seperti itu, lebih baik kamu ambil saja dengan paksa lencana mereka itu," seru gadis kembar satunya kepada saudari kembarnya yang bernama Zhiao Ling.


"Chian, lengkap sekali kamu memanggil namaku?" kata Zhiao Ling dengan nada kesal kepada saudari kembarnya yang bernama Chian Ling.


"Apa pentingnya memanggil nama panjangmu? lagi pula namamu itu terlalu mengerikan seperti nama laki-laki saja karena itu tidak ada laki-laki yang mau denganmu," kata Chian Ling membuat Zhiao Ling ingin menutup mulut saudarinya.


Zhu Mei dan Bing Mei saling berpandangan melihat mereka berdua yang berdebat hanya karena nama.


"Benar-benar saudara kembar yang gila!" gumam Bing Mei dan ternyata gumamannya terdengar oleh mereka berdua.


"Apa kamu bilang?" tanya Zhiao Ling dengan tatapan tajam.


"Zhu sebaiknya kita mencari lawan yang lain saja!" kata Bing Mei yang ingin meninggalkan kedua lawannya dan berjalan ke arah pinggir prisai.


"Jangan pergi anak kembar sialan!" seru Chian Ling kemudian bergerak maju untuk menghentikan Zhu Mei dan Bing Mei.


"Sihir Api Batu Api Lava."


Chian Ling segera melepaskan bola api untuk menghentikan Zhu Mei dan Bing Mei, namun Zhu Mei tersenyum melihat api tersebut.


"Sebenarnya kami senang jika senior berdua yang menjadi lawan kami," kata Zhu Mei kemudian langsung melepaskan sihir elemennya juga.


"Sihir Es Membekukan Air."


Zhu Mei mencairkan salju menjadi air kemudian mengarahkan air tersebut ke arah bola api yang mengarah padanya. Setelah bola Api tersebut menabrak air, air tersebut membeku dan memadamkan nyala dari bola api yang ternyata adalah batu yang menyala.


Zhiao Ling dan Chian Ling adalah pendekar yang ahli dalam ilmu sihir elemen api, mereka tidak pandai menggunakan pedang maupun senjata-senjata lainnya.


Begitu pula dengan Zhu Mei dan Bing Mei, mereka adalah pendekar yang ahli dalam ilmu sihir Es, dan tidak mahir jika bertarung menggunakan senjata.


Sayangnya baik Zhiao Ling dan Chian Ling sama-sama tidak menyadari jika yang mereka hadang adalah dua pendekar kembar dari sekte Danau Beku. Sudah jelas apa jadinya jika api bertemu dengan air, yang pasti itu hal yang tidak menguntungkan bagi pemilik sihir elemen api.


"Sial aku lupa kalau mereka berdua adalah Cucu ketua sekte Danau Beku!" gerutu Chian Ling kemudian ingin melangkah mundur.

__ADS_1


"Sihir Es Pengendalian Es."


Kini Bing Mei menggerakkan tangannya kearah salju yang diinjak oleh Chian Ling. Salju tersebut bergerak naik ke kaki Chian Ling hingga hampir di lutut dan kemudian mengeras membuat Chian Ling tidak bisa bergerak.


"Chian..!" Zhiao Ling bergegas mendekati saudari nya yang kakinya terjebak oleh salju yang sudah mengeras.


"Sihir Api Nafas Api."


Zhiao Ling langsung menyemburkan api dari mulutnya berniat mencairkan salju yang menutupi kaki Chian Ling.


Chian Ling jelas berontak karena tidak mau pakaiannya terbakar oleh api yang akan diseburkan oleh Zhiao Ling.


"Sihir Es Nafas Pembeku."


Zhu Mei meniupkan angin dingin kearah Zhiao Ling yang baru mengeluarkan sembuaran apinya sehingga api tersebut hanya sedikit yang keluar dan juga tubuhnya sedikit kaku karena merasakan dingin dari tiupan angin yang dilepas oleh Zhu Mei.


"Kamu ini gila, apa kamu mau membakar saudari kembarmu sendiri?"


Bing Mei yang tidak habis pikir jika Zhiao Ling terlalu nekat dalam bertindak tanpa memikirkan resiko dari tindakannya.


"A-aku...!" Zhiao Ling kesulitan untuk bicara bukan karena takut, melainkan karena menggigil kedinginan.


Zhu Mei tidak mau mengambil pusing untuk memikirkan hal tersebut kemudian dia mengambil Enam lencana dari kedua gadis kembar tersebut yang sudah mereka dapatkan dari pertarungan sebelum melawan Zhu Mei dan Bing Mei. Bing Mei dengan sihir es nya mengeluarkan kedua gadis kembar tersebut dari arena dan mereka sudah berhasil mengumpulkan lencana masing-masing sebanyak 8 lencana.


Sebenarnya kedua gadis kembar tersebut sangat hebat dengan sihir apinya, namun yang menjadi lawannya kali ini adalah pengguna sihir Es sehingga banyak yang menyayangkan terhadap kedua gadis Ling tersebut yang salah memilih lawan.


***


"Tu-tunggu, bukankah aturan pertandingan dilarang membunuh!?"


Dua orang peserta berumur 16 tahun berjalan mundur dengan tubuh dipenuhi beberapa luka, mereka berdua terlihat sangat ketakutan terhadap lawannya.


Awalnya mereka melihat gadis kecil berumur 12 tahun yang memakai baju hitam dan wajahnya separuh tertutup kain.


Mereka berdua langsung menghadangnya dan berencana mengambil lencana gadis kecil tersebut.


Namun kedua pemuda tersebut tidak menduga jika anak kecil tersebut ternyata seperti monster kecil yang menyeramkan.


Dibalik tubuh kecilnya ternyata gadis kecil tersebut memiliki kekuatan Sihir Elemen Debu yang mampu melukai lawan tanpa terlihat.

__ADS_1


Gadis kecil tersebut terlihat seperti berada ditingkat Pemula, namun kekuatan yang ditunjukan sebanding dengan kekuatan menengah.


"Aku tahu akan peraturan itu, dan aku tidak akan membunuh kalian berdua jika kalian menyerahkan lencana kalian kepadaku," kata gadis kecil tersebut dan tanpa expresi apapun, hanya tatapannya saja yang terlihat dingin.


Kedua pemuda tersebut saling berpandangan, "Kamu tidak akan bisa membunuh kami, jadi kanapa kami harus memberikan lencana kami kepadamu begitu saja?"


"Terserah kalian! Aku hanya tinggal membuat kalian terluka dengan rasa sakit yang menyiksa, dan kemungkian kalian akan hidup hanya sampai nanti saja karena ini akan bergerak menutup peredaran darah kalian dengan cepat," kata gadis tersebut kemudian butiran debu halus berputar mengelilingi tubuh mereka.


Mereka berdua menelan ludah dengan tubuh gemetar, perkataan gadis kecil tersebut ada benarnya juga. Jika mereka sampai mati saat sudah diluar pertandingan, sepertinya itu bukanlah masalah karena peraturannya tidak boleh membunuh saat sedang bertanding saja.


"Aku hitung sampai Tiga tarikan nafas, jika kalian masih belum memberikan lencana kalian, maka aku akan mengambilnya secara paksa!" kata gadis kecil tersebut dengan tatapannya yang semakin dingin dan debu halus yang mengitari tubuh mereka semakin menebal.


"Baik-baik ambillah dan biarkan kami keluar dari sini!" ucap mereka berdua secara bergantian sekaligus menyerahkan medali perak mereka.


Gadis tersebut mengambil medali milik mereka berdua kemudian membalikkan badannya dan berencana meninggalkan mereka.


"Tunggu, kenapa debumu masih berputar disini? bukankah kami sudah memberikan lencana kami?" kata salah seorang dari mereka.


"Bukankah aku sudah bilang jika aku tidak akan membunuh kalian, namun bukan berarti aku tidak melukai kalian, rasakanlah kesakitan itu yang akan membuat kalian mati nantinya."


Selesai berkata demikian, debu-debu tersebut berputar dengan cepat menghantam tubuh mereka berdua. Mereka berdua merasakan debu tersebut menembus pori-pori kulit mereka.


"Dasar pembohong, aku tidak akan melupakan perbuatanmu ini..!" seru salah satu dari mereka sebelum akhirnya mereka berdua tidak bisa mengeluarkan suara mereka berdua.


Debu tersebut langsung mengangkat tubuh mereka berdua dan melemparkannya keluar dari arena.


"Siapa gadis kecil itu?"


"Apakah gadis itu membunuhnya?"


Semua terkejut melihat aksi gadis tersebut yang terlihat terlalu keras terhadap lawannya. Jendral Whu Lang segera memeriksa kondisi kedua pemuda yang terlempar keluar arena.


"Mereka berdua masih hidup," kata Jendral Whu Lang membuat semua penonton bernafas lega namun dipenuhi banyak tanda tanya dibenak mereka semua.


Kedua pemuda tersebut hanya bisa merintih dengan rasa sakit yang semakin lama semakin menyakitkan. Rasa sakit tersebut terasa di dalam nadi mereka seperti sesuatu bergerak secar perlahan namun menyakitkan dan mereka yakin jika tidak secepatnya ditolong maka nyawa mereka tidak akan terselamatkan, itu pun jika ada yang menyadari akan apa yang terjadi dengan mereka berdua.


***


Terimakasih banyak atas saran kalian semua, memang benar ini seperti terlihat terburu-buru, sebenarnya bukan karena terburu-buru namun karena saya menulis ketika sudah selesai kerja dan pada akhirnya di kejar rasa lelah dan ngantuk😅.

__ADS_1


Maaf jika cerita ini tidak bisa memuaskan kalian. Saat ini saya juga sedang membuat novel lain yang nantinya akan saya rilis di youtube, novel yang akan menceritakan kisah Xi Liyi. namun masih lama untuk rilisnya.


Tenang saja, saya tetap akan update di sini dua bab perhari jadi bagi yang merasa tidak puas akan cerita ini saya minta maaf dan akan berusaha untuk lebih baik lagi.


__ADS_2