PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Karma sekaligus kutukan


__ADS_3

Chinmi kini menatap wajah Qie Yin, dia mengerutkan dahi setelah mengamati baik-baik wajah Qie Yin lebih teliti.


Jarak wajah mereka berdua hanya sejengkal saja, dan keduanya saling bertatap mata.


"Siapapun kamu sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur jika kamu masih sayang nyawamu," kata Hu Mochu.


Chinmi menoleh kearah Hu Mochu sambil terkekeh, "Senior, otak ku masih berfungsi sangat normal, senior pikir orang mana yang tidak menyayangi nyawa?" tanya Chinmi sambil mengeluarkan pedang Naga Langit dari sarungnya.


"Kau masih muda, namun kekuatanmu sama dengan kekuatan milik Nona Qie Yin. Perlu kamu ketahui, aku tidak peduli siapa dan dari mana asal mu, jika kamu berani ikut campur, aku pastikan kamu akan mati hari ini," kata Hu Mochu yang merasakan kekuatan Chinmi setingkat dengan Qie Yin.


Walau Hu Mochu terkejut melihat Chinmi yang masih muda sudah memiliki kekuatan tingkat Sihir Elemen Bumi.


Walau menurutnya kekuatan Chinmi masih jauh di bawahnya, namun dia bingung akan siapa sebenarnya Chinmi.


Sejauh yang Hu Mochu ketahui, hanya Qie Yin yang berhasil mencapai Tingkat Sihir Elemen Alam, walau sekarang sudah turun dua tingkat.


Namun tetap saja seorang pendekar Alam yang masih sangatlah muda belum pernah dia ketahui dan belum pernah ada sejarahnya.


"Senior-senior! Apa menurut Senior aku tidak mampu mengalahkan senior beserta kedua teman senior ini?" tanya Chinmi sekaligus memotong serabutan benang hitam yang melilit tubuh Qie Yin.


Mulut Hu Mochu melongo saat pedang Chinmi dengan begitu mudahnya memotong Benang Hitam miliknya yang begitu kuat.


"Aku suka dengan pedang mu itu! Serahkan pedangmu padaku!" kata Hu Mochu kemudian menyerang Chinmi dengan menggunakan benang hitamnya dan di bantu oleh kedua rekannya yang juga ikut maju menyerang Chinmi.


Chinmi sendiri tidak memperdulikan mereka, dia kini tertegun ketika berhasil membebaskan Qie Yin, Chinmi melihat ada debu halus yang menutupi tubuh Qie Yin seperti sebuah prisai pelindung.


"Sepertinya aku pernah melihat debu ini, dan juga pernah melihatmu di suatu tempat," kata Chinmi kepada Qie Yin.


Chinmi hanya pernah bertemu satu kali dengan Qie Yin, dan pertemuan mereka tidaklah lama, karena itu Chinmi sedikit lupa jika pernah bertemu dengan Qie Yin.


Qie Yin juga sama tidak ingat jika dirinya juga sudah pernah bertemu dengan Chinmi, ketika Benang Hitam milik Hu Mochu sudah hampir mengenai tubuh Chinmi, Qie Yin baru tersadar jika mereka berdua masih harus menghadapi Hu Mochu.


"Awas dibelakangmu!" seru Qie Yin ketika melihat benang hitam Hu Mochu sudah mendekat.


"Tutup telingamu!" kata Chinmi membuat Qie Yin kebingungan.


Chinmi mengangkat pedangnya ke atas dan kemudian suara desingan pedang Naga Langit langsung terdengar oleh semua mahluk yang ada di tempat itu.


Qie Yin hampir saja terlambat untuk menutup telinganya, sedangkan Hu Mochu dan kedua rekannya langsung jatuh ketanah karena telinga mereka tidak kuat untuk menahan suara desingan Pedang Naga Langit.


Desingan Pedang Naga Langit bisa dihindari dengan cara menutup telinga mereka lebih dulu sebelum Pedang Naga Langit mulai berdesing.


Namun jika sampai terlambat dan ke dahuluan suara desingan pedang tersebut, maka semuanya akan terlambat karena sedikit suara saja yang mereka dengar akan dengan mudah membuat telinga mereka sakit bahkan langsung mampu membuat gendang telinga mereka pecah.


"Kalian pikir bisa menyerang ku dari belakang? Jangan pernah bermimpi!"


Chinmi mengarahkan sebelah telapak tangannya ke arah salah satu dari kedua pendekar yang dibawa oleh Hu Mochu.


"Sihir Api Membakar Jiwa."


Sebuah api kecil muncul dari telapak tangan Chinmi, api kecil tersebut bagai api yang ditiup oleh angin dari dalam sehingga terlihat seperti semburan api kecil yang begitu kencang.


Pendekar yang berada dibawah telapak tangan Chinmi terlihat ketakutan ketika api kecil tersebut berada tepat diatasnya. Dia ingin lari namun kakinya seperti ada yang menahan.


"Pe-pendekar ampuni saya! Tolong jangan bunuh saya, saya hanya mengikuti perintahnya untuk menangkap nona ini!" kata Pendekar tersebut yang ternyata hanyalah pendekar sewaan.


"Berapa dia membayar mu?" tanya Chinmi.


Hu Mochu sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa karena telinganya masih kesakitan, bahkan telinganya sampai mengeluarkan darah.

__ADS_1


Bukan hanya Hu Mochu, bahkan kedua pendekar sewaannya juga mengalami hal yang sama.


"Pe-penghianat..!" seru Hu Mochu sambil mengerang kesakitan.


"Lanjutkan saja, jangan hiraukan dia, sekarang jawab pertanyaan ku, berapa senior itu membayar mu?" tanya Chinmi sambil menarik kembali pedangnya.


"Ka-kami dibayar Sepuluh keping emas."


"Sepuluh keping emas ya? Kalau begitu saya akan memberi masing-masing dari kalian Dua puluh keping emas! Bagaimana, apakah kalian mau?"


Mereka berdua terkejut mendengar ucapan Chinmi. Walau telinga mereka masih sakit, begitu mendengar angka yang ditawarkan oleh Chinmi, rasa sakit di telinga mereka terasa menghilang begitu saja.


"Mau, tentu saja kami mau!" jawab mereka serempak.


Chinmi mengambil kantong koin emas dari balik bajunya kemudian menghitung dan memberikan masing-masing dari mereka sebanyak Dua puluh keping emas.


"Terimalah, tapi sebagai syaratnya kalian jangan lagi mengejar atau mengganggu nona ini lagi! Apa kalian setuju?"


"Tentu-tentu kami berjanji tidak akan mengganggu nona ini lagi," mereka jelas sangat setuju karena persyaratan yang Chinmi berikan ternyata sangatlah mudah dengan upah yang sangat begitu besar.


"Kalau begitu sekarang kalian boleh pergi!"


Mereka segera bangkit dan pergi dari tempat tersebut tanpa mengucapkan terima kasih kepada Chinmi.


Kini hanya tinggal Hu Mochu yang ada disana dengan kondisi telinganya yang masih sedikit sakit.


"Nona, kita apakan orang yang ingin mencelakai Nona ini?" tanya Chinmi kepada Qie Yin, dia masih belum mengingat Qie Yin hingga saat ini.


Qie Yin yang sudah pernah hidup di dunia hitam tentu memiliki sisi gelap yang begitu keras dan sadis, perasaan benci dan dendam kini telah menguasai hatinya.


"Di bunuh saja agar tidak lagi mengejar ku!" kata Qie Yin.


"Apa tidak ada cara yang lain?" tanya Chinmi.


Qie Yin menggelengkan kepala seraya menjawab, "Dia adalah salah satu orang terkuat di sekte Kalajengking Merah, tidak ada kata maaf bagiku untuk semua anggota sekte Kalajengking Merah! Jika kamu tidak mau membunuhnya biar aku sendiri yang melakukannya," kata Qie Yin.


Chinmi mengerutkan dahi mendengar nama sekte Kalajengking Merah, sekte yang pernah menyerang Kerajaan Es Utara.


"Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihatmu!"


Chinmi ingin kembali berbicara namun Qie Yin sudah lebih dulu menyerang Hu Mochu dengan sihir debu nya.


"Sihir Debu Hujan Debu Merah."


Hu Mochu langsung bangkit dan segera menahan serangan Qie Yin yang menciptakan Hujan Debu berwarna merah.


Setiap butiran debu tersebut sangat berbahaya, jika sampai satu butir debu halus itu mengenai kulit Hu Mochu, maka debu tersebut akan masuk kedalam melewati pori-pori kulit.


Debu Merah yang sudah berhasil masuk kedalam tubuh akan menyerang targetnya dari dalam dengan menghancurkan seluruh organ di dalam tubuh korbannya.


"Apa kamu pikir bisa mengalahkan ku begitu saja," kata Hu Mochu.


Hu Mochu menutupi seluruh tubuhnya dengan benang hitamnya sehingga benang tersebut menyerupai sebuah kain tebal yang menutupi seluruh tubuh Hu Mochu.


Tidak satupun dari debu tersebut yang mampu menembusnya sehingga Hu Mochu bisa bergerak dengan leluasa untuk menyerang Qie Yin dengan cara merasakan energi Qie Yin.


"Benang Hitam Pengikat Kematian."


Hu Mochu melepaskan empat helai benang dari benang hitam yang menyerupai lain tersebut. Keempat benang tersebut bergerak lurus kearah Qie Yin yang masih berusaha untuk menembus kain hitam yang menutupi tubuh Hu Mochu.

__ADS_1


"Pedang Membelah Angin."


Chinmi tiba-tiba menebas keempat benang yang yang mengarah ketubuh Qie Yin, dia kemudian berdiri tepat dihadapan Qie Yin sembari mengarahkan pedangnya keleher Qie Yin.


"Sekarang aku ingat akan siapa kamu. Namun aku tidak mengerti, kenapa Pendekar dari Sekte yang sama saling bertarung?" tanya Chinmi sambil tetap mengarahkan ujung pedangnya keleher Qie Yin.


Menurut Chinmi tidak ada bedanya membunuh Hu Mochu maupun Qie Yin, karena mereka berdua sama-sama berasal dari sekte yang sama.


Qie Yin menghentikan sihir debu nya dan menatap Chinmi dengan seksama, jika Chinmi pernah bertemu dengannya, Qie Yin seharusnya akan mengingatnya. Namun dia sama sekali tidak mengingat jika dirinya pernah bertemu dengan Chinmi atau tidak.


"Dulu aku memang berasal dari sekte Kalajengking Merah, namun sekarang aku sudah tidak lagi menjadi anggota sekte mereka yang kejam," kata Qie Yin.


Hu Mochu melepaskan sedikit kain hitamnya untuk melihat akan apa yang terjadi, setelah dia melihat Chinmi mengarahkan ujung pedangnya kearah Qie Yin, Hu Mochu tersenyum lebar. Dia merasa Chinmi sekarang berada dipihaknya.


"Apa aku harus percaya padamu?" tanya Chinmi.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, namun yang jelas aku tidak ingin lagi kembali ke sekte terkutuk itu," kata Qie Yin.


Hu Mochu secara diam-diam menyerang Qie Yin dengan benangnya, dia yakin baik Qie Yin maupun Chinmi tidak akan menyadarinya.


Saat Hu Mochu yakin jika benangnya pasti akan mengenai Qie Yin yang sedang lengah, Hu Mochu merasakan beban yang sangat berat menindih pundaknya.


"A-ada apa ĺa-lagi ini!" Hu Mochu kesulitan untuk bernafas, bahkan dia sampai jatuh berlutut dengan nafas yang begitu berat.


Hu Mochu mencoba memeriksa kesekelilingnya, namun dia sama sekali tidak melihat siapa-siapa kecuali Chinmi dan Qie Yin yang saat ini saling bertatap mata.


Hu Mochu merasa nafasnya semakin sesak, dia berusaha untuk kembali bangkit, namun seluruh tubunya benar-benar tidak bisa dia angkat.


"Chinmi, sebaiknya kamu percaya saja pada gadis ini, dia benar-benar berkata jujur dan aku tidak perlu menjelaskan akan apa yang ia pikirkan," kata Lio Long yang tiba-tiba saja berada dibelakang Qie Yin.


Qie Yin jelas kaget karena tiba-tiba Lio Long muncul begitu saja, bahkan dia sama sekali tidak menyadarinya.


"Senior, aku bukannya tidak mau percaya kepada senior, namun dia ini pernah..!"


"Aku tahu Chinmi, dia pernah menjadi anggota sekte aliran hitam, namun sekarang dia sudah benar-benar keluar dari sektenya, sudahlah biar nanti dia sendiri saja yang menceritakannya padamu, sebaiknya sekarang cepat kamu selesaikan orang jahat itu dan kita segera mengurus urusanmu yang lebih penting," kata Lio Long.


"Baiklah senior!" kata Chinmi kemudian menatap Qie Yin kembali.


"Aku tidak akan membunuhmu sekarang. Tapi ingat, jika sampai kamu kembali berbuat jahat, maka aku tidak segan-segan untuk menghabisimu! Sekarang kamu selesaikan urusanmu dengan pendekar yang mengejarmu itu!" kata Chinmi kemudian dia berjalan dan berdiri di samping Lio Long.


"Terima kasih jika kamu mau mengerti!" kata Qie Yin kemudian menatap Hu Mochu yang terlihat seperti tidak bisa bergerak.


Qie Yin mengarahkan telapak tangannya dan membuat pola segitiga dan menghadap kearah Hu Mochu.


"Kamu harus mati lebih dulu, setelah itu She Chin akan segera menyusul mu."


"Sihir Debu Butiran Penghancur."


Cahaya butiran debu melesat dari telapak tangan Qie Yin dan mengarah ke tubuh Hu Mochu yang sangat kesulitan untuk bergerak.


Hu Mochu hanya bisa menatap Qie Yin dengan tatapan tidak percaya jika dirinya akan mati ditangan Qie Yin.


Debu tersebut mengenai kepala Hu Mochu hingga tembus kebelakang, kepulan asap keluar dari lubang kepala Hu Mochu yang berhasil di tembus oleh cahaya debu milik Qie Yin.


Hu Mochu mati seketika itu juga dengan dahi berlubang, sedangkan Chinmi hanya bisa menghela nafas melihat Qie Yin yang membunuh Hu Mochu tanpa terlihat menyesal sama sekali.


"Dunia ini penuh dangan kekejaman, orang tua bisa mati ditangan anak yang masih muda, sedangkan Gadis yang begitu cantik terlihat bagai dewa kematian," gumam Chinmi yang didengar oleh Lio Long.


"Kamu memang perlu banyak belajar Chinmi, dalam dunia perang, baik itu dia seorang prajurit maupun seorang Kultivator, semua memang harus terlihat kejam, saat perang bisa saja seorang ayah harus mengubur jasad anak nya sendiri! Itu adalah Karma sekaligus kutukan yang tidak akan bisa dihindari," kata Lio Long kemudian dia pergi membiarkan Chinmi dan Qie Yin berdua saja.

__ADS_1


Chinmi ingin menjawab perkataan Lio Long sekaligus melihat kearah Lio Long, sebelum dia mejawab nya, ternyata Lio Long sudah tidak ada di tempatnya lagi.


__ADS_2