
Jendral Jin Hang membungkuk seraya menjawab, "Yang mulia, saya akan membawa 20 prajurit saja kesana dan itu sudah lebih dari cukup."
"Apa itu tidak terlalu sedikit jendral?" tanya Raja Ming Shan.
"Maafkan saya yang mulia, kita kesana hanya mengawal pangeran Ming bertannding dan bukan untuk berperang, jadi percayalah jika 20 prajurit itu sudah lebih dari cukup bagi pangeran," kata jendral Jin Hang.
"Baiklah aku serahkan semuanya padamu, namun ingat untuk selalu hati-hati dan waspada!" ucap Raja Ming.
"Kalau begitu kami akan berangkat sekarang Yang Mulia," kata Jendral Jin setelah melihat kereta yang akan dinaiki pangeran sudah ada didepan istana.
"Baiklah pangeran, aku pesankan padamu agar menjaga sikap disana, memang kerajaan kita yang terkuat, walau kita yang terkuat sebaiknya jangan pernah membuat masalah dengan kerajaan lain!" kata Sang Raja memperingatkan pangeran Ming.
Raja Ming Shan berpesan demikian karena sangat mengetahui watak dan sifat pangeran yang angkuh dan tidak sabaran.
"Baik Ayah, sekarang aku pergi dulu!" Ming Zai menjawab namun hatinya tidak yakin.
"Berhati-hatilah!" kata Raja Ming dan membiarkan putranya pergi.
Ming Zai menaiki kereta kudanya yang besar itu. 10 prajurit berada di depan dan 10 prajurit berada di belakang sedangkan Jendral Jin Hang menaiki kudanya dan berjalan di depan memimpin jalan.
Saat diperjalanan, mereka bertemu dengan beberapa rombongan sekte menengah lainnya yang juga menuju ke arah yang sama.
Jendral Jin Hang terlihat berbicara dengan rombongan tersebut dan kemudian mendatangi pangeran yang berada di dalam keretanya.
"Pangeran, apakah boleh rombongan mereka ikut serta bergabung dengan rombongan kita?" jendral Jin Hang meminta ijin kepada pangeran Ming agar kelompok sekte menengah itu ikut bergabung dengan rombongan mereka.
"Kenapa kita harus berjalan satu kelompok dengan para pendekar dari sekte kecil seperti mereka? Kita ini adalah rombongan dari Kerajaan besar, tidak pantas kalau kita berjalan satu kelompok dengan mereka!" kata Pangeran Ming Zai dengan nada angkuh dan sombong.
Sekte menengah tersebut bernama Sekte Bukit Matahari, salah satu sekte menengah aliran netral.
Mereka mendengar pangeran menolak untuk bergabung melakukan perjalanan bersama-sama dengan mereka, semuanya sedikit kesal karena Sang Pangeran terdengar merendahkan mereka.
__ADS_1
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyuarakan kekesalan mereka kepada pangeran karena adanya jendral Jin Hang.
"Sudahlah senior sebaiknya kita tidak perlu bergabung dengan pangeran sombong itu!" kata salah satu murid sekte yang usianya sama dengan pangeran Ming Zai.
"Mudah-mudahan dipertandingan nanti aku bisa berhadapan dengan pangeran sombong itu, akan ku buat dia malu seumur hidupnya nanti!" kata Murid yang lainnya yang terlihat sangat kesal.
Jendral Jin Hang datang menghampiri mereka dengan wajah lesu, dia tidak enak hati untuk menyampaikannya kepada mereka walau dia sendiri tahu jika mereka pastilah sudah mendengar perkataan Pangeran Ming Zai.
"Maaf atas ke tidak nyamanan ini, saya harap kalian tidak mengambil hati perkataan Pangeran Ming!" kata Sang Jendral, walau dia kuat namun Jendral Jin Hang sangat sopan dan selalu menghargai orang yang lebih lemah darinya.
Salah satu pimpinan rombongan sekte Bukit Matahari maju dan berbicara kepada sang Jendral, "Tidak apa-apa jendral Jin, kami tahu kami tidak pantas jika harus berjalan berdampingan dengan rombongan dari Kerajaan, jadi silahkan Jendral melanjutkan perjalanan terlebih dahulu, kami akan berjalan belakangan."
Jendral Jin Hang tersenyum kecut mendengarnya, sebenarnya dia juga tidak setuju dengan perkataan sang pangeran, namun dia hanya bisa menuruti perintah sang pangeran.
"Sekali lagi atas nama pangeran dan Raja Ming, saya mohon maaf, kalau begitu kami jalan duluan!" kata Jendral Jin Hang dengan sedikit menyesal.
Rombongan pangeran kembali melanjutkan perjalanannya, dan ketika kereta pangeran lewat di depan rombongan mereka, pangeran Ming Zai membuka tirai jendela keretanya dan tersenyum sinis kepada mereka.
"Huh! tunggu saja aku akan membuat perhitungan dengan mu dipertandingan nanti, tunggu saja!" kata salah satu murid sekte Bukit Matahari dengan mengepalkan kedua tangannya dengan geram.
***
Chinmi dan sudah berhari-hari sejak meninggalkan Desa Mati yang sekarang sudah lenyap dan hanya menyisakan satu rumah saja.
Mereka tidak berjalan melewati Hutan terlarang kerena tidak mau perjalanan mereka terhambat karena gangguan Hewan Iblis disana, dan lagi pula Xuao Lan khawatir bertemu dengan Hewan Iblis yang kuat.
Namun Chinmi merasa tidak senang karena dirinya ingin sekali mencari Hewan Iblis untuk di bunuh dan mengambil mustikanya.
Saat ini sisa mustika abu-abu yang ia punya tersisa 12 biji, walau itu cukup untuk dirinya namun Chinmi butuh lebih banyak mustika apapun untuk di jual.
Yang menjadi pertanyaan Chinmi saat ini hanya satu, dari mana para Hewan Iblis itu datang?
__ADS_1
Setelah beberapa hari kemudian mereka tiba di pelabuhan besar, Pelabuhan menyediakan pelayanan pelayaran Ke berbagai arah dan salah satunya menuju ke Wilayah kerajaan Es Utara.
"Maaf Tuan, apakah ada kapal yang akan berlayar menuju ke Kerajaan Es Utara?" Xuao Lan bertanya kepada salah satu orang yang sedang berada di depan kapal.
Orang tersebut memperhatikan Xuao Lan dengan seksama dan melihat Chinmi dan yang lainnya berada di belakang Xuao Lan.
"Ada namun kapal itu masih akan berangkat dua hari lagi!" kata orang tersebut.
"Owh begitu, jika boleh tahu yang mana kapalnya yang akan berangkat dua hari lagi itu?" tanya lagi Xuao Lan.
Orang tersebut menunjuk kearah kapal kayu yang tidak terlalu besar dan memiliki tiga tiang dengan beberapa layar yang masih digulung.
"Itu kapalnya Tuan! Sebenarnya ada kapal yang lebih besar dari itu namun kapal tersebut sudah berangkat semalam jadi hanya tersisa kapal ini saja."
"Baiklah tidak apa-apa, kalau begitu terimakasih banyak atas informasinya, kami pamit dulu!" kata Xuao Lan kemudian dijawab dengan anggukan oleh orang tersebut.
"Sekarang bagaimana Senior?" tanya Chinmi.
"Kita cari penginapan dulu di dekat pelabuhan ini, lagi pula waktu masih panjang dan juga acara pertandingan masih dua minggu lagi," jawab Xuao Lan sambil mengamati seluruh wilayah pelabuhan yang ramai karena hanya orang yang berlalu lalang dengan kesibukan mereka sendiri.
"Kalau kita menyeberangi lautan ini dengan kapal, butuh berapa hari kita bisa tiba di Kerajaan Es Utara senior?" Xian Fai ikut bertanya.
"Tidak lama, mungkin hanya dua hari dua malam saja!" kata Yue Rong.
"Bagaimana Bibi bisa tahu, apa sebelumnya Bibi pernah pergi kesana?" tanya Chinmi penasaran.
"Tidak aku belum pernah kesana!"
"Lalu bagaimana Bibi bisa tahu?" tanya lagi Chinmi.
"Dari para senior di sekte yang pernah pergi kesana tentunya," jawab Yue Rong.
__ADS_1
Chinmi, Xian Fai, Lian Cao dan Yue Yin saling berpandangan sebelum akhirnya mulut mereka membentuk huruf "O".
Xuao Lan mencari penginapan di dekat pelabuhan agar bisa mengamati kapal itu dari waktu ke waktu.