
Ketika mereka semua sedang pergi kembali menuju ke toko, mereka bertemu dengan para peserta di pusat kota. Karena merasa tidak pantas jika membiarkan anak-anak dalam bahaya berada diluar, Du Mong akhirnya mengajak mereka semua untuk ikut masuk kedalam toko.
Awalnya Xian Fai dan lainnya merasa ragu dengan ajakan Du Mong, namun begitu mendengar banyak suara ledakan dari arah istana, sekali getaran ledakan besar juga membuat tanah bergetar, akhirnya mereka lebih memilih ikut Du Mong untuk berlindung.
Tenyata di dalam asosiasi sendiri memiliki beberapa pendekar Puncak sebagai pilar pertahanan asosiasi, sekitar 15 Pendekar pilar pertahanan segera membuat perisai pelindung dari energi untuk menjaga bangunan agar tidak runtuh jika ada serangan maupun goncangan besar.
Mereka hanya menutupi bangunan sendiri saja, mereka tidak memperdulikan bangunan lain yang bisa saja akan ambruk jika sampai ada getaran tanah yang lebih besar lagi.
Dan benar saja, saat para pendekar pilar milik asosiasi sudah selesai membuat perisai, sebuah ledakan yang lebih besar lagi mulai terdengar, bahkan guncangan tanah semakin membesar membuat beberapa bangunan roboh seketika.
Chinmi hanya terdiam mendengar penjelasan dari Du Mong, walau dia sendiri merasa kesal akan cara kerja asosiasi, namun dia masih bersyukur karena para peserta semuanya selamat, dan semua itu tidak luput dari perlindungan asosiasi kepada mereka.
"Kalau begitu saya ucapkan terimakasih banyak karena manager Du sudah menyelamatkan mereka semua," kata Chinmi sambil membungkukkan badannya.
"Itu tidak masalah dan tidak perlu dipikir kan lagi, sekarang aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu, ikutlah denganku!" kata Du Mong kemudian pergi menaiki tangga.
Chinmi yang kebingungan akhirnya hanya bisa berpesan kepada yang lainnya untuk menunggunya sebentar kemudian pergi mengikuti Du Mong kelantai atas.
Sesampainya di lantai Dua, Du Mong meminta Chinmi untuk menunggunya sebentar karena dirinya ingin mengambil sesuatu.
Setelah agak lama, Du Mong membawa sesuatu yang dibungkus dengan sebuah kain berwarna hitam, "Maaf lama, ini ambillah!" kata Du Mong membuat Chinmi sangatlah penasaran.
Chinmi secara perlahan-lahan membuka bungkusan tersebut, dan setelah itu dia dapat melihat jika itu adalah sebuah pedang yang masih tersarung rapi.
"Apa maksudnya ini..?" tanya Chinmi karena merasa heran dengan Du Mong yang tiba-tiba saja memberinya sebuah pedang.
"Ah ini hanyalah sebuah pedang patah, lagi pula aku memberikan ini agar kamu bisa menggunakan sarung pedang tersebut untuk menyarungkan pedangmu itu, tidak baik jika membawa pedang kemana-mana dengan keadaan telanjang seperti itu."
"Sarung pedang..?" Chinmi semakin bingung kemudian mencabut gagang pedang tersebut dari sarungnya.
Pedang tersebut ternyata hanya tinggal kurang dari satu jengkal saja, bahkan terlihat dengan jelas patahan ujung dari pedang tersebut.
__ADS_1
Chinmi tersenyum malu setelah mengetahui hal itu, dia pikir Du Mong memberikannya sebuah pusaka padanya, namun ternyata dia salah sangka.
Du Mong hanya berniat memberikan sarung pedangnya saja padanya. Sedangkan pedang aslinya sudah patah dan sisanya sangatlah pendek.
Chinmi mencoba sarung pedang tersebut kepada Pedang Naga Langit dan ternyata, sarung tersebut sangat pas dengan pedang Naga Langit langit.
"Ini memang kebetulan, atau sesuatu yang lain?" batin Chinmi.
Pedang Naga Langit memiliki ukuran dan bentuk yang sedikit berbeda, di bagian pangkal pedangnya terdapat dua cabang menyerupai dua tanduk Naga pada pedang tersebut, namun anehnya sarung pedang patah tersebut sangat cocok dan ukurannya pas dengan pedangnya.
Meresa ada yang aneh, Chinmi akhirnya meminta pedang patah tersebut untuk ia ambil, dan tentu saja Du Mong memberikannya.
"Baiklah, jika kamu membutuhkan sesuatu datanglah kesini, kami menyediakan barang-barang dan kebutuhan bagi para pendekar seperti pedang, senjata-senjata rahasia, obat dengan berbagai khasiat penyembuhan dan juga pil ajaib yang bisa menambahkan energi seseorang yang habis dari obat hingga mustika Hewan Iblis," kata Du Mong yang mulai promosi kepada Chinmi.
Chinmi segera teringat akan Mustika Hewan Iblis yang ia bawa dan kemudian balik bertanya pada Du Mong.
"Manager Du, apakah asosiasi selain menjual barang juga bisa membeli barang dari orang lain?" tanya Chinmi untuk memastikan terlebih dahulu apakah asosiasi tujuh bintang mau diajak bisnis jual beli barang atau tidak.
"Maksudmu?" Du Mong justru balik bertanya.
"Tentu saja, namun kami harus mengetahui dulu seperti apa barangnya, apakah memiliki kwalitas standar arau kwalitas tinggi, jika ternyata tidak memiliki kwalitas sama sekali, tentu saja kami tidak mau membelinya. Karena kami akan menjualnya kembali ke pendekar lain, jika sampai barang yang dijual tidak memenuhi standar yang dibutuhkan oleh pendekar, tentu saja akan sangat sulit untuk menjualnya kembali," kata Du Mong.
"Bagaimana jika barang yang dijual berupa barang standar biasa seperti Mustika abu-abu?" tanya Chinmi.
"Ah mustika abu-abu ya, tentu saja kami masih membeli dan menjualnya, namun harga beli akan lebih murah harganya dari harga yang kami jual!" kata Du Mong.
"Memangnya berapa harga kalian untuk membeli satu biji mustika abu-abu dari para pendekar?"
"Kami akan membelinya perbiji nya sebesar 2 keping emas saja, dan akan menjualnya kembali seharga 3 keping emas kapada pendekar yang membutuhkannya. namun saat ini kami belum bisa membeli mustika abu-abu tersebut karena kami masih memiliki banyak di gudang," kata Du Mong.
Chinmi terlihat seperti sedang bersimulasi sendiri dari keuntungan asosiasi tersebut, walau terlihat seperti masih mendapatkan hasil 1 keping emas perbijinya, namun itu masih tidak sebanding dengan pengeluaran ongkos untuk membayar para pendekar dan juga pelayan.
__ADS_1
Gaji para pendekar saja yang berada di asosiasi cabang Kerajaan Es Utara bisa menghabiskan 500 keping emas setiap bulannya, itu pun jika pasti karena ini hanyalah simulasi dari Chinmi sendiri.
"Baiklah Manager Du terima kasih atas informasinya, lagi pula sepertinya barang yang ingin aku jual tidak akan terbeli oleh asosiasi!" kata Chinmi dia ingin segera turun untuk menemui yang lainnya di bawah.
"Tunggu, sebenarnya apa yang ingin kamu jual?" tanya Du Mong yang sejak tadi penasaran.
"Aku hanya memiliki Mustika abu-abu dan beberapa mustika lainnya!" kata Chinmi.
"Jadi hanya mustika abu-abu, kalau begitu aku minta maaf karena Mustika abu-abu yang kami miliki juga masih banyak, dan kemungkinan akan habis dalam 2 bulan lagi," kata Du Mong.
"Biarlah manager Du, aku akan menjualnya ke toko lain saja," kata Chinmi.
Du Mong yang masih penasaran kemudian kembali bertanya, "Seberapa banyak mustika abu-abu yang kamu miliki?" tanya Du Mong.
Chinmi tersenyum malu kemudian menjawabnya, "Tidak banyak, hanya sekitar Delapan saja!" kata Chinmi.
"Delapan..? Kenapa kamu mau menjualnya, dari pada dijual lebih baik kamu pergunakan mustika tersebut untuk persiapan mu sendiri," kata Du Mong.
"Kalau aku pakai sendiri, biar sampai 3 tahun pun tidak akan bisa habis."
"Mana mungkin, jika hanya delapan mungkin paling lama dua hari akan habis!" kata Du Mong yang terlihat kecewa jika ternyata mustika abu-abu milik Chinmi hanya ada delapan saja.
"Maksud delapan itu bukan delapan biji, melainkan lebih dari 800 biji mustika abu-abu yang aku miliki," kata Chinmi.
"De-delapan ratus...!" Du Mong sampai kesulitan untuk berbicara, walau harganya murah, namun mustika abu-abu sebanyak itu sungguh sangat fantastis.
"Sudahlah manager Du, aku mau turun kebawah dan akan menjual Mustika abu-abu ini kepada toko lain."
"Tu-tunggu, biar kami saja yang membayarnya!" kata Du Mong yang mendadak menghentikan langkah Chinmi.
"Bukankah kamu bilang mustika abu-abu mu masih banyak? Kenapa kamu justru ingin membelinya lagi?" tanya Chinmi dengan heran.
__ADS_1
"Itu... I-itu..!" Du Mong menjadi bingung.
Walau dia memiliki banyak mustika di gudang, namun dia tetap akan ikut andil dalam pembelian mustika abu-abu dari Chinmi.