
Sesuai dengan pesan dan arahan dari Lio Long, Chinmi bermeditasi di ruang bawah tanah yang sudah dipersiapkan.
Sedangkan Lio Long melatih Qie Yin agar bisa menguasai pengendalian debu nya lebih tinggi lagi. Tidak terasa dua bulan sudah berlalu sejak Chinmi mulai melakukan meditasi nya.
Selama itu pula, Chinmi sama sekali tidak merasakan apa-apa, namun seperti yang dikatakan oleh Lio Long, semuanya memang butuh kesabaran dan Fokus.
Jika Lio Long sedang pergi, terkadang Qie Yin pergi menjenguk keadaan Chinmi tanpa ada yang menyuruhnya.
Selama dua bulan itu juga Chinmi tidak makan maupun minum sehingga tubuhnya mulai terlihat kurus.
Chinmi yang tidak tahu ketika Qie Yin datang menjenguknya, Qie Yin pasti duduk di hadapannya sambil menatap wajah Chinmi.
Qie Yin sendiri juga tidak tahu mengapa dia sangat suka ketika melihat wajah Chinmi, mungkin hanya karena Chinmi dan Lio Long saja yang bisa ia lihat sehingga dia sangat suka memperhatikan wajah Chinmi.
"Sebenarnya kami adalah laki-laki teraneh yang pernah aku temui!" batin Qie Yin yanh duduk sambil menopang dagunya dengan tangannya dan matanya tidak ada bosan-bosannya menatap wajah Chinmi.
Qie Yin bingung karena sejak pertemuan kedua mereka hingga melakukan perjalanan bersama, Chinmi seperti tidak terpengaruh oleh wajah cantiknya.
Lio Long saja memuji kecantikannya berkali-kali. Namun Chinmi, jangan untuk memuji kecantikan nya, mengajak bicara saja juga jarang.
"Ahh... Apa yang aku pikirkan? Tujuanku saat ini kan harus berlatih agar bisa menjadi pendekar hebat dan akan membalas semua perbuatan She Chin kepada kedua orang tuaku!" gumam Qie Yin.
Qie Yin lupa jika dirinya saat ini ingin berlatih lebih giat lagi demi untuk membalaskan kematian kedua orang tuanya.
Qie Yin berbalik dan kemudian keluar dari ruang bawah tanah untuk kembali melanjutkan latihannya yang tertunda.
***
Setelah hampir tiga bulan di dunia ciptaan Lio Long, barulah Chinmi merasakan keanehan dalam dirinya.
"Bukalah matamu sekarang, aku sudah ada dihadapan mu."
Sebuah suara pemuda yang mirip dengan suaranya terdengar oleh Chinmi. Secara perlahan-lahan Chinmi membuka mata dan dia melihat dirinya sedang duduk di batu besar yang di kelilingi oleh air sungai.
Chinmi juga melihat ada sesosok pemuda sedang berdiri membelakanginya. Hanya punggungnya saja yang terlihat.
__ADS_1
"Maaf, kamu siapa?" tanya Chinmi walau dirinya sudah tahu jika pemuda di hadapannya itu adalah jiwa kembarnya, namun setidaknya pasti dia memiliki nama sendiri.
Pemuda tersebut tertawa kecil mendengar pertanyaan Chinmi, "Haruskah aku menjawabnya?" tanya Pemuda tersebut kemudian dia berbalik dan menatap Chinmi.
"Aku adalah Chinmi," kata pemuda yang wajahnya sama dengan dirinya.
"Jadi bukan hanya tubuh dan baju saja yang sama, melainkan namanya juga sama dengan diriku!" kata Chinmi dan kemudian bangkit dari tempat duduknya.
"Tentu saja, kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Kita berdua ini adalah satu!" kata pemuda tersebut sekaligus dia berjalan di atas air tanpa menggunakan alat bantu.
Chinmi sama sekali tidak merasakan kekuatan dari pemuda tersebut, "Sebenarnya kedatangan ku kesini untuk!"
"Tidak perlu di jelaskan, aku sudah tahu akan maksud kedatangan mu kesini! Apa yang kamu pikirkan, apa kamu pikir bisa membangkitkan pondasi jiwa dengan mengalahkan ku?" tanya kembaran Jiwa Chinmi tersebut.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa atau tidak!" kata Chinmi seolah-olah ragu.
"Perlu kamu tahu, setiap manusia yang ingin membangkitkan Pondasi jiwanya pasti akan datang ke alam jiwa ini, jika ingin kembali ke dunianya, maka manusia tersebut harus mengalahkan kembaran jiwanya. Jika tidak maka jiwamu akan terjebak disini selamanya."
Chinmi menelan ludahnya, dia sudah mengetahui semuanya dari penjelasan Lio Long, namun begitu mendengar kembali membuat Chinmi semakin ragu.
"Aku sudah berada di sini! Aku akui jika aku memang sedikit ragu, namun kenyataannya sekarang aku sudah berada di sini, jadi hanya memiliki satu pilihan, yaitu akan tetap menghadapi mu!" kata Chinmi.
"Hahaha... Kamu benar-benar bodoh, apakah kamu berpikir akan bisa mengalahkan ku dengan mudah? Kalau begitu ayo kita mulai!"
Kembaran Jiwa Chinmi tiba-tiba menyatu dengan air sungai, setelah itu air sungai tersebut menjulang keatas dan mulai membentuk sesosok seperti manusia air raksasa.
Chinmi melompat kepinggir sungai kemudian menyerang sosok air raksasa jelmaan Kembaran Jiwa nya itu dengan sihir Es.
"Pengendalian elemen sekecil ini tidak akan cukup untuk mengalahkan ku saudaraku!"
Kembaran Jiwa Chinmi tertawa seperti merasa geli ketika Chinmi membekukan tubuh bagian bawahnya. Hanya dalam satu kali gerakan saja, es yang menutupi bagian bawahnya meleleh bagai terkena panas.
"Kekuatan lebih tinggi dari Tingkat Pertapa!" gumam Chinmi merasakan kekuatan kembaran jiwanya lebih tinggi dari para pertapa bahkan dirinya.
"Ayo tunjukkan seluruh kemampuanmu!" ucap kembaran Jiwa sekaligus menyerang Chinmi dengan air yang bergerak bagai cambuk.
__ADS_1
Chinmi juga membalas serangan tersebut dengan sihir air nya, kedua cambuk air pecah saat saling beradu dan airnya berhamburan keberbagai arah.
Kembaran Jiwa Chinmi kembali menyerang, namun dia tidak lagi menggunakan Cambuk Air, melainkan panah air yang sangat banyak.
"Sihir Angin Pusaran Pelindung."
Chinmi menciptakan sihir Angin yang berputar dan menyerupai bola. Putaran angin tersebut ternyata sangat efektif untuk menahan serangan ribuan panah air yang terus menerus mengarah pada dirinya.
"Hem... Lumayan, tapi bagaimana dengan ini!"
Kembarnya Jiwa kembali membuat air membentuk seperti ujung tombak yang sangat besar.
Chinmi melebarkan matanya saat melihat air tersebut, dia berusaha berpikir dengan tenang agar bisa menahan serangan tersebut nantinya.
"Rasakanlah ini!" seru kembaran Jiwa Chinmi sekaligus melepaskan serangannya.
Kecepatan serangan air tersebut melebihi kecepatan anak panah yang dilepaskan, Chinmi mengarahkan telapak tangannya kearah serangan tersebut dan dia juga melepaskan sihir Angin yang lebih besar lagi untuk melawannya.
"Sihir Angin Pusaran ****** Beliung."
Energi angin ****** beliung segera tercipta, namun ujung angin tersebut berputar ke arah depan dan bukan ketanah.
Kedua ujung Energi Air dan Angin saling mendorong dan sama-sama berputar, namun pusaran Angin Chinmi masih kalah besar dan kuat dari Energi Air sehingga serangan air tersebut berhasil menghancurkan pusaran angin milik Chinmi.
Chinmi berusaha untuk menghindari tombak Air yang sudah hampir mengenai tubuhnya. Walau berhasil menghindari ujung tombak air, namun Chinmi tetap saja terkena imbasnya hingga terlempar belasan meter kebelakang.
"Tidak ku sangka tenyata dia sekuat ini!" batin Chinmi yang sudah kembali bangkit, namun rasa sakit dari hantaman tombak Air masih sangat terasa.
"Sepertinya aku harus menggunakan ilmu itu!" kata Chinmi kemudian mulai mengubah pola serangannya.
"Sihir Kayu Akar Penghisap."
Chinmi menciptakan ribuan akar dari tempat dirinya berada, walau kembaran jiwanya jauh, namun akar tersebut ternyata sampai ke sana dan ujung akarnya mengenai tubuh kembaran jiwanya.
Kembaran Jiwa Chinmi segera keluar dari Air raksasa nya ketika akar penghisap menyerap air raksasa hingga mulai mengecil.
__ADS_1