PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Penyamaran keempat Jendral.


__ADS_3

Dari keenam pecahan energi yang paling banyak bicara dan banyak tingkah adalah Niu, terlebih lagi saat dia memiliki tubuh pemberian Yinfei membuat dirinya tidak henti-hentinya mengoceh.


Sedangkan dari semuanya termasuk Feng Ying dan Hanzi yang paling terlihat muda adalah Niu, Ying dan Yang, dan yang paling terlihat sangat tua hanya ada dua, yaitu Yu dan Feng Ying, sedangkan Hanzi, Ming Hao dan Kun terlihat seperti pria paruh baya yang terlihat seumuran dengan Li Xiang.


Mereka semua sudah memperkenalkan diri mereka masing-masing kepada Li Xiang. Sebenarnya Li Xiang merasa aneh terhadap beberapa nama, namun dia tidak mempermasalahkan hal itu.


"Bagaimana Chinmi bisa tahu jika saat ini situasi di seluruh Benua Daratan Tengah sedang dalam masalah besar?" tanya Li Xiang.


"Mudah saja tuan Li, temanku ini memiliki kekuatan yang mampu meramal masa depan! Bukankah demikian saudara Han?" kata Feng Ying menunjuk kepada Hanzi.


"Apa yang..!" Hanzi sebenarnya ingin bertanya akan maksud perkataan Feng Ying, namun Feng Ying memotongnya.


"'Nah benarkan, dia bisa melihat masa depan hanya dengan sekali tatap!" kata Feng Ying membuat Hanzi hanya bisa menatap Feng Ying dan kemudian mengangguk mengikuti perkataan Feng Ying.


"Benarkah, kalau begitu bisakah tuan Han melihat masa depan lagi, apakah Benua Daratan Tengah bisa mengatasi ini kedepannya atau tidak?" tanya Li Xiang.


Hanzi berdecak kesal karena merasa di permainkan oleh Feng Ying, dia sama sekali tidak tahu bagaimana caranya bisa melihat masa depan.


"Begini Tuan Li, aku hanya bisa menggunakan nya dua kali saja, setelah itu aku membutuhkan waktu hingga belasan tahun untuk bisa melakukannya lagi!" kata Hanzi mencari alasan.


Li Xiang hanya menganggukkan kepala dengan mulut membentuk huruf (O), dia tidak tahu pasti apakah yang dikatakan oleh Hanzi dan Feng Ying benar atau tidak.


Niu sendiri bercerita panjang lebar dengan Zhinie, dia menceritakan akan kebahagiaan nya sejak bersama dengan Feng Ying dan yang lainnya.


"Nona Niu, melihat umurmu, seharunya sudah waktunya bagimu untuk menikah, apakah kamu belum memiliki calon suami?" tanya Zhinie.


"Aku! Eee.. aku masih belum menemukan jodohku, lagi pula aku lebih suka sendiri dari pada menikah!" jawab Niu namun sebenarnya dia tidak tahu siapa yang mau pada dirinya jika sudah kembali ke wujud energi nya.


"Tuan Li, mungkin kami hanya sebentar disini, dan dua diantara kami akan tetap berada disini!" kata Hanzi.


"Dua dari kalian, lalu sisanya mau kemana?" tanya Li Xiang.


"Kami akan berpencar ke empat penjuru, untuk melindungi Benua mu ini, yang dari luar Benua tidak akan bisa masuk, dan yang sudah berada di dalam, tidak akan bisa keluar!" jawab Hanzi.


"Apa kalian akan memasang pagar pelindung di seluruh Benua Daratan Tengah ini?" tanya Li Xiang.


Hanzi tertawa sesaat kemudian kembali berbicara kepada Li Xiang, "Aku yakin kamu bukan sekali ini melihat orang yang kekuatannya berada di luar akal bukan?" tanya Hanzi dan di jawab anggukan oleh Li Xiang.


"Begitu juga dengan kami, walau kami tidak sekuat sosok pemuda yang dulu pernah datang kesini, namun kekuatan kami sudah lebih dari cukup untuk menjaga Benua mu ini," kata Hanzi.


Hanzi yakin dengan kekuatan mereka berdelapan, tidak akan ada yang bisa mematahkan pagar pelindung yang akan ia buat, namun Hanzi juga sadar jika pagar Pelindung nya tidak akan bisa bertahan jika sampai Naga Batu yang menghancurkannya.


"Saya tahu dan saya percaya itu!" kata Li Xiang.


Li Xiang sudah tidak meragukan lagi akan kekuatan teman-teman putranya, karena yang ia tahu teman-teman Chinmi kebanyakan bukan manusia biasa.


Contohnya adalah Ho Chen, dan Chinmi juga berteman dengan para mahluk yang kekuatannya sama dengan para Pertapa.


"Baiklah kalau begitu, kami akan meninggalkan Niu dan Yu di sini," kata Hanzi.


Niu yang sedang mengobrol dengan Zhinie bisa mendengar akan keputusan Hanzi sehingga dia segera menghampiri Hanzi dengan wajah terlipat.


"Tuan Han, kenapa aku harus bersama dengan Yu yang menyebalkan itu?" tanya Niu yang merasa keberatan.

__ADS_1


"Niu jangan menolak! di sini, kekuatan Yu dan peranmu sangat di butuhkan, selain kalian berdua tidak ada lagi yang bisa melakukannya," kata Hanzi.


"Memangnya apa peranku di sini hingga hanya aku dan Yu saja yang paling di butuhkan?" tanya Niu.


"Nanti kamu akan mengetahui! Besok pagi kamu dan Yu pergilah ke perbatasan Benua ini dan buatlah pagar pelindung setelah mendapatkan perintah dariku, namun setelah itu kalian berdua harus kembali lagi kesini!" kata Hanzi.


Niu merasa kesal, namun dia tidak mau membantah perintah dari Hanzi, sedangkan Yu hanya berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di dada.


"Tuan Li kami pergi dulu, namun Tuan Li tidak perlu risau, sampaikan kepada Raja tuan jika selama mereka berdua berada di sini, Kerajaan ini akan tetap aman," kata Hanzi kemudian dia memanggil Ying dan Yang dan juga Kun untuk berkumpul.


"Mari kita pindah ketempat lain!" kata Hanzi.


Mereka berenam segera berkumpul, Ming Hao sendiri menoleh kearah Yu dan Niu yang terlihat masih tidak senang akan keputusan Hanzi.


Ming Hao tersenyum lebar dan kemudian memegang tangan Ying untuk bersiap berpindah ketempat berikutnya.


Setelah semuanya sudah saling berpegangan, Hanzi segera membawa mereka ketempat lain dan rencananya Setiap penjuru akan di tinggalkan dua orang.


Mereka endapan tugas masing-masing seperti Kun dan Ming Hao yang mendapatkan tugas untuk membuat pagar pelindung di perbatasan timur, Ying dan Yang mendapatkan tugas di perbatasan Utara, Hanzi dan Feng Ying berada di perbatasan Selatan.


Setelah mereka semua sudah berada di empat sudut yang berbeda, keesokan harinya mereka secara bersama-sama membuat pagar pelindung yang mengelilingi dan menutupi semua Benua Daratan Tengah.


Pagar pelindung yang mereka buat tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa, hanya para pendekar yang dapat melihat dan merasakan akan keberadaan Pagar pelindung tersebut.


***


"Jendral Tio, kita sudah mencari kesemua sekte aliran hitam, namun kita sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Tuan Putri!"


"Jendral Lu, bagaimana jika kita mencarinya di sekte aliran putih atau netral, siapa tahu Tuan Putri berada di salah satu sekte itu."


Di sebuah rumah makan yang berada di wilayah Kerajaan Api Timur, ada empat orang yang sedang mengobrol di sebuah meja.


Mereka adalah para Jendral dari Kerajaan Angin Selatan yang mendapatkan tugas untuk mencari dan menemukan Mu Liyi.


Mereka berempat juga tidak lagi mengenakan baju zirah mereka agar mudah dan leluasa mencari keberadaan Mu Liyi.


"Bagaimana apa kalian setuju?" tanya Lu Xinxi.


"Aku setuju-setuju saja! Namun apa sekte-sekte aliran putih dan netral akan membiarkan kita masuk dan akan mengatakan jika Tuan Putri ada di sana?" tanya Xio Tao.


"Bukan itu yang aku khawatirkan, namun seseorang yang sejak awal mengikuti kita!" kata Xie Ying.


Sejak mereka meninggalkan Kerajaan Angin Selatan untuk mencari keberadaan Mu Liyi, Xie Ying menyadari jika mereka sedang di ikuti oleh seseorang.


Xie Ying yakin jika orang tersebut adalah mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi gerak-gerik mereka.


"Panglima itu memang sangat licik dan kejam, dan sepertinya dia memang tidak percaya kepada kita," ucap Tio Li.


Ketika mereka masih saling berbincang pelan, terlihat dua orang masuk yang satu pria paruh baya dan yang satu pria tua mengenakan baju yang berbeda memasuki rumah makan tersebut.


Mereka berdua berjalan dan menuju ke meja di dekat meja mereka berempat dan kemudian duduk tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Sebaiknya kita jangan membahas apapun dulu saat ini, aku khawatir pembicaraan kita bisa di dengar oleh mereka berdua," kata Lu Xinxi sekaligus mengamati kedua orang tersebut.

__ADS_1


"Senior Han, beruntungnya mata uang yang di gunakan di dunia ini sama dengan mata uang yang di gunakan di tempat kita," kata pria sepuh tersebut kepada pria yang lebih muda darinya.


Keempat Jendral merasa heran karena pria sepuh tersebut memanggil rekannya yang lebih muda dengan sebutan senior.


"Apakah kita memang harus makan di tempat seperti ini?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Kenapa? Ini adalah kesempatan bagi kita untuk mencicipi makanan di dunia ini bukan?" kata pria sepuh tersebut dengan terkekeh.


"Terserah kamu saja!" jawab pria paruh baya tersebut.


Keempat jendral saling berpandangan, mereka bingung terhadap perbincangan kedua orang yang baru tiba tersebut.


*Apa yang mereka bicarakan, dunia ini, dunia ini! memangnya mereka berasal dari duni mana lagi?" kata Tio Li berbicara sangat pelan.


"Mungkin maksudnya Benua ini," jawab Xio Tao.


"Mungkin, namun bukankah Benua Daratan Tengah dengan Benua lain masih satu dunia bukan?"


"Sudahlah apa gunanya kita mengurusi orang asing? Lebih baik kita habiskan makanan ini dan segera pergi meninggalkan tempat ini!" ucap Lu Xinxi.


Mereka berempat kembali melanjutkan makan mereka dan tidak lagi menghiraukan kedua orang asing tersebut, sedangkan pria paruh baya sesekali memperhatikan mereka berempat.


Mereka berdua adalah Hanzi dan Feng Ying yang beru kembali setelah selesai membuat pagar pelindung.


Feng Ying segera memesan dua porsi makanan sekaligus memesan dua guci arak terbaik yang dimiliki rumah makan tersebut.


"Maaf tuan-tuan sekalian, apakah aku boleh bertanya sesuatu kepada kalian?" Hanzi mencoba menyapa keempat Jendral yang sedang menikmati makanan mereka.


Tio Li segera merespon dan menjawab sapaan Hanzi dengan sopan, "Owh silahkan tuan!" jawab Tio Li.


"Tuan, aku dengar benua ini sedang dalam keadaan kacau, apakah kalian pernah tahu penyebabnya?" tanya Hanzi yang duduk bersebelahan dengan mereka.


"Kami memang mendengar nya, namun kami tidak tahu apa yang sebenarnya yang sedang mengancam Benua ini," jawab Tio Li.


"Begitu rupanya, jadi kalian selaku penghuni benua ini tidak mengetahuinya, sayang sekali, padahal aku ingin mengetahui akan kabar tersebut dan ingin mencoba membantu!" kata Hanzi.


Tio Li menatap ketiga rekannya, dia tidak mau menjelaskannya atau berbicara lebih jauh lagi karena khawatir itu hanyalah sebuah jebakan saja.


"Baiklah terima kasih atas informasinya!" kata Hanzi setelah melihat makanan yang di pesan oleh Feng Ying sudah datang.


"Sama-sama tuan!" jawab Tio Li.


Di sisi meja lain ada seseorang yang sedang makan juga, namun dia sesekali menatap para jenderal tersebut dan terkadang memandang kearah Hanzi dan Feng Ying yang juga sedang makan.


Orang tersebut adalah salah satu dari ketiga pendekar yang sejak awal sudah berada di Benua Daratan Tengah, dia di minta oleh Panglima Gajah untuk mengikuti dan mengawasi mereka dari belakang.


Namun Hanzi juga merasa jika orang tersebut sedang mengawasi keempat jendral yang sedang menyamar itu.


"Sepertinya orang itu berada di atas tingkat Alam Dewa!" gumam Feng Ying yang juga menyadari gerak-gerik orang tersebut.


"Nanti kita akan bertanya padanya, kata Hanzi yang berniat untuk mengintrogasi orang tersebut.


Bukan tanpa alasan, Hanzi bisa merasakan jika orang tersebut memiliki niat jahat dan juga orang tersebut sesekali mengamati dirinya dan juga Feng Ying.

__ADS_1


__ADS_2