
***
Xie Wen tidak langsung membawa Bing Mei pergi ketempat nya, mereka mampir ke pusat kota kerajaan Es Utara dan Xie Wen membawa Bing Mei ke penginapan.
"Guru, kenapa kita justru menginap di penginapan, kenapa kita tidak langsung pergi saja ketempat guru?" tanya Bing Mei keheranan.
Xie Wen tersenyum lembut sambil berjalan menuju ke kamar yang sudah ia sewakan, "Tempat ku masih jauh, setidaknya butuh dua hari terbang untuk tiba ke sana, jadi bersabarlah, lagi pula tempat ku tidak akan pindah!" kata Xie Wen.
Wajah Bing Mei merengut ketika mendengar Xie Wen bilang kalau tempatnya tidak akan pindah.
"Bing'er, nanti malam aku akan pergi, jadi malam ini kamu menginap di sini dulu, dan besok pagi kita akan melanjutkan lagi perjalanan kita!" kata Xie Wen.
"Guru mau pergi kemana?"
"Aku ada sedikit urusan pribadi di sini!" kata Xie Wen kemudian dia berjalan kearah jendela.
"Apa kamu takut untuk menginap sendiri di sini?" tanya Xie Wen.
"Takut? Tidak aku tidak takut guru! Mana mungkin aku takut," kata Bing Mei yang heran dengan pertanyaan Xie Wen.
Xie Wen tertawa kecil mendengar jawaban Bing Mei, dia hanya iseng bertanya saja kepada gadis tersebut.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dulu dan besok pagi aku akan kembali!" kata Xie Wen kemudian dia keluar dari kamar.
Bing Mei sungguh tidak mengerti, dia pikir dirinya akan langsung pergi ketempat Xie Wen, namun nyatanya sekarang dirinya justru berada di penginapan.
Bing Mei duduk di kursi sambil memegang kepalanya, dia tetap tidak bisa habis pikir akan sikap Xie Wen.
Xie Wen sendiri sebenarnya bukan ada urusan pribadi, namun dia kembali terbang menuju ke sekte Pulau Es.
Saat dirinya membawa Bing Mei pergi dari sekte Pulau Es, Xie Wen menyadari jika ada sesuatu dari jauh sedang menuju kearah sekte Pulau Es.
Xie Wen yakin jika itu bukan sesuatu yang biasa. Walau terlihat seperti kepulan asap hitam biasa, namun Xie Wen tahu jika itu adalah sekumpulan roh yang sedang menuju ke sana.
"Sepertinya keputusan Bing'er membiarkan mereka tetap hidup adalah keputusan keliru!" gumam Xie Wen sambil terbang menuju kearah sekte Pulau Es.
Xie Wen yakin jika kepulan asap hitam atau kumpulan Roh tersebut ada hubungannya dengan Bing Mei yang membiarkan Hantu Merah tetap hidup.
Dari segi pengalaman, jelas Bing Mei kurang berpengalaman. Sebagai salah satu sekte besar aliran netral, seharunya Bing Mei memiliki sifat sedikit kejam.
__ADS_1
Namun karena sekte Pulau Es lebih condong ke aliran putih, Bing Mei pasti tidak akan sanggup jika harus membunuh lawannya yang sudah tidak bisa melawan lagi.
"Nanti kamu harus bisa mengerti Bing'er, mana yang pantas untuk dibunuh dan mana yang tidak!" gumam Xie Wen yang saat ini sudah bisa mencium bau amis darah dari jauh.
"Sudah dimulai!"
Xie Wen mempercepat terbangnya saat mencium bau amis darah dari sekte Pulau Es yang masih jauh.
Setelah dia melihat ujung pulau es, Xie Wen melihat kabut hitam sudah menutupi sekte tersebut.
***
Setelah hari mulai gelap, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar yang disertai seruan keras dari murid-murid lainnya.
Zhihui keluar dan melihat kepulan asap hitam melewati pintu gerbang es yang tebal. Tidak lama kemudian muncul banyak hantu dan menyerang murid-murid sekte Pulau Es terdekat.
Karena semuanya masih bingung akan apa yang terjadi, mereka tidak siap ketika beberapa murid lainnya harus mati dengan tubuh terpotong menjadi dua.
Setelah itu barulah mereka menyadari jika itu adalah sebuah serangan, terlebih lagi muncul banyak hantu hitam yang memegang sabit panjang.
Zhihui segera keluar dan menghadapi para hantu tersebut dengan energi es nya. Namun ternyata Meng Yi muncul dan mencegah Zhihui.
"Apa kamu bilang, kamu tidak pernah mengusik sekte ku? Bukankah seminggu yang lalu cucumu telah menyerang anggota ku si Hantu Merah?"
"Cucuku menyerang Hantu Merah? Tunggu dulu! Bukankah Hantu merah itu yang lebih dulu mengganggu cucuku?" tanya Zhihui dengan tatapan dingin.
"Aku tidak peduli siapa yang mulai duluan, yang jelas aku tidak terima anggota ku di permalukan oleh cucumu!" kata Meng Yi.
"Kalian memang benar-benar memiliki pikiran jahat, selalu saja bikin masalah, jika tahu begini seharusnya Bing'er membunuh Hantu Merah saja!" kata Zhihui kemudian dia melepaskan kabut dingin dari tubuhnya.
Meng Yi langsung menyerang Zhihui dengan menggunakan sabit hitam berwarna hitam. Zhihui menahan serangan sabit tersebut dengan tapak tangan yang sudah tertutup oleh es.
Saat mereka saling menyerang dan bertahan, Zhihui melihat keberadaan Hantu Merah yang berhadapan dengan pendekar sihir sekte Pulau Es.
"Itu dia biang masalah nya!" gerutu Zhihui kemudian kembali menyerang Meng Yi.
Meng Yi mengeluarkan beberapa hantu kuat setingkat dengan pendekar puncak untuk menyerang Zhihui, sedangkan Zhihui juga melepaskan berbagai gumpalan es kearah hantu-hantu tersebut.
Namun semua serangan gumpalan es tersebut menembus tubuh para hantu seperti mengenai udara kosong, dan para hantu-hantu tersebut tetap menuju kearah Zhihui.
__ADS_1
"Sihir Es Badai Salju."
Zhihui menghujani Meng Yi dan para hantu yang menuju kearahnya, namun mereka tetap tidak terpengaruh sama sekali.
Zhihui hanya berdecak kesal, dan kemudian mengeluarkan dua buah kipas putih. Kipas tersebut adalah senjata utama Zhihui, dia jarang membawa kipas tersebut keluar dari pulau es dan sekaligus jarang menggunakannya.
"Kipas Kurungan Pembeku Jiwa."
Zhihui menggerakkan kedua kipas tersebut seperti sedang melakukan tarian kipas, dan dengan sekali kipas, energi es murni keluar dari kipas tersebut, dan serangan tersebut berhasil.
Para hantu-hantu yang mendekat kearahnya mulai melambat, bahkan secara perlahan-lahan tubuh hantu tersebut mulai tertutup oleh es yang terlihat seperti kristal.
"Jangan senang dulu!" kata Meng Yi kemudian mengangkat sabitnya ke langit.
"Wahai para Jiwa yang tersesat, datanglah! Hari ini aku akan mempersembahkan darah untu mu!" kata Meng Yi kemudian petir mulai menyambar ke berbagai arah disertai dengan gemuruh Guntur yang bersahut-sahutan.
Dari langit muncul tiga sosok aneh bertubuh besar dengan tinggi masing-masing lima meter dan gigi mereka bertaring panjang.
"Meng Yi, darah siapa yang ingin kamu persembahkan untuk kami?" kata salah satu sosok tersebut.
"Darahnya dan darah mereka semua," kata Meng Yi sambil menunjuk kearah Zhihui dan juga ke seluruh anggota sekte Pulau Es yang lain.
Zhihui bisa merasakan jika ketiga sosok tersebut berada di tingkat Sihir Elemen Alam, dan lebih parahnya, kekuatannya sedikit lagi mencapai tingkat pertapa.
"Jika aku harus bertarung dengan salah satu dari mereka, mungkin aku bisa mampu bertahan, namun jika harus menghadapi ketiganya sekaligus!" Zhihui mulai khawatir karena bagaimana pun juga, keselamatan anggota dan sekte nya yang lebih utama.
Namun Zhihui sadar jika dirinya tidak bisa melawan ketiga nya sekaligus, tapi tidak ada pilihan lain selain melawan mereka.
"Bagaimana bisa dia menyembunyikan kekuatan sebesar ini!" batin Zhihui.
"Bagus, kalau begitu kamu saksikan saja kami melakukan pembataian di tempat ini!" kata salah satu dari mereka kemudian mereka bertiga dengan cepat sudah bergerak kearah Zhihui.
Zhihui sudah bersiap untuk menyambut serangan mereka bertiga, namun sebelum ketiganya sampai ketempat Zhihui, tiba-tiba ada gelembung yang mengurung ketiganya dan terlempar jauh hingga terhempas ke bongkahan es hingga pecah.
"Sudah kuduga ini adalah serangan dari kalian!"
Tiba-tiba muncul seorang wanita tua yang melayang di udara, bahkan dia mengeluarkan energi yang sangat besar hingga menggetarkan seluruh sekte Pulau Es.
"Se-senior Xie Wen!" seru Zhihui yang tidak percaya jika yang datang adalah Xie Wen.
__ADS_1