
"Senior Xie dan Bing Mei, terima kasih karena kalian sudah mengijinkan ku untuk beristirahat di sini semalam, hari ini aku akan pergi,'' kata Chinmi berpamitan kepada Xie Wen dan Bing Mei.
"Chinmi, maafkan atas sikapku semalam, kini aku sadar jika semua yang kamu katakan itu memang benar, nanti aku akan membicarakan ini kepada ketiga Pertapa yang lainnya dan aku pastikan kami berempat akan datang membantu kerajaan Bumi Barat!" kata Xie Wen.
Selama semalaman dia bermeditasi sekaligus mencari pencerahan, dia sadar jika dirinya sudah salah karena tidak berpikir jika ini tidak hanya pertempuran antar kerajaan saja, melainkan melibatkan sekte-sekte besar dari semua aliran.
"Terima kasih atas pengertian senior Xie!" kata Chinmi.
"Guru, bagaimana denganku? Apakah aku juga bisa ikut membantu?" Bing Mei bertanya.
Xie Wen tersenyum lembut kepada Bing Mei, "Tentu saja kamu boleh ikut, dengan kekuatanmu saat ini, tidak akan ada yang bisa mengalahkan mu kecuali aku dan ketiga gurumu di tambah lagi dengan temanmu itu!" kata Xie Wen.
Chinmi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, menurutnya masih ada satu lagi yang memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan para Pertapa, dia adalah Qie Yin.
"Nona.. maksudku Bing Mei, jika kamu ingin ikut dalam peperangan itu, sebaiknya kamu pergi bersama dengan gurumu!" kata Chinmi.
Bing Mei hanya bisa mengangguk sebenarnya dia ingin pergi bersama Chinmi, namun sepertinya Chinmi hanya ingin pergi sendirian saja.
Xie Wen sendiri mengerti akan hal itu, dia tahu sebenarnya Chinmi mungkin lebih kuat darinya, dalam hal kekuatan fisik dan mental, dan ilmu Chinmi pastinya sangat sakti.
"Sampai jumpa lagi di Kerajaan Bumi Barat!" kata Chinmi kemudian secara perlahan dia melayang ke udara sambil menatap kearah Xie Wen dan Bing Mei yang juga memandangi dirinya yang sudah melayang cukup tinggi.
Chinmi tersenyum kepada mereka berdua dan kemudian dia terbang dengan kecepatan yang tidak masuk akal karena hanya dalam satu kedipan mata saja Chinmi sudah menghilang.
Xie Wen dan Bing Mei sama-sama terkejut saat melihat kejadian tersebut, Xie Wen sendiri yang berada di puncak kekuatan Pertapa sekalipun tidak bisa terbang secepat itu.
"Guru, apakah guru bisa mengejar kecepatannya?" tanya Bing Mei.
"Em.. Apa maksud pertanyaanmu itu? Apakah kamu meragukan ku?" tanya Xie Wen.
"Tidak aku hanya ingin tahu saja, jadi guru tidak perlu naik darah seperti itu!" kata Bing Mei kemudian dia melangkah pergi untuk melanjutkan latihannya.
Xie Wen tersenyum pahit, memang dia akui dia tidak akan bisa menyamai kecepatan Chinmi, namun dia malu untuk mengakuinya apalagi kepada Bing Mei.
***
Chinmi terbang dengan kecepatan tinggi, jika mengukur kecepatan terbangnya, seharusnya dia bisa sampai ke kerajaan Bumi dalam waktu sehari saja.
Chinmi bisa melihat air laut di bawahnya sudah mulai berubah, banyak bongkahan es yang terapung di permukaan air laut.
Itu artinya Chinmi sudah berada di Benua Daratan Tengah, sedangkan wilayah yang akan ia lewati adalah wilayah Kerajaan Es Utara.
"Akhirnya aku bisa sampai juga di Benua Daratan Tengah hanya dalam waktu kurang dari satu bulan saja!" gumam Chinmi dengan diiringi helaan nafas lega.
Chinmi semakin menambahkan kecepatan terbangnya, dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di Kerajaan Bumi Barat.
Dia terbang melewati kerajaan Es Utara tanpa menoleh lagi ke istana tersebut, sedangkan para pendekar dari para Jendral dan pendekar lain di sana tidak ada yang menyadari jika di atas mereka ada orang yang sedang melintas dengan kecepatan yang tak kasat mata.
"Itu dia perbatasan Kerajaan Bumi Barat! Ayah, Ibu, aku pulang," seru Chinmi dan segera terbang menuju kearah rumah nya.
Dalam waktu singkat saja, Chinmi sudah berada di atas rumahnya sendiri. Chinmi sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya sehingga dia turun begitu saja tepat di halaman rumahnya.
"Ibu..! Ibu..! Aku sudah pulang!" panggil Chinmi sambil berjalan ke arah pintu rumahnya.
__ADS_1
Pintu rumah Chinmi terbuka dan Zhinie terlihat keluar dan berjalan kearah Chinmi.
"Chinmi..!" panggil Zhinie dan segera mendekap tubuh Chinmi.
"Ibu kita hanya berpisah sebentar kenapa seolah-olah ibu merasa berpisah dengan ku sangat lama seperti dulu?" kata Chinmi walau dia akui dia juga sangat merindukan ibunya.
Zhinie melepaskan pelukannya dan memegang wajah Chinmi, "Tidak ada seorang ibu yang ingin berpisah dari anaknya, walau itu sehari, namun itu serasa bagai setahun!" kata Zhinie.
"Ibu kemana ayah?" tanya Chinmi.
"Ayahmu sedang mengadakan pertemuan, dia pergi bersama salah satu murid dari sekte Pedang Suci," kata Zhinie.
"Apakah itu pertemuan antar sekte besar aliran Putih?"
"Aku juga tidak tahu pasti, namun ini sudah satu Minggu berlalu dan mungkin ayahmu akan kembali seminggu lagi," kata Zhinie.
"Ibu maafkan aku, sepertinya aku akan masuk jika ayah sudah kembali, sekarang katakan padaku, dimana pertemuan itu?"
"Kamu mau apa? Kamu ini baru datang dan sekarang kamu mau pergi lagi!" kata Zhinie dengan wajahnya yang terlihat marah.
"Ibu, bukankah ibu sudah tahu sendiri kondisi kerajaan ini, jadi aku mohon ibu, ijinkan aku pergi menyusul ayah!" kata Chinmi.
Zhinie tetap pada pendiriannya dan melarang Chinmi untuk pergi, walau Chinmi sudah memohon namun tetap saja Zhinie tidak mengijinkannya.
Merasa tidak menunjukan cara lain untuk membujuk ibunya, Chinmi terpaksa berpura-pura menurut, dia beralasan ingin melihat bunga di samping halaman, namun Zhinie seolah-olah tidak mempercayainya.
Chinmi berjalan kearah samping halaman yang ada pohon sedang disana, setelah Chinmi melewati pohon tersebut, Chinmi berjalan kearah ibunya.
"Mari kita masuk ibu!" kata Chinmi.
"Ibu aku hanya ingin melihatnya saja, jadi begitu sudah tahu tentu aku akan kembali," kata Chinmi.
Tanpa rasa curiga sedikit pun, Zhinie dan Chinmi masuk kedalam rumah, namun Zhinie tidak tahu jika yang bersamanya itu bukanlah Chinmi, melainkan hanya bayangannya.
Chinmi yang sebenarnya sudah pergi saat bayangnya keluar dan berbicara kepada ibunya, karena Zhinie lebih fokus berbicara kepada bayangannya, Chinmi menggunakan kesampatan tersebut untuk pergi ke sekte Pedang Suci untuk menanyakan dimana pertemuan itu di laksanakan.
***
Pertemuan antar sekte aliran putih tidak selancar pertemuan aliran Hitam, sekte aliran putih menuai kontroversi, ada yang mau bergabung, dan ada juga yang menolak.
Sebagian besar yang ikut berkumpul dalam pertemuan tersebut dari sekte aliran netral, dan salah satunya adalah ketua sekte Pulau Es Zhihui.
"Jendral Li, maafkan aku, tapi apa keuntungan bagi kami jika kami mau membantu kerajaan mu?" tanya salah satu ketua sekte dari aliran netral.
"Ketua Yuan, aku tahu ini tidak akan menguntungkan bagi sekte mu, namun ini akan sangat bermanfaat bagi semua orang, coba kamu pikir, bagaimana kalau sampai sekte-sekte aliran hitam berhasil menguasai kerajaan Bumi Barat, apakah kedamaian akan tercipta setelah itu?"
Semuanya terdiam saat Zhihui mengatakan hal itu, bahkan orang yang di panggil ketua Yuan oleh Zhihui juga ikut terdiam.
"Ingatlah bahwa sekte aliran hitam sering melakukan hal buruk, jika sampai dia memiliki kekuatan dan juga sampai memiliki kerajaan sendiri, maka seluruh kerajaan akan dalam masalah besar," Zhihui menambahkan.
Orang yang di panggil Ketua Yuan bernama Yuan Feng ketua dari sekte besar aliran netral yang bernama Sekte Tiga Bukit Kembar yang berada di wilayah Kerajaan Angin Selatan.
Sekte Tiga Bukit Kembar di ambil dari nama bukitnya, dan masing-masing dari setiap bukit adalah sekte dan memiliki ketua masing-masing.
__ADS_1
Yuan Feng adalah ketua bukit satu, dan untuk Bukit kedua bernama Cian Lio, dan bukit yang terakhir adalah Gao Ceng ketua bukit tiga.
"Apapun itu kami menolak, aku dan kedua ketua dari bukit satu dan dan tiga akan menolak kerja sama ini!" kata Cian Lio.
"Ketua Cian, apa yang membuat kamu tidak mau bergabung dengan kami?" tanya Bai Zhuxian.
"Maaf kan kami ketua Zhu, namun kami juga berhak untuk menolak bukan? Lagi pula kami sudah tahu jika yang memulai perang ini adalah Kerajaan Bumi Barat sendiri!" kata Gao Ceng.
Bai Zhuxian ingin kembali berbicara, namun Ji Long memberi isyarat agar Bai Zhuxian jangan dulu berbicara.
"Ketua Ji, kenapa kamu melarang ku?" tanya Bai Zhuxian.
"Saudari Bai, kita lihat dulu situasinya, bukannya aku tidak membela Jendral Li namun permasalahan ini harus bisa di selesaikan dengan kepala dingin," kata Ji Long.
"Ketua Gao, apa maksudmu?" tanya Li Xiang.
"Jendral Li, mungkin kamu mengira jika ini hanya perang untuk menjatuhkan kerajaan Bumi Barat saja, namun sebenarnya ini adalah siasat saja."
Gao Ceng menjelaskan jika sebenarnya itu semua adalah siasat Tong Liung yang memanfaatkan situasi tersebut, namun tujuan Tong Liung yang sesungguhnya adalah ingin menyelamatkan kelima muridnya yang di tahan oleh Kerajaan Bumi Barat.
Li Xiang kini mengingat akan kelima murid dari sekte Golok Setan yang ia tangkap, kini dia baru tahu alasan yang sesungguhnya.
"Apakah jika kelima murid Tong Liung di bebaskan mereka akan berhenti menyerang?" tanya Li Xiang.
"Tidak Jendral Li, percuma kamu melakukan semua itu, mungkin Tong Liung melakukan itu demi menyelamatkan kelima muridnya, namun tetap saja keinginan kedua mereka tidak lain adalah ingin merebut kerajaan Bumi Barat dan mendirikan kerajaan untuk sekte mereka!" kata Ji Long.
"Kalian semua terlalu naif jika berpikiran seperti itu, jika kalian pikir akan bisa menang untuk melawan mereka itu artinya kalian salah, aku sudah mendengar jika Kerajaan Angin Selatan sudah menyewa pendekar dari jauh untuk membantu mereka, pendekar tersebut berasal dari Benua Daratan Selatan!" kata Yuan Feng.
Semuanya terkejut mendengar perkataan Yuan Feng termasuk Li Xiang, walau tidak ada yang pernah pergi kesana.
Namun menurut informasi di Benua Daratan Selatan adalah pusat kekuatan terbesar, bahkan mereka sudah mendengar kabar jika di Benua Daratan Selatan banyak pendekar sakti yang kekuatannya melebihi para Pertapa.
"Ketua Yuan, dari mana kamu mendapatkan informasi ini?" tanya Bai Zhuxian.
"Sekte ku tidak jauh dari Kerajaan Angin Selatan, karena itu aku dengan sangat mudah mendapatkan informasi ini dan informasi yang aku dapatkan sangatlah akurat!" kata Yuan Feng.
"Berapa banyak pendekar dari Benua Daratan Selatan yang di sewa oleh Raja Shao?" tanya Ji Long.
"Dua Puluh Pendekar yang kekuatannya melebihi kekuatan para Pertapa!" jawab Yuan Feng.
Semuanya menahan nafas mereka, tidak satupun dari mereka yang berani lagi untuk berbicara.
"Bagaimana, apakah kalian masih mau bergabung dengan kerajaan Bumi Barat dan bersatu melawan gabungan sekte aliran hitam dan ke Dua puluh pendekar dari Benua Daratan Selatan?" tanya lagi Yuan Feng dengan senyum puas karena sudah berhasil membuat semua para ketua mulai berpikir ulang untuk bersatu.
"Aku akan melawannya walau kalian tidak mau bersatu!" tiba-tiba suara dari arah pintu terdengar dan suaranya menggetarkan seluruh ruangan.
Semua orang menoleh kearah sumber suara tersebut yang terasa begitu kuat dan tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka dan terlihat seorang pemuda melangkahkan kakinya.
"Kau..!" Ji Long terkejut saat melihat pemuda tersebut.
"Chinmi..!" Xian Fai ternyata masih mengenali pemuda tersebut.
"Ayah, aku datang untuk membantumu!"
__ADS_1
"Chinmi, kenapa kamu bisa berada di sini, dan kapan kamu tiba!" kata Li Xiang yang terlihat tidak percaya melihat kedatangan putranya.
"Ayah, kita akan membahasnya itu nanti, namun sekarang kita selesaikan dulu masalah di sini!" kata Chinmi kemudian menatap kearah Yuan Feng, Cian Lio dan Gao Ceng.