
Qie Yin merasa takjub saat melihat tubuh Chinmi yang bercahaya bagai emas, berbeda ketika sebelum berhasil membuka pintu Keabadian.
Saat itu tubuh Chinmi samar-samar bercahaya emas, namun kali ini cahayanya begitu jelas sehingga membuat Chinmi terlihat lebih berwibawa dan kulitnya terlihat lebih kencang.
"Qie Yin, sepertinya kekuatan mu sudah jauh meningkat, ini sungguh sangat mengejutkan," kata Chinmi.
"Aku tahu, namun jika dibandingkan dengan dirimu aku masih jauh!" jawab Qie Yin.
"Jika kalian masih ingin berbincang-bincang, silahkan saja, kami akan pergi dulu sebentar," kata Yinfei.
Lio Long sudah memberi tanda kepada Yinfei dan juga Ho Chen agar meninggalkan mereka berdua supaya mereka berdua bisa berbicara.
Yang di lakukan Lio Long adalah mendekatkan mereka berdua agar lebih akrab, dan Lio Long berharap kepada Chinmi agar bisa mengambil hati Qie Yin dan bisa bersama-sama menjadi sepasang manusia dewa pertama di dunia.
"Guru!"
Qie Yin ingin mengatakan sesuatu namun Yinfei tidak memperdulikannya dan mereka bertiga bergegas pergi meninggalkan mereka berdua saja.
Chinmi sama sekali tidak mengerti akan maksud dari mereka bertiga, sedangkan Qie Yin hanya diam karena masih merasa canggung walau sudah lama bersama dengan Chinmi.
"Qie Yin, mereka semua tiba-tiba saja pergi, padahal ada yang ingin aku tanyakan pada mereka!" kata Chinmi.
"Mungkin mereka pergi karena punya maksud lain," jawab Qie Yin.
Walau terlihat lugu dan polos, namun Qie Yin masih bisa berpikir jernih dan sedikit mengerti akan maksud gurunya.
Namun sayang Chinmi yang lebih tua dan memiliki pemikiran yang cukup baik justru tidak menangkap maksud dari mereka bertiga.
"Chinmi, maukah kamu berlatih sebentar denganku? Aku ingin tahu sudah sekuat apa diriku saat ini," kata Qie Yin walau sebenarnya dia tahu batas kekuatannya, namun dia hanya ingin mengetahui sekuat apa Chinmi saat ini dengan kekuatan barunya.
"Emm? Baiklah aku akan menemanimu berlatih!" jawab Chinmi.
Mereka berdua berjalan kearah tempat yang lebih luas untuk melakukan latih tanding. Setelah tiba di tempat tersebut, mereka berdua mulai berlatih.
Qie Yin menggunakan sihir debu andalannya, dan dia sudah berhasil menciptakan sihir debu barunya, yaitu membuat debu menjadi keras sekeras logam.
Sedangkan Chinmi yang memiliki keahlian meniru ilmu sihir orang lain juga menggunakan sihir debu yang sama, namun dia hanya mengunakan separuh dari kekuatannya saja.
Pertarungan mereka berdua memang terlihat biasa saja karena tidak ada satupun dari mereka yang ingin melukai satu sama lain.
"Biarkan saja mereka berlatih berdua, ini sebagai langkah awal bagi mereka untuk menyatukan perasaan mereka!" kata Lio Long.
Mereka bertiga sebenarnya tidak pergi jauh dan mengamati mereka berdua dengan seksama.
Suara benturan dari latih tanding mereka berdua terdengar ke berbagai penjuru, benturan sihir debu yang berterbangan saat saling membentur menutupi seluruh tempat mereka berlatih.
Di saat sedang beradu sihir debu penghancur di udara, Qie Yin terpental dan jatuh dari udara.
Chinmi dengan sigap segera melesat dan menangkap Qie Yin, sedangkan Qie Yin juga secara refleks memeluk Chinmi dan mereka berdua berputar turun kebawah.
Ho Chen dan yang lainnya melihat hal itu tersenyum lebar, rencana mereka bertiga tenyata berhasil, menurut mereka sedikit banyaknya itu akan menjadi momen yang tidak akan dilupakan.
Setelah sampai di tanah, Qie Yin masih memeluk Chinmi dengan saling menatap wajah masing-masing.
Setelah beberapa saat, barulah Qie Yin melepaskan pelukannya dengan pipinya yang memerah karena malu.
"Maaf aku tadi tidak sengaja fokus," kata Qie Yin.
"Tidak apa-apa, tapi kenapa wajahmu memerah? Apakah ada luka yang membuat mu sakit?" tanya Chinmi yang mengira jika pipi Qie Yin memerah karena menahan sakit akibat terkena serangannya.
Qie Yin semakin malu dan tanpa berbicara apapun dia bergegas pergi meninggalkan Chinmi yang saat ini masih berdiri dengan menggaruk kepalanya karena merasa heran.
Lio Long dan Yinfei sama-sama menepuk jidat, mereka berdua tidak menduga jika Chinmi masih juga tidak mengerti, sedangkan Ho Chen tersenyum-senyum sendiri karena dia ingat akan masa lalunya yang menurutnya sama polosnya dengan Chinmi yang tidak peka terhadap perempuan.
__ADS_1
"Nanti aku akan mengajarinya akan perasaan kepada lawan jenisnya agar dia tidak terus-terusan polos seperti itu," kata Lio Long. Yinfei setuju dan Ho Chen hanya terdiam.
Setelah melihat Chinmi dan Qie Yin sudah tidak bersama lagi, Ho Chen segera muncul bersama dengan Lio Long dan Yinfei.
"Chinmi, kemana Nona Yin?" tanya Ho Chen pura-pura tidak mengetahui akan apa yang sudah terjadi.
"Dia berada di dalam rumah pohon, sepertinya dia sakit kemungkinan di terkena serangan ku tadi," jawab Chinmi.
Lio Long sangat kesal dan ingin sekali menjitak kepala Chinmi, namun dia sadar jika Chinmi butuh waktu dan pelajaran untuk dapat mengerti akan semuanya.
"Baiklah jika demikian, aku harap besok kamu sudah siap untuk menyerap Bola Nirwana dan ini akan membuat dirimu menjadi Manusia dewa baru yaitu Dewa Abadi," kata Ho Chen.
Chinmi dengan sangat bersemangat segera memberi hormat kepada Ho Chen dan kedua senior lainnya.
Akhirnya yang sudah ia tunggu-tunggu akan segera tiba, Chinmi merasa tidak sabar untuk segera menyerap Bola Nirwana, namun dia tidak tahu jika untuk menyerap Bola Nirwana membutuhkan waktu yang sangat lama.
***
Ho Chen dan Chinmi kini tidak lagi berada di dunia ciptaan Lio Long, mereka justru berada di dunia lain yang jauh dari dunia ciptaan Lio Long.
"Chinmi, ini adalah dunia Alam Dewa, sekarang kita akan memulainya dari sini untuk membuat mu memiliki kekuatan Dewa, jadi keluarkan Bola Nirwana yang aku berikan padamu!" kata Ho Chen.
Chinmi segera menurut, namun pandangannya justru terkesima dengan pemandangan di tempat itu, dimana semua pepohonan seperti melayang di udara dan banyak sekali berbagai burung yang belum ia lihat di manapun sedang terbang dan hinggap di setiap pohon yang sedang melayang layang di udara dengan akar-akarnya.
"Fokuslah Chinmi, karena jika tidak bisa-bisa kamu akan gagal!" kata Ho Chen.
Chinmi segera tersadar dan segera meminta maaf kepada Ho Chen, "Baiklah senior, sekarang aku sudah siap!" kata Chinmi.
"Apakah kamu pernah menyerap energi dari sebuah benda?" tanya Ho Chen.
"Aku pernah melakukannya, Mustika Hewan Iblis yang pernah aku serap," jawab Chinmi, namun dia tidak tahu mengapa Ho Chen menanyakan hal itu.
"Baguslah kalau begitu, jika kamu ingin menyerap energi dari Bola Nirwana, caranya sama dengan menyerap mustika itu," kata Ho Chen.
"Jadi semudah ini untuk menyerapnya, andai aku tahu sejak awal aku bisa melakukannya sendiri!" batin Chinmi.
"Tidak, kamu tidak akan bisa melakukannya sendiri, ketika kamu sedang menyantap Bola Nirwana itu nanti, aku akan membantu untuk memperbesar Dantian mu agar bisa menampung seluruh energi murni yang ada di Bola Nirwana itu," kata Ho Chen setelah mendengar apa yang Chinmi pikirkan.
Chinmi menjadi malu sendiri kepada Ho Chen karena dia menganggap hal itu sederhana, namun ternyata tidak sesederhana yang pikirkan.
"Baiklah mari kita mulai!" kata Ho Chen.
Chinmi segera duduk di atas tanah berwarna merah, dia menggenggam erat Bola Nirwana tersebut kemudian menyerap energinya.
Energi yang ia serap tenyata adalah sebuah qi yang sangat murni, bahkan rasanya sangat berbeda dengan qi yang biasa ia serap sebelumnya.
"Chinmi, jika ingin cepat, usahakan jangan memikirkan hal lain selain fokus terhadap penyerapan ini!" kata Ho Chen yang di jawab dengan anggukan oleh Chinmi.
Semakin lama qi yang ia serap membuat tubuhnya seperti mau meledak karena qi yang ia serap terlalu banyak, sedangkan Dantian tidak sanggup untuk menampung qi yang terlalu banyak.
Namun sebenarnya dia hanya sedikit menyerap qi dari Bola Nirwana itu, dan itu sebenarnya cukup besar untuk dia simpan di dalam Dantian nya.
Ho Chen sendiri segara menyalurkan energinya untuk membantu Chinmi agar bisa menyerap qi dari Bola Nirwana tersebut.
Dantian Chinmi mulai mengembang setelah di bantu oleh Ho Chen, Chinmi merasa tubuhnya terasa seperti ringan dan beban di tubuhnya karena qi yang penuh tertampung di dantiannya sudah merasa lebih luas dan sanggup menampung sebanyak apapun qi yang akan ia serap.
Namun untuk bisa menyerap semuanya butuh waktu berbulan-bulan bahkan bisa sampai setahun.
Waktu terus berjalan dan semakin lama kening Chinmi mulai muncul garis emas tipis dengan posisi tegak lurus.
"Hentikan dulu Chinmi, sebaiknya kita istirahat dulu sejenak karena tidak baik jika harus memaksakan semuanya!" kata Ho Chen yang berhenti membantu Chinmi.
Chinmi membuka matanya dan melihat Bola Nirwana masih berkilauan tidak seperti Mustika Hewan Iblis yang akan memudar saat diserap energinya.
__ADS_1
"Baik senior!" jawab Chinmi kemudian dia segera bangkit.
"Tahap awal sudah kamu capai untuk memasuki tingkat Dewa," gumam Ho Chen saat melihat garis halus di kening Chinmi.
Garis tersebut sebenarnya ada tiga, dan jika ketiganya sudah muncul, itu pertanda Chinmi sudah berhasil menembus tingkat Dewa Bumi.
Chinmi sendiri mengerakkan-gerakan tubuhnya yang seperti terasa bagai kapas yang sangat ringan, dia mencoba melepaskan sedikit energinya dan seketika itu beberap pepohonan yang sedang melayang terhempas begitu saja.
Andai saja dia melepaskan energinya di dunia nya, pastinya akan mampu menghancurkan sebuah gunung besar.
"Kita akan melakukan ini sebentar lagi, untuk mengisi waktu istirahat mu, aku akan mengirimkan salah dua ilmu padamu, yaitu Ilmu berpindah tempat, dan ilmu mata Dewa."
Ho Chen segera menyentuh kening Chinmi mengirimkan kedua ilmu tersebut. Sedangkan Chinmi mulai memahami setiap informasi yang dikirim langsung oleh Ho Chen ke pikirannya.
"Terima kasih senior!" kata Chinmi dengan memberi hormat.
"Tidak perlu sesungkan itu, lagi pula kelak kamu akan menjadi bagian dari kami, dan semoga ilmu yang aku berikan padamu bisa di berguna untuk mu!" kata Ho Chen.
"Senior, ini sangat berguna sekali!" kata Chinmi.
Chinmi sudah merasa tidak perlu lagi terbang jauh antar benua, hanya cukup dengan menggunakan sihir ruang waktunya, dia sudah bisa sampai di benua yang jauh sekalipun.
Chinmi juga tidak perlu repot-repot melihat sesuatu dari jarak dekat, karena Sihir Mata Dewa sudah cukup baginya untuk melihat sesuatu yang sangat jauh.
Kedua ilmu yang dikirimkan oleh Ho Chen adalah ilmu dari Fei Ying, guru pertama Ho Chen, walau sebenarnya ilmu tersebut adalah dari Yinfei yang di ajarkan kepada Hanzi dan dari Hanzi menurun kepada Fei Ying melalui Ming Hao.
Setelah cukup lama beristirahat, Ho Chen dan Chinmi kembali menyerap Bola Nirwana, sedangkan Ho Chen juga tetap membatu Chinmi agar bisa menyerap qi dari Bola Nirwana tersebut.
***
"Tuan Li, aku sangat iri padamu karena kamu memiliki anak yang sungguh luar biasa."
"Terima kasih atas pujiannya Jendral Lo."
"Tuan Li, aku apakah saat ini putra mu berada di sini?"
"Dia jarang sekali berada di rumah, jika pun datang kemungkian paling cepat tiga bulan sekali dan paling lama selama beberapa tahun, dan itu pun hanya lima sampai sepuluh hari saja di rumah."
Di rumah Li Xiang, jendral Lo Wei Xhen dari kerajaan Api Timur datang berkunjung, tidak hanya Jendral Lo Wei Xhen saja, melainkan Jendral Lao Shi dari Kerajaan Es Utara juga ada disana.
Mereka berdua sudah melihat sendiri kekuatan Chinmi saat perang, terutama Jendral Lao Shi yang sudah dua kali melihat kehebatan Chinmi.
"Putramu adalah seorang pendekar yang berpetualang, aku dengar dia juga sampai ke Benua Daratan Utara dan dia sangat di hormati oleh Raja Li di benua Daratan Utara," kata Lao Shi.
Setelah Samudra Naga Biru sudah aman, banyak sekali para pendatang yang berkunjung ke Benua Daratan Tengah dan mereka menuju ke Kerajaan Es Utara termasuk Jendral Basel.
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu masalah ini?" kata Li Xiang.
Lao Shi dan Lo Wei Xhen juga sama-sama saling berpandangan, mereka berdua jelas terkejut karena tenyata Li Xiang sendiri tidak mengetahuinya.
Sebenarnya kedatangan dua Jendral dari dua Kerajaan yang berbeda adalah untuk membahas masalah kedepannya, walau mereka belum tahu jika musuh yang lebih kuat sedang menuju ke Benua mereka untuk menjajah seluruh Kerajaan.
"Sudahlah itu tidak penting, bagaiamana sekarang apakah rencana untuk menekan Kerajaan Angin Selatan sudah di setujui oleh para Raja?" tanya Lo Wei Xhen.
"Ah tentu saja, baiklah mari kita hubungi para ketua sekte besar agar membantu kita," kata Lao Shi.
"Aku tidak setuju Jendral Lao, ini adalah urusan Kerajaan, jadi sebaiknya kita tidak melibatkan sekte-sekte yang lain," kata Li Xiang.
Sudah banyak murid-murid sekte yang gugur saat perang, jadi dia merasa tidak enak jika harus meminta bantuan mereka lagi.
"Tapi Tuan Li, bukankah sekte aliran juga mendukung Kerajaan Angin Selatan?" tanya Lao Shi.
"Sekarang sudah tidak lagi, sejak kekalahan mereka, kini hubungan mereka sudah tidak lagi dekat, justru malah semakin memanas," kata Li Xiang.
__ADS_1
Li Xiang mengetahui semua itu dari para penduduk dari Kerajaan Angin Selatan yang datang ke Kerajaan Bumi Barat. Tentu saja semua penduduk di Kerajaan Angin Selatan sudah mengetahui akan hubungan Kerajaan Angin Selatan dengan Sekte aliran hitam.