
***
Di Sekte Pedang Suci, Li Fang terlihat gelisah, dia merasa tidak tenang setelah kepergian Chinmi dan Yue Rong.
Li Fang mondar mandir di dalam rumahnya dengan kedua tangan berada dibelakang pinggangnya dan sesekali menghela nafas pendek dengan disertai gelengan kepala.
"Apa sebaiknya aku pergi menyusul mereka saja?" Li Fang berbicara sendiri
"Ah tidak! Ketua Ji pasti melarangku pergi!"
Li Fang sangat kebingungan antara pergi menyusul mereka atau tidak. Dia bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan Yue Rong saja melainkan juga menghawatirkan Chinmi.
"Ayolah Li Fang berpikir-berpikir!"
Karena merasa tidak menemukan cara, Li Fang memutuskan untuk pergi menemui Ji Long dan ingin meminta ijin untuk menyusul Chinmi.
Li Fang langsung pergi ke kediaman Ji Long yang ternyata disana sudah ada Wang Shing dan Juga Yong Chun.
"Junior Li kemarilah dan minum teh bersama kami," Ji Long yang melihat kedatangan Li Fang langsung memanggilnya untuk bergabung.
Li Fang segera datang menghampiri mereka kemudian memberi hormat kepada mereka bertiga setelah itu dia ikut bergabung depan mereka bertiga.
"Kenapa wajahmu terlihat gelisah? Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" Yong Chun bertanya karena melihat wajah Li Fang yang terlihat gelisah.
"Jawabnya nantu saja, sekarang minumlah Junior Li, ini teh terbaik yang aku miliki rasanya sangat enak," kata Ji Long memuji teh miliknya sendiri.
"Terimakasih Ketua Ji kalau begitu aku akan meminumnya," kata Li Fang kemudian meneguk teh di cangkir yang sudah dituangkan oleh Ji Long.
"Bagaimana rasa teh ku ini?" tanya Ji Long.
"Enak ketua rasa manisnya juga tidak berlebihan," jawab Li Fang membuat Ji Long tertawa.
"Ketua Ji, ada yang ingin saya sampaikan terhadap ketua!" Li Fang mencoba memberanikan dirinya.
"Katakanlah aku akan mendengarkannya!" ucap Ji Long dan kembali meminum teh nya.
__ADS_1
"Ketua Ji, ijinkan saya untuk pergi menyusul Chinmi dan Yue Rong,"
Ji Long menghentikan tahukan tehnya dan memegang cangkirnya yang masih ada air tehnya, begitu juga dengan Yong Chun dan Wang Shing, mereka saling berpandangan.
"Junior Li, aku tidak akan melarangmu karena aku mengerti akan perasaanmu," ucap Ji Long membuat Li Fang terkejut, dia pikir Ji Long akan melarangnya.
"Benar sekali, kamu tidak terikat dengan sekte kami, lagi pula kami mengerti jika kamu mengkhawatirkan Rong'er," Wang Shing menambahkan.
"Senior Wang anda salah paham, saya bukan hanya mengkhawatirkan Rong'er saja, melainkan Chinmi juga berada disana, kalau masalah Rong'er...! Saya.. iya saya juga mengkhawatirkannya."
Wang Shing, Ji Long dan Yong Chun tertawa kecil melihat Li Fang yang salah tingkah, "Susullah mereka, jika kamu berada disana itu akan lebih baik karena keamanan mereka bertambah satu lagi!" kata Ji Long.
"Terimakasih Ketua Ji," Li Fang merasa lega setelah mendapatkan ijin dari Ji Long.
"Junior Li, apa kamu membutuhkan teman untuk pergi kesana?" tanya Yong Chun.
Li Fang menggelangkan kepalanya, "Tidak, saya akan menyusul mereka kesana," jawab Li Fang.
"Jadi kapan rencanamu berangkat?" tanya Ji Long.
"Hari ini juga."
"Terimakasih Ketua atas jamuan tehnya, saya permisi dulu karena akan mempersiapkan bekal perjalanan," kata Li Fang kemudian bangkit.
"Aih tidak perlu sesungkan itu junior Li, walau kamu bukan anggota kami, namun aku sudah menganggap dirimu sebagai bagian dari sekte ku," kata Ji Long.
Li Fang langsung pamitan kepada mereka bertiga kemudian kembali kerumahnya untuk bersiap-siap berangkat.
"Pemuda generasi sekarang memang sangat aneh-aneh!" kata Wang Shing dengan tersenyum lebar kemudian mereka bertiga kembali menikmati teh mereka.
Hari itu juga Li Fang segera menyusul mereka dengan membawa beberapa perlengkapan yang dibutuhkan termasuk membawa kuda sebagai tunggangannya.
***
Rombongan Chinmi kini tiba di sebuah Desa besar dekat dengan pinggiran hutan, mereka melihat Chinmi melihat kekiri dan kekanan namun tidak melihat siapa-siapa di desa besar tersebut.
__ADS_1
Bangunan di desa terlihat rusak dan banyak yang hanya menyisakan puing-puingnya saja.
"Senior Desa apa ini?" tanya Chinmi kepada Xuao Lan, menurutnya hanya Xuao Lan yang mengatahui desa tersebut mengingat Xuao Lan adalah mantan penduduk Kerajaan Es Utara.
"Ini Adalah Desa Wo. Dulunya desa ini adalah desa yang makmur dan subur, namun sekarang Desa ini menjadi Desa Mati,"
"Apa yang telah terjadi dengan desa ini Senior?" Xian Fai juga ikut penasaran.
"Chinmi, apa kamu ingat ketika aku menceritakan akan Hutan Terlarang padamu?" Yue Rong bertanya kepada Chinmi.
"Tentu, aku tidak mungkin lupa. Namun apa hub...!" Chinmi terdiam dan memandang Yue Rong dengan tatapan terkejut karena menyadari sesuatu.
"Jangan-jangan desa ini ditinggalkan oleh para penduduk karena adanya serangan Hewan Iblis?" tanya Chinmi.
"Kamu benar Chinmi, Desa ini sudah lama di tinggalkan oleh penduduknya bahkan sebelum aku lahir desa ini sudah tidak berpenghuni," kata Xuao Lan menjelaskan.
Chinmi kini menatap hutan yang agak jauh dari desa, dia juga melihat sawah-sawah yang kini ditumbuhi ilalang dan juga rumput dan pohon liar.
"Apakah itu Hutan terlarangnya?" tanya Chinmi sambil menunjuk kearah Hutan.
Semuanya menoleh ke arah hutan yang ditunjuk oleh Chinmi, "Benar itulah Hutan terlarang," Yue Rong menjawab.
"Jika kita menginap disini, jangan sesekali kalian pergi sendirian apalagi pergi ke dekat hutan, apa kalian mengerti?"
Yue Yin dan Lian Cao yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pembicaraan mereka mengangguk mengerti, mereka belum pernah melihat atau bertemu dengan Hewan Iblis atau lebih tepatnya hampir semuanya belum melihat wujud hewan iblis kecuali Xuao Lan dan Chinmi.
"Eh lihat ada orang!" Yue Yin menunjuk kearah bangunan kosong dan semuanya menoleh kearah tersebut dan melihat dua orang sedang berdiri menatap mereka di depan pintu.
"Siapa mereka? Bukankah seharusnya mereka tidak berada di desa ini?" kata Xuao Lan dengan heran.
"Mungkin mereka hanya singgah, dan kemungkinan mereka juga akan pergi menuju ke Kerajaan Es Utara," kata Yue Rong yang tidak mau berpikir terlalu sulit akan siapa mereka.
Chinmi terdiam dia berjalan mendekati dua orang tersebut yang ternyata satu wanita cantik seumuran Yue Rong dan satunya lagi seorang pria besar.
Pria besar tersebut mengenakan Zirah emas layaknya seperti seorang Jendral kerajaan dengan memegang sebuah tongkat panjang atau tepatnya Toya panjang.
__ADS_1
Sang wanita seperti seorang Putri Raja dan memakai gaun berwarna biru dengan mengenakan pita berbentuk bunga di rambut hitamnya, dan Chinmi samar-samar melihat aura tipis berwarna emas dari tubuh sang wanita itu.
Wanita tersebut tersenyum lembut menatap Chinmi membuat Chinmi keheranan, "Perasaanku saja atau dia memang sedang tersenyum padaku?" batin Chinmi.