
Seluruh tubuh Ming Zai sudah sepenuhnya terbungkus oleh api, seakan-akan tubuhnya akan hangus oleh api tersebut.
"Zai'er, apa yang ingin kamu lakukan? Jendral Jin, cepat hentikan dia!" kata Raja Ming menyuruh Jendral Jin Hang untuk menghentikan Ming Zai.
"Ta-tapi Yang Mulia!" Jendral Jin Hang sedikit ragu untuk menghentikan Ming Zai.
Jendral Jin Hang bukannya tidak mampu untuk menghentikan Ming Zai, namun saat ini kekuatan Ming Zai tidak bisa di batalkan begitu saja.
Kekuatan Ming Zai saat ini mencapai ke tingkat Puncak dan hampir menembus ke tingkat Sihir.
Jika Ming Zai tiba-tiba membatalkan kekuatan yang ia keluarkan, maka efek dari kekuatan tersebut akan berakibat fatal.
Ming Zai membentangkan kedua tangannya, pada saat yang bersamaan Jendral Jin Hang juga bergerak ingin menghentikan Ming Zai.
"Matilah kau..!" seru Ming Zai sekaligus melepaskan api yang sangat panas kearah Chinmi.
"Apa kamu ingin berniat membakarku juga?" Lio Long mengangkat satu jari telunjuknya dan mengetuknya satu kali kelengannya sendiri.
Semburan api tersebut tiba-tiba berubah arah seakan-akan ada angin yang meniupnya, hal itu jelas mengejutkan semua yang melihat akan hal itu.
Jendral Jin Hang sendiri juga menghentikan langkahnya untuk mencegah Ming Zai, dia terkejut sekaligus bingung.
"Apa yang terjadi?" gumam Jendral Jin Hang.
"Kau jangan ikut campur orang tua! Jika kamu ingin hidup lebih lama, maka menyingkirlah dari sini!" Kata Ming Zai yang tidak peduli akan bagaimana cara Lio Long berbuat demikian.
"Hahaha… Aku suka nada bicaramu anak muda, beginikah cara seorang pangeran dari Negara ini? Sungguh sangat disayangkan!" ucap Lio Long kemudian dia sudah berada di belakang Ming Zai.
"Aku ingin tahu, bagaimana caramu untuk bisa mengalahkanku," kata Lio Long.
Ming Zai terkejut setelah menyadari jika Lio Long ternyata sudah berada tepat di belakangnya, bahkan dia juga berbicara pelan di telinga Ming Zai yang ada energi api nya.
"Sejak kapan kamu berada disini?" Ming Zai bertanya sekaligus melompat menjauhi Lio Long.
"Kenapa kamu menghindar, bukankah tadi kamu mengancamku, sekarang ayo lakukan akan apa yang ingin kamu lakukan padaku!" ucap Lio Long dengan tersenyum lebar.
Ming Zai yang merasa diejek oleh Lio Long segera menyerangnya, dia menyerang dengan menggunakan pukulan tangan yang masih menyala.
__ADS_1
"Api kecil seperti ini tidak akan pernah bisa melukaiku," kata Lio Long yang menepis pukulan tangan Ming Zai hanya dengan menggunakan jari telunjuknya saja.
Ming Zai mempercepat serangannya pukulannya, namun Lio Long masih dengan tenangnya menepis semua pukulan tersebut dengan jari telunjuknya, bahkan dia tidak berpindah tempat sama sekali.
Ming Zai yang masih membungkus tubuhnya dengan Api perlahan-lahan mulai redup. Api tersebut sudah tidak sebesar sebelumnya.
Nafas Ming Zai memburu karena energinya kini semakin berkurang. Dia heran karena serangannya sama sekali tidak bisa melukai Lio Long.
"Kekuatan orang tua ini setingkat dengan seorang Pertapa," gumam Jendral Jin Hang begitu juga dengan Raja Ming yang memiliki pemikiran yang sama.
"Sudahlah, aku bosan meladenimu!" ucap Lio Long dan disertai dengan kibasan tangan.
Ming Zai terlempar hingga belasan meter hanya gara-gara kibasan tangan Lio Long saja. Tubuh Ming Zai hampir keluar dari pintu istana.
Ming Zai mengerang kesakitan, sakit akibat tubuhnya yang terhempas dan disertai efek ilmu yang ia gunakan sudah hampir habis.
"Pangeran..!" Jendral Jin Hang segera membantu Ming Zai yang terlihat kesakitan.
"Yang Mulia, sekarang kami mohon pamit, terima kasih karena sudah mendengarkan keluh kesah kami," kata Chinmi.
Ming Zai hanya bisa menatap Chinmi dengan tatapan penuh kebencian, namun tubuhnya saat ini benar-benar sudah seperti mati rasa.
"Terima kasih atas kebijaksanaan Yang Mulia, kalau begitu kami mohon pamit!"
Chinmi membungkukkan badannya, namun Lio Long tidak. Mereka berdua bergegas keluar dari dalam istana untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka yang tertunda, sedangkan Raja Ming hanya bisa menatap mereka berdua yang telah pergi.
Tubuh Ming Zai hampir ambruk ketika tubuhnya sudah kembali normal, dan untungnya Jendral Jin Hang menahan tubuh Ming Zai agar tidak terjatuh.
"Ayah, apakah kamu benar-benar akan menghukumku?" tanya Ming Zai.
Raja Ming menghela nafas panjang dan menatap Ming Zai dengan tatapan sedih, dia tidak tega jika harus menghukum anak satu-satunya yang ia miliki.
"Maafkan aku Zai'er, ini juga demi kebaikanmu sendiri. Ayah tidak punya pilihan lain lagi," kata Raja Ming dengan nada berat dan penuh rasa bersalah.
"Jendral, bawalah dia ke penjara ruang bawah tanah!"
Jendral Jin Hang membungkuk dan membawa Ming Zai pergi menuju ke penjara bawah tanah.
__ADS_1
"Yang Mulia, hamba mohon pikirkan kembali mengenai pemberian hukuman kepada pangeran!"
Seorang wanita paruh baya yang baru datang bertanya kepada Raja Ming, wanita tersebut mengenakan kain mewah bercahayakan pernak-pernik berbagai macam warna manik dan sebuah mahkota juga menghiasi kepalanya.
Semua orang yang ada disana segera membungkuk memberi hormat mereka kepada wanita tersebut kecuali Raja Ming.
"Kau tidak seharusnya datang kesini!" ucap Raja Ming.
"Kenapa? Jika kau pikir aku akan diam saja ketika melihat putra ku akan dipenjara, apakah aku akan diam saja?" kata Wanita tersebut yang ternyata adalah Permaisuri Pei Ling, ibu pangeran Ming Zai.
"Aku menghukum Zai'er karena dia memang bersalah," jawab Raja Ming.
"Bersalah? Apapun kesalahannya itu tidak pantas baginya untuk di penjara! Dia adalah seorang pangeran dan putra mahkota, calon pewaris tahta kerajaan ini, bukankah tidak pantas jika seorang pewaris kamu penjarahan seperti yang orang lain?" kata Permaisuri yang keberatan jika Ming Zai harus di penjara.
"Ling'er, aku tidak mungkin pilih kasih kepada siapapun, baik itu keluarga maupun orang lain, bagiku hukum akan berlaku bagi siapa saja tanpa pandang bulu. Bahkan jika aku sampai berbuat kesalahan, maka aku pun juga akan mendapatkan hukuman yang sama," kata
Raja Ming.
"Seharusnya hukum tidak berlaku bagi kita, bukankah kita ini adalah hukum itu sendiri? Bagiku hukum hanya berlaku bagi orang yang bukan anggota keluarga kerajaan saja."
"Itu tidak benar, kita memang yang membuat aturan hukum itu, namun kita juga tidak kebal terhadap hukum! Sudahlah jangan lagi memperdebatkan hal ini."
Raja Ming tidak mau terus-menerus memperdebatkan masalah tersebut terlalu jauh, apalagi dia tahu jika Permaisuri sangatlah keras kepala. Menurutnya berdebat dengannya tidak akan ada titik terangnya.
"Tidak bisa! Aku mau kau membebaskan Zai'er terlebih dahulu, jika tidak maka aku tidak akan pernah mengampunimu," Permaisuri tetap kokoh dan tidak terima jika Ming Zai tidak segera di bebaskan.
Raja Ming tidak mempedulikannya, dia segera pergi meninggalkan Permaisuri dan juga para petinggi kerajaan disana.
Semua orang yang berada disana menjadi hening dan canggung. Bagaimana tidak, selama ini Permaisuri memang terkenal akan sifatnya yang keras dan mau menang sendiri.
Satu per satu dari mereka membungkuk kepada Permaisuri yang wajahnya terlihat kesal, mereka pergi dari tempat tersebut meninggalkan Permaisuri seorang diri.
"Zai'er bersabarlah, Ibu pasti akan mengeluarkanmu, dan ibu berjanji akan membuat orang yang telah membuatmu dipenjara menyesalinya," gumam Permaisuri dengan mengepalkan kedua tangannya.
Permaisuri akan mencari pendekar hebat untuk mengejar dan membunuh Chinmi, dia sangat mengetahui semua pendekar hebat yang ada di wilayah kerajaannya.
"Tunggu saja, kamu pasti akan menyesal karena membuat anak ku di penjara!"
__ADS_1
Permaisuri pergi keluar menuju ke tempat para pendekar yang ia ketahui untuk membunuh Chinmi, dia yakin jika Chinmi pasti belum jauh dan kemungkinan masih berada di dalam wilayah kerajaannya.