PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Teman seperjalanan


__ADS_3

Xuao Lan merasa beruntung karena menemukan sebuah penginapan murah yang sangat dekat dengan pelabuhan, harga permalamnya sebanyak 5 koin perak.


"Chinmi, apakah kamu mau ikut dengan kami untuk berkeliling di pelabuhan?" Xian Fai bertanya kepada Chinmi yang sedang duduk di kursi kamarnya yang hanya memiliki dua kursi dan satu meja serta satu tempat tidur itu.


"Tidak senior, saya disini saja!" tolak Chinmi secara halus.


"Chinmi, berhentilah memanggilku Senior, sebaiknya kamu panggil aku Xian Fai saja itu lebih enak di dengar!" kata Xian Fai.


Chinmi menatap Xian Fai dengan bingung, "Senior labih tua dari saya, jadi sudah sepantasnya aku memanggilmu senior bukan?"


"Iya aku tahu itu, namun aku ingin kita menjadi semakin akrab, dan aku ingin kita bisa menjadi teman atau sahabat," kata Xian Fai.


"Senior bicara apa, kita kan sudah menjadi teman?"


"Ah kalau itu aku...!" Xian Fai kebingungan untuk berbicara.


Mungkin selama perjalanan ini mereka bisa dikatakan sebagai teman, namun Xian Fai merasa itu hanyalah sebagai teman seperjalanan saja. Xian Fai ingin menjadi teman yang sesungguhnya dan bukan teman seperjalanan saja.


Chinmi menghela nafas panjang, sebenarnya dia agak ragu untuk memiliki teman, karena itu Chinmi jarang sekali berbicara dengan yang lainnya.


Teman baru pertamanya ketika berada di sekte Pedang Suci adalah Lian Cao, Lian Mei dan Yue Yin. Namun Chinmi teringat akan Jendral Fu Shen.


Dia tidak tahu apakah ayahnya sudah mengetahui akan penghianatan jendral Fu Shen atau tidak, karena Chinmi sangat mengetahui jika ayahnya sudah menganggap Fu Shen sebagai sahabat baiknya bahkan melebihi saudaranya sendiri.


Chinmi mengetahui penghianatan Fu Shen saat dirinya dihadang oleh 10 Pendekar dari Sekte Golok Setan ketika dirinya dan Li Fang sedang melarikan diri menghindari kejaran dari para prajurit istana.


Kesepuluh Pendekar tersebut mengatakan jika dirinya dan Li Fang harus ditangkap dengan imbalan yang sangat besar, dan yang menyuruh mereka ternyata adalah jendral Fu Shen.


Chinmi sedikit bimbang untuk memiliki seorang teman jika mengingat akan hal itu, namun dia juga tidak tega untuk menolak niat baik seseorang yang ingin berteman dengannya.


"Baiklah aku akan berusaha memanggilmu Xian Fai," kata Chinmi dengan suara sedikit ragu.


"Terimakasih Chinmi, aku sangat senang mendengarnya!" kata Xian Fai yang terlihat sangat senang.

__ADS_1


Semenjak dirinya hampir terbunuh oleh Chinmi karena ke arogannya, Xian Fai berjanji tidak akan lagi mencari masalah dengan Chinmi, dan jika bisa dia ingin sekali menjadi teman Chinmi dan itu sudah di wujudkan sekarang.


"Baiklah Chinmi, aku akan pergi dulu dengan yang lainnya untuk berkeliling pelabuhan. Sampai nanti!" kata Xian Fai kemudian pergi meninggalkan Chinmi sendiri di dalam kamar.


Xian Fai melangkah penuh semangat karena keinginannya selama ini telah tercapai. Dia pergi menemui Xuao Lan dan yang lainnya untuk menyampaikan jika Chinmi tidak ikut dengan mereka.


"Xian Fai, ada apa denganmu? Kenapa wajahmu terlihat senang?" tanya Yue Rong dengan heran melihat perubahan wajah Xian Fai yang terlihat sangat senang.


"Tentu saja aku senang senior Rong, hari ini aku ingin melihat-lihat seluruh pemandangan di pelabuhan ini!" kata Xian Fai.


"Benarkah cuma gara-gara itu saja kamu sangat terlihat senang?" tanya lagi Yue Rong yang merasa alasan Xian Fai tidak masuk akal.


"Sudahlah mari kita jalan-jalan!" kata Yue Yin yang sejak tadi sudah tidak sabar untuk segera melihat-lihat suasana pelabuhan.


Mereka berlima akhirnya pergi untuk berjalan-jalan di pelabuhan, karena kesempatan seperti ini sangat jarang sekali dapat dirasakan.


***


Chinmi sungguh sangat tidak sabar untuk segera mencapai kekuatan itu, namun dia teringat jika dia harus menjadi lebih kuat dulu.


Dia kembali teringat akan latihan dengan gurunya dan penjelasan gurunya akan Enam Gerbang dan Empat Pondasi. saat ini Chinmi sudah berhasil membangun 70 persen pondasi pertamanya yang artinya Chinmi memiliki kesempatan untuk membuka salah satu gerbang dari keenam gerbang.


Namun Chinmi sama sekali tidak tahu gerbang apa saja yang harus ia buka lebih dulu dan juga Chinmi tidak tahu nama masing-masing setiap gerbangnya.


"Kenapa Guru tidak memberitahu secara detail padaku?" gumam Chinmi sambil memijat keningnya.


Kini Chinmi baru sadar jika seseorang berlatih tanpa guru maka semua yang ia latih tidak ada artinya karena minimnya pengetahuan yang ia ketahui.


"Kalung semesta, apa yang harus aku isi kedalamnya?" kini Chinmi menatap kalungnya yang saat ini isinya hanya 12 Mustika abu-abu saja sedangkan beberapa bajunya masih berada di kain buntilannya.


Chinmi sengaja tidak memasukkan buntilan tersebut kedalam kalung karena tidak mau mendapatkan perhatian dari Xuao Lan dan yang lainnya karena Chinmi bisa menebak jika dirinya melakukan hal itu akan membuat mereka terkejut dan akhirnya akan dipenuhi nafsu serakah di hatinya.


Saat semua masalah mulai memenuhi pikirannya tiba-tiba dia teringat akan satu sesuatu yang hampir ia lupakan.

__ADS_1


"Kakek leluhur! Iya kenapa aku tidak mencobanya?" gumam Chinmi yang tiba-tiba teringat kepada Li Wiefu.


Chinmi yakin jika Roh Li Wiefu masih berada di dalam tubunya. Chinmi duduk bersila dan berusaha untuk berkomunikasi dengan Li Wiefu.


"Kakek Leluhur, apa kamu bisa mendengarku?" panggil Chinmi di dalam batinnya.


Chinmi sama sekali tidak dapat merasakan atau mendengar suara Li Wiefu, namun dia tetap berusaha memanggilnya.


"Kakek Leluhur jawablah jika kamu mendengar panggilanku ini!" kata Chinmi yang masih berusaha memanggil Li Wiefu.


Setelah cukup lama Chinmi berusaha untuk memanggil Li Wiefu, tiba-tiba suara berisik diluar penginapan menghilang.


Chinmi berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk tetap lebih Fokus lagi. Chinmi merasakan tubuhnya seperti berputar-putar ditempat sehingga Chinmi merasa kepalanya pusing.


Walau matanya masih tertutup, namun Chinmi masih dapat merasakan putaran tersebut sehingga masih merasakan pusing bukan main.


Setelah Chinmi tidak lagi merasakan putaran tubuhnya, dia membuka mata pelan dan betapa terkejutnya dia setelah melihat seluruh ruangan kamar kecil kini berubah menjadi sebuah danau besar yang mengeluarkan asap putih di atas air danau tersebut.


"Ini dimana lagi?" batin Chinmi sambil mengamati seluruh tempat tersebut.


"Ada apa kamu memanggilku?" tanya suara pria sepuh yang muncul ditengah-tengah kabut tebal itu.


"Ah Kakek Leluhur Maafkan saya kakek karena telah berani memanggil kakek," kata Chinmi.


"Em baiklah, sekarang katakanlah apa yang ingin engkau tanyakan!" kata Li Wiefu dengan suara yang terdengar menggema.


"Kakek, saya butuh bantuanmu untuk memberikan penjelasan padaku tentang ke enam Gerbang dan ke empat Pondasi sekaligus nama dan caranya." kata Chinmi.


"Empat Pondasi dan Enam gerbang?" tanya Li Wiefu dengan mengangkat alisnya.


"Benar kakek!" jawab Chinmi singkat.


"Baiklah dengarkan baik-baik karena aku hanya akan mengatakannya satu kali dan tidak akan aku ulangi lagi," kata Li Wiefu kemudian mulai menjelaskan akan ke Enam Gerbang dan Empat Pondasi sekaligus nama-namanya.

__ADS_1


__ADS_2