PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Lubang Hitam


__ADS_3

"Cahaya Penghancur Alam."


Hanzi mengarahkan bola cahaya putih yang sangat kecil kearah Panglima Gajah dan Panglima Gajah terlalu percaya diri akan kekuatan perisai besi yang melindungi tubuhnya.


Panglima Gajah menahan bola cahaya tersebut dengan menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya bersiap memberikan serangan balasan kearah Hanzi.


Jdarrrr!!!


Bola cahaya kecil tersebut meledak ketika bersentuhan dengan tangan Panglima Gajah, ledakan yang di timbulkan tidak sekeras ketika mereka berdua sedang mengadu serangan, namun justru daya dorongnya yang sangat kuat.


Panglima Gajah terlempar jauh hingga mengenai pohon-pohon, dan semua pohon bekas tempatnya terjatuh tumbang sepanjang dirinya terseret.


"Siial..! Ternyata dia sangat kuat!" gerutu Panglima Gajah dan dia kembali bangkit.


"Kemana dia..?" Panglima Gajah sama sekali tidak melihat keberadaan Hanzi setelah dia sudah berhasil bangkit.


"Jadi hanya segini saja kekuatan yang kamu banggakan itu? Sungguh sangat mengecewakan!" kata Hanizi yang saat ini muncul tepat di atas kepala Panglima Gajah.


Panglima Gajah langsung memberikan serangan kearah sumber suara Hanzi tanpa menoleh karena takut jika Hanzi akan menyerangnya lebih dulu.


Panglima Gajah mengarahkan pukulannya keatas, namun Hanzi sudah lebih dulu menghilang sehingga energi pukulan Panglima Gajah hanya mengenai udara kosong.


Hanzi sendiri kini muncul di hadapan Panglima gajah sehingga Panglima Gajah melompat mundur satu meter, dia ingin kembali memberikan serangan yang sama namun dia di kejutkan oleh kemunculan sosok lain yang datang menghancurkan perisai pelindung ya ia buat.


Sosok tersebut adalah Chinmi, dia menghancurkan perisai Panglima Gajah dengan sangat mudah. Karena itu Panglima Gajah benar-benar terkejut karena tidak semua orang bisa menghancurkan perisainya semudah yang di lakukan oleh Chinmi.


"Chinmi, ternyata kamu lebih cepat dari yang aku perkirakan," kata Hanzi setelah Chinmi datang dan berdiri di sampingnya.


"Tidak senior, aku hanya melawan satu orang saja, sisanya di atasi oleh senior Diyu Hu dan yang lainnya!" kata Chinmi.


Panglima Gajah sendiri semakin wapada karena dia ingat akan kabar jika yang menghabisi ke dua puluh pendekar anggotanya hanyalah seorang pemuda saja, jadi dia khawatir jika pemuda yang dimaksud itu adalah pemuda yang sama dengan pemuda yang saat ini ada di hadapannya.


"Jadi dia yang dijuluki Panglima Gajah?" tanya Chinmi, namun peetanyaannya di dengar sangat jelas oleh Panglima Gajah.


"Sepertinya pertanyaanmu itu tidak perlu aku jawab! Aku yakin kamu pasti sudah mengetahuinya sendiri," jawab Hanzi.


"Senior, serahkan saja dia padaku dan sebaiknya senior membantu guru Feng disana!" kata Chinmi.

__ADS_1


"Baiklah aku serahkan dia padamu, pastikan dia mati di tempat ini!" kata Hanzi berpesan sebelum akhirnya dia terbang ke arah Feng Ying.


"Tentu saja!" Chinmi mengangguk kemudian dia berjalan kearah Panglima Gajah yang saat ini masih menatap Chinmi dengan perasaan was-was. Panglima Gajah berjalan mundur sedikit demi sedikit ketika Chinmi mendekatinya.


"Kekuatanmu hampir sama dengan kekuatan pendekar yang aku bunuh barusan di pantai!" kata Chinmi.


Panglima Gajah mengerutkan dahinya, dia tidak tahu akan siapa yang dimaksud oleh Chinmi, andai saja dia tahu jika sesungguhnya adalah salah satu pelindung pemimpin ketua Sungai Darah Sao Muchi, pasti dia sudah kabur lebih dulu.


"Anak muda, sebelum terlambat sebaiknya kamu jangan bertindak gegabah, kau tidak tahu siapa aku? Jadi aku sarankan secepatnya kamu pergi dari tempat ini!" kata Panglima Gajah.


Walau perkataannya terdengar sombong, namun Chinmi melihat jika Panglima Gajah sebenarnya terlihat ragu, khawatir dan takut. Namun dia menyembunyikannya di balik kata kesombongannya.


"Panglima Gajah, aku yakin kamu sudah tahu jika bantuan dari Benua Daratan Selatan akan segera datang bukan? Sekarang aku yang akan memberi mu saran agar jangan terlalu berharap pada mereka, karena kamu belum tahu benar akan kekuatan pendekar di Benua Daratan Tengah ini," kata Chinmi yang membalas perkataan sombong Panglima Gajah.


"Kau terlalu percaya diri anak muda! Kalau begitu aku akan membuatmu menyelasi perkataanmu itu!" kata Panglima Gajah yang terdengar sangat kesal, walau dia ragu, khawatir dan takut, namun dia tetap memberanikan diri untuk menyerang Chinmi.


"Pukulan Penuh Gajah Merah."


Panglima Gajah memberikan pukulan yang belum ia gunakan saat sedang berhadapan dengan Hanzi. Aura yang lebih kuat juga terpancar dari kepalan tangan Panglima Gajah, "Matilah...!" kata Panglima Gajah sekaligus mengarahkan pukulannya ketubuh Chinmi.


Ledakan pukulan Panglima Gajah saat mengenai tubuh Chinmi yang tidak menghindari serangannya menggetarkan hampir separuh wilayah istana Kerajaan Angin Selatan. Debu dan asap melayang di udara membuat langit tertutup awan debu yang begitu tebal.


Panglima Gajah terkejut karena ternyata Chinmi masih berdiri tegak di tempatnya setelah menerima pukulan terkuatnya, bahkan Chinmi terlihat baik-baik saja.


"Ternyata baju pemberian senior Ho Chen benar-benar mampu menahan serangan besar!" gumam Chinmi yang merasa kagum karena baju peberian Ho Chen benar-benar mampu melindungi tubuhnya.


Chinmi sengaja tidak menghindari serangan Panglima Gajah untuk membuktiikan apakah baju peberian Ho Chen benar-benar mampu melindunginya atau tidak.


"Si-siapa kamu sebenarnya?" tanya Panglima Gajah, dia merasakan firasat buruk akan terjadi jika tetap terus bertarung melawan Chinmi, dia yakin pasti Chinmi lah pemuda yang pernah di ceritakan bisa membunuh ke 20 anggotanya.


"Aku bukanlah siapa-siapa, aku hanya seorang pemuda yang tidak mau tanah ku ini kalian jajah," jawab Chinmi.


"Begini saja, bagaimana kalau kita bekerja sama menguasai benua ini, nanti kamu bisa menguasai separuh dari wilayah ini, separuh untuk kami dan separuh lagi adalah milikmu! Bagaimana?" kata Panglima Gajah mencoba untuk bernegosiasi.


"Ini adalah wilayahku, jadi aku tidak perlu bekerja sama dengan siapaun, dan aku juga tidak berniat ingin membagikan seluruh wilayah Benua Daratan Tengah ini dengan siapaun, termasuk dengan mu!" kata Chinmi.


"Kamu tidak tahu seberapa ketua organisasi kami, jika mau dia bisa melenyapkan seluruh Benua ini hanya seorang diri, jadi pikirkanlah baik-baik tawaranku ini!" kata Panglima Gajah.

__ADS_1


Chinmi tersenyum mengejek mendengar hal itu kemudian dia kembali berbicara kepada Panglima Gajah, "Apa kalian pikir hanya ketua kalian saja yang memiliki kekuatan besar? Aku juga bisa melakukannya, bahkan jika aku mau, aku bisa saja melenyapkan seluruh isi dunia ini seorang diri, jika kamu ingin mengetahuinya akan aku buktikan padamu!" kata Chinmi kemudian dia mengarahkan telapak tangannya ke arah Panglima Gajah.


"Pusaran Penghisap Alam."


Sebuah lubang kecil muncul dari telapak tangan Chinmi dan kemudian semua yang ada di hadapan Chinmi mulai bergerak kearah Chinmi, semua benda terhisap masuk kedalam lubang yang ada di telapak tangan Chinmi.


Tidak hanya benda saja yang terhisap, bahkan Panglima Gajah juga ikut terhisap. Panglima Gajah mencoba mengalirkan energi qi ketelapak kakinya agar tidak ikut terhisap seperti benda-benda di sekitarnya.


Namun ternyata semua itu tidak cukup mampu untuk bisa bertahan dari hisapan kuat milik Chinmi, daya hisapnya sungguh sangat kuat.


"To-tolong hentikan...! Aku mohon, aku tidak mau mati!" kata Panglima Gajah yang sangat ketakutan.


Kekuatan yang ia banggakan saat ini sama sekali tidak bisa membantu dirinya untuk bisa menyelamatkan diri dari hisapan lubang hitam tangan Chinmi.


Seruan permohonan Panglima Gajah sama sekali tidak di hiraukan oleh Chinmi, dia justru menambah kekuatan daya hisapnya sehingga Panglima Gajah sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk bisa bertahan.


"Tidak....!" tubuh Panglima Gajah menyusut dan dalam satu tarikan nafas saja, dia terhisap bersama benda-benda lain kedalam lubang hitam di tangan Chinmi.


Chinmi segera menghentikan semuanya setelah Panglima Gajah sudah terhisap, Chinmi khawatir jika tidak segera dihentikan tidak hanya Panglima Gajah saja yang akan terhisap, namun seluruh Benua Daratan Tengah juga bisa lenyap.


Kini hanya tersisa puluhan pendekar yang sedang bertarung melawan Hanzi dan Feng Ying. Semua anggota pendekar yang tersisa panik saat melihat Panglima Gajah lenyap begitu saja dalam waktu singkat ditangan seorang pemuda yang baru tiba.


"Jangan biarkan mereka kabur, pastikan mereka semuanya mati!" seru Feng Ying.


Feng Ying dan Hanzi sama-sama melapaskan ilmu terbaik mereka secara bersamaan.


"Tehnik Matahari - Ledakan Matahari."


Hanzi dan Feng Ying menggabungkan kekuatannya dan melepaskan tehnik mereka secara bersamaan, dan ledakan energi yang sangat besar meledak di tengah-tengah puluhan Pendekar yang saat ini sedang berusaha untuk mencari celah untuk bisa lolos, namun sangat di sayangkan karena ledakan tehnik mereke berdua sangat besar dan juga kuat.


Bommm!!!


Ledakan di udara berhasil menewaskan mereka semua, ada yang lenyap karena hancur, namun ada juga yang masih utuh namun sudah tidak bernyawa dan tubuh mereka berjatuhan dari langit.


***


Maaf jika hanya sedikit dan pendek, saya hanya berusaha menyempatkan diri di saat sedang istirahat sejenak, nanti jika semua urusanku selesai, maka semuanya akan kembali normal lagi seperti sedia kala, jadi saya ucapkan terima kasih atas kesabaran dan pengertian kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2