
Sekte Lembah Petir adalah sekte kecil aliran putih, sekte ini masih baru didirikan sekitar 105 tahun dan letak sekte mereka berada di wilayah Kerajaan Angin Selatan.
Sekte Lembah Petir jarang sekali terlihat, ada isu yang beredar jika mereka sering melakukan rutinitas bersama dengan kuil Gunung Suci yang letaknya berada di wilayah Kerajaan Angin Selatan juga.
Kegiatan Kuil Gunung Suci adalah sering menyebarkan Darma akan ajaran Budha. Sekte Lembah Petir juga ikut dengan mereka dan membantu para biksu-biksu tersebut.
Namun tidak semua sifat murid-murid dari sekte Lembah Petir berhati mulia, ada juga yang berhati mesum dan suka berbuat onar, mereka adalah para murid generasi baru.
"Sekte Lembah Petir ternyata juga tertarik akan acara seperti ini!" kata Xuao Lan sambil memperhatikan murid yang berasal dari Lembah Petir tersebut.
Di dalam arena sendiri Fai Han dan Rui Ling masih berusaha bertahan walau oksigen di dalam lingkaran tersebut semakin berkurang, itu di sebabkan putaran pemuda tersebut yang sangat cepat sehingga membuat udara di dalam yang ia lingkari semakin berkurang akibat rotasi putaran yang super cepat.
Fai Han berusaha untuk tetap tenang dan mencari cara agar bisa menghentikan langkah lawannya sebelum akhirnya dia menemukan ide setelah melihat bongkahan es dari bekas pertarungan kedua Putri Kembar Mei.
Fai Han menendang bongkahan es tersebut dengan sangat kuat kearah depan agar lawannya menginjak bongkahan tersebut, alhasil pemuda tersebut menginjak bongkahan es tersebut dan tergelincir dan jatuh terguling-guling dengan sangat keras hingga mencapai sudut diujung prisai.
"Kena kau..!" kata Fai Han dengan tersenyum lebar kemudian bergegas lari menuju kearah pemuda tersebut.
Rui Ling akhirnya bisa kembali bernafas setelah beberapa saat merasakan sesak akibat oksigen yang menipis.
"Kau curang..!" ucap pemuda tersebut yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat terguling dengan sangat kencang.
"Aku curang? Tidak aku hanya berusaha untuk menghentikanmu saja, aku rasa kamu perlu istirahat bukan setelah berlari sekencang itu!" kata Fai Han yang tersenyum lebar kearah pemuda tersebut.
Pemuda tersebut merasa kesal karena merasa diejek oleh Fai Han namun dia sendiri masih belum bisa berbuat apa-apa karena rasa sakit disekujur tubunya yang ia rasa seperti semua tulang-tulangnya terasa patah.
"Kalau begitu kamu istirahat dulu dan ini aku ambil, sekarang pergilah istirahat dan doakan kami agar bisa menang," kata Fai Han sembari mengambil tiga lencana pemuda tersebut yang terikat di pinggangnya.
Setalah mengambil lencananya, Fai Han dan meminta Rui Ling untuk mendorong pemuda tersebut kelar dari arena dengan menggunakan selendangnya.
"Aku sejak tadi ingin bertarung dengannya namun tidak ada kesempatan sama sekali karena mereka itu," kata Fai Han sambil memandanh Pangeran Ming Zai yang juga bertarung dengan dua lawannya sekaligus.
***
Saat ini pangeran Ming Zai sedang berhadapan dengan dua orang pemuda yang lebih muda darinya.
"Sihir Api Serangan Bola Api."
Pangeran Ming Zai menembakkan beberapa bola api kearah mereka berdua dan dengan cepat mereka menahan serangan tersebut.
"Sihir Bumi Dinding Bumi."
__ADS_1
Bola-bola api tersebut menabrak dinding yang terbuat dari tanah yang muncul dari bawah salju sehingga bola api tersebut hanya hancur disana.
"Boleh juga, bagaimana dengan ini."
"Sihir Api Semburan Api."
Kali ini pangeran Ming Zai menyemburkan api yang lumayan besar dan membentur dinding tanah tersebut hingga hancur.
"Sihir Bumi Kurungan Bola Bumi."
Salah satu dari mereka membuat bola tebal yang terbuat dari tanah dan mengurung dirinya beserta satu rekannya sehingga api yang menyembur kearah mereka hanya menghantam bola tanah yang tebal tersebut, namun panasnya masih sedikit terasa.
Pangeran Ming Zai melotot melihat sihir apinya yang berhasil dihindari oleh mereka berdua, "Mereka berdua sungguh merepotkan saja," gumam pangeran Ming Zai.
Mereka berdua kembali membuka bola tanahnya dan menatap Ming Zai seraya memperhatikanya.
"Sepertinya aku mengenalimu. Jika dugaannya tidak salah kamu pasti pangeran Ming Zai putra mahkota dari Kerajaan Api Timur bukan?" kata salah satu pemuda yang menjadi lawan Ming Zai.
"Kalau benar kanapa?" tanya Ming Zai dengan nada sombongnya.
"Ternyata kabar yang beredar itu memang benar jika pangeran memanglah seorang pangeran yang angkuh, manja dan arogan!" kata salah satu dari mereka lagi.
"Sihir Api Semburan Naga Api."
Ming Zai melepaskan sembuaran api yang lebih besar dari sebelumnya, bahkan jika dilihat dari api yang di lepaskannya itu setara dengan kekuatan Tingkat Menengah.
Panas Api tersebut menyebar keseluruh arena sehingga rasanya seperti hampir membakar seluruh peserta yang tersisa.
"Sihir Bumi Dinding Batu Bumi."
Kedua lawannya tidak menduga jika Ming Zai ternyata memiliki kekuatan yang setara dengan Pendekar Menengah sehingga mereka berdua harus menggabungkan kekuatan untuk menahan api yang cukup besar dan panasnya yang merata keseluruh arena pertandingan.
"Sihir Debu Prisai Debu Merah."
Gadis kecil bercadar juga melepaskan sihirnya untuk membuat prisai namun untuk dirinya sendiri, sedangkan yang lain berusaha membuat prisai pertahan masing-masing.
"Sihir Angin Pusaran Badai Angin."
Xian Fai dan yang lainnya membuat pusaran kecil dengan menggunakan ketiga kekuatan mereka, karena kekuatan mereka masih belum cukup untuk menghalau api tersebut.
"Apa yang dipikirkan pangeran Ming Zai?" Jendral Jin Hang terkejut ketika melihat Ming Zai yang ingin membunuh kedua lawannya.
__ADS_1
Bukan hanya Jendral Jin Hang saja yang kaget, melainkan seluruh penonton dan peserta ikut kaget termasuk Raja Bao dan juga ke Lima Jendral Kerajaan Es Utara.
"Hentikan pangeran..!" teriak Jendral Jin Hang seraya bergerak menuju ke prisai es untuk masuk dan menghentikan Ming Zai.
"Sihir Es Asap Pembeku."
Bing Mei dan Zhu Mei melepaskan kabut tebal yang sangat dingin untuk menetralkan panasnya api tersebut sekaligus mencoba untuk menghentikan Pangeran Ming Zai.
Tanpa di sadari oleh siapapun jika gadis kecil bercadar sedang mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
Gadis bercadar sempat menoleh ke kursi penonton dan menatap dua pria yang sedang duduk di kursi paling depan. Gadis kecil tersebut menganggukkan kepala kepada Kedua pria tersebut yang dibalas dengan anggukan juga oleh kedua pria tersebut.
Saat tidak ada yang menyadari akan sikap gadis kecil itu, Chinmi lah yang justru memperhatikannya. Dia menangkap gerak-gerik gadis tersebut dan memandang kearah dua pria yang di tatap oleh Sang gadis bercadar.
"Ini ada yang salah! Senior Xuao, Bibi Rong cepat jemput kembali Xian Fai dan yang lainnya!" kata Chinmi yang menyadari akan gerak-gerik gadis bercadar dan dua pria yang duduk di kursi paling depan.
"Tenaglah Chinmi, disana ada Lima Jendral dan ditambah satu Jendral dari kerajaan Api Timur, mereka pasti bisa menghentikan kekacauan ini," kata Xuao Lan dengan tenang.
"Bukan itu senior... arghh..!" Chinmi mengerutu tidak karuan karena sulit untuk menjelaskannya.
Chinmi segera keluar dari tempat duduknya dan berlari kearah dua pria yang saat ini memegang sesuatu di kedua tangannya.
"Chinmi, kamu mau kemana? Cepat kembali..!" teriak Yue Rong memanggil Chinmi.
Tidak ada yang memperhatikan Chinmi yang berlari ke arah dua orang pria yang mencurigakan tersebut, bahkan Chinmi juga tidak peduli akan panggilan Yue Rong.
Kedua pria tersebut mendengar akan teriakan Yue Rong dan kemudian melihat Chinmi yang berlari kearah mereka berdua dengan sangat cepat.
"Anak itu sepertinya mengetahui akan apa yang akan kita lakukan," kata salah seorang dari mereka.
"Kalau begitu lakukan saja sekarang sekaligus segera memberi sinyal kepada yang lain," kata temannya.
"Baiklah Sou Luan, mari kita lakukan!"
"Kabut Racun Merah."
Kedua pria tersebut mengeluarkan asap merah dari sebuah botol dan kemudian asap merah tersebut langsung menyebar memenuhi seluruh lapangan.
"Apa ini..?" Chinmi segera menghentikan langkahnya ketika kedua pria tesebut melepaskan asap merah yang lansung menyebar luas dengan sangat cepat.
"Awas jangan sampai menghirup asap ini, asap ini adalah racun..!" teriak Zhihui dan suaranya terdengar kesemua penjuru.
__ADS_1