PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Kebenaran


__ADS_3

***


"Yang mulia, sepertinya informasi yang kami dengar tidak salah."


"Penasehat Zu, itu tidak mungkin! Mana mungkin mereka bertiga akan berusaha merebut istana ini?"


"Yang Mulia, selama ini Yang Mulia tidak pernah mendengarkan nasehat hamba, sekarang Yang Mulia juga tidak percaya akan informasi yang Hamba sampaikan!"


"Penasehat Zu, bukannya aku tidak percaya, namun aku sangat mengenali pendekar Mao Tse, jadi menurutku tidak mungkin dia akan tega menyerang balik kerajaan kita!"


Penasehat Zu Chin dan Raja Shao Ming saling berdebat, Zu Chin berhasil menemukan informasi jika Mao Tse mengundang dua panglima Gajah dan Elang dari Sungai Darah bukan untuk melindungi Kerajaan Angin Selatan, melainkan mereka ingin merebut dan menguasai Kerajaan Angin Selatan.


Namun Raja Shao Ming sulit untuk percaya terhadap laporan yang di sampaikan boleh Zu Chin.


"Yang Mulia sadarlah, tidak semua orang yang kita kenal baik selama akan menjadi baik!" kata Zu Chin.


"Baik anggap saja aku percaya terhadap ucapanmu, kita lihat apakah semuanya terbukti benar atau tidak!" kata Shao Ming kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Zu Chin.


"Kau sungguh sangat bodoh, jika sikap mu seperti ini terus, aku tidak akan ikut campur jika suatu saat perkataan ku jadi kenyataan!" gumam Zu Chin kemudian dia berniat pergi.


Ketika baru bangkit dari kursinya, suara tepuk tangan seseorang terdengar dari balik tirai.


"Hahaha..! Usaha yang bagus Zu Chin, namun sayang Raja mu tidak mempercayaimu!"


Zu Chin menoleh kearah sumber suara tersebut dan ternyata yang berbicara adalah Mao Tse.


"Sejak kapan kamu berada di sana?" tanya Zu Chin.


"Emm..! Aku lupa, namun aku berada di sini sejak kalian baru datang," jawab Mao Tse.


"Jadi kamu mendengarkan semua pembicaraan kami?" tanya Zu Chin.


"Semuanya, tidak satupun yang tidak di dengar oleh ku," jawab Mao Tse sambil terkekeh.


"Jadi benar kalian sebenarnya ingin menyerang Kerajaan ini?"


"Zu Chin, sebenarnya aku kagum akan kelihaian dirimu dalam mencari informasi, dari pada kamu melawan, lebih baik kamu ikut bergabung dengan kami!" kata Mao Tse.


Zu Chin adalah tipe Manusia yang jarang setia, hanya kepada kelompoknya saja ia tidak pernah berhianat, namun jika kepada kelompok yang lain, baik itu Kerajaan maupun bukan, dia tidak akan mau setia jika kelompok yang ia ikuti terlihat tidak ada harapan untuk bertahan.


"Zu Chin, bukan hanya kamu saja yang jago dalam mencari informasi, aku juga bisa mencari informasi akan siapa sebenarnya. dirimu!" kata Mao Tse sehingga membuat Zu Chin menatap Mao Tse dengan tatapan tidak percaya.


"Apa yang kamu tentang diriku?" tanya Zu Chin.


Mao Tse tersenyum sinis sesaat kemudian dia mulai mengatakan akan apa yang ia dapatkan dari informasi yang ia kumpulkan tentang Zu Chin.


"Aku tahu kamu dan anggota keluargamu terdahulu menyimpan dendam terhadap Kerajaan Bumi Barat, bisa di katakan perang ini hanyalah untuk membalas dendam, dan sumber dari semua masalah ini adalah dirimu dan anggota keluargamu yang terdahulu!" kata Mao Tse.


Zu Chin hanya bisa menatap Mao Tse dengan tatapan tidak percaya karena yang di katakan oleh Mao Tse memang benar.


"Bagaimana, apakah kamu ingin aku mengatakan akan siapa dirimu yang sebenarnya dan semua rencana busuk mu dai balik kesetiaan mu itu pada Shao Ming?" tanya Mao Tse yang merasa sudah menang.


"Sudah cukup jangan di teruskan lagi!" kata Zu Chin, dia khawatir jika perkataan Mao Tse di dengar oleh para prajurit atau pihak petinggi Kerajaan.


"Jadi bagaimana, apakah kamu mau bergabung dengan ku atau lebih memilih ikut hancur bersama Shao Ming?" tanya Mao Tse.


Zu Chin masih berusaha berpikir, menurutnya dia lebih baik mendukung pihak yang lebih menguntungkan, dan sudah jelas jika Mao Tse dan semua anggota Sungai Darah adalah kelompok yang kuat dan pasti nya bisa menggulingkan Kerajaan Angin Selatan dengan mudah.


"Aku tidak bisa memutuskannya sekarang, jadi beri aku waktu!" kaya Zu Chin.


"Baiklah aku akan menunggu keputusanmu, namun waktumu hanya 27 hari, jika lebih itu maka sudah terlambat bagiku untuk bergabung dengan kelompok ku, dan pastinya kami sudah akan menggulingkan Kerajaan ini bersama semua yang mendukung Shao Ming," kata Mao Tse.


"27 Hari, itu artinya para kelompok dari Sungai Darah akan tiba setelah 27 hari dari sekarang?" tanya Zu Chin.


"Kau pikirkan saja sendiri, dan selalu ingat akan tawaranku ini yang hanya akan berlaku sekali, namun kamu masih memiliki banyak waktu!" kata Mao Tse kemudian dia pergi meninggalkan Zu Chin sendirian dengan tawa lantang.

__ADS_1


Zu Chin kini mulai berpikir apakah akan tetap mendukung Shao Ming atau justru berpindah dan memihak kepada Kelompok Sungai Darah yang akan datang 27 hari lagi.


Zu Chin masih berpikir, di benua Daratan Selatan memang banyak sekali pendekar sakti, namun akhir-akhir ini di Benua Daratan Tengah juga ada yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, bahkan 20 Pendekar tingkat tinggi yang seharusnya tidak bisa mengalahkan salah satu dari mereka justru kalah dan gugur di Medan perang.


Zu Chin mulai merasa dilema, namun dia tetap berusaha bersikap tenang dan berjalan keluar untuk kembali ke kediaman nya.


***


Jarak antara Benua Daratan Selatan dan Benua Daratan Tengah sangat jauh, bahkan butuh waktu berbulan-bulan untuk menyebrangi Samudra.


Namun semua itu tidak berlaku bagi seratus orang yang saat ini sedang terbang dari Benua Daratan Selatan menuju ke Benua Daratan Tengah.


"Panglima Gajah, sebaiknya kita istirahat dulu di depan!" kata salah seorang kepada pria berumur sekitar 60 tahun, namun sebenarnya umurnya lebih tua dari yang terlihat.


Walau sudah terlihat berumur 60 tahun, namun rambut serta kumis nya masih berwarna hitam, tubuhnya besar dan tinggi tubuhnya setinggi dua meter.


"Kamu benar, sebaiknya kita istirahat dulu di pulau itu!" kata Pria tersebut yang di panggil Panglima Gajah.


"Panglima Elang mari kita istirahat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan kita esok hari!" ajak Panglima Gajah kepada seorang wanita yang terlihat seumuran dengannya dengan rambut berwarna putih dan panjang.


"Apakah kamu sudah merasa lelah? Ini belum setengah dari perjalanan kita, kenapa kita harus istirahat dan melakukan hal yang tidak perlu?" tanya wanita tersebut yang di juluki Panglima Elang.


"Zian Mei, kita mungkin tidak perlu beristirahat dan bisa terus terbang hingga sampai ke Benua Daratan Tengah, namun kita juga manusia yang butuh istirahat bukan?" kata Panglima Gajah.


"Kenapa kamu memanggil namaku Tio Xang?" kata Panglima Elang dengan geram.


Kedua panglima tersebut hanya di kenal sebagai Panglima dan tidak ada yang mengetahui nama mereka sebenarnya kecuali masing dari para panglima.


"Sudahlah mari kita istirahat dulu!" kata Panglima Gajah.


Semuanya segera menuju kearah salah satu pulau berukuran cukup besar, keseratus kelompok tersebut segera mendarat di pinggir pantai dan melihat ke sekeliling pantai dan juga daratan.


Terlihat ada banyak rumah di bawah pohon kelapa yang juga banyak tumbuh berbaris, "Sebelum tiba di Benua Daratan Tengah, sebaiknya aku bersenang-senang dulu di sana!" kata Panglima Gajah kemudian berniat pergi ke rumah para penduduk yang terlihat dari tepi pantai.


"Kau sudah tahu bukan kalau aku memang suka terhadap gadis-gadis muda, apa lagi yang masih berumur belasan hingga dua puluh tahun, mereka bisa membuat dirimu semakin awet muda!" kata Panglima Gajah dan kemudian dia tidak mau lagi mendengarkan siapapun dan pergi menuju ke pemukiman penduduk dari pulau tersebut.


Panglima Gajah adalah salah satu Panglima yang memilki sifat buruk, namun di balik keburukannya bisa menghasilkan keberuntungan bagi nya.


Panglima Gajah sangat senang melecehkan gadis-gadis muda terutama yang masih belia, setelah puas memperkosa korbannya, dia membunuh gadis malang yang sudah ia perkosa dan darahnya ia minum sebagai syarat agar bisa terlihat lebih muda dan berumur panjang.


Sedangkan Panglima Elang lebih suka menculik bayi yang baru lahir kemudian dia akan memakan bayi tersebut mentah-mentah namun pastinya sudah mati, semua itu untuk menjaga tubuhnya agar tidak menua.


Tidak lama setelah kepergian Panglima Gajah, terdengar suara teriakan dari pemukiman penduduk dan semua itu adalah ulah Panglima Gajah yang membantai penghuni rumah tersebut jika tidak menemukan gadis di rumah itu.


"Bayi? Tenyata ada bayi kecil di pulau ini, aku akan mengambil nya?" gumam Panglima Elang kemudian dia menoleh kepada para anggotanya.


"Kalian semua tunggu di sini hingga kami berdua kembali!" kata Panglima Elang kemudian dia segera melesat ke arah pemukiman yang ada suara tangisan bayi,"


Kedua panglima kini menikmati pemburuan mereka dan melenyapkan desa tersebut sekaligus membunuh semua penghuninya.


Panglima Elang sendiri sudah mendapatkan sekitar tiga bayi, sedangkan Panglima Gajah sudah melecehkan dua gadis muda dan kemudian membunuhnya sebelum akhirnya meminum darah mereka.


Semua terjadi begitu cepat, dan tidak sampai setengah hari saja, pemukiman yang cukup banyak di pinggir laut lenyap dan hanya menyisakan mayat dan bau amis darah sekaligus api yang membakar pemukiman penduduk.


Setelah berada disana selama semalaman, mereka semua kembali terbang menuju ke Benua Daratan Tengah dengan kecepatan tinggi, sedangkan para penduduk dari tempat lain baru tiba setelah melihat kepulan asap di tempat tersebut.


"Tunggulah Benua Daratan Tengah, kami akan menguasai wilayah kalian dengan cepat!" gumam Panglima Gajah kemudian menambahkan kecepatan terbangnya, dan mereka akan tiba paling lambat 25 hari lagi dan paling cepat sekitar 23 hari.


Tujuan pertama mereka adalah menggulingkan Kerajaan Angin Selatan terlebih dahulu, setelah itu mereka akan menaklukkan kerajaan yang lainnya, sebagai bentuk balasan kematian kedua puluh anggota mereka.


Surat yang di kirimkan oleh Mao Tse menjelaskan jika kedua puluh anggotanya di bunuh oleh tiga pasukan dari tiga Kerajaan yang bergabung saat pertempuran terjadi.


Karena itu dari semua para anggota yang kuat, hanya lima panglima yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, dan dua di antaranya adalah Panglima Gajah dan Panglima Elang, dan Mao Tse meminta kepada pemimpin kelompok Sungai Darah untuk mengirimkan dua panglima saja.


Menurut Mao Tse, itu sudah cukup menaklukan seluruh Benua Daratan Tengah dan Mao Tse yakin jika dalam waktu dua tahun saja, Benua Daratan Tengah akan dapat di kuasai seluruhnya.

__ADS_1


***


"Aku kembali lagi ke tempat ini!" kata Chinmi setelah dirinya kembali muncul di dunia ciptaan Lio Long.


"Chinmi, apakah kamu melepaskan wanita itu?"


Ketika Chinmi masih mengamati dunia ciptaan Lio Long yang sudah mulai berubah saat terakhir kali dirinya berada di sana, Qie Yin datang dan menanyakan akan Fui Xixi kepada Chinmi.


"Ah, aku tidak melepaskannya, namun hanya meninggalkan nya di kamar itu dalam kondisi terikat!" jawab Chinmi.


"Kenapa kamu tidak membunuhnya saja sebelum kesini!" kata Qie Yin dengan nada kesal dan terlihat marah


Chinmi hanya tersenyum tipis, hal yang ia khawatirkan kini benar-benar terjadi, dan beruntungnya di sana ada Ho Chen sehingga dia menengahi keduanya.


"Nona Yin, Chinmi tidak melakukan itu karena aku yang meminta nya untuk membiarkan nya dan tidak membunuhnya," kata Ho Chen.


Qie Yin tidak bisa menjawab atau memarahi Ho Chen sehingga hanya bisa menatap kearah Chinmi dengan penuh kesal.


"Jika kalian ingin berbicara berdua, bicaralah! Setalah itu datanglah kalian berdua padaku karena ada rahasia yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua terutama padamu Nona Yin," kata Ho Chen kemudian dia meninggal Chinmi dan Qie Yin berdua.


Chinmi hanya bisa diam setelah Ho Chen sudah pergi, sedangkan Qie Yin juga ikut terdiam sehingga suasana menjadi hening.


"Chinmi! Maafkan aku, seharusnya aku tidak menyalahkan mu, akulah yang bersalah karena pergi lebih dulu dan meninggalkan mu," kata Qie Yin.


"Aku tidak pernah menyalahkan mu, jadi mari kita lupakan masalah ini karena saat ini kita sudah tidak di dunia kita lagi!" kata Chinmi.


Mereka berdua bersama-sama melangkah menuju ke arah Ho Chen yang saat ini sedang duduk bersama Yinfei.


"Apakah kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka sepertinya berusaha melindungiku dari sesuatu?" tanya Qie Yin sambil berjalan.


"Apakah kamu lupa saat di pertempuran itu? Bukankah mahluk aneh itu sudah memintamu pada She Chin dan berniat mebawa mu?" kata Chinmi mencoba kembali mengingatkan Qie Yin kepada She Long.


"Tentu saja aku ingat, tapi apa yang mahluk itu inginkan dariku?" tanya lagi Qie Yin.


"Jawabannya hanya senior Chen yang tahu, dan karena itu Senior Chen dan senior Yinfei berusaha melindungi mu dari mahluk itu!" kata Chinmi.


"Benarkah, kalau begitu aku akan bertanya padanya!" kata Qie Yin kemudian dia mempercepat langkahnya.


Setelah beberapa saat mereka tiba di hadapan Ho Chen dan juga Yinfei kemudian mereka berdua duduk untuk mendengarkan akan apa yang ingin Ho Chen sampaikan.


"Apakah kalian sudah selesai mengobrol nya?" tanya Ho Chen untuk memastikan.


Chinmi dan Qie Yin sama-sama mengangguk dan kemudian mereka berdua mulai mendengarkan Ho Chen yang mulai menjelaskan sesuatu kepada mereka berdua.


"Sekarang sudah waktunya bagimj untuk mengetahui akan apa yang kebenaran akan siapa dirimu," kata Ho Chen kepada Qie Yin kemudian mulai menceritakannya.


Ho Chen menjelaskan akan apa maksud dari She Long yang sesungguhnya dan mengapa ia mengincar Qie Yin.


Alis Qie Yin naik turun saat mendengarkan cerita dari Ho Chen, dia sama sekali tidak percaya akan cerita dari Ho Chen.


"Tunggu! Aku ini bukan seorang Dewi sesuatu atau apapun namanya, kenapa mahluk itu menganggap aku sebagai Dewi itu?" tanya Qie Yin.


"Nona Yin, aku mengerti jika ini sulit di terima, namun kenyataannya memang demikian, dan jalan satu-satunya agar kamu bisa selamat dari semua itu adalah, kamu harus bisa sampai ke tingkat keabadian, hanya itu cara yang lebih baik agar She Long tidak bisa menghilangkan ingatanmu!" kata Ho Chen.


"Aku? Mana mungkin aku bisa mencapai tingkat itu seperti Chinmi, bukankah senior Lio bilang kalau yang di takdir kan memiliki kekuatan Dewa itu hanya Chinmi?" tanya Qie Yin.


"Itu karena kami tidak tahu akan siapa dirimu! Namun aku tidak bisa menceritakan akan semuanya tentang dirimu, dan lebih baik kamu tidak perlu mengetahuinya!" kata Ho Chen.


Ho Chen khawatir jika sampai Qie Yin mengetahui akan siapa dirinya sebelum bereinkarnasi, bisa-bisa sifat jahatnya kembali.


Karena itu Ho Chen lebih memilih ingatan Chinmi yang sekarang, walau terlihat hatinya sedikit hitam, namun sebenarnya Qie Yin sangat baik.


"Sudahlah, sebaiknya kamu berlatih di bawah bimbingan Senior Yinfei, dan Chinmi aku yang akan membimbingnya, suatu saat nanti aku juga akan mengajarimu juga jika sudah waktunya bagimu untuk memasuki tingkat keabadian!" kata Ho Chen.


Walau masih ragu, namun Qie Yin tetap menurut dan akan mencoba berlatih di bawah bimbingan Yinfei untuk bisa menembus ke tingkat Dewa Bumi atau keabadian.

__ADS_1


__ADS_2