
Perlahan tapi pasti, tubuh semua para pasukan Mayat Hidup mulai membeku termasuk Liang Gwo dan Liang Zang.
Tubuh mereka semua tertutup oleh pohon-pohon yang mulia meninggi, bahkan ada satu pohon Es yang tumbuh lebih tinggi dari yang lainnya dan di ujung pohon tersebut muncul bunga teratai es yang sangat besar.
"Bukankah ini segel yang dulu pernah hilang? Kenapa Bing'er bisa menguasainya? Padahal dulu tidak satu orang pun yang bisa menggunakan sihir ini!" batin Zhihui.
Zhihui pernah mendengar jika Segel Pohon Dewa Es tidak bisa digunakan oleh sembarang orang, bahkan penemu sihir tersebut juga tidak bisa menggunakan nya.
Liang Gwo juga mengetahui segel tersebut namun tidak untuk Liang Zang. Yang mengetahui akan sihir Segel yang hilang itu hanyalah para pendahulu saja, sedangkan yang baru hanya generasi Zhihui dan Liang Gwo saja.
Sejarah yang sebenarnya jika kitab Sihir Segel Pohon Dewa Es bukan hilang, melainkan di sembunyikan oleh Ketua Generasi Ke dua.
Alasannya Ketua Generasi ke dua menyembunyikan kitab tersebut karena sangat sulit dan sangat berbahaya bagi penggunanya.
Butuh energi yang luar biasa bagi pengguna segel Pohon Dewa Es tersebut, jika tidak maka pengguna sihir segel tersebut akan lemas karena kehabisan energi, dan jika tetap di paksakan, maka penggunanya bisa mati.
Untuk cara penggunaan dan resikonya, Zhihui dan Liang Gwo sudah tahu. Mereka hanya tidak tahu jika kitab tersebut tidak hilang, melainkan di sembunyikan.
Namun salah satu murid Ketua Sekte Pulau Es Generasi ke dua sempat menulis isi kitab tersebut di dinding makam kuno tempat para leluhur terdahulu, dia berharap akan ada yang bisa menemukannya dan menguasainya sehingga bisa melindungi Sekte kelak di masa depan.
Zhihui kini semakin cemas karena Pohon Dewa Es semakin tinggi dan Bungan Teratai Raksasa berwarna biru terang juga mulai bermunculan di ujung pohon es tersebut yang sudah tinggi.
Bing Mei sendiri hampir tidak mampu mempertahankan Segel tersebut, walau kekuatannya sudah berada di tingkat Raja Alam, tetap saja Bing Mei belum mampu menggunakan segel tersebut dengan sempurna.
Darah mulai keluar dari tepi bibir Bing Mei karena energinya yang terkuras, namun Bing Mei tetap berusaha mempertahankan nya.
"Tinggal sedikit lagi, aku harus bisa, jika tidak maka Sekte ku akan dalam bahaya!" gumam Bing Mei.
"Bing'er!" Zhihui juga bergumam saat melihat kondisi Bing Mei yang mulai menghawatirkan.
"Cucuku! Kau pasti bisa, ayo cepat bebaskan Roh kami!"
Liang Gwo justru memiliki pemikiran berbeda dengan Zhihui, dia berharap Bing Mei bisa menyelesaikan nya karena itu dia menaruh harapan padanya.
Liang Zang sendiri sama seperti Zhihui, dia sangat khawatir dengan kondisi Bing Mei, dan dia dapat melihatnya dengan sangat jelas dari dalam Pohon Es.
Bing Mei menggunakan sisa energinya untuk menyelesaikan segel nya, dan seketika itu juga puluhan pohon es yang sudah menyegel ratusan mayat hidup di dalamnya sudah tumbuh bunga teratai es raksasa yang sangat indah dengan warna biru terangnya.
Setelah segelnya sudah sangat sempurna, Bing Mei jatuh berlutut dengan satu lutut kanannya menyentuh es dan satu tangan kirinya juga menahan tubuhnya agar tidak ambruk, tidak lama kemudian dia muntah darah.
"Bing'er...!" Zhihui segera menghampirinya dan memegang pundaknya.
"Nenek! Aku sudah berhasil menyegel mereka, tapi maaf Kakek dan ayah juga harus ikut tersegel," kata Bing Mei yang mulai bangkit lagi dan dia di bantu oleh Zhihui.
"Tidak apa-apa Bing'er, namun yang baru saja kau lakukan sungguh membuatku sangat khawatir!" kata Zhihui yang berusaha untuk tersenyum walau sebenarnya dia juga merasa sedih karena Liang Gwo dan Liang Zang yang juga tersegel.
"Nenek! Maafkan aku karena aku tidak memberitahu mu jika aku mempelajari ilmu ini, namun aku merasa puas karena sudah berhasil menyelesaikan ilmu ini dengan sempurna, walau energi ku hampir habis!" kata Bing Mei.
Saat mereka berdua masih saling berbincang, tiba-tiba saja ada cahaya putih terpancar dari dalam segel tersebut, tidak hanya satu pohon, melainkan semuanya bercahaya sangat terang.
"Apa ini? Apakah segel ku gagal?" tanya Bing Mei.
"Aku juga tidak tahu Bing'er! Namun kita harus bersiap-siap, siapa tahu mereka akan keluar dari dalam dan kembali menyerang kita," kata Zhihui.
Bing Mei yang sudah banyak kekurangan energi kembali berusaha untuk bangkit, walau energinya hanya tersisa sedikit, namun dia tetap akan berusaha untuk terus bertarung dengan sisa energi yang ia miliki.
__ADS_1
Namun setelah beberapa saat kemudian cahaya tersebut menembus keluar dari pohon es dan kemudian berubah bentuk menjadi sebuah kabut berbentuk manusia.
"Cucuku terima kasih karena kamu sudah membebaskan Roh kami, sekarang kami sudah bisa kembali lagi ke Akhirat," kata Liang Gwo yang berbentuk kabut, namun wajahnya masih bisa terlihat sangat jelas serta dia tersenyum kepada Bing Mei.
"Putriku, ayah sangat bangga padamu! Dan ibu, terima kasih karena sudah menjaga dan mendidik putri ku hingga dia jadi gadis yang sangat cantik dan juga hebat!" kata Liang Zang, dan Zhihui hanya bisa tersenyum sedih, dia menyadari jika kekuatan Bing Mei bukan karena dirinya, melainkan karena dia memiliki empat Pertapa sebagai guru cucunya.
Baik Zhihui maupun Bing Mei sama-sama tidak mampu menahan air mata mereka. Zhihui tidak menduga jika dia akan bertemu lagi dengan dua orang yang paling ia sayangi.
Bing Mei juga merasakan hal yang sama dimana dia yang sama sekali tidak pernah melihat kakek serta ayahnya kini dipertemukan kembali, namun dalam wujud sebagai mayat hidup.
"Ayah, kakek! Beristirahatlah kalian dengan tenang di sana!" kata Bing Mei dengan suara sedih.
Kabut dari wujud para mayat hidup semakin menghilang, namun Liang Gwo dan Liang Zang masih sempat menyampaikan kalimat terakhir mereka.
"Cucuku! Aku percayakan Sekte ini padamu! Kakek percaya jika Sekte ini akan jaya dibawah kepemimpinan mu," kata Liang Gwo.
"Putri ku! Selamat tinggal, ayah sangat senang bisa melihatmu, karena dulu ayah tidak sempat melihatmu saat masih bayi, sekarang aku dan kakek mu akan melihatmu dari alam lain!" kata Liang Zang dan kemudian tubuh mereka mulai menghilang dan kemudian lenyap di udara.
Kabut dari perwujudan Roh yang lain sama-sama membungkukkan badan mereka sebagai tanda ucapan terima kasih mereka kepada Bing Mei, setelah itu mereka semua juga ikut lenyap di udara.
Bing Mei mengepalkan kedua tangannya dengan keras, "Siapa orang yang telah membangkitkan mereka? Ini sungguh tidak bisa di biarkan!" kata Bing Mei.
"Aku tahu siapa orangnya!" kata Zhihui.
Bing Mei segera menoleh kearah Zhihui, "Nenek tahu orang nya? Siapa dia itu Nek? Katakan padaku! Aku akan memberi pelajaran padanya," kata Bing Mei dengan wajah terlihat sangat marah.
"Di Benua Daratan Tengah ini hanya ada satu Sekte yang sering menggunakan Roh, Sekte itu tidak lain adalah Sekte Lembah Hantu!" kata Zhihui.
"Sekte Lembah Hantu? Kalau begitu aku akan segera kesana dan akan segera aku hancurkan Sekte laknat itu," kata Bing Mei yang ingin pergi, namun dia hampir jatuh karena kekuatannya masih belum pulih.
"Bing'er, sebaiknya kamu pulihkan dirimu terlebih dahulu, setelah itu barulah kita akan pergi menyerang Sekte Lembah Hantu bersama-sama," kata Zhihui yang memegang tubuh Bing Mei.
"Senior benar, sekarang aku akan masuk untuk memulihkan diri terlebih dahulu, setelah itu kita akan pergi ke Sekte Lembah Hantu itu," kata Bing Mei kemudian dia berjalan memasuki Sekte untuk memulihkan diri dengan di bantu oleh Zhihui.
Bing Long merubah tubuhnya menjadi kecil dan kemudian dia menghampiri Mao Li untuk membantu meredakan sakit di lengannya yang terpotong.
"Te-terima kasih Naga," kata Mao Li yang tidak tahu nama Bing Long.
Bing Long segera menyemburkan kabut tipis kearah lengan Mao Li yang terpotong, dan setelah lukanya tertutup, Bing Long menyentuh dada Mao Li dengan kukunya.
Mao Li bisa merasakan hawa dingin yang masuk kedalam tubuhnya sehingga dia merasakan kesejukan yang berbeda.
"Pergilah dan pulihkan kekuatanmu!" kata Bing Long setelah selesai membantu mengobati Mao Li.
Mao Li mengangguk kemudian dia berjalan sambil memperhatikan pohon es yang masih berdiri di depan Sekte nya.
"Bagaimana caranya menghilang pohon es dan bunga teratai es raksasa ini?" gumam Mao Li sambil menggelengkan kepalanya karena tidak tahu apakah Pohon Dewa Es akan selamanya berada di tengah-tengah halaman Sekte, atau akan menghilang nanti nya.
Tidak hanya Pohon Dewa Es saja yang di pikiran oleh Mao Li, namun kondisi sekte yang sangat berantakan, dan di tambah lagi ada puluhan murid yang mati dan juga ratusan murid yang terluka.
"Andai saja saudara Bao Lang dan Lou We tidak menjalankan misi, mungkin tidak akan banyak murid yang menjadi korban!" gumam Mao Li kembali kemudian dia segera masuk kedalam untuk memulihkan kondisinya.
Ratusan murid yang selamat dan hanya mengalami luka ringan mulai mengumpulkan mayat saudara seperguruan mereka untuk di makamkan, suara tangis dan kesedihan mulai terdengar, namun apalah daya mereka.
Walau dalam kondisi lemah karena banyaknya murid yang terluka, namun mereka tetap akan membalas semuanya dengan serangan balasan.
__ADS_1
Berkat Bing Long, banyak murid yang terluka dengan cepat dapat diobati dan mereka bisa memulihkan diri mereka lebih cepat, sedangkan pemakan para murid yang gugur juga tetap dilakukan.
***
Di Kerajaan Bumi Barat juga sangat kacau akibat serangan yang sama dari Mayat Hidup.
Li Xiang dan para Jendral lainnya dengan cepat menyelamatkan para penduduk desa sekaligus semua Rakyat di Kerajaan Bumi Barat.
Semua itu berkat bantuan Yinfei dan juga Raja Tao yang mengurus para pasukan mayat hidup, Yinfei dan Raja Tao menyegel mereka semua dengan sangat cepat sehingga tidak banyak korban di pihak Kerajaan.
"Bagaimana Jendral Li, apakah semuanya sudah terkumpul disini?" tanya Zuo Yujiu.
"Kita tunggu Li Fang dulu, dia sedang membawa penduduk pinggir gurun kesini, dan mungkin sebentar lagi dia akan tiba!" jawab Li Xiang.
"Ijinkan aku akan menyusul nya!" kata Mei Xin.
"Baiklah Jendral Mei Xin, kamu memiliki kekuatan tercepat dari kami semua, segera susul Li Fang!" kata Li Xiang.
Mei Xin membungkuk kemudian berniat untuk pergi, namun saat dia hendak bergerak dengan kecepatannya, tiba-tiba saja kakinya tertahan oleh tanah yang bungkus kakinya.
"Sihir siapa ini? Kenapa ada yang berani menahan ku?" tanya Mei Xin.
Li Xiang dan Zuo Yujiu juga sama terkejutnya, mereka mencari keberbagai arah namun tidak menemukan siapapun.
Li Xiang yang masih kebingungan berniat melepaskan tanah tersebut, namun tiba-tiba ada tanah lain yang hampir membungkus kakinya juga.
Li Xiang segera melompat dan berhasil menjauh, namun setelah itu dia melihat ada butiran debu yang beterbangan ke udara.
Li Xiang dan kedua Jendral lainnya segera menoleh ke atas dan melihat seorang kakek-kakek sedang melayang di udara.
"Mayat Hidup lagi! Tapi kenapa kekuatan mayat hidup ini sangat berbeda?" tanya Zuo Yujiu.
"Dia memiliki kekuatan elemen tanah, tapi siapa dia? Bukankah yang memiliki Sihir Elemen Tanah seperti itu hanya dari keluarga Li sana?" tanya Mei Xin yang sudah berhasil melepaskan diri dari tanah yang menahan kakinya.
"Siapa di antara kalian yang mengenali keluarga Li?" tanya Mayat Hidup tersebut.
Zuo Yujiu dan Mei Xin terkejut mendengar nya, begitu pula dengan Li Xiang, "Jendral Li! Apakah kamu mengenalinya?" tanya Zuo Yujiu yang di jawab dengan gelengan kepala dari Li Xiang.
"Senior, Maaf siapakah senior ini dan mengapa senior bertanya akan keluarga Li?" tanya Li Xiang.
"Orang yang mengendalikan diriku memaksaku untuk melenyapkan Bumi Barat terutama anggota keluarga Li, dan aku sendiri juga berasal dari keluarga Li, namaku adalah Li Yao," kata Mayat Hidup itu kemudian tubuhnya mulai turun.
Semua rakyat yang sudah berkumpul agak jauh dari Li Xiang dan jendral lainnya semakin ketakutan dan mereka perlahan-lahan semakin menjauh. Mereka takut jika sampai terjadi pertarungan dan mereka takut terkena serangan nyasar.
"Li Yao? Mustahil, bukankah Kakek Buyut sudah..!?" Li Xiang berhenti berbicara, dia memang tahu nama Li Yao, namun dia tidak tahu wajahnya karena Li Yao sudah lama mati jauh sebelum dirinya di lahirkan.
"Em..? Jadi masih ada yang mengenali namaku? Apakah aku begitu terkenal?" tanya Li Yao dan dia merasa bangga karena masih ada yang mengetahui namanya.
"Kakek buyut, namaku adalah Li Xiang anak Li Tian Tao Cucu mu!" kata Li Xiang.
"Benarkah? Jadi kamu adalah anak cucuku Li Tian Tao? Kalau begitu kau ini adalah cicit ku!" kata Li Yao yang tidak percaya jika dia akan bertemu dengan cicit nya.
Dulu Li Yao sempat melihat cucunya yang masih kecil yaitu Li Tian Tao sebelum dia pergi untuk ber kultivasi, namun dia gagal dan akhirnya sakit parah kemudian dia meninggal.
Namun dia masih ingat akan Li Tian Tao, dan sekarang dia tidak menduga jika dia akan bertemu dengan anak Cucunya sendiri.
__ADS_1
"Jendral Li, apakah dia itu benar-benar Kakek Buyut mu?" tanya Mei Xin.
"Sepertinya begitu jika melihat dari kekuatannya, hanya dia yang mampu mengendalikan tanah bahkan hingga debu terhalus sekalipun dia bisa mengendalikan nya, dan sekarang Ketua Sekte Penakluk Kegelapan juga mewarisi ilmu itu!" kata Li Xiang