
“Bagaimana, apa kamu sudah bisa merasakannya?” tanya lagi Fan Yuzhen.
“Guru, saya merasakan ada sesuatu yang aneh berputar disekeliling tubuh saya! Rasanya sejuk, hangat, namun kadang panas! Apa itu yang disebut Energi Qi?”
“Benar, itu adalah Energi Qi! Energi Qi adalah Energi yang tercipta dari unsur Alam seperti Air, Tanah, Angin, dan Api. Dari keempat Energi Alam itu masih ada Dua Energi lainnya yaitu Energi Kehidupan dan juga Energi Murni,” Fan Yuzhen menjelaskan satu persatu dari masing-masing Energi Qi.
Chinmi mendengarkan semua yang dijelaskan oleh Fan Yuzhe, bahkan dia tidak mau ada penjelesan yang terlewatkan olehnya.
“Sekarang kamu sudah mengetahui dan juga sudah bisa merasakan akan keberadaan Energi Qi, selanjutnya kamu harus mempelajari bagaimana caranya menyerap Qi tersebut, namun aku sarankan jangan dulu terlalu menyerap banyak Qi, karena tubuhmu masih belum cukup kuat untuk menyerap dalam jumlah besar,” kata Fan Yuzhen kemudian menyuruh Chinmi untuk kembali duduk bersila.
“Konsentrasi dan rasakan Qi yang ada di sekitarmu,” kata Fan Yuzhen.
Chinmi melakukannya kembali, namun kali ini dia bisa merasakan Qi diseluruh hutan tersebut, bahkan jumlahnya sangat banyak.
“Sekarang seraplah sedikit demi sedikit Qi tersebut, caranya tarik nafas dan bukalah rongga dadamu, kemudian seraplah Qi tersebut melalui tubuhmu dan alirkan kebawah pusaran perutmu, anggap saja kamu sedang menghisap Angin,” kata Fan Yuzhen.
Chinmi berusaha menyerap Qi tersebut, dengan cepat dia dapat merasakan hawa yang sangat hangat memasuki pori-pori kulitnya kemudian sensasi hangat tersebut mengalir didalam tubuhnya. Sampai disini Chinmi kebingungan, dia tidak tahu bagaimana caranya mengendalikan Qi di dalam tubuhnya untuk dikumpulkan dalam satu tempat, yaitu Dantian yang berada dibawah pusar perutnya.
Fan Yuzhen bisa melihat jika Chinmi kesulitan untuk menmgalirkan Qi yang sudah terserap kedalam tubuhnya, itu bisa dilihat dari pori-pori Chinmi yang mengembang pertanda Qi tersebut masih belum dikumpulkan menjadi satu ke Dantian yang dimilikinya.
“Chinmi, alirkan Energi Qi mu ke Dantian yang berada di bawah pusar perutmu, jika tidak tubuhmu akan hancur karena Qi yang kamu serap akan meledak jika kamu tidak segera mengalirkannya!”
Mendengar itu Chinmi terkajut, dia juga merasakan panas di sekujur tubuhnya, sensasi hangat yang ia rasakan kini semakin panas seperti membakar tubuh Chinmi dari dalam, “Aku harus bisa demi menyelematkan Ayah dan Ibu, aku tidak akan menyerah!” batin Chinmi.
Dengan tekad kuat, Chinmi akhirnya bisa mengendalikan Energi Qi yang sudah ia kumpulkan, namun semua itu tentu dengan arahan dari Fan Yuzhen, jika tidak dia tidak akan pernah bisa berhasil.
Setelah berhasil mengumpulkan sedikit Qi kedalam Dantiannya, Chinmi merasakan sesuatu keluar dari pori-pori kulitnya. Cairan lengket dengan warna sedikit kehitaman diserati dengan bau busuk yang menyengat memenuhi tubuhnya.
__ADS_1
“Apa ini?” Chinmi tidak kuat dengan bau busuk tubuhnya sendiri sehinnga panic dan buru-buru ingin membuka bajunya karena terasa lengket.
“Itu adalah darah kotor, darah yang selalu membuat dirimu merasa cepat lelah dan juga darah kotor itu juga yang menutup Dantianmu sehinnga tetap kecil, sekarang dengan terbakarnya darah kotormu dan sekarang sudah keluar, maka kamu pasti sudah tidak terasa lapar lagi bukan?”
“Emm, benar Guru! Saya sudah tidak merasa lapar lagi, aduh! Saya mau mencari sungai dulu untuk membersihkan badan yang lengket ini,”
“Di sebelah kanan sana ada danau, kamu besihkan tubuhmu disana!” kata Fan Yuzhen.
Sebenarnya Chinmi masih ingin bertanya kenapa dirinya tiba-tiba sudah tidak merasa lapar, namun karena badannya terasa lengket dan bau, dia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Tanpa bertanya apapun akan kondisi danau tersebut, Chinmi buru-buru pergi ke danau, dia langsung nyebur ke air danau dengan baju-bajunya, Chinmi membuka bajunya di dalam sungai kemudian mengucek baju tersebut dan keluar dari air dengan telanjang bulat hanya untuk menjemur bajunya setelah itu dia kembali berendam.
“Ahh.. Segarnya..!” Chinmi memejamkan matanya merasakan sejuknya dan dinginnya air danau tersebut, tanpa Chinmi sadari sepasang mata sedang memantaunya dari dalam Air.
“Apa cuma Guru saja yang mengetahui tempat aneh ini ya?” sambil menunggu bajunya kering, Chinmi yang masih berendam teringat akan dunia Hewan Iblis, dia penasaran apakah yang mengetahui keberadaan Dunia Hewan Iblis
itu hanya gurunya saja.
Chinmi segera tersadar dari lamunannya kemudian menoleh kebelakang. Dia tidak melihat apa-apa kecuali gelombang air seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam air, dan arahnya menuju ke arahnya.
“Apa yang bergerak itu?” Chinmi mulai merasa ada sesuatu yang besar sedang beranang menuju kearahnya sehinnga dengan cepat dia naik darat dan mengenakan kembali pakaiannya yang masih setengah kering tersebut.
Tidak lama kemudian, muncul kepala Buaya yang sangat besar menampakkan diri, besar kepalanya seukuran separuh rumah milik Chinmi, namun uniknya lagi, tubuhnya tidak seperti Buaya pada umumnya karena tubuh sang Buaya adalah tubuh ular.
“Manusia, sudah lama aku tidak makan daging manusia!” seru Buaya ular itu.
“Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan mengganggunya!” suara Fan Yuzhen juga terdengar, namun kali ini suara Fan Yuzhen mampu mengetarkan tempat itu.
__ADS_1
“Siapa itu? Tunjukkan wujudmu!” seru Buaya tersebut.
“aku disini!” Fan Yuzhen sudah berdiri di samping Chinmi, sedangkan Chinmin tidak mengetahui darimana munculnya Fan Yuzhen.
“Emm, ternyata ada dua manusia! Bagus, dengan begini aku akan merasa kenyang jika memakan kalian berdua,”
“Buaya dungu, kenapa kamu tidak mencoba dulu? Kita lihat siapa yang akan menjadi mangsa, dan siapa yang akan memangsa!” kata Fan Yuzhen.
“Beraninya kamu bicara seperti itu padaku! Apa kamu tahu siapa aku? Aku adalah..!”
“Buaya bodoh!” kata Fan Yuzhen memotong pembicaraan Buaya tersebut.
“Kau…!” Buaya tersebut terlihat sangat marah dia lansung keluar dari air danau tersebut dan badannya berjalan dengan melata, karena tubuhnya berbentuk seekor Ular. Buaya tersebut berniat menelan Fan Yuzhen hidup-hidup. Fan Yuzhen kembali menghilang dan muncul tepat dihadapan Buaya tersebutI.
“ingin menangkapku? Coba saja kalau kamu bisa.” kata Fan Yuzhen kepada Buaya tersebut.
“Banyak bicara!” Buaya tersebut sudah tidak sabar ingin menelan Fan Yuzhen.
Buaya tersebut langsung menyerang Fan Yuzhen dengan ekornya. Fan Yuzhen sendiri tidak bergerak dari tempat tersebut. Begitu mulut buaya tersebut sudah dekat, Fan Yuzhen mengangkat sebelah tangannya keatas.
“Tebasan Pedang Angin”
Fan Yuzhen mengayunkan telapak tangannya lurus kedepan, dan seketika terbentuk Energi Angin melengkung dan menebas Buaya tersebut hingga terpotong menjadi Dua bagian, dan Buaya tersebut tewas di tempat dengan tubuh terbelah dua.
Chinmi merasa takjub melihat itu, hanya dengan satu kali ayunan tangan bisa membuat buaya itu terpotong menjadi dua tanpa menggunakan pedang.
“Inikah kekuatan Guru Fan? Hebat…!” Chinmi sangat kagum melihat itu, dia tidak menduga jika gurunya itu sangat kuat.
__ADS_1
***
Untuk bonusnya insya allah besok malam saja ya? Karena besok saya sedang libur kerja jadi bisa fokus untuk menulis.