PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Pondasi jiwa


__ADS_3

Chinmi tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, dia segera melesat kearah kembaran jiwanya dan kemudian mengeluarkan banyak akar kecil dan melilit tubuh Kembaran Jiwa tersebut dengan sangat kuat.


"Lepaskan aku!" seru kembaran Jiwa tersebut seperti sedang kesakitan.


"Jadi elemen kayu benar-benar bisa membuatnya tidak berdaya!" batin Chinmi.


Dia tidak menduga jika Kembaran Jiwa sangat kesulitan saat terlilit oleh akar penghisap, ditambah lagi dia terlihat kesakitan.


"Kalau begitu aku akan mengakhiri semua ini!" seru Chinmi kemudian membuat sebuah pedang kayu.


Chinmi berniat untuk menebas Kembaran Jiwa dengan pedang kayu nya, namun yang terjadi kemudian semua akar yang melilit tubuhnya terbakar sehingga kembaran Jiwa kembali bebas dan balik menyerang Chinmi dengan api ditangan yang menyerupai pedang.


"Kenapa kamu terkejut seperti itu? Bukankah kamu sendiri juga memiliki sihir ini?" kata Kembaran Jiwa yang menyerang Chinmi dengan pedang api nya.


Chinmi berdecak kesal, anggapannya jika Kembaran Jiwa nya lemah terhadap kayu salah ternyata salah.


Mau tidak mau, Chinmi harus menggunakan sihir air, dia mengendalikan air bagai gumpalan air yang bisa digerakkan.


Mereka berdua kembali melanjutkan pertarungan dengan mengunakan berbagai macam sihir Elemen.


Nyatanya kembaran Jiwa Chinmi juga menguasai delapan elemen, dan kekuatannya juga melebihi dari kekuatan Chinmi.


Andai pertarungan mereka berdua berada di Dunia Chinmi, mungkin semua gunung akan meledak dan air laut akan naik ke daratan akibat pertarungan mereka yang begitu dahsyat.


Namun di dunia tempat mereka bertarung saat ini hanyalah dunia ilusi sehingga tidak ada pengaruh apapun dari pertarungan tersebut.


Namun walau hanya dunia ilusi, dunia tersebut akan mampu membuat jiwa Chinmi terperangkap dan tidak bisa kembali ke dunia nyatanya.


Nafas Chinmi sudah tidak teratur karena energi yang dimilikinya semakin berkurang. pertarungan dengan Kembaran Jiwa menguras energi Chinmi, namun kembaran Jiwa terlihat baik-baik saja, bahkan tidak terlihat kelelahan sama sekali.


"Sihir Besi Kurungan Bola Besi."


Ketika Kembaran Jiwa Chinmi mendekat, Chinmi membuat bola hitam yang semuanya adalah besi dan mengurung Kembaran Jiwa tanpa ada celah sedikitpun untuk bisa lolos.


Namun kurungan Bola Besi meleleh karena Kembaran Jiwa Chinmi menggunakan cairan yang mampu melelehkan besi tersebut.


"Sulit sekali mengalahkannya, apa cara ini benar atau tidak?" batin Chinmi.

__ADS_1


"Bagaimana, apakah kamu mengaku kalah?" tanya Kembaran Jiwa Chinmi sambil tersenyum lebar.


Chinmi hanya tersenyum kecut, harus ia akui jika dirinya tidak mungkin bisa mengalahkannya, setiap kali Chinmi mencoba menaikkan energinya, maka Kembaran Jiwa Chinmi juga menambahkan energinya juga.


"Aku masih sanggup untuk meladeni mu!" kata Chinmi yang berpura-pura masih mampu.


'Sudahlah, energi mu sudah mulai berkurang, jadi mengapa kamu masih belum mau menyerah?" tanya Kembaran Jiwa yang sudah berhenti menyerang Chinmi.


"Aku tidak mau terperangkap selamanya disini!" kata Chinmi.


"Itu hanya salah satu alasanmu saja! Apa kamu tidak memiliki alasan lain lagi selain dari itu?" tanya lagi Kembaran Jiwa.


Chinmi terdiam sesaat dan kemudian dia menjawab sekaligus menjelaskan alasannya kepada Kembaran Jiwanya.


"Aku memang memiliki alasan lain dari ini, aku datang kesini berharap untuk mengalahkan mu, jika aku bisa mengalahkan mu, maka satu pondasi ku akan bertambah dan aku juga ingin menjadi lebih kuat lagi dari ini," kata Chinmi.


"Ingin menjadi lebih kuat? Tapi untuk apa?"


" Untuk melindungi dunia dari kehancuran!" jawab Chinmi.


"Kamu tahu jika orang-orang seperti kalian selalu saja saling membunuh antar sesama, apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama jika kamu bisa mendapatkan kekuatan besar mu nanti?"


"Jika itu keinginanmu, itu sama saja kamu dengan orang-orang yang selalu menggunakan kekuatannya untuk saling membunuh."


Ucapan kembaran Jiwa Chinmi membuat Chinmi berpikir apakah Kembaran Jiwanya itu bermaksud untuk mengujinya.


"Aku berlatih agar menjadi kuat untuk menjaga diri! Lagi pula dalam peraturan dunia, yang kuat akan menindas yang lemah, dan yang kuat akan menjadi raja.


Aku bertekad akan mengubah peraturan itu, karena kami bukan binatang, dan aku akan menggunakan kekuatanku untuk melindungi yang lemah dari penindasan."


Pengalaman Chinmi akan dunia memang tidak banyak, namun dia mempelajari dari sedikit pengalaman, yaitu ketika melihat para rakyat miskin yang terpaksa harus mencuri demi bertahan hidup.


Namun mereka yang kuat dan berkuasa seolah menutup mata, dan justru mempersalahkan nasib para masyarakat miskin.


Jika ingin mengubah peraturan dan menegakkan keadilan, maka Chinmi harus menjadi lebih kuat, seperti yang dikatakan jika yang kuatlah yang berkuasa dan perkataanya akan di dengar oleh Dunia.


Kembaran Jiwa Chinmi mengangguk-anggukan kepala dengan tangan terlipat di depan dada, "Baiklah aku akan memberimu satu kesempatan lagi untuk mengalahkan ku," kata Kembaran Jiwa kemudian dia mundur dua meter kebelakang.

__ADS_1


"Kamu tahu, kekuatan yang terbesar dan terkuat adalah kekuatan jiwa, dan yang paling tangguh adalah hati, jika tekadmu itu kamu anggap benar, maka keyakinan akan mampu membuat dirimu mencapai tingkat yang lebih tinggi.


Sejak awal kamu tidak bisa mengalahkan ku bukan karena aku ini lebih kuat darimu, melainkan kamu sendiri yang tidak yakin. Jadi yakinlah dan percaya akan keyakinan serta tekadmu sendiri untuk mengalahkan ku."


Chinmi terkejut mendengarnya, dia baru sadar karena sejak pertama kali bertemu dengan kembaran jiwanya, dia sudah merasa tidak yakin. Ternyata itu penyebab melemahnya keyakinan dirinya dan merasa jika kembaran jiwanya memiliki kekuatan yang lebih tinggi darinya.


Dengan tersenyum tipis, Chinmi bersiap kembali untuk bertarung melawan kembaran jiwanya, kali ini dia yakin bisa mengalahkannya, karena tekadnya untuk menjadi kuat memiliki tujuan yang mulia.


Chinmi memejamkan matanya dan berusaha memperkuat kekuatan jiwanya, dan ternyata dia berhasil membangun pondasi keduanya, yaitu pondasi jiwa.


"Terima kasih atas pencerahannya!" kata Chinmi yang masih menutup mata dan kemudian tubuhnya mengeluarkan energi yang sangat kuat menyelimuti dirinya.


Chinmi membuka matanya dan kedua pupil matanya yang hitam, kini berubah warna menjadi warna biru.


Kembaran Jiwa Chinmi melesat kearah Chinmi dengan kepalan tangan yang diselimuti api dan memukul Chinmi dengan sangat kuat.


Chinmi menahan serangan tersebut dengan satu tangan saja, daya kejut dari keduanya membuat air dan pohon akar buatan Chinmi hancur berantakan, bahkan kembaran Jiwa Chinmi sampai terlempar jauh kebelakang.


Chinmi menghilang dan muncul kembali di belakang kembaran jiwanya dan memberikan pukulan yang sangat keras hingga tubuh kembaran jiwanya tinggal separuh.


Untungnya kembaran jiwanya hanyalah sebuah jiwa, jika itu sebuah raga, pasti tubuhnya akan hancur berkeping-keping.


"Kamu sudah berhasil! Baiklah kalau begitu aku mengaku kalah. dengan begini pondasi sudah sempurna, semoga apa yang kamu tekad akan selalu membuat dirimu yakin, dan aku percaya kelak kamu akan mampu menembus batasan kekuatan jiwamu," kata Kembaran Jiwa Chinmi dan tubuhnya mulai berubah menjadi butiran-butiran putih.


"Aku akan melihat akan seperti apa masa depanmu nanti!" itu adalah ucapan terakhir dari kembaran Jiwa Chinmi karena tubuhnya sudah sepenuhnya menghilang.


Chinmi hanya memandang kearah menghilanya kembaran jiwanya, dia menutup mata kembali dan beberapa saat kemudian dia membuka matanya dan mendapatkan dirinya sudah berada di ruang bawah tanah tempat dirinya bermeditasi.


Energi putih masih menyelimuti dirinya, dan kedua pupil matanya masih berwarna biru, "Sepertinya ada yang datang kesini!" gumam Chinmi saat melihat ada beberapa barang dihadapannya.


Chinmi keluar dari ruang bawah tanah dan menatap langit sesaat kemudian menutup mata. dia memeriksa pondasi keduanya yang sudah sempurna, dan dia yakin kekuatannya saat ini sudah melebihi kekuatan Fan Yuzhen.


"Menyedihkan sekali tubuh ini!" gumam Chinmi saat melihat tubuhnya yang kurus.


Chinmi sudah tidak merasa lapar lagi, ketika dia ingin kembali ke pohon, ternyata Qie Yin sudah lebih dulu tiba menemuinya.


"Kamu sudah keluar?" tanya Qie Yin.

__ADS_1


Chinmi memeprhatikan Qie Yin yang terlihat seperti perhatian kepada dirinya, Chinmi hanya menjawab dengan anggukan. Seperti biasanya dia tidak mengucapkan sepatah katapun, namun Qie Yin tetap menemani dirinya berjalan menuju ke pohon.


"Apa ada yang salah pada dirinya?" batin Chinmi karena merasa ada yang salah terhadap Qie Yin karena tiba-tiba datang dan bertanya dengan tatapan penuh perhatian.


__ADS_2