
Chinmi merasa dunia bergetar setelah berada di dalam Goa, dia hampir tidak sadarkan diri ketika dibawa terbang dengan kecepatan seperti itu.
Saat sudah mulai tenang barulah ia sadar jika bajunya sudah berantakan, hampir seluruh bajunya robek. Chinmi segera mengganti pakaiannya yang sudah ia persiapkan dan di letakan di dalam Goa itu.
"Junior Fan, apa yang terjadi?"
Fan Yuzhen yang sedang memulihkan Qi nya ternyata kedatangan seorang tamu. Pria sepuh dengan rambut hitam dan janggut panjang sedikit putih dengan memakai baju hitam.
"Senior Wu," Fan Yuzhen tidak terkejut dan justru menyapanya, orang tersebut adalah Pendeta Wu Tong, atau lebih di kenal sebagai Pertapa Langit.
"Aku datang kesini karena merasakan getaran dan sumbernya berasal dari sini."
Dunia Hewan Iblis adalah Dunia Dimensi yang berbeda, apapun yang terjadi di sana seharusnya tidak akan terasa sampai kedunia Manusia.
Namun bagi seorang pertapa, dia akan tetap merasakan getaran yang orang lain tidak tahu. Getaran yang di timbulkan akibat ledakan dari bola energi hitam di dunia manusia sangat pelan, sehingga mustahil bagi para manusia dan pendekar biasa akan mengetahuinya.
"Itu adalah getaran dari serangan Rubah putih!"
"Rubah putih? Kenapa kamu bisa berurusan dengan Rubah tua itu?"
Fan Yuzhen mulai menceritakan akan kejadian tersebut. Wu Tong adalah seorang Pertapa yang lebih senior dari Fan Yuzhen, kekuatannya diatas Fan Yuzhen.
Walau lebih kuat dari Fan Yuzhen, bukan berarti dia akan mampu menghadapi Rubah putih sendirian. Butuh Dua atau tiga orang Pertapa untuk bisa mengalahkan Rubah putih, dan Itupun tidak semudah yang di bayangkan.
"Wu Tong ternyata kamu sudah datang lebih dulu kesini!" muncul sosok lain, seorang wanita terlihat berumur 40 tahunan, namun sebenarnya umurnya lebih tua dari itu.
"Saudari Xie seharusnya kamu menyapanya dengan sopan!" dari belakang wanita tersebut juga ada pria sepuh lainnya, pria sepuh tersebut memiliki jenggot putih panjang dengan mengenakan jubah putih.
Mereka adalah Xie Wen seorang wanita Pertapa Bulan, dan yang satunya adalah Jian Wei, Sang Pertapa Matahari.
Fan Yuzhen tersenyum lebar melihat ketiga senior Pertapa datang semuanya ke tempatnya, ini jarang sekali terjadi melihat empat Pertapa yang berkumpul secara bersamaan.
__ADS_1
"Guru Liang Wu, kenapa guru ada disini?" Chinmi yang baru selesai mengganti bajunya terkejut melihat salah satu dari mereka.
"Guru Liang Wu!?" semuanya heran dan bingung karena tidak tahu siapa yang Chinmi panggil guru Liang Wu, kecuali satu orang.
"Ternyata kamu ada di sini Chinmi!" ucap Jian Wei.
"Liang Wu?" Xie Wen menatap Jian Wei dengan mengangkat sebelah alisnya.
"Ah, itu hanya nama lain diriku di lain profesiku saja, hahaha...!" kata Jian Wei dengan tertawa lepas.
"Tunggu, sepertinya aku mengenali suara anak ini!" Wu Tong mengamati Chinmi baik-baik.
"Apa kita pernah bertemu kek?" Chinmi bertanya, seingatnya dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Wu Tong.
"Entahlah aku juga tidak ingat pasti, namun sepertinya aku pernah mendengar suaramu itu," kata Wu Tong yang terlihat seperti berusaha mengingat-ingat sesuatu namun tidak berhasil.
"Para senior semua, ini adalah muridku Chinmi dia berasal dari Kerajaan Bumi Barat," Fan Yuzhen memperkenalkan muridnya kepada ketiga seniornya.
"Aku tahu itu, dia pernah menjadi muridku di sekolahan Akademi di sana," kata Jian Wei.
"Chinmi, mereka semua adalah para Pertapa, berilah hormat kepada mereka," kata Fan Yuzhen.
"Chinmi memberi hormat kepada para sepuh sekalian!" kata Chinmi dengan membungkukkan badannya.
"Anak pintar, namaku Xie Wen, dari Kerajaan Es Utara."
"Namaku Wu Tong, dari Kerajaan Bumi Barat, namun sekarang aku tinggal di perbatasan gurun pasir," kata Wu Tong sambil tertawa kecil.
"Chinmi, mungkin kamu mengenalku dengan nama Liang Wu, namun namaku sebenarnya adalah Jian Wei dari Kerajaan Api Timur."
"Jadi Guru Liang, eh maksud saya Guru Jian adalah seorang Pertapa?" Chinmi bertanya karena tidak percaya jika Guru Liang Wu yang ia kenal ternyata adalah seorang Pertapa.
__ADS_1
"Aku hanyalah seorang guru seni baca dan tulis dan tidak lebih dari itu," kata Jian Wei dengan tersenyum kepada Chinmi.
"Kenapa kamu berpura-pura jadi seorang guru, terlebih lagi kamu mengubah namamu. Apa jangan-jangan kamu menemukan sesuatu yang penting hingga kamu harus menyamar?" tanya Xie Wen penuh selidik.
"Kamu terlalu berprasangka buruk padaku saudari Xie, aku hanya ingin mencari aktifitas saja, menurutku bekerja sebagai guru cukup menarik, itu saja."
Xie Wen ingin menanyakan sesuatu lagi kepada Jian Wei namun Wu Tong lebih dulu memotongnya.
"Sudah cukup apakah kalian datang kesini hanya ingin memperdebatkan hal yang tidak terlalu penting? Masih ada urusan yang lebih penting dari pada membahas masalah penyamaran yang tidak berguna itu!" kata Wu Tong dengan suara geram.
Jian Wei dan Xie Wen saling ber atap mata dengan tajam, walau mereka berdua bersikap demikian, namun sebenarnya mereka masih saling menyimpan perasaan.
Tidak ada yang mengetahui kisah Jian Wei dan Xie Wen, karena masalah pribadi mereka memang jarang terdengar.
Jian Wei dan Xie Wen masih satu generasi, saat sama-sama masih muda, Jian Wei dan Xie Wen sempat saling menyukai. Xie Wen berasal dari salah satu Sekte besar aliran putih yang saat ini sudah pindah lokasi. Nama sektenya saat ini adalah Sekte Pulau Seribu Bunga, dan letaknya juga masih berada di Kerajaan Es Utara.
Xie Wen adalah salah satu murid berbakat di Sektenya sehingga dia selalu diperlakukan spesial oleh ketua sektenya.
Saat itu Jian Wei yang berasal dari Kerajaan Api Timur berkunjung ke Kerajaan Es Utara, Jian Wei adalah seorang pendekar yang lemah dan sama sekali tidak terlihat berbakat, dan dia tidak berasal dari sekte manapun.
Saat berkunjung Ke Kerajaan Es Utara, dia berjalan-jalan di kota tersebut, dan tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang gadis, dan gadis tersebut adalah Xie Wen.
Mereka berdua sempat beradu mulut dan hampir bertarung di tengah-tengah kota, namun mereka membatalkannya karena ketua Sekte yang di tempati oleh Xie Wen datang kesana.
Demi menjaga agar sektenya tidak malu di depan umum, Xie Wen berpura-pura berbaikan dengan Jian Wei.
Jian Wei juga menyadari akan hal itu, dan dia juga berpura-pura menerima jabatan tangan dari Xie Wen, dan itupun atas permintaan senior yang menemani Xie Wen.
Saat bersalaman, mereka berdua saling mencengkeram tangan dengan kuat, namun Jian Wei hampir tidak mampu menahan cengkeraman tangan lembut dan mungil milik Xie Wen, dia tidak menduga di balik kelembutan dan halusnya kulit tangan Xie Wen tenyata tersimpan kekuatan yang hampir meremukkan tulang jari-jarinya.
Mereka segera berpisah di saat itu juga, namun diam-diam Jian Wei menoleh kembali kearah Xie Wen begitu pula dengan Xie Wen.
__ADS_1
Sebelum Xie Wen menarik kembali tatapannya dia sempat melotot ke arah Jian Wei kemudian pergi dari sana bersama senior dan teman-teman seperguruannya.
Jian Wei ternyata diam-diam mengikuti rombongan Xie Wen dari belakang hingga Jian Wei tidak sadar jika dirinya sudah berada di dalam sekte tempat tinggal Xie Wen.