PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)

PENDEKAR DEWA ABADI S2 (Sihir Dewa)
Alasan Qie Yin


__ADS_3

***


Lio Long dan Qie Yin muncul di sebuah bebatuan dan sedikit ada beberapa pohon disana, tempat tersebut adalah tempat dimana dia pertama kali bertemu dengan Qie Yin.


"Nona Qie Yin, apakah kamu yakin akan keputusan mu ini?" tanya Lio Long setelah dia tiba di dunia Qie Yin.


Qie Yin hanya mengangguk pelan, dia juga mulai ragu, walau dia yakin tidak ada satu pendekar pun yang akan mampu mengalahkannya.


"Baiklah karena ini sudah menjadi keinginan mu!" kata Lio Long kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.


"Bawalah ini kemanapun kamu pergi, jika suatu hari nanti kamu membutuhkan bantuan ku, kamu tinggal panggil namaku lewat cincin ini!" kata Lio Long.


Qie Yin menerima Cincin berukiran Naga dan permata biru berada di ujung kepala cincin yang kecil tersebut.


"Ini mungkin sangat terlihat aneh karena cincin ini lebih pantas di pakai oleh laki-laki, kamu tidak perlu menggunakan cincin ini, simpan saja di balik baju mu, jika nanti kamu membutuhkan bantuan ku, kamu tinggal mengalirkan qi ke permata itu dan panggil namaku dan aku akan segera datang menemui mu!" kata Lio Long.


Qie Yin hanya menjawab dengan anggukan saja dan membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih nya.


"Anak ini sama sekali tidak mau bicara lagu, bahkan tersenyum pun sudah tidak lagi!" batin Lio Long.


Sebelum Chinmi membuka pintu kematian nya, dia masih terlihat riang banyak tersenyum lembut dan terlihat bahagia.


Namun setelah Chinmi berubah, keceriaan yang menghiasi wajah cantiknya kini menghilang, namun tetap saja terlihat sangat cantik walau terlihat dingin dan murung.


"Baiklah Nona Qie Yin aku akan kembali lagi, jaga diri baik-baik!" kata Lio Long kemudian dia menjentikkan jarinya dan menghilang dari hadapan Qie Yin.


Qie Yin menyimpan cincin tersebut di balik dalam ikat pinggangnya dan kemudian berjalan kearah kerajaan Bumi Barat.


Qie Yin berjalan seperti terlihat linglung, pikirannya saat ini hanya ada Chinmi, dia berjalan hingga tiba di desa Shenlin.


Qie Yin tidak lagi menutupi wajahnya, bukan karena sengaja namun dia lupa. Dia berjalan mencari penginapan agar bisa istirahat untuk satu malam saja.


Saat dia masuk kesebuah penginapan, ternyata di sana juga menjual makan, dan bagi penginap akan mendapatkan paket menginap sekaligus makan, namun bagi yang tidak menginap tentu harus membeli makanan.


Qie Yin yang baru masuk dengan mengenakan baju berwarna biru muda menarik perhatian banyak pengunjung, terutama kaum laki-laki dari yang muda sampai yang tua sekalipun juga lupa untuk berkedip.


Semua pihak laki-laki menelan ludah mereka dan ada juga yang menjilati bibir mereka dengan tatapan yang di penuhi nafsu syahwat.


"Selamat datang di penginapan Desa Shenlin Nona, silahkan apa yang bisa saya bantu!" kata seorang wanita paruh baya menyambut Qie Yin dengan sopan.


"Saya ingin menginap semalam di sini, apakah ada kamar kosong yang bisa saya gunakan?" tanya Qie Yin tanpa memasang wajah expresi apapun.


"Masih banyak kamar kami yang kosong Nona, mari saya antar nona muda ke kamar nona!" kata wanita paruh baya tersebut.


"Hei Nyonya Yu Wen, apakah kamu tidak ingin memperkenalkan Nona cantik itu pada kami? Apa kamu mau kami menghancurkan penginapan mu? Jika tidak bawa Nona cantik itu kesini, biar dia menginap di kamar kami saja!" Suara pria berumur 40 tahunan berbicara kepada wanita paruh baya tersebut yang bernama Yu Wen.


Yu Wen menatap pria yang duduk bersama empat orang lainnya dengan tatapan takut, dia mendekat dan berbisik kepada Qie Yin.


"Nona muda, mereka itu adalah kelompok berandalan di desa ini, semua keinginan mereka harus selalu dituruti, jika tidak maka dia akan menghancurkan apapun yang ada disini, jadi sebaiknya nona secepatnya pergi ke kamar nona agar aman!" kata Yu Wen.


Qie Yin menatap mereka berlima dengan tatapan dingin, namun tatapan Qie Yin bukan menakuti mereka, mereka berlima justru semakin bernafsu melihat tatapan Qie Yin yang menurut mereka semakin menggairahkan.


"Nona Kemarilah dan duduk di pangkuanku, jika kamu menurut kami tidak akan menyakiti Nona dan aku jamin malam ini akan menjadi malam yang indah untuk kita semua!" kata salah seorang dari mereka sambil tertawa terbahak-bahak.


"Nona mari kita secepatnya ke kamar Nona!" kata Yu Wen yang mulai terlihat khawatir.


Qie Yin menatap semua orang yang ada di sana, yang berbicara kepadanya memiliki empat teman, namun Qie Yin melihat jika.masih ada beberapa orang lagi yang mungkin anggota mereka.


Qie Yin dapat merasakan jika mereka semua berada di tingkat menengah, itu sangat hebat melihat belasan pendekar tingkat Menengah sedang berkumpul di satu tempat.

__ADS_1


Qie Yin membalikkan badannya dan berjalan mengikuti Yu Wen menuju ke kamarnya dan mengacuhkan mereka semua yang menginginkan tubuhnya.


Salah seorang segera berdiri dan dengan cepat bergerak mencegah Yu Wen dan Qie Yin dan kemudian dengan tersenyum jahat dia menatap wajah dan seluruh tubuh Qie Yin sambil menjilati bibir nya.


Yu Wen dan Qie Yin terpaksa menghentikan langkah mereka karena dihadang oleh pria tersebut.


"Nona cantik, tidak satupun orang disini yang berani menolak keinginan kami, jadi demi keamanan Nona bagaimana jika nona menginap sekamar dengan kami?" kata Pria tersebut dengan tidak henti-hentinya menjilati bibir dan menatap bentuk lekuk tubuh Qie Yin.


Yu Wen terlihat sangat ketakutan hingga dia mundur namun tetap berada di hadapan Qie Yin agar laki-laki tersebut tidak menyentuhnya.


"Apakah jika aku menginap sekamar dengan kalian aku akan aman?" tanya Qie Yin dengan suara dingin dan lembut.


Semuanya merasa terbius dengan suara Qie Yin terlebih lagi pria yang saat ini berada dihadapannya.


"Tentu saja, kami semua ada 17 orang pendekar pelindung desa ini akan menjamin keselamatan Nona!" kata Pria tersebut.


"Baiklah, aku juga butuh perlindungan dari bahaya!" kata Qie Yin sehingga membuat Yu Wen terkejut bukan main sambil menatap Qie Yin dengan tatapan tidak percaya.


"No-nona...!" Yu Wen ingin mengingatkan Qie Yin namun Qie Yin hanya mengangguk pelan kearahnya.


"Owh bagus, kami adalah orang yang tepat, jadi katakan siapa yang akan mencelakai bidadari secantik nona?" tanyanya kepada Qie Yin.


Rekan-rekan mereka semua merasa senang karena Qie Yin tentunya mau menginap sekamar dengan mereka, walau setiap kamar hanya bisa di pakai untuk dua orang saja, namun jika Qie Yin mau menginap di kamar salah satu dari mereka, mereka semua tidak keberatan jika harus menginap satu kamar demi bisa sekamar dengan Qie Yin.


Qie Yin tersenyum dingin kemudian mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya ke wajah Pria tersebut.


"Aku ingin berlindung dari mu!" kata Qie Yin sehingga membuat semua teman-teman pria tersebut terkejut termasuk pria yang wajahnya ditunjuk oleh Qie Yin.


"Kurang ajar, kamu mau menghinaku?" pria tersebut ingin melanjutkan perkataannya namun Qie yang lebih dulu memotong perkataan nya.


"Kalian semua yang merasa paling hebat dan bisa melindungi diriku, aku hanyalah seorang diri, malam ini aku membutuhkan teman, jadi siapa yang ingin menemaniku malam ini, maka kalian harus bersaing dengan bertarung, dan aku hanya akan bisa ditemani seorang oleh pemenang nya saja."


"Kami harus bertarung untuk mendapatkan mu dengan di tempat ini?" tanyanya.


Qie Yin melihat Yu Wen kemudian tersenyum padanya, namun senyumnya yang ia kira lembut terasa dingin oleh Yu Wen.


"Kalian harus bertarung di luar, bertarung lah dan buktikan jika kalian kuat dan hebat, siapa salah satu yang menang dari kalian, itu berarti pemenangnya adalah pendekar hebat dan hadiahnya akan bisa menemaniku malam ini, jika kalian mau sekarang juga bertarung lah kalian diluar dan yang menang nantinya silahkan masuk ke kamarku karena nanti kamarku tidak akan aku kunci!" kata Qie Yin.


Mereka semua yang sudah dibutakan oleh hawa Nafsu tanpa berpikir panjang langsung menyerang rekan mereka masing-masing di dalam penginapan tersebut hingga beberapa meja harus hancur, pada akhirnya mereka semua keluar dan bertarung di luar demi bisa mendapatkan Qie Yin.


"Sebaiknya kamu menyerah karena hanya akulah yang berhak menemaninya!" kata salah seorang dari mereka kepada rekannya.


"Hah, langkahi dulu mayat ku!" kata rekannya kemudian mengeluarkan senjatanya dan menyerang teman mereka sendiri.


Qie Yin dan Yu Wen kembali berjalan menuju karmanya, Yu Wen sebenarnya masih tidak yakin akan keputusan Qie Yin.


"Nyonya, Sebaiknya nyonya segera keluar dari kamar ini!" kata Qie Yin.


Yu Wen membungkukkan badan dan kemudian dia keluar dan pergi untuk melihat pertarungan ke tujuh belas pendekar.


Qie Yin melakukan semua itu agar mereka semua mati dan menyisakan satu orang saja, dirinya tidak perlu repot-repot melawan mereka semua dan hanya tinggal membunuh sisanya saja tanpa harus membuang-buang energi.


Sedangkan situasi di depan penginapan sangat kacau karena pertarungan ketujuh belas pendekar, dan satu persatu mulai gugur.


Qie Yin pernah mengalaminya sewaktu masih berada di sekte Kalajengking Merah, saat itu sekitar Empat orang anggota sekte saling membunuh hanya demi mendapatkan dirinya tanpa Qie Yin pinta.


Qie Yin sadar jika kecantikan wajahnya bisa mengundang malapetaka, namun juga bisa menguntungkan dirinya juga.


"Nafsu akan membunuh diri kalian sendiri!" gumam Qie Yin kemudian dia duduk di kursi kayu yang sudah di sediakan oleh penginapan.

__ADS_1


Banyak warga desa Shenlin yang datang melihat pertarungan ketujuh belas pendekar dari jauh karena takut jika mereka menonton terlalu dekat, bisa-bisa mereka terkena serangan nyasar.


Setelah beberap saat akhirnya hanya tersisa satu orang yang berhasil bertahan, dengan tubuh di penuhi banyak luka, pendekar tersebut tertawa dengan nafas memburu.


"Hahaha... Nona lihatlah aku yang terhebat, aku yang pantas untuk menemanimu malam ini! Tunggulah aku akan datang untukmu bidadari ku," seru pendekar tersebut.


Pendekar tersebut mengalami banyak luka di sekujur tubuhnya, hanya demi bisa mendapatkan Qie Yin yang tidak ia kenal, dia rela membunuh semua teman-temannya karena terbius oleh kecantikan Qie Yin.


Dia berjalan sempoyongan pergi menuju ke kamar Qie Yin, dan dengan susah payah akhirnya dia sampai di kamar Qie Yin kemudian membuka pintu kamarnya.


"No-nona aku sudah menang, sekarang tempati janjimu!" kata pendekar tersebut dengan suara berat.


"Bagaimana kamu bisa menemaniku dengan kondisi seperti itu, aku hanya mau dengan yang paling hebat dan tidak ada luka sedikitpun dari pertarungan itu, jadi kamu aku tolak, pergilah!" kata Qie Yin.


"Kau..! Kau berani menipuku? Aku tidak peduli, mau tidak mau kamu harus melayaniku!" seru pendekar tersebut kemudian dia berjalan ke arah Qie Yin sambil menahan rasa sakit dan memegang lukanya.


Setelah dia berada dihadapan Qie Yin, pendekar tersebut ingin memegang baju Qie Yin, namun belum sempat tangannya mencapai bajunya, tiba-tiba saja lengannya terpotong tanpa di ketahui akan apa yang terjadi.


Pendekar tersebut mengerang kesakitan, sudah sakit menahan luka karena bertarung melawan teman-temannya, kini dia harus merasakan sakit yang lain lagi.


"Kamu sudah tua paman, seharunya kalian melindungi para kaum wanita, terlebih lagi yang masih muda seperti diriku!" kata Qie Yin.


"Apa yang kamu katakan, sudah sebaiknya kamu tepati janjimu!" kata Pendekar tersebut.


"Baiklah jika paman masih memaksa," kata Qie Yin kemudian dia menghampirinya dan memegang pundaknya.


"Aku akan membuat rasa sakit mu menghilang!" kata Qie Yin kemudian dia mengelus pundak pendekar tersebut.


Pendekar tersebut memejamkan mata dengan pikirannya yang berfantasi membayangkan tubuh Qie Yin jika tanpa mengenakan busana.


Saat sedang berhalusinasi akan Qie Yin tiba-tiba sesuatu terjadi pada dirinya.


"Arghh...! A-apa yang k.. kau lakukan!" kata pendekar tersebut dengan suara terputus-putus dan akhirnya dia mati dengan wajah seperti penasaran.


Qie Yin ternyata menancapkan sebuah tongkat yang ia bentuk dengan menggunakan elemen debu nya ke jantung pendekar tersebut.


Qie Yin menatap jasad pendekar tersebut dengan tatapan dingin dan bergumam, "Ini akibatnya jika kalian terlalu memandang rendah para wanita."


Yu Wen yang sejak awal sangat khawatir datang untuk melihat keadaan Qie Yin yang, dengan sedikit gugup dia mengintip secara diam-diam lewat sudut pintu yang masih terbuka.


"Kyaaaaa!"


Yu Wen berteriak setelah melihat mayat pendekar yang sudah menjadi pemenang nya di kamar Qie Yin dengan mata terbuka dan darah keluar dari luka tersebut sekaligus dari mulutnya.


Qie Yin menoleh kearah Yu Wen sehingga membuat wanita paruh baya tersebut ketakutan dengan tubuh gemetar.


"Nyonya, suruh pekerja mu untuk menyingkirkan mayat ini dari kamar ku!" kata Qie Yin.


Yu Wen masih terlihat ketakutan, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, "Tidak mungkin gadis secantik ini akan bisa membunuh seseorang, mungkin saja pendekar itu mati saat baru tiba di kamar ini!" batin Yu Wen mencoba untuk menenangkan dirinya.


Yu Wen segera memerintahkan tiga orang untuk mengeluarkan mayat tersebut sekaligus di kubur bersama dengan ke enam belas pendekar lainnya.


Alasan Qie Yin membuat nya mati adalah untuk memberi pelajaran kepada para pendekar dan orang-orang yang sering memandang rendah para perempuan.


Menurut Qie Yin seorang perempuan memiliki derajat yang sama dengan laki-laki sehingga tidak pantas rasanya jika para perempuan selalu dihina dan direndahkan seolah-olah wanita tidak memiliki harga diri.


Qie Yin kembali duduk dan menatap keluar jendela dengan wajah dingin, dia sekarang berusaha untuk melupakan Chinmi dan lebih memprioritaskan belas dendam nya kepada She Chin.


"Tunggulah She Chin, aku akan segera datang untuk mencabut nyawamu!" gumam Qie Yin dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2