
***
Li Xiang dan Zhinie sama-sama merasa canggung di hadapan Ho Chen yang saat ini sedang duduk dihadapan mereka berdua.
Semenjak Li Xiang dan Zhinie mengetahui jika selama ini Ho Chen adalah pria bertopeng yang kekuatannya sulit di terima akal.
"Paman, Bibi! Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Ho Chen karena merasakan kecanggungan keduanya.
"A-aku..! Eh ma-masud ku ka-kami..!" Li Xiang sulit untuk berbicara sedangkan Zhinie juga tidak berbicara apa-apa.
"Paman, jika paman ingin menyampaikan sesuatu padaku, katakanlah karena hari ini aku akan pergi dari kerajaan ini!" kata Ho Chen.
Li Xiang dan Zhinie memang sudah tahu jika hari ini Ho Chen akan pergi meninggalkan kerajaan Bumi Barat.
"Ho Chen, aku butuh bantuan mu!" kata Zhinie dengan sedikit ragu.
"Bibi tidak perlu merasa sungkan seperti itu padaku, bukankah kita sudah saling mengenal, jadi katakanlah apa yang bisa aku bantu untuk kalian berdua?" kata Ho Chen.
"Saling mengenal apanya, bukankah kamu merahasiakan jati dirimu selama sebulan ini pada kami?" batin Li Xiang.
Ho Chen tersenyum tipis ketika mengetahui akan apa yang Li Xiang pikirkan, namun dia tetap tidak akan menjelaskan akan siapa sebenarnya dirinya kepada mereka berdua.
"Ho Chen, tolong sampaikan kepada Chinmi agar secepatnya menyelesaikan latihannya, lagi pula untuk apa dia berlatih terlalu lama, jika sudah mencapai tingkat Sihir Elemen Alam saja sudah sangat hebat dan nantinya pasti akan bisa sampai ketingkat pertapa jika dia berlatih disini," kata Zhinie.
Ho Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, walau dia tidak tahu seperti apa itu tingkat pertapa, namun menurutnya Chinmi tetap harus berlatih.
Ho Chen bingung harus dia mulai dari mana untuk menjelaskan kepada Li Xiang dan Zhinie akan takdir Chinmi di masa depan.
Berbeda dengan Zhinie, Li Xiang justru memiliki pemikiran lain akan Chinmi, setelah merasakan betapa besarnya ilmu yang dimiliki Ho Chen, Li Xiang ingin agar Chinmi terus berlatih dan bisa memiliki ilmu yang tinggi, setidaknya setara dengan kesaktian yang dimiliki Ho Chen.
Namun dia tidak berani menyuarakan nya di hadapan Zhinie karena dia takut jika nanti Zhinie akan memarahi dan menyalahkannya.
"Bibi, aku akan menyampaikannya nanti, namun semua itu tergantung keputusan Chinmi sendiri!" kata Ho Chen.
"Terima kasih!" kata Zhinie sambil sedikit menundukkan badannya.
Ketika mereka semua saling berbincang untuk yang terakhir kalinya, Li Fang, Yue Rong dan Yue Hua datang untuk menemui Ho Chen sekaligus mengenalnya.
"Mereka adalah Adik dan adik ipar ku!" kata Li Xiang menjelaskan kepada Ho Chen.
"Kakak, kakak ipar," Li Fang menyapa Li Xiang dan Zhinie kemudian dia menoleh kearah Ho Chen.
"Tuan muda Ee.. Chen!" sapa Li Fang.
Ho Chen berdiri dan menyambut sapaan Li Fang dengan sangat sopan.
"Ayah, siapa lagi kakak ini, apakah dia juga kakak sepupuku seperti Kakak Chinmi?" tanya Yue Hua sambil memperhatikan Ho Chen.
Li Fang ingin menjawabnya namun Ho Chen lebih dulu menyapanya dengan perkataan yang lembut.
"Adik kecil, aku adalah teman kakak mu, namaku Ho Chen, dan siapa namamu gadis kecil?" tanya Ho Chen dengan membungkukkan badannya hingga tingginya setara dengan Yue Hua.
"Nama ku Li Yue Hua!" jawab Yue Hua.
"Gadis pintar..!" Ho Chen mengelus rambut Yue Hua dengan lembut disertai dengan senyuman lembut.
Karena merasa tidak pantas duduk di dekat para orang tua yang sedang berbicara, Yue Hua memilih pergi bermain sendirian di halaman rumah yang dipenuhi bunga.
"Tuan muda Ho Chen, maaf jika sebelumnya saya tidak sempat datang kesini, itu karena saya tidak tahu jika Tuan Muda berada di sini," kata Li Fang.
"Paman tidak perlu se formal seperti itu padaku, panggil saja aku Ho Chen agar bisa lebih akrab," kata Ho Chen.
Li Fang mengangguk sedangkan Yue Rong yang berdiri di samping Zhinie berbisik kepada pelan pada Zhinie.
"Kakak, Andai suami kita setampan dirinya."
Yue Rong membanding-bandingkan ketampanan Li Fang dengan Ho Chen, sedangkan Zhinie mengangguk dengan berbisik balik kepada Yue Rong.
Walau bisikan mereka sangat kecil, namun Ho Chen dapat mendengar bisikan mereka dengan sangat jelas.
Ho Chen batuk kecil sambil melirik kearah mereka berdua sehingga membuat mereka berdua kaget dan langsung terdiam malu.
Mereka berdua yakin Ho Chen tidak akan mungkin mendengar bisikan mereka berdua, namun batuk Chinmi dan lirikan matanya menandakan jika Ho Chen mendengarnya.
__ADS_1
"Aiya, kenapa kita hanya berdiri saja, mari kita duduk!" kata Li Xiang.
Mereka semua duduk dan berbincang-bincang, namun Li Fang terkejut karena Ho Chen ternyata sudah ingin pergi.
"Ho Chen, baru saja kita bertemu namun sekarang kamu sudah mau pergi?" tanya Li Fang.
"Paman, aku sudah berada disini selama sebulan, kini sudah waktunya bagiku untuk pergi karena masih banyak hal yang harus aku selesaikan!" kata Ho Chen.
Li Fang dan Li Xiang saling berpandangan, mereka sebenarnya ingin bertanya sesuatu kepada Ho Chen, namun sepertinya itu sudah tidak mungkin bisa.
"Baiklah aku akan menemani kalian beberapa saat lagi, jika ada yang ingin kalian tanyakan maka katakan saja!" kata Ho Chen.
Li Xiang dan Li Fang terkejut bukan main, perkataan Ho Chen sama persis dengan apa yang mereka berdua pikirkan, seolah-olah Ho Chen mengetahui nya dan memberi mereka kesempatan untuk bertanya.
"Yang aku tanya kan tadi sudah kamu jawab, jadi sekarang sudah tidak ada lagi," kata Zhinie.
"Tidak-tidak! Aku, aku yang ingin bertanya!" Li Fang dengan sangat cepat bersuara.
"Baiklah paman katakanlah!" kata Ho Chen.
Li Xiang sebenarnya ingin lebih dulu bertanya, namun dia di dahului oleh Li Fang sehingga hanya bisa menjadi pendengar saja.
"Ho Chen, kekuatanmu itu..! Sebenarnya sampai di tingkat apa kamu saat ini, apakah kamu adalah seorang pertapa?" tanya Li Fang.
"Fang'er, mana mungkin dia adalah seorag Pertapa, kalau menurutku tingkatnya pasti lebih dari itu! Coba kamu ingat, Fu Shen yang memilki kekuatan pertapa saja dengan sangat mudah ia bunuh," potong Li Xiang.
Ho Chen terdiam, dia tidak tahu apa itu tingkat pertapa, "Mungkin tingkat pertapa yang mereka maksud adalah kekuatan Alam Dewa!" batin Ho Chen.
Ho Chen menebak karena mengetahui kekuatan dari Fu Shen yang tingkatannya berada di tingkat Alam Dewa.
"Paman, kekuatanku tidaklah seberapa, saat itu hanyalah sebuah keberuntungan bagiku! Lagi pula si Fu Shen mendapatkan kekuatannya dengan cara yang tidak benar!" kata Ho Chen.
"Tidak benar? Apa maksudnya?" tanya Li Xiang.
"Kekuatan yang Fu Shen miliki tidaklah alami, dia hanya memiliki kekuatan kurang dari setengah dari kekuatan Pertapa yang sesungguhnya! Sejauh yang aku tahu, Semua yang tidak alami tidak akan bertahan lama!" kata Ho Chen.
"Dari mana dia mendapatkan kekuatan itu? Apakah dari sosok berwujud burung itu?" tanya Li Fang.
"Bukankah saat itu kamu dan sosok itu sedang bertarung, lalu bagaimana?" Li Xiang masih sangat ingat saat Ho Chen berhadapan dengan sosok manusia burung.
"Dia berhasil kabur!" Ho Chen menjelaskannya dengan sangat singkat.
"Baiklah paman dan bibi, sudah waktunya bagiku untuk pergi, sebelumnya aku ucapkan terima kasih kepada kalian semua karena bisa menerima kehadiranku di sini, dan maaf jika selama ini aku sudah menyusahkan kalian!" kata Ho Chen yang sudah berdiri.
"Apa yang kamu katakan, seharusnya kami lah yang minta maaf karena tidak melayani mu dengan baik, dan juga kamilah yang seharusnya berterima kasih, jika saat itu tidak ada kamu, mungkin seluruh kerajaan Bumi Barat ini sudah binasa di tangan Fu Shen dan mahluk aneh itu!" kata Li Xiang yang juga ikut berdiri dan diikuti oleh Li Fang dan yang lainnya.
"Kalau begitu selamat tinggal, semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi," kata Ho Chen kemudian dia menjentikkan tangannya dan menghilang dari hadapan mereka semua.
Zhinie dan Yue Rong terkejut saat melihat Ho Chen menghilang secara tiba-tiba, sedangkan Li Xiang dan Li Fang sudah tiga kali melihat Ho Chen yang bisa menghilang, namun tetap saja ada kesan tersendiri kepada mereka berdua.
"Kakak, aku yakin dia sengaja merendahkan diri kepada kita! Aku tahu kekuatannya sangat besar, jika dia bisa membuat sosok manusia burung itu lari, itu artinya kekuatannya sangat besar!" kata Li Fang.
"Em, bagaimana kamu bisa berkesimpulan seperti itu?" tanya Li Xiang.
"Jika perkiraan ku tidak salah, kekutan sosok manusia burung itu sama dengan sosok manusia singa hitam yang pernah dihadapi oleh ke empat pertapa di kerajaan Es Utara, saat itu keempat pertapa tidak bisa mengalahkannya, bahkan sosok singa hitam hanya menggunakan satu jari saja untuk menghadapi keempat pertapa itu!" kata Li Fang.
Li Fang tidak akan pernah lupa akan kekuatan yang di miliki oleh sosok manusia singa hitam yang ia tunjukkan di kerajaan Es Utara.
"Kalau begitu seberapa kuat Ho Chen itu?" tanya Li Xiang.
"Entahlah, mungkin lebih kuat dari keempat pertapa!" jawab Li Fang dengan singkat.
"Aku tidak pernah mendengar jika ada kekuatan lagi di atas kekuatan para pertapa!"
"Pasti ada kak, aku yakin jika Ho Chen memiliki kekuatan melebihi kekuatan para pertapa, maka kemungkinan besar Ho Chen itu adalah Dewa, karena hanya kekuatan dewa lah yang tidak bisa di tandingi oleh para Pertapa!" jawab Li Fang.
"Aku berharap Chinmi juga bisa mencapai kekuatan seperti itu agar dia bisa menciptakan kedamaian di seluruh dunia!"
"Aku juga berharap demikian, dan suatu saat aku ingin Chinmi melatih Yue Hua agar dia menjadi perempuan pemilik kekuatan di atas para pertapa!" kata Li Fang dengan harapannya.
***
"Apa maksud mu? Kenapa kamu biarkan Qie Yin pergi dan kembali ke dunia nya?"
__ADS_1
"Yinfei, aku tidak mungkin bisa menahan perasaan hati seseorang yang sedang terluka, bagaimanapun ini sudah menjadi keputusannya!"
Yinfei dan Lio Long saling berdebat karena kepergian Qie Yin. Lio Long tahu jika keputusannya menuruti keinginan Qie Yin untuk kembali adalah keputusan yang salah.
Namun dia juga tidak mungkin menolak permintaan Qie Yin, bagaimanapun hati seorang wanita yang sedang terluka pasti akan berakibat buruk jika tidak diikuti apa yang menjadi keinginan nya.
Lio Long sangat mengetahui akan seperti apa sifat seorang wanita. Lio Long sendiri sudah mengalaminya sendiri saat waktu masih muda.
"Hah... Sudahlah mungkin ini sudah takdir!" kata Yinfei kemudian dia melihat Chinmi yang sedang melayang di udara.
"Sepertinya pengaruh dari pintu kematian sedikit demi sedikit bisa ia atasi!" kata Yinfei.
Efek pengaruh Pintu Kematian sangat kuat, namun itu adalah ujian akan bagaimana Chinmi bisa mengatasinya.
Chinmi segera turun kearah Yinfei dan Lio Long yang berada di bawah, setelah tiba dia memberi salam dan hormat kepada mereka berdua.
"Senior Lio dan Senior Yinfei!" sapa Chinmi.
Yinfei dan Lio Long tersenyum lembut, mereka berdua dapat melihat sikap Chinmi yang sudah berubah lebih dingin dari biasanya.
"Senior, kapan aku bisa membuka pintu yang kelima?" tanya Chinmi.
"Masih belum Chinmi, untuk bisa membuka pintu kelima kamu harus bisa menghilangkan efek dari pintu keempat terlebih dahulu, jika sudah berhasil maka kamu baru bisa melakukannya," kata Yinfei.
"Yang dikatakan Yinfei benar Chinmi!" Lio Long menambahkan.
"Bagaimana caranya?"
"Kamu harus bisa mengembalikan semuanya namun semua itu butuh waktu, sedangkan pengaruh dari efek pembukaan pintu Kematian akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu," kata Lio Long.
"Jika kamu ingin menghilangkan nya maka tunggulah Ho Chen, dia yang akan memutuskan semuanya," kata Yinfei menambahkan.
Chinmi hanya bisa mengangguk saja, dia tidak mungkin membantah perkataan kedua seniornya.
"Apa kalian menunggu kedatanganku?"
Semua menoleh keatas dan melihat Ho Chen sudah melayang di atas mereka dengan menatap mereka semua.
"Ho Chen, akhirnya kamu datang juga!" kata Lio Long.
"Sejak tadi aku sudah berada disini senior hanya senior dan Chinmi saja yang tidak menyadari kedatanganku!" kata Ho Chen.
"Aku dan Chinmi?" Lio Long terkejut kemudian menoleh kearah Yinfei, "Apakah sejak awal kamu sudah tahu jika Ho Chen sudah datang?"
"Aku sudah tahu, dan dia datang sejak Chinmi masih belum datang kesini!" jawab Yinfei.
Lio Long hanya bisa tersenyum kecut, dia sadar kelautan Yinfei dan Ho Chen berada diatasnya terlebih lagi Chinmi yang saat ini sudah mencapai tingkat Raja Alam.
"Aku datang untuk menepati janjiku pada mu jika aku akan datang setahun lagi waktu di dunia ini, namun sepertinya Chinmi masih belum siap untuk masuk ketingkat keabadian!" kata Ho Chen yang sudah berada hadapan mereka semua.
"Senior Chen, maaf jika ternyata aku terlambat, namun aku akan berusaha lebih agar bisa mengatasi semua ini!" kata Chinmi.
"Jika kamu tetap berada disini kamu akan membutuhkan waktu yang cukup lama, sebaiknya kamu pergi berpetualang ke dunia mu agar efek dari pintu kematian itu bisa dengan cepat kamu atasi!" kata Ho Chen.
"Ho Chen kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Yinfei.
"Senior, seseorang harus memiliki pengalaman lebih jauh untuk bisa mencapai cita-citanya!" kata Ho Chen kemudian mendekati Chinmi.
"Aku akan mengirim dirimu ke dunia mu, ini adalah petualang, tugas dan ujian yang harus kamu jalani sebelum kamu bisa mencapai tingkat keabadian, jadi apakah kamu menerima tugas ini?" tanya Ho Chen.
"Apapun itu perintah mu akan aku lakukan!" kata Chinmi.
"Bagus, petualang ini bukan petualangan biasa, walau itu adalah dunia mu, namun ada satu tugas besar untukmu!" kata Ho Chen.
"Tugas apa itu senior?" tanya Chinmi dengan penasaran.
"Kamu harus bisa merebut kembali perasaan seseorang yang tersakiti, dan kamu harus bisa menghentikan dia agar tidak terjerumus ke dalam jurang kegelapan, jika kamu berhasil, maka kamu sudah bisa menyelamatkan seluruh alam semesta, namun jika kamu gagal, maka suatu saat nanti kamu harus menghadapi seseorang yang akan menghancurkan seluruh alam semesta!" kata Ho Chen.
Chinmi kebingungan, walau terdengar mudah, namun semuanya menyangkut akan seluruh Alam semesta.
"Baiklah aku akan melakukannya!" kata Chinmi.
"Baiklah kalau begitu bersiaplah karena aku akan mengirim mu kembali ke dunia mu, carilah seorang gadis dari salah satu sekte aliran hitam dan selamatkan gadis tersebut agar tidak jatuh ke jurang kegelapan!" kata Ho Chen kemudian dia menjentikkan jarinya.
__ADS_1