
***
Sekte Pulau Es saat ini masih terlihat aman-aman saja, Zhihui sedang mengamati murid-murid Sekte nya yang tengah sibuk berlatih.
"Mao Li! Sejak tadi perasaan ku serasa tidak enak, seperti akan ada sesuatu yang akan terjadi," kata Zhihui kepada Mao Li.
"Mungkin hanya perasaan ketua saja!" jawab Mao Li.
"Somoga saja hanya perasaan biasa saja," gamam Zhihui.
"Ketua, kapan Ketua Bing Mei akan kembali?" tanya Mao Li.
Mao Li tahu jika Zhihui masih bisa berkomunikasi dengan Bing Mei dari jarak jauh, karena itu dia bertanya kabar Bing Mei kepada Zhihui.
"Dia tidak mengatakan hal itu!" jawab Zhihui.
Setelah Zhihui selesai berkata demikian, mendadak Zhihui merasakan ada aura yang begitu kuat dari jauh sedang menuju kearah Sekte nya.
"Aura siapa ini? Kenapa aku merasa tidak asing dengan Aura ini," kata Zhihui.
Tidak hanya Zhihui saja yang merasakan nya, Mao Li dan semua murid hingga Pendekar-pendekar hebat lainnya juga merasakan nya.
Semua para murid Sekte yang sedang berlatih segera berhenti saat merasakan ada getaran pelan di es yang mereka pijak.
Zhihui dan Mao Li segera terbang kearah pintu Gerbang yang terbuat dari air yang di bekukan, Para Pendekar lainnya juga menyusul Zhihui dan mereka semua berdiri di atas tembok yang sangat besar dan luas.
Zhihui dapat melihat sesuatu tengah menyebrangi lautan dan menuju kearahnya dengan cara berlari di atas air dan beberapa ada yang terbang.
"Bersiap... Kita akan di serang!" seru Zhihui.
Semua murid segera berlarian mengambil senjata dan mulai mengambil posisi masing-masing.
"Ketua Zhihui, sebenarnya siapa mereka itu?" tanya Mao Li.
"Aku juga tidak tahu! Namun aku yakin mereka pasti dari aliran hitam! Karena itu kita harus bersiap-siap," kata Zhihui kemudian dia berbalik.
Zhihui kembali kedalam untuk mengambil pusakanya sekaligu mengganti pakaiannya dengan pakaian ketua Sekte yang sudah ia lepas karena posisi ketua saat ini bukanlah dirinya.
"Bing'er! Apa kau mendengar ku?" Zhihui memanggil Bing Mei dengan menggunakan mustika biru pemberian Bing Mei.
"Aku mendengar mu Nek! Ada apa?" tanya Bing Mei.
"Pasukan musuh datang menyerang Sekte kita, cepatlah selesaikan urusan mu dan segera kembali kesini!" kata Zhihui.
"Pasukan mana yang menyerang kita?" tanya Qie Yin yang suaranya terdengar seperti terkejut.
"Aku belum tahu karena mereka masih jauh dan akan tiba sebentar lagi!" jawab Zhihui.
"Baiklah nek, saat ini juga aku dan guruku akan kembali!" jawab Qie Yin.
Zhihui segera keluar dan kembali ke atas tembok esnya. Sesampainya di atas tembok itu, dia memperhatikan semua pasukan musuh yang mulai jelas terlihat, dan yang paling depan terlihat dua orang sudah lebih dulu menginjakkan kaki mereka ke es pertama dan diikuti oleh para pasukan di belakang nya.
Mata Zhihui melebar setelah melihat kedua pendekar yang yang paling depan dan seperti pemimpin dari ratusan pasukan dibelakang nya.
"Mustahil! Kenapa mereka bisa hidup lagi!" gumam Zhihui sekaligus mengusap-usap kedua matanya.
"Ketua, apakah mataku tidak salah lihat? Bukan kah mereka berdua adalah Ketua Liang Gwo dan Tuan Muda Liang Zang?" tanya Mao Li.
"Aku juga melihatnya!" jawab Zhihui.
"Tapi kenapa bukankah ketua Liang dan Tuan Muda sudah....?" Mao Li menghentikan kalimatnya karena tidak enak kepada Zhihui jika terus melanjutkannya.
"Itu yang ingin ku ketahui!" jawab Zhihui.
Walau perasaan sedih saat melihat suaminya yang seharusnya sudah lama mati kini berada di hadapannya, namun Zhihui juga sadar jika ada yang tidak beres dengan hal itu.
Liang Gwo dan Liang Zang kini berhenti di depan pintu gerbang dan Liang Gwo menoleh keatas tembok dan menemukan Zhihui disana.
"Istriku! Aku mohon jangan membuka gerbang sedikit pun untuk kami!" kata Liang Gwo dengan suara yang mengandung energi dan dapat di dengar oleh Zhihui yang berada di atas tembok Es yang sangat tinggi.
"Jadi kau benar-benar Liang Gwo suamiku? Tapi kenapa kamu bisa hidup lagi?" tanya Zhihui dengan suara yang sama-sama mengandung energi agar suaranya bisa sampai kebawah.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjelaskan nya, namun perlu kamu tahu jika kedatangan kami untuk menyerang Sekte kita," kata Liang Gwo.
"Yang dikatakan Ayah benar ibu! Jadi ibu cari cara bagaimana caranya agar kami tidak bisa masuk kedalam," Liang Zang juga ikut bersuara.
Mata Zhihui berkaca-kaca, walau dia berusaha untuk tetap tegar, namun rasa kerinduannya terhadap suami dan anaknya yang saat ini sudah berada jelas di hadapannya adalah sebuah kebahagiaan.
Namun masalahnya Zhihui tidak bisa gegabah, apalagi Liang Gwo bilang kalau kedatangannya dengan ratusan orang di belakangnya adalah untuk menyerang Sekte nya.
Saat Liang Gwo masih menatap Zhihui, tiba-tiba saja tubuhnya mulai bergerak dengan sendirinya.
"Sial! Zhihui cepat pertahankan pintu gerbang!" seru Liang Gwo kemudian dia membuat segel tangan.
Zhihui melihat hal itu langsung tersadar, dia mengetahui segel yang di buat oleh Liang Gwo.
"Semuanya jauhi pintu gerbangnya!" seru Zhihui sekaligus dia berpindah ke atas pintu gerbangnya dan membuat segel tangan juga.
"Sihir Es - Pembatalan Bekuan Bumi."
Liang Gwo menempelkan kedua telapak tangannya ke atas es dibawah nya dan kemudian Gerbang Es mulai bergetar karena akan berubah menjadi air.
"Sihir Es - Pembekuan Es Abadi."
Zhihui juga meletakkan kedua telapak tangannya di atas gerbang es tersebut untuk mempertahankan Gerbang agar tidak berubah menjadi air.
Sebenarnya Liang Gwo bisa saja naik melewati tembok Es yang besar dan tinggi itu, namun Liang Gwo yang dikendalikan oleh Meng Ling berencana ingin membuka gerbang agar pasukan Mayat Hidup nya bisa masuk.
"Sihir Es - Pembatalan Bekuan Bumi."
Liang Zang juga melakukan hal yang sama seperti ayahnya sehingga kekuatan Zhihui tidak sanggup menahan nya.
Gerbang Es yang sangat tebal tersebut akhirnya mencair menjadi es, sedangkan Zhihui sudah melompat turun dan berdiri di depan para anggotanya.
"Serang...!" seru Zhihui dan semua anggota secara serempak melepaskan sihir es mereka kepada para pasukan Mayat.
Serangan para murid Sekte Pulau Es beragam, ada yang mengendalikan Air dengan cara melempar air tersebut ke arah para mayat hidup kemudian segera di bekukan setelah air tersebut mengenai tubuh para mayat hidup tersebut.
Ada juga melemparkan serpihan es yang sangat banyak bagai peluru Es dan menghujani para pasukan Mayat Hidup tanpa memberi mereka kesempatan untuk mendekat.
"Sihir Es - Jarum Pembeku."
"Sihir Es - Dinding Beku."
Sekitar sepuluh murid membuat dinding Es dengan cara memunculkan dinding es dari bawah untuk melindungi rekan-rekan mereka di belakang.
"Pukulan Tangan Beku."
Liang Zang tiba-tiba memukul dinding es tersebut hingga hancur dan kemudian dia menyerang semua murid secara langsung.
Liang Zang sangat mahir dalam serangan jarak dekat, dengan kecepatan serangan pukulan dan tendangan nya, banyak anggota sekte yang harus terluka dan bahkan ada yang sampai mati.
Zhihui melihat Liang Gwo yang secara terus-menerus membekukan murid-murid nya segera turun tangan dan menghentikannya.
"Suamiku, kenapa kamu bisa menyerang sekte sendiri? Apa yang ada di pikiranmu?" tanya Zhihui.
"Maafkan aku istriku, ada yang mengendalikan tubuhku sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa!" kata Liang Gwo.
"Tunggu! Tubuh mu dan wajahmu..?" Zhihui terkejut saat melihat wajah Liang Gwo yang terus-menerus menjatuhkan debu.
"Seperti yang kamu lihat! Saat ini diriku hanyalah seorang mayat hidup! Salah satu ketua Sekte aliran hitam membangkitkan diriku dan juga para pendekar hebat lainnya!" kata Liang Gwo.
"Jadi kau dan Putraku adalah mayat hidup? Berarti tubuh kalian semua sudah di kendalikan oleh orang itu?"
"Benar! Namun aku tidak tahu apa kelemahan dari sihir ini, dan kami ini adalah pasukan Abadi yang tidak bisa di musnahkan! Jadi carilah cara untuk membebaskan Roh kami dan..! Gawat ini terjadi lagi! Zhihui cepat cari cara, sekarang tubuhku sudah di ambil alih oleh orang itu!" kata Liang Gwo kemudian dia melepaskan energi nya yang sangat kuat.
Kabut tebal dan dingin segera menyebar keseluruh wilayah Sekte Pulau Es dan kabut tersebut mulai membekukan siapapun dan apapun.
Kabut tersebut memiliki suhu yang tiga kali lipat dinginnya dari cuaca dingin yang ada di tempat tersebut. Banyak anggota Sekte yang tidak sanggup menahan nya dan ada juga yang sampai membeku karena mereka tidak memiliki cukup banyak energi untuk menahannya.
"Suamiku sadarlah!" kata Zhihui kemudian dia berusaha menyadarkan Zhihui.
Namun saat ini Liang Gwo sudah melepaskan kekuatan penuhnya sehingga Zhihui sendiri tidak bisa menghentikan Liang Gwo.
__ADS_1
Zhihui sadar walau dia mengerahkan semua kekuatannya, itu tidak akan sanggup untuk menghentikan suaminya yang memiliki kekuatan lebih tinggi darinya.
Dengan berat hati akhirnya Zhihui melepaskan kekuatannya, walau dia tahu itu tidak akan cukup.
"Sihir Es Naga Pembeku - Dewa Naga Putih."
Langit berubah menjadi sangat gelap, petir menyambar ke berbagai arah, dan angin berhembus sangat kencang. Tidak lama kemudian, muncul seekor Naga putih dari langit.
Tubuh Naga Putih itu memiliki tiga kepala dan Naga tersebut memiliki sayap yang sangat lebar.
Naga tersebut meraung keras dan kemudian turun dan mendarat tepat di belakang Zhihui dan Seluruh Sekte langsung bergetar saat kaki sang Naga Putih menginjakan kaki besarnya di atas Es.
Salah satu kepala Naga Putih tersebut menyemburkan air kearah Liang Gwo kemudian satu kepala lagi menyemburkan kabut sehingga air tersebut langsung membeku.
Liang Gwo segera melompat mundur sejauh mungkin sebelum terkena air dan kabut tersebut kemudian dia juga membuat segel tangan.
"Sihir Es Naga Pembeku - Dewa Naga Putih."
Kini muncul lagi satu Naga yang ukurannya lebih besar lagi dan hanya memiliki satu kepala. Naga Putih tersebut adalah Naga milik Liang Gwo.
"Groarrr!!!
"Groarrr!!!
Kedua Naga saling meraung kemudian mereka berdua terbang dan bertarung di udara dengan sangat sengit.
Liang Gwo dan Zhihui juga melanjutkan pertarungan mereka. Pertarungan suami istri itu membuat banyak kerusakan di sekitarnya. dan berbagai macam sihir Es sudah dilepaskan, namun kekuatan Liang Gwo jelas sangat besar dan tubuhnya yang abadi tidak terpengaruh oleh serangan Zhihui.
Kondisi Zhihui tidak beruntung, dia mendapatkan banyak luka di tubuhnya dan energi semakin banyak terkuras dan nafasnya juga sudah tidak teratur.
Zhihui menoleh ke Naga nya yang juga tidak mampu melawan Naga milik suaminya itu, Naga Putih berkepala tiga itu harus berkali-kali terkena gigitan dan serangan Naga Putih Liang Gwo dan energi Naga Putih berkepala tiga mulai melemah.
Zhihui juga melihat ke arah Mao Li yang terlihat tangannya terpotong. Mao Li juga tidak mampu mengalahkan Liang Zang, bukan karena tidak mampu melainkan Mao Li juga kehabisan energi.
Sudah berkali-kali Mao Li membunuh Liang Zang, namun Liang Zang sama sekali tidak mati sehingga energinya mulai terkuras dan akhir nya Liang Zang berhasil memotong salah satu lengannya.
Tidak hanya Liang Zang dan Liang Gwo yang tidak bisa di bunuh, namun semua Pasukan Mayat Hidup tidak ada yang mati, dan justru anggota Sekte Pulau Es lah yang banyak jatuh korban.
"Istriku maafkan aku! Ini semua bukan keinginan ku!" kata Liang Gwo sekaligus kedua tangannya terbungkus oleh es yang mengkristal.
Meng Ling yang mengendalikan kekuatan Liang Gwo berniat membunuh Zhihui dengan sihir terkuatnya yaitu Sihir Cristal Es.
Sihir itu mampu membekukan apapun dan tidak akan pernah bisa untuk di hancurkan.
Naga Putih berkepala satu juga menyerang Naga Putih berkepala tiga dengan kabut, air, dan petir sehingga Naga Putih berkepala tiga meraung keras dan jatuh diluar tembok hingga es dibawanya hancur.
"Sihir Cristal Es - Pembekuan Abadi."
Liang Gwo mengerahkan kedua tangannya yang membeku dan kemudian kabut tebal segera keluar dan mengarah kepada Zhihui yang kehabisan energi.
"Sihir Es - Bunga Teratai Beku."
Belum sempat kabut tersebut maju kearah Zhihui, tiba-tiba saja muncul bunga teratai beku dan menghadang kabut tersebut.
Liang Gwo tidak percaya jika ada sihir Es yang sanggup menahannya, dia melihat ada gadis cantik bermata biru sedang turun dari langit dengan perlahan, selendang birunya juga membuat gadis tersebut bagai seorang Dewi Kahyangan yang turun ke dunia.
"Nenek! Maaf aku sedikit terlambat!"
"Kau tidak terlambat Bing'er, kau datang tepat waktu sebelum Sekte ini musnah seluruhnya," kata Zhihui.
Liang Gwo hanya bisa terkejut saat mendengar gadis itu memanggil Istrinya dengan sebutan Nenek.
Liang Gwo kembali terkejut saat melihat Seekor Naga putih lainnya yang berhadapan dengan Naga miliknya, dia yakin itu bukan Naga milik Zhihui karena kepala Naga tersebut hanya satu dan tubuhnya lebih putih dari Naga miliknya.
Liang Gwo dapat merasakan kekuatan Naga Putih tersebut jauh lebih kuat dari Naga miliknya.
"Istriku! Apakah gadis ini adalah Cucu kita?" tanya Liang Gwo.
"Benat Suamiku, dia adalah Cucu kita, anak Liang Zang," jawab Zhihui.
Liang Gwo merasa senang karena melihat cucunya sudah dewasa, dia sama sekali tidak melihat Cucunya karena dia mati sebelum sempat melihat wajah Cucunya itu.
__ADS_1
***
Malam ini tidak akan update karena saya harus pergi kerumah nenek yang sedang sakit keras, atas pengertiannya terima kasih.