
***
Li Xiang bersama dengan Ji Long bekerja sama melawan para Pendekar Sihir Alam, setidaknya mereka sudah berhasil membunuh tiga Pendekar, namun masih banyak Sihir Alam di sana.
"Sihir Bumi - Gelombang Tanah."
Li Xiang menempelkan kedua telapak tangannya keatas tanah dan kemudian Gelombang Tanah bergerak kearah para musuh-musuhnya.
Tentu saja itu tidak akan cukup mampu untuk mengalahkan mereka semua mengingatkan kebanyakan dari mereka adalah Pendekar Sihir Alam.
Li Xiang hanya membuat pengalihan saja karena selanjutnya adalah serangan dari Ji Long yang akan menyambut mereka yang mulai melayang di udara untuk menghindari gelombang tanah tersebut.
"Pedang Suci - Tebasan Bayangan."
Ji Long melapaskan tebasan energi angin dengan pedangnya ke udara di mana para pendekar musuh sudah melayang menghindari gelombang tanah.
Satu tebasan menciptakan satu energi pedang berbentuk bulan sabit, namun di belakang energi pedang tersebut juga ada beberapa energi pedang seperti bayangan.
Para Pendekar tersebut menahan energi pedang Ji Long yang pertama, begitu mereka yakin jika energi pedang Ji Long sudah gagal, mereka jadi lengah sehingga tidak sadar jika masih ada energi pedang susulan yang tidak terlihat.
"Pendekar Benua Daratan Tengah keparat! Akan aku cincang kalian menjadi beberapa potongan kecil," seru salah satu Pendekar Sihir Alam setelah terkena sayatan energi pedang Ji Long di bagian lengannya.
Walau tebasan Ji Long tidak ada yang berhasil membunuh mereka, namun luka yang di alaminya cukup menghawatirkan.
Mengingat sebelumnya Ji Long dan Li Xiang sudah membunuh tiga Pendekar lainnya, mereka sedikit waspada.
"Hanya mengurus dua orang saja kalian tidak bisa! Pergi dan cari lawan yang lain saja, biar aku yang mengurus mereka berdua!" kata salah satu pendekar wanita berumur 40 tahunan.
"Ba-baik Panglima Angin!" kata salah satu dari mereka kemudian dia dan yang lainnya segera menjauhinya.
Wanita tersebut menoleh kearah Ji Long dan Li Xiang secara bergantian, "Baik, siapa dari kalian yang ingin mati lebih dulu?" tanya Wanita tersebut yang di Juluki Panglima Angin sambil tersenyum sinis kepada Li Xiang dan Ji Long.
Li Xiang dan Ji Long saling berpandangan, mereka berdua bisa merasakan kekuatan yang sangat besar terpancar dari tubuh Panglima Angin.
"Kenapa kalian berdua diam saja? Apakah telinga kalian berdua tuli?" tanya lagi Panglima Angin namun tidak ada jawaban dari Li Xiang dan Ji Long.
Li Xiang mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat erat, namun Ji Long menepuk Li Xiang, "Jangan gegabah Jendral, sepertinya dia bukan orang sembarangan, dari yang aku lihat, dia berada di luar jangkauan kita!" kata Ji Long.
"Bukannya menjawab malah mengobrol sendiri, kalian benar-benar berani meremehkan ku Sang Panglima Angin!" kata Panglima Angin kemudian dia melesat turun dengan kedua tangannya yang sudah diselimuti energi angin.
Li Xiang dan Ji Long langsung bersiaga, mereka sadar jika mereka berdua tidak akan mampu menandingi wanita tersebut.
"Pedang Suci - Tebasan Bulan Sabit."
"Sihir Bumi - Pukulan Batu Gunung."
Ji Long menebas berkali-kali kearah Panglima Angin agar gerakannya terhambat, begitu juga dengan Li Xiang yang melepas tinju nya yang mampu melesatkan energi tanah berbentuk batu yang sangat banyak kearah Panglima Angin.
Nyatanya Panglima Angin dengan sangat mudah menepis semuanya seakan-akan serangan Ji Long dan Li Xiang tidak ada artinya.
"Sial.. Andai aku membawa Cambuk ku!" gerutu Li Xiang, namun dia tetap melepaskan sihirnya.
"Percuma saja, kekuatan kalian tidak ada akan mampu melukai ku! Jadi bersiaplah kalian untuk mati!" kata Panglima Angin yang semakin dekat.
Ji Long dan Li Xiang tetap berusaha bertahan dengan seluruh kemapuan yang mereka miliki, walau mereka tahu semua itu tidak akan berguna.
"Hembusan Angin Kematian."
Panglima Angin mengibaskan tangannya dan kemudian energi angin melesat dengan sangat cepat kearah Ji Long dan Li Xiang.
Ji Long ingin menahan nya dengan Sihir namun keduluan Li Xiang yang lebih dulu membuat dinding pelindung dari tanah.
Ledakan kuat segera terjadi sehingga dinding tanah milik Li Xiang hancur, namun ternyata energi Angin milik Panglima Angin masih terus bergerak ke arahnya.
Panglima Angin tersenyum lebar melihat kepanikan Ji Long dan Li Xiang, dia merasa puas melihat mereka berdua tidak berdaya walau Panglima Angin akui jika mereka berdua sungguh sangat gigih melawan walau mereka sudah tahu tidak mungkin bisa menang.
"Pedang Pencari Angin."
Chinmi yang muncul secara tiba-tiba langsung membuat perisai angin dan menahan serangan Angin dari Panglima Angin.
"Chinmi!" Li Xiang segera mengenalinya.
Ji Long juga terkejut karena kemunculan Chinmi yang secara tiba-tiba, dia tidak memperhatikan sebelumnya karena terlalu fokus terhadap Panglima Angin.
Panglima Angin sendiri juga terkejut karena ada yang berhasil menghentikan serangannya.
"Ayah, senior Ji! Maaf sudah mengejutkan kalian, namun sekarang kalian menghindar dulu dari sini! Bantulah para prajurit-prajurit itu dan biar aku yang mengurusnya!" kata Chinmi yang menginginkan ayahnya dan Ji Long menyerang para pendekar yang mampu untuk di hadapi.
__ADS_1
Ji Long dan Li Xiang saling berpandangan, mereka segera berbalik dan pergi membantu para Prajurit lainnya.
"Mau pergi kemana kalian!" Panglima Angin langsung melesat mengejar Li Xiang dan Ji Long.
"Aku tidak akan membiarkan mu mengejar mereka!" Chinmi segera menghadangnya.
Panglima Angin memperhatikan Chinmi dari atas sampai bawah, dia yakin Chinmi masih sangat muda.
"Anak muda! Sebaiknya kau jangan menghalangi ku, jika tidak kau akan menyesal nantinya!" kata Panglima Angin.
"Apa kamu tidak mengerti dengan perkataan ku tadi? Jika aku bilang tidak akan membiarkan mu, itu artinya aku akan menghadang mu!" kata Chinmi.
"Kau benar-benar cari mati! Baiklah jika kamu bersikeras ingin menghadang ku, sangat di sayangkan anak muda berbakat seperti mu harus mati sebelum menjadi lebih kuat," kata Panglima Angin kemudian dia melepaskan energinya untuk menunjukkan kekuatan nya kepada Chinmi.
Chinmi sama sekali tidak terkejut melihat itu sehingga membuat Panglima Angin mengerutkan dahinya.
"Apa kamu tidak takut saat merasakan besarnya kekuatan ku ini? Harus kamu tahu, aku ini adalah Panglima Angin, salah satu dari Lima Panglima dari Sungai Darah," kata Panglima Angin.
"Owh.. Jadi kamu adalah salah satu dari Lima Panglima itu? Jika tidak salah aku sudah pernah membunuh dua di antara kalian! Namanya Eee... Panglima Elang dan Panglima Gajah!" kata Chinmi kemudian kembali melanjutkan perkataannya.
"Tidak hanya itu! Aku juga sudah menghabisi 20 Pendekar yang kalian kirim, dan juga Pendekar yang membawa ratusan kapal, salah satunya memiliki kekuatan yang unik!" kata Chinmi sambil memegang dagunya berusaha mengingat kembali kejadian itu.
Mata Panglima Angin melebar dengan mulut menganga, dia merasa jika Chinmi hanya berbohong saja untuk menakutinya.
Panglima Angin kembali memperhatikan Chinmi lebih teliti lagi, dia merasa ciri-ciri pemuda yang katanya membantai ribuan pasukan Sungai Darah sangat mirip dengan Chinmi.
"Kau pasti hanya mengaku-ngaku saja!" kata Panglima Angin.
Chinmi menggelengkan kepalanya, "Kenapa tidak kamu buktikan sendiri saja, apakah aku hanya orang yang mengaku-ngaku saja, atau memang aku orang yang telah menghabisi para Pendekar andalan kalian itu!" kata Chinmi.
Panglima Angin merasa ragu, dia takut jika pemuda di hadapannya adalah pemuda yang dicari oleh Sang Dewa Penghancur, namun dia juga tetap harus membuktikan nya terlebih dahulu.
Panglima Angin segera menghilang dan muncul di belakang Chinmi, dia berniat memotong leher Chinmi dari belakang dengan pisau angin nya.
Telapak tangan Panglima Angin tertutup oleh energi angin yang kuat serta memiliki ujung yang sangat runcing dan di pinggir nya sangat tajam.
Telapak tangan Panglima Angin dengan cepat menyerang leher bagian belakang Chinmi, namun belum sempat telapak tangannya menyetuh leher Chinmi, siku tangan kanan Chinmi lebih dulu mengenai perutnya.
"Arghhh!!"
Panglima Angin langsung muntah darah, dia merasa serangan siku Chinmi seperti sebuah besi yang di hujamkan keperutanya dengan sangat kuat
"Ini adalah balasan karena berani menyerang Benua ku!" kata Chinmi yang di sertai dengan kepalan tangannya yang menonjok wajah Panglima Angin.
Tubuh Panglima Angin segera terlempar kebawah dan darah dari hidung juga keluar dengan sangat banyak.
Panglima Angin belum sempat jatuh di tanah, Chinmi tiba-tiba saja muncul lagi di belakang dan memberikan tendangan kearah pinggang Panglima Angin.
"Ini balasan karena berani menyerang dan berniat membunuh ayah ku!"
Tendangan Chinmi membuat tubuh Panglima Angin melesat sangat tinggi keudara, Panglima Angin hanya bisa berteriak menahan rasa sakitnya, dia merasa tulang pinggangnya seperti patah.
Kini Panglima Angin yakin jika Chinmi adalah pemuda yang di cari oleh Dewa Penghancur, dia hanya merasa sial saja karena harus berhadapan dengan Chinmi.
Dengan tubuh yang masih melesat tinggi di udara dengan posisi terlentang, Chinmi nyatanya muncul lagi di atasnya dengan tangan kanan yang siap untuk memberikan pukulan selanjutnya.
"Ini pukulan terakhir ku! Temuilah teman-teman mu di neraka!" kata Chinmi kemudian meninju perut Panglima Angin sehingga tercipta daya kejut di udara.
"Urghh!!!
Panglima Angin bersuara seperti suara anjing yang lehernya kejepit pintu, matanya melotot seperti akan keluar, dan dia memuntahkan darah yang lebih banyak lagi sebelum akhirnya hilang kesadaran dengan tubuh yang melesat kebawah dan menghantam permukaan tanah dengan sangat keras hingga semua tulangnya banyak yang patah.
Panglima Angin tidak lagi bisa bergerak, dia tergelatak di atas lubang tanah yang tercipta dari tubuhnya sendiri.
Semua para prajurit Sungai Darah merasa ketakutan melihat Panglima Angin yang mati dengan darah keluar dari mulut, hidung dan telinga.
Mereka semua mengetahui kekuatan Panglima Angin yang sangat besar, tidak mudah untuk mengalahkan Panglima Angin, walau Panglima Angin terlihat seperti Wanita Paruh Baya, namun sebenarnya dia sudah berumur lebih dari 80 tahun.
Tidak akan mudah untuk membunuhnya. Bahkan Dewa Penghancur sekalipun tidak akan bisa membunuh Panglima Angin secepat yang dilakukan oleh Chinmi.
Chinmi memperhatikan tubuh Panglima Angin sesaat, kemudian dia berniat untuk mengurangi jumlah musuh lebih banyak lagi, namun mendadak suara seorang pemuda terdengar menggema di seluruh area pertempuran.
"Kau akhirnya muncul juga Dewi An Hei Ling!"
Chinmi mengerutkan dahinya, dia menatap ke atas dan melihat seorang pemuda berumur 14 sampai 16 tahun dengan mengenakan pakaian serba hitam dan kepalanya juga tertutup oleh kain hitam, dan dia menatap kearah Qie Yin.
"Siapa pemuda itu? Kenapa aku tidak bisa merasakan kekuatannya?" batin Chinmi.
__ADS_1
"Chinmi! Berhati-hatilah, sepertinya dia bukan orang sembarangan!" Ho Chen muncul di samping Chinmi dan mengingat kan Chinmi.
Ho Chen yang sejak awal tidak ikut bertempur sama sekali akhirnya datang setelah tidak bisa merasakan kekuatan pemuda serba hitam itu, jika saja dia bisa merasakan kekuatannya, mungkin Ho Chen tidak akan bersikap serius seperti saat ini.
"Aku tahu senior! Namun sepertinya dia sedang mengincar Qie Yin," kata Chinmi yang mengetahui jika pemuda itu sedang mengincar Qie Yin.
Yinfei dan Xi Liyi segera bergabung dengan Ho Chen dan Chinmi, karena mereka juga tidak bisa merasakan kekuatan pemuda tersebut, mereka ingin membahas pemuda itu kepada yang lainnya.
***
Bing Mei dan ketiga gurunya mampu mengalahkan lawan-lawannya dengan sangat mudah, terlebih lagi ada tiga Naga yang ikut bertarung bersamanya, sedangkan ke-lima Naga lainnya membantu Ke-lima Pemimpin Hewan Iblis.
Keadaan semakin menguntungkan ketika Qie Yin muncul dan membantu Bing Mei menghabisi para Pendekar Raja Bumi dan Langit.
Berbeda dengan Bing Mei dan ketiga gurunya yang beru bisa membunuh lawannya dengan beberapa kali serangan, Qie Yin justru menghabisi para Pendekar Raja Bumi dan Langit dengan sekali serang.
Qie Yin melepaskan petir hitamnya sehingga setiap cabang petir hitam akan membuat tubuh korban nya hancur menjadi debu.
"Terima kasih Nona Yin!" kata Bing Mei.
"Jangan sungkan seperti itu Nona Bing, kita adalah teman, jadi sudah sepantasnya bagi kita untuk saling membantu, lagi pula bantuan ini tidak seberapa jika di bandingkan dengan bantuan yang Nona Bing serta Senior Zhihui berikan kepada ku!" kata Qie Yin.
Qie Yin menatap lautan musuh yang masih begitu banyak, dia yakin bisa membunuh mereka semua dalam waktu singkat, namun jika dia mengerahkan seluruh kekuatannya, maka area pertempuran tidak akan bisa bertahan lama, dan tidak hanya dari pihak musuh saja yang akan menjadi korban, melainkan pihaknya sendiri juga akan menjadi korban.
"Terlalu banyak musuh di depan kita, aku akan mengurangi jumlahnya sedangkan kalian bisa menyerang yang disana!" kata Qie Yin sambil menunjuk kearah Zhihui.
"Baiklah Nona Yin, berhati-hatilah!" kata Bing Mei.
Sebenarnya Bing Mei dan semua yang berada disana enggan membiarkan Qie Yin menghadapi lautan musuh seorang diri, mengingat musuh yang masih memiliki banyak Pendekar Raja.
Namun Bing Mei tidak bisa membiarkan Nenek nya yang sudah terdesak oleh musuh-musuh nya, bahkan para Ketua Sekte di sana juga terlihat kewalahan.
Ke-tiga Naga juga tidak tahu harus melakukan apa, namun melihat instruksi dari Tian Xiang untuk tidak menganggu Qie Yin, akhirnya ke-tiga Naga pun pergi membantu yang lain.
"Sudah tidak ada siapa-siapa lagi disini! Mari kita mulai," kata Qie Yin dengan nada dingin.
Para Pendekar dari pihak musuh ragu untuk maju menyarang Qie Yin, jika saja sebelumnya Qie Yin tidak menghabisi para Pendekar Raja Bumi dan Langit dengan sekali serangan petir hitamnya, mungkin mereka masih berani untuk maju.
Mereka menggenggam senjata dengan sangat erat dan keringat dingin mulai mengalir di pelipis mereka, mereka semua berteriak keras dan maju menyerang Qie Yin yang hanya berdiri seorang diri dengan tatapan tajam.
"Sihir Debu Penghancur Tahap Dua."
Debu-debu mulai beterbangan menutupi pandangan para pasukan Sungai Darah, mereka semua berhenti bergerak karena tidak bisa melihat Qie Yin.
Ada yang berusaha untuk menghilangkan debu tersebut dengan kekuatan mereka, namun tidak berhasil, bahkan ada yang mencoba terbang, namun debu-debu tersebut masih menutupi pandangan mereka.
"Debu macam apa ini?"
"Arghhh!!"
"Apa ini? Kenapa tubuhku seperti..! Arghh.."
"Hei apa yang terjadi?"
Semuanya kebingungan saat suara erangan kesakitan mulai terdengar, tidak ada yang bisa melihat selain suara erangan dan seruan kebingungan, dan juga tubuh-tubuh para prajurit yang mulia berjatuhan.
"Ini bukan debu biasa! Awas lindungi diri kalian sebisa mung..!"
Suara Pendekar yang ingin memperingatkan pasukan nya menghilang, semuanya semakin bingung dan panik karena suara erangan kesakitan semakin banyak yang terdengar.
"Sihir Debu Penghancur Tahap Empat."
Qie Yin mengubah Debu-debu tersebut menjadi sebuah kurungan yang menutupi semuanya. Dengan kurungan debu sekuat itu, tidak akan ada satu orang pun yang akan bisa lolos, bahkan Pendekar Sihir, Raja Bumi dan Langit yang bisa terbang sekalipun tidak akan pernah bisa menembus nya.
Di dalam kurungan debu, pusaran debu bagai pusaran angin terlihat sangat jelas, dan suara pilu dari rasa sakit semakin ramai terdengar, dan dalam waktu beberapa saat saja, suara-suara erangan tersebut sudah menghilang.
Qie Yin segera menghilang kurungan debu tersebut, dan begitu debu itu sudah lenyap, ribuan pasukan Sungai Darah terbaring kehilangan nyawa dengan posisi bertumpukan.
Qie Yin sengaja meminta Bing Mei dan semuanya agar tidak ikut campur karena alasan itu, dia tidak ingin Bing Mei, dan semuanya termasuk para pasukan Hewan Iblis ikut mati oleh Sihir Debu Penghancur nya.
Qie Yin ingin melanjutkan menyerang yang lain, namun mendadak dia seperti merasakan ada yang sedang mengawasi nya, Qie Yin berusaha mencari nya namun tidak berhasil menemukan nya.
"Kau akhirnya muncul juga Dewi An Hei Ling!"
Qie Yin yang masih bingung karena tidak bisa menemukan orang yang mengawasinya terkejut dengan suara pemuda asing yang menggema.
Qie Yin segera melihat ke langit, dia merasa tubuhnya sulit untuk di gerakkan ketika mata sosok pemuda berpakaian serba hitam menatap padanya.
__ADS_1
Qie Yin tidak bisa merasakan kekuatan pemuda tersebut, namun tidak lama dia bisa merasakan energi jahat dan gelap dari tatapan pemuda tersebut sehingga membuat Qie Yin menyadari jika yang di maksud An Hei Ling adalah dirinya.