
“Kasih Rita waktu untuk melihat perkembangannya Kek,maksud Rita, Amanda ada perubahan sikap gak, kalau ternyata ia masih seperti semula, maaf saja Rita gak mau berdamai!”
“Tapi Rit, mereka sudah keterlaluan lho sama kamu!” ujar Eka
“Iya pa, tapi seperti yang kakek bilang, Rita juga melakukan kekerasan terhadap mereka.”
“Aneh ya pa, hukum di negara ini, orang mempertahankan diri kog bisa dipidana!” ujar Ratna
“Kan bukan Rita ma yang terancam dipidana” ujar Rita
“Tapi para orang tua gengnya Amanda, pasti gak terima tuh, mereka bilang sendiri kan?”
“Coba saja kalau mereka berani!” ujar kakek Sugiyono geram
Eka dan Ratna paham betul dengan sifat kakek Sugiyono, kalau sudah marah, menyeramkan.
“Baiklah pa, aku ikut kata Rita, kalau Amanda ada perubahan sikap, kita tarik kasusnya, tetapi tidak untuk pelatih itu. Oiya, ma? Kamu kenal pelatih itu?”
“Pelatih? Enggak, enggak kenal, baru lihat kemarin”
“Kog dia benci banget sama kita ya? memangnya kita salah apa?” tanya Eka bingung
“Sudahlah, kalian mumpung di sini mau lihat koleksi kuda aku yang baru datang kemarin?” tanya kakek
Kakek Sugiyono di dunia ini penggemar kuda, ia memiliki peternakan kuda, stadion untuk balap kuda bahkan ia juga membuka kursus ketrampilan berkuda yang lumayan banyak peminatnya. Rita dan kedua orang tuanya melihat koleksi kuda kakek Sugiyono, bahkan Rita mencoba menaikinya. Mereka cukup bersenang-senang di rumah kakek.
Malam harinya, Rita yang telah kembali ke kamarnya. Ia membuka Diary Rita di dunia ini yang penuh dengan ungkapan kesedihan dan keputusasaan. Lalu Rita menulis di Diary itu
“Dear Rita, sebelumnya Aku minta maaf karena sudah melanggar privasi mu. Aku itu kamu, tapi dari dunia yang lain. Mungkin Tuhan mengirimku untuk membantumu. Oh iya, kita putus dari Tommy. Mungkin ini keputusan terbaik, yang aku baca dari keluhan mu, hubungan mu dengan Tommy sudah tidak sehat, kamu sudah merasa tidak nyaman bersamanya, jadi untuk apa dipertahankan? Urusan Amanda dan gengnya sedang dalam proses, FYI Amanda & geng sudah kubuat kapok. Mungkin ada baiknya kamu belajar bela diri. Lalu pelatih senam kepercayaan mu? Ternyata dalang dibalik semua perundungan yang menimpa mu. Ia juga sedang diproses hukum. Aku menulis ini untuk menyemangati mu, Aku enggak tahu kapan aku kembali ke duniaku, tapi Rit, Aku bahagia bisa bertemu papa di sini dan kak Tommy. Di duniaku mereka sudah tidak ada. Jadi Rit, hidup yang baik ya? jangan mudah menyerah! Aku akan selalu mendoakan mu, di dunia manapun aku berada.
–Rita 2-
Rita menutup diarynya dan meletakan di tempat semula. Salinan rekaman perkelahian di toilet juga di sisipkan di situ, setelah itu ia pun pergi tidur.
Keesokan harinya, Rita terbangun. Ia mendapati dirinya berada di ranjang rumah sakit. Rita melompat dari tempat tidur dan berjalan keluar ruangan.
“Suster, ini hari apa? Sudah berapa lama saya tertidur?” tanyanya pada suster jaga
“Baru tadi malam Anda menginap di sini, oh iya hasil labnya sudah keluar. Anda sehat wal’afiat, kakak Anda juga sudah sadar tadi malam, dan semua dinyatakan sehat.” Jawab Suster jaga
“Alhamdulillah,..eh kakak? Kakak yang mana ya?” tanya Rita
“Itu cowok yang mirip orang Korea, dia kakak kamu kan?”
“Ooh, iya, sekarang dia di mana?” tanya Rita tidak sabar
“Mungkin baru siang bisa keluar RS, karena sekarang menunggu dokter, sebaiknya kamu segera berganti pakaian.”
“Ah iya, suster, terimakasih!” Rita kembali ke kamarnya, lalu mandi dan berganti pakaian. Pakaiannya masih yang kemarin tetapi tercium bau obat
“Yah gak apalah, yang penting gue keluar dari sini.” Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, Rita pun pergi menuju kamar Daniel. Betapa bahagianya ia melihat Daniel yang telah sadar dan sehat wal’afiat, ditambah lagi Daniel di sini bukan tunangannya tantenya, Rita begitu lega.
“Selamat pagi Daniel!” sapa Rita ramah, Daniel melambaikan tangannya sambil tersenyum
“Sudah sarapan? aku membeli roti-roti di cafe RS ini, mungkin kamu mau?”
“Tadi sudah!, Kamu datang pagi-pagi Rit?”
“Enggak, aku kan juga menginap di sini dari semalam!”
“Oh ya? kenapa?”
“Karena semua yang terkena gas itu pingsan, kecuali aku, jadi dokter memeriksa darahku.”
“Lalu hasilnya?”
“Ajaib, aku dinyatakan bersih. Padahal satpam dan polisi yang membawa pelaku juga pingsan. Tapi sekarang mereka semua sudah sadar, eh kecuali satu orang!”
“Satu orang? Siapa?”
“Pak Joey, beliau ditemukan sudah tidak bernyawa di ranjangnya”
“Ya Ampun, kog bisa?”
“Menurut dokter, pak Joey meninggal karena sesak nafas”
“Sesak? Setahu ku dia gak ada riwayat asma” ujar Daniel heran
“Bukan begitu, seseorang sengaja menutup jalan nafasnya sehingga ia berhenti bernafas”
“Itu pembunuhan , siapa orangnya?” tanya Daniel
__ADS_1
“ Silvy”
“Silvy? Siapa itu?”
“Aku juga gak tahu, tapi sepertinya mereka mantan kekasih”
“Kamu tahu dari siapa?” tanya Daniel
“Aku mendengar percakapan mereka “
“Jadi yang membunuh pak Joey, silvy?”
Rita mengangguk.
“CCTV memperlihatkan Silvy menutup gorden, lalu ada bantal yang terjatuh di lantai sebelum Silvy jatuh pingsan karena mencium bau gas. Itu sebelum kamu datang!”
“Kog kamu bisa tahu?”
“Aku minta tolong ke polantas yang kemarin untuk mengecek CCTV dan menceritakan kecurigaanku terhadap Silvy, sekarang ia sedang diinterogasi polisi"
“Wah, Rita, Aku gak tahu harus ngomong apa, betul juga kata Andi. Bersamamu tidak akan membosankan!”
Ujar Daniel tersenyum manis
Rita sangat menyukai senyum Daniel yang seperti anak-anak, seolah mencerahkan hari.
“Maaf ya, kita jadi batal nonton!” ujar Daniel menyesal
“Gak apa-apa yang penting kamu sehat!” ujar Rita menenangkan.
Mereka menyantap roti-roti yang Rita beli dengan hari senang, karena bisa bertemu lagi.
Hari telah siang, hasil lab Daniel sudah keluar, iapun diperbolehkan keluar dari RS.
“Aku yang bawa mobil ya? Kamu percaya aku kan?” ujar Rita, Daniel mengangguk dan memberikan kunci mobil ke Rita. Sebelum pulang mereka membeli makanan lalu Rita mengantar Daniel ke apartemennya.
“Terimakasih, Rit. Aku juga sampai dibelikan makanan!” ujar Daniel dari luar jendela mobil, mereka telah sampai di apartemen Daniel
“Sama-sama, makan yang banyak supaya sehat!” ujar Rita dari dalam mobil
“Kamu gak mampir dulu? Kita makan bersama?”
“Ah iya benar juga!, baiklah terimakasih, hati-hati di jalan Rita!”
Rita melambaikan tangannya, ia telah mahir mengendarai mobil, walaupun ia belum punya SIM, tapi karena kondisi darurat dan Daniel yang baru sadar tidak mungkin ia suruh menyetir.
Sesampainya di rumah, Rita langsung naik ke kamarnya. Sebelum masuk ke kamarnya ia sempat mampir ke kamar Eka.
“Assalammu’alaikum papa, Aku sayang papa!” Lalu Rita menutup kembali kamar Eka dan kembali ke kamarnya. Setelah mandi dan berganti pakaian, Rita merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia lelah sekali karena baru kali ini ia menyetir dengan jarak cukup jauh, semenit kemudian ia pun terlelap.
Malam harinya, sekitar pukul 7 malam, Rita menemui Andi yang sedang nonton TV di kamarnya.
“Wuidihh..TV baru kak?”
“Hadiah!”
“Hadiah? Dari siapa? Kog aku gak dikasih?’
“ini hadiah dari klien yang baru gue selamatkan dari hacker!”
“Ohhh, kak Andi jago programing juga?”
“Lumayan lah, ngapain kemari, tumben?”
“Kak, kakek belum pulang?”
“belum, masih di Dubai.”
“Kira-kira kapan kakek pulang?”
“Entahlah, mungkin besok!”
“Eh kak!”
“Apa?”
“Kakak percaya ada semesta lain selain semesta yang di sini?”
“Enggak, ini pasti pengaruh nonton film keluaran marvel, jadi absurd gitu!”
“Memangnya kenapa kak? Kan asyik kalau ada semesta lain!
__ADS_1
“Kakak gak percaya, semesta lain itu letaknya di mana? Seperti dunia paralel gitu? Wahhh.. gue tuh orang science Rit, kalau belum dibuktikan mana mau percaya!”
“Tapi kemarin Rita sempat ada di semesta lain lho!” Rita menceritakan pengalamannya bertemu papa,
“Memang papa itu orangnya seperti apa?”
“Kakak memang belum pernah ketemu papa?”
“Belum pernah, hanya dari foto-fotonya, itupun foto masa kecil, foto dewasa gak pernah!”
“Papa kita itu tinggi lho, sekitar 180 cm deh, pipinya agak chubby. Kulitnya putih bersih, matanya sipit, persis orang Cina!”
“Eh, kita memang ada keturunan Tionghoa dari garis keturunan papa. Kalau gak salah papanya kakek orang Tionghoa dan menikah sama nenek yang orang Cilacap.”
“Ooo begitu, pantas, kita putih mirip orang Tionghoa ya kak!”
“He eh, terus apalagi tentang papa?
“Yah orangnya baik, lucu, sedikit telmi lah!”
“Telmi?”
“Telat mikir!, mama sangat menyayangi papa”
“Kalau mama di dunia itu bagaimana?”
“Sama cantiknya, cuma agak gemuk”
“Kalau gue gimana?”
“Hmm, kak Andi, fisiknya sama persis, Cuma baiknya kak Andi itu, lebih baik yang di sini dibanding yang di sana!’
“Memangnya Andi di sana bagaimana?”
“Marah-marah melulu, kalau ngomong ketus, sudah begitu main gameee melulu!”
“Ooo sama dong!, kalau Lo gimana? Sama sifatnya?”
“Beda kak, Rita di dunia itu, gak bisa bela diri, kata orang aku manja, dan gampang ditindas!” Rita menceritakan kejadian yang menimpanya
“Terus lanjutannya?”
“Ya gak tahu, tiba-tiba aku bangun di ranjang rumah sakit”
“Nah, gue pikir, efek gas itu bikin lo halusinasi Rit”
“Kalau begitu kenapa aku bisa tahu tentang papa?”
“Ya mungkin, alam bawah sadar lo yang begitu menginginkan bertemu papa!”
“masa iya? Emang kak Andi gak kangen papa?”
“Bagaimana bisa kangen Rit? Pernah ketemu saja gak pernah!. Orang kangen itu kalau pernah bertemu, pernah menghabiskan waktu bersama, baru deh kangen. Kalau kayak kita bagaimana bisa kangen!, tapi kakak kangen sama Ayah bener tuh!”
“Oh kak Andi suka nelpon Ayah?”
“Sering dong, VC malah. Anaknya lucu lho!”
“Iya? “
“Emang lo gak menghubungi beliau lagi?”
Rita menggeleng
“Kenapa? Takut ya?”
“takut enggak kak, tapi Rita merasa aneh saja, bayangin saja kak, selama ini Rita tinggal bersama orang yang gak ada hubungan darah, ya jadi aneh saja!”
“Tapi Rit, jantung lo itu milik anaknya ayah lho, jadi secara gak langsung, lo itu tetap anaknya Ayah!, apalah arti jasad tanpa jantung!”
Rita hanya terdiam mendengarkan kata-kata Andi
“Ya udah, Rita balik ke kamar ya!”, Andi melambaikan tangannya, matanya tetap terpaku pada TV
Rita kembali ke ranjangnya dan melihat nomor kontak dr.Reza, ia belum siap untuk berbicara kepada ayah.
Tak lama kemudian Andi menghambur masuk ke kamarnya Rita, dan berteriak
“Rit! Pesawat kakek hilang!”
-bersambung-
__ADS_1