
Cerita ini terjadi, sebelum Rita dan Daniel menikah. Ketika Rita masih bersekolah di sekolah Internasional di Auckland.
“Rit, hari ini kita pulang cepat lho!” ujar Sisca di sela-sela jam pelajaran
“Hah? Kenapa?”
“Katanya ada rapat guru dan orang tua murid tingkat akhir”
“pulang cepatnya itu jam berapa?”
“Sebelum jam 12!, besoknya kita libur!”
“Wah asyik banget nih!”
“Pulang nanti kita ke mall yuk!” Ajak Sisca
“Mall? Hmm...ayo deh!”
“Eh btw Rit, Kamu gak lapor oppa dulu? Nanti kalau dia jemput gimana?” tanya Sisca mengingatkan
“Enggak! Kita lagi perang dingin! Sudah hampir tiga hari gak ada kabar dari dia!” jawab Rita kesal
“Akhirnya kalian berantem juga!!” Sisca tertawa
“Kok kamu senang banget aku ribut sama oppa ?”
“Habis sih, aku cemburu berat sama kalian berdua. Kalau lagi akur mesraaa banget, padahal Cuma VC doang, tapi bikin baper!”
“begitu ya?, maaf deh...gak ada maksud begitu kok!”
“It’s okay! Jadi nanti kita ke mall ya?”
“Syiipp!!!” Rita membalas tos-an tangan Sisca
Pukul 12 siang sekolah bubar, seperti yang direncanakan Rita dan Sisca pergi ke mall. Mereka naik bis dari depan halte sekolah.
“Eh Sis, nanti kita mampir ke toko baju dulu ya? kita ganti baju, gak enak keliling mall pakai baju sekolah!”
“Tapi aku gak bawa banyak uang Rit!” tolak Sisca
“Tenang!, aku traktir deh! Gak mahal-mahal kok bajunya!” Rita begitu bersemangat, ia ingin melupakan masalah percintaannya. Sesampainya di Mall, mereka langsung memasuki departemen store, kebetulan sedang ada sale besar-besaran. Rita memilih celana training berwarna hijau toska dan kaos putih dengan strip hijau pada bagian samping, ia melengkapi penampilannya dengan hat bucket berwarna hijau army. Sedangkan Sisca memilih rok kotak-kotak dilengkapi celana legging selutut dan kaos merah. Mereka terlihat trendy. Baju yang mereka beli langsung mereka pakai, sedangkan seragam sekolah mereka taruh dalam ransel.
“Terima kasih ya Rit! Kamu baik deh, sesuai sama namanya Darmawan !”
“Hehehe...sama-sama...eh Sis! Kita beli es krim yuk!” Rita menarik Sisca untuk mengistirahatkan kaki di kedai es krim.
“Kamu mau rasa apa?” tanya Rita
“Chocolate blue berry!” jawab Sisca
“Chocolate blue berry 1 and Chocolate Strawberry with peanut 1, all in cones!” pinta Rita kepada waiter. Setelah membayar dan mendapat es krim, mereka menikmatinya sambil duduk-duduk melihat ke lantai bawah.
“Rit, Gak apa-apa nih, menghabiskan uang banyak?” tanya Sisca heran melihat kelakuan temannya
“Gak apa-apa, minggu ini aku dapat surplus kok!, selama ini uang saku dari kakek jarang dipakai. Jadi masih lumayan banyak!” ujar Rita sambil menjilati es krimnya
“Ada masalah apa dengan Oppa? Kayaknya kamu frustrasi berat sama dia?”
“Gak usah dibahas lah!, kakakku bilang aku itu terlalu bucin sama dia, jadi rasanya seperti kiamat kalau dia gak menghubungi. Jadi anggap saja ini latihan supaya terbiasa gak tergantung sama dia!” ujar Rita
“Kamu yakin? kayaknya mata mu itu gak bisa boong! Tuh berkaca-kaca!” ujar Sisca, ia memberikan tissue ke Rita. Ia mengusap air matanya
“Tahu nih, dari kemarin rasanya mau nangis terus. Aku gak yakin salah aku tuh apa sama dia. Terakhir berantem sama dia, aku pulang sendiri naik taksi dan dia gak mengejar aku! Yah...mungkin aku yang terlalu suka sama dia, tapi dianya enggak!” Ujar Rita sambil mengusap air matanya lagi . Sisca mengusap punggung temannya.
“Rit, kakek ku bilang, kalau kita sedih jangan ditahan! Kalau nangis-nangis saja! Dari pada jadi penyakit!” saran Sisca
“Hmm..begitu ya?” tiba-tiba Rita terisak..
“Huuuu...huuu...huuu...”Ia menangis sambil menutup matanya dengan tissue. Sisca jadi bingung sendiri,setelah beberapa menit Rita berhenti menangis.
“Sudah lega?” tanya Sisca
“Sedikit!” jawab Rita tersenyum
“Terus kita kemana nih?” tanya Sisca
“Kita ke arena bermain yuk!” Rita menarik Sisca untuk ke arena bermain. Mereka membeli kartu untuk bermain selama 1 jam. Permainan yang dipilih Rita boxing punch, semua permainan yang memukul dan melempar. Beberapa kali Rita mendapatkan poin tertinggi di permainan tersebut.
“Rit, udahan yuk! Sudah hampir malam nih!” Sisca menunjukkan jam tangannya
“Yahh...cepat banget!”
“Cepat? Kita sudah 4 jam di sini. Beberapa kali kamu beli kartu” ujar Sisca mengingatkan
“Yahh...coba aku punya semua mainan ini di rumah!” ujar Rita sambil mengambil tas ranselnya. Mereka menuju counter untuk menukarkan poin permainan mereka. Kemenangan Rita cukup banyak hingga ia berhasil menukarkan poin dengan boneka beruang yang besar.
“Kamu mau Sis?”
“hell No!,..aku punya trauma dengan boneka. Buat kamu saja!”
Ketika keluar dari Mall
“Rit, arah rumah kita berlawanan, kita pisah di sini ya? terima kasih sudah membelikan ini semua!” ujar Sisca, ia naik bis tujuan ke rumahnya. Begitu pula dengan Rita, ia selain menggendong ranselnya, ia juga menggendong boneka beruang raksasanya. Ia ditolak masuk ke bis karena bonekanya menghalangi orang jalan. Akhirnya ia memutuskan memberhentikan taksi.
“Kamu!!jadi temanku ya sekarang!” ujar Rita pada bonekanya. Beberapa menit kemudian, taksi berhenti di pintu gerbang rumah keluarga Darmawan.
“Masuk saja Pak!” pinta Rita
“Gerbangnya gak ada yang jaga mba!” jawab supir taksi
“hmm...tumben”, akhirnya Rita turun di depan gerbang, dan membuka sendiri pintu gerbang. Dengan tertatih ia menggendong beruangnya menuju pintu depan rumah. Jarak dari pintu gerbang ke rumahnya sekitar 20 meter. Sesampainya di depan pintu rumah, ia memencet bel. Rumah keluarga Darmawan seperti lobby hotel, dengan pintu kaca yang terbuka secara otomatis. Tapi malam itu, pintu kaca tertutup. Beberapa lampu di dalam rumah juga mati. Awalnya Rita tidak curiga, tapi ia mendengar suara teriakan dari dalam rumah. Ia berlari menjauhi pintu depan, ia meletakkan boneka besarnya di antara pepohonan yang tertata rapi. Ia berinisiatif ke kamarnya melalui tangga depan. Lampu depan kamarnya juga tampak padam. Pelan-pelan ia mengintip di antara jendela kamarnya, hingga seseorang mengagetkannya
“Kamu siapa?” seorang lelaki tinggi tegap membawa senjata, menariknya masuk. Rita berusaha meronta melepaskan diri, tetapi pegangan orang itu membuatnya tidak bisa melepaskan diri. Karena ia terus meronta, akhirnya orang itu memukulnya hingga ia pingsan. Ia diseret ke suatu ruangan dan dikumpulkan dengan para staf rumah yang telah di sandera sebelumnya.
“Saya menemukan ini bos!” ujar orang itu sambil menyeret Rita yang pingsan
“Dia siapa?” tanya si Bos.
“Entahlah, aku menemukannya sedang mengintip di sela-sela jendela”
“Apa mungkin ini cucunya si Darmawan?” tanya si bos, sambil memegang wajah Rita yang masih pingsan.
__ADS_1
“Bos!, saya menemukan ini di depan rumah!” salah seorang kaki tangannya membawa boneka beruang dan tas ransel yang Rita letakan di luar. Mereka membuka isi ranselnya, dan menemukan dompet dengan identitas
“Sisca..hmm...ini milik anak itu. Ku rasa dia ingin bertemu temannya di sini!” ujar si Bos, sepertinya tas ransel yang di bawa Rita tertukar dengan milik Sisca dan karena penerangan lampu dibuat tidak terang, sehingga si bos tidak mengamati perbedaan wajah pada kartu pelajar dengan wajah Rita yang sesungguhnya.
“Jadi bagaimana bos?” tanya orang itu
“Satukan dia dengan sandera lain. Kita tunggu Darmawan tiba! Yang paling bagus itu kalau kita bisa mendapatkan cucunya. Sumberku bilang Darmawan akan menyerahkan semuanya demi cucunya” ujar si Bos
Rita yang kembali di seret ke ruangan lain di satukan dengan para sandera lainnya.
“Kalian jangan bersuara atau berusaha keluar dari rumah ini! Kami tidak segan-segan membunuh kalian!” ancam orang itu, kemudian pintu ruangan ditutup dan dikunci dari luar. Lee yang melihat Rita pingsan, langsung menghampirinya
“mba Rita!!”bisiknya pelan
“ssstt!!!..jangan panggil aku Rita!”jawab Rita, rupanya ia sudah sadar sejak bertemu si bos, Cuma karena pukulan itu membuatnya lemah
“Lee,..mereka mengincar aku dan kak Andi, mereka menemukan tasku.mereka mengenalku sebagai Sisca.” Ujar Rita, ia berusaha duduk, dilihatnya beberapa staf keamanan dan staf rumah yang dikumpulkan dalam satu ruangan, mereka tampak cemas dan ketakutan.
“Kak Andi dan kakek kemana Lee?” bisik Rita
“Mas Andi masih di kampus, sedangkan pak Darmawan sedang dalam perjalanan pulang”
“Aduh Lee, kita harus memperingatkan mereka supaya tidak segera pulang, kalau tidak gawat!” bisik Rita
“Bagaimana mba? Tanya Lee, wanita lima puluh tahun itu tampak bingung.
“Bagaimana mereka bisa masuk? Pengamanan di sini bukannya ketat?”
“Entahlah, kayaknya ada keterlibatan orang dalam. Keamanan kita mudah sekali dibobol” ujar Robert kepala security
“Pokoknya mereka gak boleh tahu aku adalah cucu pak Darmawan!” bisik Rita, Robert dan Lee mengangguk. Sementara itu, Sisca telah sampai di rumahnya, ia mendapati ranselnya tertukar dengan milik Rita. Sekolah mereka memang menyeragamkan dari pakaian, sepatu hingga tas. Sisca ingat tadi ia memegangi tas ransel Rita ketika ia sedang bermain.
“Huhhh...ketukar lagi!” keluhnya, ia mencoba menelpon Rita melalui ponselnya, tapi beruntung baterai ponselnya low batt sehingga kondisinya mati. Sementara ponsel Rita yang berada di tangan Sisca masih full baterainya. Kelihatannya sepanjang siang Rita sengaja mematikan ponselnya untuk menghindari Daniel. Setelah ia berganti pakaian, ia membaca pesan dari Daniel untuk Rita :
Hei kamu kemana? Tadi sore aku jemput kamu, tapi kamu sudah pulang!
Kamu marah ya aku gak ngabarin? Aku ditugaskan ke Singapura selama 2 hari. Kantor sedang sibuk. Maaf tidak mengabari.
Sisca mengerti, terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Akhirnya ia menjawab pesannya
“Halo, ini Sisca temannya Rita....maaf tadi kami pulang cepat, ransel kami beserta isinya tertukar” jawab Sisca
“Hah? Ketukar lagi?” gerutu Daniel. Terakhir kali mereka bertengkar, ponsel Rita juga tertukar dengan ponsel Sisca
Daniel menelpon Sisca
“Halo Sisca! Ini Daniel, saya tunangannya Rita” Daniel selalu memperkenalkan diri sebagai tunangannya Rita meskipun mereka sedang bertengkar
“Eh tunangan?” Sisca terkejut, karena Rita tidak pernah menyebut Daniel sebagai tunangannya
“Hah? Oh maaf ya? ada apa ya?” tanya Sisca
“Saya boleh tahu alamat Anda, saya akan kesitu untuk mengambil tas tunangan saya!” ujar Daniel
“oh..baiklah..” Sisca segera memberikan alamat rumahnya. Setengah jam kemudian Daniel tiba di rumah Sisca
“Selamat malam, Sisca ada?” tanya Daniel pada Lee, kepala pelayan rumah Sisca. Nama keluarganya sama dengan kepala pelayan di rumah Rita
“Daniel??” panggil Sisca, setengah berlari ia menuju pintu depan, ia agak kaget melihat Daniel. Pria yang usianya lebih tua dari mereka tetapi juga sangat tampan. Sisca menjadi salah tingkah dibuatnya
“Sisca? Saya Daniel!” ia menyalami Sisca
Sisca agak malu, selama ini ia hanya melihat Daniel dari jauh bahkan ketika ia melihatnya di pesta ibunya. Sekarang ini ia melihat wajah Daniel secara langsung. Hatinya berdebar tidak karuan
“Aku Sisca, ayo masuk dulu!” ajak Sisca, ia berusaha menguasai dirinya. Daniel menurut, ia duduk di ruang tamu rumah Sisca
“Anda mau minum?” tanya Sisca
“oh tidak usah, hari sudah malam. Saya hendak ke rumah Rita untuk memberikan tasnya” tolak Daniel secara halus
“Oh iya Daniel, maafkan saya, Rita tidak pernah bilang kalau ia sudah bertunangan!” ujar Sisca
“Oh ya? mungkin dia malu.” Ujar Daniel
“Hmm..baiklah..ini tasnya. Tolong minta dia bawa tasku besok ya? ah iya, besok kami libur sekolah. Mungkin lusa dia bisa membawa tasku” ujar Sisca sambil memberikan tas ransel Rita
“Besok libur?” tanya Daniel
“iya, para guru sedang ada seminar atau pelatihan selama sehari jadi sekolah diliburkan” jawab Sisca
“Baiklah Sisca, terima kasih!” Daniel pamit dari rumah Sisca. Ia mengantarnya sampai pintu depan
“Siapa nak Sisca? Ganteng amat?” tanya Lee
“Pacarnya temanku! Ah...Rita beruntung sekali!” ujar Sisca iri
Sementara di rumah Darmawan, Rita dan para staff masih dalam penyanderaan.
Jam besar di ruang tengah berdentang 8 kali. Belum ada tanda-tanda Andi atau Darmawan pulang ke rumah. Si bos penyandera yang menunggu mereka sejak sore menjadi tidak sabar.
“Hei! Panggil Adam kesini!” perintahnya kepada kaki tangannya. Adam yang pernah menjadi staf keamanan di rumah Rita, masuk ke dalam menemui sang bos
“Hei Dam! Kamu gimana sih? Orang rumah ini gak ada yang datang?” keluh si Bos
“Memang begitu bos! Rumah ini cenderung sepi. Hanya para karyawan saja yang meramaikan rumah ini!” ujar Adam
“Kalau begitu kamu bodoh! Kenapa tidak memberitahu sejak awal? Aku sudah menunggu sejak tadi sore!” si Bos menampar wajah Adam kesal
Tiba-tiba bunyi pintu gerbang depan terbuka
“Siapa itu?” tanya si bos, Adam melihat CCTV yang mulai dinyalakan. Si Bos memutuskan untuk menyalakan semua lampu di rumah itu.
“Siapa itu? “tanya si Bos
“hmm...aku baru lihat orang itu”jawab Adam, dia tidak mengenali Daniel”.
“Ting nong!” bunyi bell pintu
“Buka pintunya, tanya ada keperluan apa!” ujar si bos. Adam menurut. Dengan berjalan santai seolah tidak ada apa-apa . Ia membukakan pintu kaca
“Ya? ada perlu apa?” tanyanya
__ADS_1
“Eh Lee mana?” Daniel langsung masuk ke dalam
“Wooy!!! Kamu jangan langsung sembarangan masuk! Kamu orang asing!” ujar Adam
“Kamu pasti orang baru ya?” tanya Daniel, ia celingukan mencari Lee
“Enggak!, kamu siapa? Ada perlu apa?”
“Aku Daniel, temannya Rita. Ia ada?” tanya Daniel
“Rita belum pulang!” jawab Adam kesal
“Belum pulang? Masa? Saya baru saja dari rumah temannya!”
“Oh ya? saya gak tahu tentang itu. Anda tahu kan Rita itu cucunya orang kaya, sesukanya ia pulang!” jawab Adam ketus.
“Oh begitu, ya sudah, kalau begitu aku titip tasnya deh. Bilang ke dia, lusa bawa tasnya Sisca ke sekolah!” ujar Daniel memerintah
“Kamu itu siapanya Rita sih? Kok sok-sok-an memerintah? Saya pikir Rita tidak suka orang yang sesuka hatinya memerintah!” ujar Adam. Kata-katanya cukup membuat Daniel tersinggung
“Berarti kamu betul-betul orang baru!, Aku dan Rita sudah berteman dekat tahu!” ujar Daniel ketus
“Berteman dekat? Yakin? Aku tidak melihat fotomu di kamarnya? Aku pikir kamu orang yang terlalu percaya diri. Hei kuberi tahu ya! kalau Rita tahu sikap sombong mu ini, aku yakin dia tidak akan mau lagi berteman denganmu!” ujar Adam kesal. Ia menarik tas yang dibawa Daniel lalu mendorong Daniel keluar dari rumah. Daniel sungguh terkejut dengan perlakuan Adam, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Kata-kata Adam dan Sisca sebelumnya membuatnya sadar. Selama ini ia begitu percaya diri dengan perasaan Rita padanya bahkan beberapa kali ia meng-ghosting Rita, ia tidak bisa membayangkan apabila perasaan Rita sudah berubah padanya. Orang tidak akan memandangnya lagi. Daniel masuk ke mobilnya dan terduduk lemas. Baru kali ini ia merasakan akan kehilangan sesuatu. Tiba-tiba seseorang mengetuk kaca jendela pintunya
“Hei Niel!” panggil Andi, ia baru saja pulang
“Eh Ndi, baru pulang?” Daniel segera membuka kaca jendela
“Kamu baru sampai?” tanya Andi
“Iya!” tiba-tiba Daniel melihat titik cerah
“Ayo masuk!” ajak Andi. Daniel keluar dari mobilnya, lalu berjalan beriringan dengan Andi
“Baru pulang Ndi?” tanya Daniel
“Iya, belum ketemu Rita?” tanya Andi
“Belum, kayaknya dia juga belum pulang!”
“Hah? Sudah jam segini?” Andi kaget, ia segera menelpon ponsel Rita. Tapi tidak diangkat
“Kemana tu Anak?” gerutu Andi
Ketika Andi dan Daniel mendekati pintu depan, empat orang bersenjata menyambut mereka, dan menarik mereka masuk ke dalam rumah.
“Eh ada apaa nih?” tanya Andi, ia dan Daniel menurut, karena kempat orang itu membawa senjata. Daniel melihat salah seorang dari keempat orang itu lengah, dengan ketrampilannya, ia berhasil membuat 1 orang pingsan, kemudian Ia melawan 2 orang lagi sementara Andi dan satu orang penyandera saling merebut senjata. Andi kalah, ia terjatuh karena terdorong hampir saja ia ditembak,
“Andi!” teriak Daniel, tiba-tiba terdengar suara
“Buakkk!!!” orang bersenjata itu jatuh pingsan. Rita muncul dihadapan mereka dengan balok kayu di tangannya
“Rita!!!” panggil Daniel dan Andi lega
“sstttt!!!, jangan di sini ayo ikut!” bisiknya
Andi dan Daniel mengikuti Rita ke tempat persembunyian. Rupanya Rita dan para sandera di kamar itu berhasil keluar melalui jendela yang sengaja mereka bongkar. Sedangkan pintu kamar itu diganjal dari dalam.
Rita mengajak mereka ke gudang yang jaraknya lumayan jauh dari rumah besar.
“Ada apa Rit?” tanya Andi heran
“Ada beberapa orang menguasai rumah, ia mau menyandera kak Andi dan Aku. Tujuannya meminta sesuatu sama kakek!” ujar Rita
“Kok kamu bisa lepas?” tanya Daniel heran
“Tadi aku dipukul hingga pingsan dan di bawa ke kamar samping. Di situ Lee dan para staf disandera, mereka menunggu kita pulang kak!”
“Kok lo gak ketahuan?” tanya Andi heran
“Tasku tertukar sama tasnya Sisca, jadi mereka pikir, aku Sisca!” jawab Rita,
“Jadi bagaimana sekarang? Apa masih ada sandera di dalam?” tanya Andi
“Bagaimana Lee?” tanya Rita
“Kayaknya sudah pada keluar semua mba!” jawab Lee
“Kalau begitu kita hubungi polisi, Ndi kamu hubungi kakek! Jangan pulang karena belum aman!” ujar Daniel
Sementara si bos membongkar tas ransel milik Rita.
“Ahh sial!!!, ternyata cucu si bos sudah kita sandera dari tadi. Ambil cewek yang pingsan tadi!” perintah si bos. Dua orang kaki tangannya membuka pintu kamar, tetapi diganjal dari dalam kamar. Salah seorang dari mereka menyadari sesuatu, lalu melapor pada bosnya
“Bos, pintu terganjal dari dalam!” ujarnya setengah berteriak, si bos kesal. Ia membuka tas berbentuk gitar, lalu ia membukanya, ternyata sebuah bazoka. Ia mengarahkan bazoka ke pintu kamar
“Duaarr!!!”
“Apaan tuh?” tanya Rita dan Andi bersamaan
“Seperti suara senjata berat” ujar Daniel. Ia menghubungi temannya di kepolisian untuk membawa SWAT ke rumah Darmawan. Sementara Andi menelpon kakeknya
“Kek!”
“Ya Ndi?”
“Kakek gak pulang kan hari ini?” tanya Andi
“Enggak bisa, kakek tadi ke Bangkok.”
“ahh...syukurlah” ujar Andi lega
“kenapa Ndi?” tanya Darmawan
“Rumah kita dirampok kek!” ujar Andi
“Hah? Dirampok? Kalian gak apa-apa?” tanya Darmawan khawatir
“Kami masih di gudang kek, belum aman”
“sssttt!!!” Rita menyuruh Andi menutup telponnya, ia mendengar beberapa langkah di luar gudang
__ADS_1
_Bersambung_