Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 311: Kehebohan di pertandingan


__ADS_3

Raffa bermimpi, sesuatu kehebohan akan terjadi saat pertandingan hari Minggu besok tapi ia memutuskan untuk tidak menceritakan mimpinya kepada mami dan papinya


Pagi itu ada sedikit kehebohan di rumah, tanpa sepengetahuan Rita, Daniel meliburkan semua pegawai di rumah, dari Beatrice, Deidre, Baby sitter hingga ART hal tersebut membuat Rita kesal.


"Kamu meliburkan semuanya tanpa menyisakan satu orang pun?" Tanya Rita


"Iya, aku memberikan mereka tiket menginap 1 hari di villa, mereka


Sudah berangkat subuh tadi" jawab Daniel bangga


"Tapi Yang, hari ini hari pertandingan anak-anak, kita akan membutuhkan banyak bantuan mereka, belum lagi aku harus menyiapkan bekal anak2"


"Gak usah buat bekal, kita beli di jalan saja"


"Tapi sekarang masih pagi, mana ada toko yang buka" protes Rita


"Pasti ada, kamu jangan pesimis begitu, sekarang kamu mandi deh siap-siap" Daniel mendorong istrinya ke lantai atas


Di lantai atas, Ranna dan Raffa baru bangun


"Mami sustel Lini mana?" Tanya Ranna


"Para suster sedang jalan-jalan, kalian mandi yuk.." ajak Rita


Rupanya pada kehamilan keempat ini Rita mual dengan semua produk bayi, ya sabun, bedak, shampoo.. beberapa kali dia muntah-muntah.


Sampai akhirnya ia ke bawah. Daniel sibuk menyiapkan barang yang harus mereka bawa hari itu


"Sayang, tolong mandikan anak-anak, aku gak kuat dengan bau produk bayi..ueekkk..." ujarnya ia berlari ke kamar mandi bawah.


Daniel segera ke atas dan memandikan kedua buah hatinya.


"Mami sakit lagi ya Pi?" Tanya Ranna


"Iya, mami gak tahan wangi sabun kalian" jawab Daniel.


"Kalian jangan banyak bercanda di kamar mandi nanti celaka kan mau tanding" ujar Daniel


"Ya papoiii" jawab Ranna bercanda, ia menempelkan busa sabun ke hidung papinya yang mancung .


"Eh!! Kak Ranna!" Sementara Daniel mendengar suara tangisan Rayya. Ia segera datang ke kamarnya lalu membawa ke kamar mandi.


"Adek ikut mandi juga ya?"


Raffa telah bisa mandi sendiri dengan tenang. Ia tidak bermain di bathtub, ia mandi di shower.


"Abang sudah selesai Pi"


"Coba sini papi periksa"


"Gigi?"


"Done!"


"Badan?"


"Done!"


" Bokong?"


"Done!"


"Rambut?"


"Done!"


" Oke Abang lulus!" Daniel melingkarkan handuk di tubuhnya.


"Oke bang, ke kamar ya, pakai baju!"


Kini tinggal Ranna yang masih bermain sabun


"Kak, masih pagi jangan main air kelamaan, nanti masuk angin!" Daniel baru saja selesai memandikan Rayya. ia membawanya ke kamar untuk berpakaian. Rita sudah menyiapkan pakaian yang akan dipakai anak-anak.


Setelah selesai, Rayya ditaruh di box, lalu diberi mainan. Daniel melihat Raffa yang masih memakai handuk, ia memainkan robot Optimus prime nya


"Abang kok belum berpakaian?"


Akhirnya Daniel memakaikan pakaian.


"Kak Ranna!! Mainnya sudah, ayo bersihkan yang betul!" Daniel menyiram tubuh Ranna layaknya mencuci mobil, dengan air yang deras.


"Papiiiiihh" Ranna megap-megap karena tekanan air


"Nah sudah kak! Kalau mandinya gak begini sabunnya masih nempel di badan" ujar Daniel, sambil melingkarkan handuk ke tubuh Ranna.


Akhirnya Daniel selesai dengan anak-anak, kini giliran nya mandi dan berpakaian. Ia melihat Rita sibuk mempersiapkan sarapan, ia tahu anak-anaknya tidak bisa pergi dengan perut kosong. Syukurlah ia mempunyai beberapa bahan makanan untuk sarapan. Ia membuat mie goreng dengan telur dan sosis.


"Kalian makan dulu" ia sengaja membuka pintu dapur selebar-lebarnya agar tidak mencium bau bedak anak-anak.


Ranna dan Raffa menyantap sarapannya dengan lahap.


Rita mendengar Rayya menangis di kamarnya.


Ia juga mendengar Daniel sedang mandi, akhirnya ia memutuskan memakai masker, dan ke lantai atas untuk mengambil Rayya.


Awalnya Rayya menangis melihat seseorang menggendongnya dengan memakai masker di wajahnya


"Adek ini mami" Rita sengaja menahan nafas ketika membuka masker untuk menunjukkan wajahnya ke Rayya. Dengan cepat ia memakainya lagi. Lalu ia membawa Rayya ke ruang makan, ia telah menyiapkan bubur untuk Rayya, ia menyuapi nya sambil sesekali menyantap sarapannya.


"Sudah selesai Mi" ujar Ranna dan Raffa bersamaan.


"Taruh piringnya di tempat cuci, kalian sikat gigi , cuci muka dan cuci tangan lalu tunggu papi dan mami ya?"

__ADS_1


"Iyaaa!!" Jawab keduanya kompak dan melakukan seperti yang disuruh


Rayya juga telah selesai makan, Rita menaruhnya bersama kakak-kakaknya.


"Mami mau beresin dapur dulu, kalian jaga adek ya?"


"Heeh" jawab keduanya sambil menonton TV.


Rita membereskan dapur , ia juga menyisihkan sarapan untuk suaminya kemudian ia pergi mandi.


Daniel telah rapi, ia turun ke lantai 2 , dilihatnya mie, sosis dan telur yang disiapkan istrinya. Ia menyantapnya dengan lahap, memandikan 3 bayi membuatnya sangat lapar. Setelah selesai ia membereskan sendiri belas makannya, kemudian ia mengunci pintu dapur. Ia hendak memasukkan barang-barang yang akan di bawa ke dalam mobil.


"Abang gak bantuin papi?" Tanya Daniel,


Raffa diam saja, ia sedang malas bergerak


"Kak Ranna?"


"Papi sih semuanya disuruh libul, kan Anna capek" ujar Ranna beralasan


"Capek? Memangnya kakak habis ngapain?" Protes Daniel


Ranna tidak menjawab ocehan Daniel, ia serius menonton Tv


"Kalian, sekutu sama mami kalian..papi salah teruuusss" keluhnya sambil mengangkat barang- barang ke mobil, dalam hatinya ia menyesal sudah meliburkan semua ART, tapi sudah terlanjur ia harus menerima konsekuensi keputusannya.


Tak lama kemudian Rita telah rapi, ia menggendong Rayya dan membawanya ke mobil, kakak-kakaknya mengikuti. Semua memakai seat belt, setelah Daniel mengecek semua pintu rumah, mereka pun berangkat ke gedung tempat pertandingan akan berlangsung, jaraknya kira-kira 45 menit dari rumah.


Ranna dan Raffa telah memakai karate Gi. Begitu sampai di tempat keduanya langsung berlari untuk berkumpul dengan teman-temannya.


Di tempat itu Lucas bersama George putranya telah tiba .


"Halo pak Daniel, halo Rita!" Sapa Lucas ramah, ia menyalami keduanya


"Halo pak, apa kabar!" Rita menyalami nya dan tersenyum


"Ini George kan? Halo George saya Rita, ini Rayya!" Rita menyalami George yang tampak malu berdiri bersembunyi dibalik badan ayahnya


"Iya ini George, ia pemalu. George..jangan begitu ayo salam dengan Tante dan Om!" Ujar Lucas mengajarkan.


" George seumuran Ranna ya pak?" Tanya Rita


"Ranna 3 tahun? George 2 tahun, ia lebih muda sedikit dari adiknya Ranna"


"Oh iya, aku lupa!" Rita tersenyum dan mengusap kepala George. Lama kelamaan George menjadi terbiasa dengan Rita dan Rayya, ia senang memegang tangan Rayya.


Lucas memperhatikan anaknya yang akrab dengan Rita.


"Bahkan anakku saja menyukai istri mu" bisik Lucas, ia duduk di sebelah Daniel, sedangkan Rita sengaja duduk di samping George agak jauh dari Daniel , ia masih kesal pada suaminya. Daniel sebenarnya cemburu dengan ucapan Lucas, tetapi ia merasakan kekesalan Rita padanya.


Penonton sudah mulai ramai,


"Anak-anak mu mana pak Daniel?" Tanya Lucas


Barisan anak-anak kecil 2-5 tahun berbaris rapi mengikuti bendera perguruan. Lucas dengan mudah mengenali Ranna yang wajahnya mirip Daniel.


"Itu Ranna kan? Raffa yang mana?"


"Itu sebelahnya"


"Oh.. tubuhnya hampir setinggi Ranna ya?"


"Beda usianya hanya 11 bulan" bisik Daniel, karena suasana mulai ramai.


Acara dimulai dengan koreo,..beberapa perguruan menunjukkan aksinya.


Seorang sensei dari perguruan Akira menghampiri Rita, dan membisikkan sesuatu.


"Kenapa?" Tanya Daniel


"Ranna mogok bertanding, kayaknya dia gugup melihat banyak penonton sebanyak ini, biar aku yang membujuk" Rita hendak turun


"Jangan, aku saja!" Daniel memberikan Rayya ke Rita, kemudian ia turun dari bangku penonton untuk membujuk Ranna.


Setelah beberapa saat ia kembali dengan menuntun Ranna yang menangis, wajah Daniel tampak wajahnya bingung.


"Pasti dia gagal membujuknya..Ranna tidak bisa di bujuk dengan cara biasa" ujar Rita,


"Maaf pak bisa titip Rayya, ini karena ide cemerlang suamiku yang menolak membawa baby sitter akhirnya repot sendiri"


Lucas menggendong Rayya


"Kamu mau kemana?"


"Aku harus membujuknya, seorang Sugiyono pantang mundur sebelum tanding" ujarnya dengan suara tegas


"Eh Sugiyono? Siapa?"


Rita segera turun dari bangku penonton dan hendak menghampiri Daniel dan Ranna, tiba-tiba ia mendengar teriakan wanita, seseorang berlari sambil menyeret seorang anak kecil. Rupanya tas wanita itu dibawa lari oleh pencuri dan seorang anak berusaha mempertahankan tas itu


" Papi itu Affa!" Teriak Ranna


"Raffa!!" Daniel kaget melihat Raffa diseret orang itu.


Rita melihat anaknya diseret, marah, ia berlari, dan melancarkan tendangan ke arah orang itu, tampaknya orang itu bisa menghindar, ia melepaskan tas nya,


"Kurang ajar menyeret anak ku!" Rita melancarkan tendangan berkali-kali ke wajah orang itu,


Kamera yang semula menayangkan pertandingan malah menunjukkan perkelahian antara Rita dan pencuri. Tampaknya sang pencuri bisa menghindari beberapa serangan Rita dan membalasnya, Rita tersenyum senang, ia membalas serangannya dan melancarkan tendangan ke dada orang itu berkali-kali. Akhirnya orang itu terjatuh.


Ranna ternganga melihat aksi maminya begitu juga dengan Raffa.


"Kamu gak apa-apa Bang?" Tanya Rita, ia hendak menyelamatkan Raffa hingga ia lengah,orang itu tampak kesal dan mengambil pisau dari balik jaketnya ia hendak menusuk Rita, tetapi Daniel mencegahnya, wajahnya merah menahan marah melihat anaknya diseret dan istrinya akan ditusuk, dengan kemahiran judo nya, ia membanting orang itu dan memelintir tangannya ke belakang, ia mengambil pisau lipat dari orang itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian security datang mengamankan. Daniel memberikan barang bukti berupa pisau dan tas wanita .


"Terimakasih,..maaf ..membuat anak kalian terseret" ujar wanita itu


"Kamu gak apa-apa nak?" Tanya Rita, Raffa menggeleng,


Daniel menggendong Raffa untuk kembali ke ruang tunggu.


"Rayya, papa dan mama mu orang-orang hebat!" Ujar Lucas setelah menonton kejadian luar biasa.


"Kak Ranna jangan takut bertanding, Kakak pasti bisa!" Bujuk Rita. Ranna menatap wajah mamanya, ia baru saja melihat aksi mamanya, kemudian..


"Ya..mi, Anna gak takut lagi!" Ujarnya yakin


"Pintar!!" Rita memeluknya,Daniel kembali ke tempat duduknya.


"Kamu terluka?" Tanya Lucas


"Saya? Ah enggak, cuma aku khawatir dengan istriku"


"Kenapa? Seperti biasa ia sangat luar biasa" puji Lucas


"Yah.. masalahnya ia sedang hamil 10 minggu"


"Hah?" Giliran Lucas yang khawatir,


"Mungkin setelah dari sini, kamu ke rumah sakit untuk mengeceknya" sarannya


"Itu memang rencana ku"


"ngomong-ngomong Niel, Sugiyono itu siapa?" tanya Lucas


"hmm.. Sugiyono itu kakeknya Rita yang satu lagi"


"oh.. tampaknya kakek Sugiyono itu yang bikin Rita seperti sekarang ".


"kenapa?"


"Tadi Rita bilang ,Seorang Sugiyono pantang mundur sebelum tanding"


"ohh..padahal Ranna itu Kang" gumam Daniel pelan.


Rita tidak kembali ke tempat duduknya, ia memilih menemani anak-anaknya di pinggir arena. Seperti perkiraannya, Ranna dan Raffa berhasil memenangkan pertandingan , mereka memperoleh piala lebih besar dibandingkan teman-teman lainnya.


"Selamat ya Ranna, Raffa!" Ujar para Sensei


"Sama-sama Sensei, kami pamit dulu" ujar Rita, setelah sesi berfoto selesai.


Raffa mencari Michele, yang tidak tampak di pertandingan Koreo.


"Mami, kok Michele gak datang?"


"Entahlah, yuk kembali, papi sudah menunggu kalian"


" Ranna, Raffa kalian ingat paman Lucas?" Daniel mengenalkan Lucas pada Ranna dan Raffa. Ranna mengangguk lalu menyalami sedangkan Raffa menggeleng tapi ia mengikuti Ranna menyalami Lucas.


"Kalian anak-anak yang hebat, ini anakku George , saya harap setelah melihat pertandingan kalian sifat pemalu George akan hilang" ujar Lucas .


Mereka berpisah, Lucas dan George kembali ke hotel, sedangkan Daniel membawa Rita ke rumah sakit.


"Kok ke rumah sakit? Gak jadi ke pedesaan?" Tanya Rita


"Cek dulu kandungan mu, tadi kan kamu melompat dan menendang, aku takut terjadi sesuatu" wajah Daniel tampak suram dan khawatir.


"Abang, lain kali kalau ada yang mencuri tas, Abang jangan tahan tasnya, biarin saja supaya Abang gak terseret" ujar Daniel lagi


"Tapi Pi, tadi Abang lihat Olang itu mengambil sesuatu Dali tas ibu itu, setelah Abang lihat dia malah mengambil semua tasnya" jawab Raffa


"Iya Bang, lain kali lepas saja ya? Bahaya kalau Abang sampai luka" ujar Rita


" Ya mami, telimakasih" ia mencium pipi maminya


"Maaf ya Pi, muaachh" ia mencium pipi Daniel


Tingkahnya membuat Daniel tidak bisa marah lagi padanya .


Daniel bersyukur ada dokter kandungan yang tetap praktek di hari Minggu, kandungan Rita diperiksa, juga di USG.


"Sehat pak, tidak ada keanehan" ujar dokter sambil mengusapkan alat ke perut Rita


"Bayi nya satu atau dua ya dok?" Tanya Daniel penasaran


"Sebentar ya pak, kandungan nya tergolong masih muda, tapi seharusnya kalau ada 2 , ada 2 detak jantung" ujar dokter, ia memperbesar volume suara


"Ya, yakin pak cuma 1 bayi"


"Tapi besar ya dok? Biasanya 10 minggu belum terlihat, ini sudah kelihatan" ujar Rita


"Enggak kok normal ukurannya, kalau terlihat karena ini kehamilan keempat, biasanya tubuh sudah menyesuaikan, kalau kehamilan sebelumnya kan ibaratnya kulitnya masih kencang" jawab dokter


"Oh begitu ya dok, tapi saya sekarang ini mual mencium semua produk bayi dokter."


"Ya mungkin hanya sampai bulan keempat, biasanya sih begitu, tapi nanti saya resep kan vitamin dan obat pengurang mual" jawab dokter


"Kalau saya diet bagaimana dokter? Soalnya saya kelihatan lebih gemuk dari kehamilan sebelumnya "


"Ya boleh, asal diet yang sehat ya, jangan diet hanya untuk tampak cantik saja"


"Iya dokter" jawab Rita.


Setelah yakin Rita dan janinnya aman, Daniel membawa keluarganya mengunjungi pedesaan Swiss. Mereka menaiki kereta mengelilingi pedesaan, anak-anak berlarian di Padang rumput mengejar domba . Ranna ,Raffa dan Rayya tampak senang, mereka berlarian mengelilingi kebun bunga. Daniel mengambil foto ketiganya, lalu mereka berfoto bersama maminya, lalu papinya. Kemudian berfoto dengan latar belakang gunung, meminta tolong petani setempat . Foto tersebut diperbesar dan dijadikan foto keluarga.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2