Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 307: Ranna VS Raffa, Rayyazilla


__ADS_3

Raffa menepak tangan Rita yang memegang obat untuk Michele, syukurlah reaksi Rita cepat sehingga obat yang berupa pil itu tidak jatuh ke lantai


“Abang! Kenapa begitu? Ini Obat Michele” Rita memarahi Raffa


“Tapi obat itu jelek!” ujar Raffa,


“Michele harus minum obat ini atau dia akan sakit lagi” ujar Rita, ia menuntun Michele lalu memberinya air putih untuk meminum obat itu, Michele menuruti.


Malam semakin larut, kasur ekstra di tempatkan di kamar anak-anak, seperti biasa anak-anak jika berkumpul mereka masih bermain dengan senang.


“Sudah jam 9, anak-anak sudah tidur belum ya?” Rita mengambil tablet untuk mengecek CCTV di kamar anak.


“Dasar, mereka masih main” Rita hendak bangun dari ranjangnya, Daniel sedang menonton pertandingan sepak bola


“Biar aku saja!” ia mematikan TV, lalu keluar dari kamar mereka menuju kamar anak-anak


“tok..tok..tok..” Daniel mengetuk pintu lalu masuk ke kamar


“Kok kalian belum tidur?” tanya Daniel


“hahahaha...Michele lucu sekali” ujar Ranna tertawa, ia menyukai anak itu, Raffa juga tertawa, ternyata Michele senang bersenda gurau


“Kalian sudah mencuci kaki, menggosok gigi dan pergi ke toilet?”


“Belum!” jawab Raffa dan Ranna, mereka segera berlari ke toilet kemudian melakukan yang disuruh Daniel.


“Michele gak sikat gigi?”


“Aku lupa membawa sikat gigi ku”


“Sebentar!” Daniel mengambil persediaan sikat gigi milik anak-anak lalu memberikannya kepada Michele


“Nih sikat gigi dulu sebelum tidur supaya kuman di mulut tidak merusak gigi” ujar Daniel memberikan sikat gigi berwarna merah kepada Michele.


“Terimakasih pak!” Michele menerima sikat gigi dari Daniel lalu ke toilet menyusul Raffa dan Ranna. Daniel mengecek Rayya yang menangis mendengar suara berisik dari toilet.


“yahh...kamu bangun ya nak?” Daniel mengangkatnya dari tempat tidur lalu menggendongnya, Rayya menunjuk botol susu


“Oh adek haus” Daniel mengambilkan botol susu lalu memberikan ke Rayya,Daniel memeluknya hingga Rayya mulai mengantuk lagi, tak lama kemudian ia kembali terlelap.


“papi!”


“ssstttt!!! Adek sudah tidur, kalian tidur juga ya?” Daniel membantu Ranna dan Raffa untuk ke tempat tidur.


“Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur” ujar Daniel, anak-anak mengucapkan doa tidur Michele memperhatikan mereka, setelah itu mereka pun merebahkan di tempat tidurnya masing-masing. Daniel mengusap kepala anak-anaknya dengan sayang, ia mengecek filter udara, serta suhu dalam kamar anak kemudian mematikan lampu dan menutup pintu kamar ia kembali ke kamarnya.


Rita memantaunya melalui CCTV.


“Mudah-mudahan Michele betah di sini ya?” ujarnya ketika Daniel memasuki kamar mereka.


“Seharusnya begitu, sepertinya Ranna juga menyukainya” ujar Daniel, ia berganti pakaian lalu sholat Isya.


“Kamu sudah sholat Isya?”


“Lagi libur!”


“Oh iya!” Daniel merapikan perlengkapan sholatnya, kemudian mematikan lampu kamar.


“Besok mungkin aku terlambat pulang” ujarnya


“Kenapa?”


“Ada meeting dengan klien, kemungkinan akan memakan waktu cukup lama” ujarnya, ia mencium kening Rita kemudian kembali ke tempatnya, tak lama kemudian suara dengkurannya terdengar.


Rita sedang online dengan Erina melalui tabletnya, ia membicarakan tentang permintaan coklat dan cireng yang meningkat.


“Aku akan memesannya lagi, apa harus memesan semua rasa ?” tulisnya


“Rasa favorit, strawberry dan lemon bu, rasa yang lain masih banyak” balas Erina


“Baiklah, aku segera memesannya, oh iya kalau cireng gimana?”


“Peminatnya cukup banyak bu, beberapa orang membelinya yang frozen”


“Oh ya? apa persediaan masih ada?”


“masih satu kotak lagi bu, isinya 30 pcs”


“begitu? Aku akan memesannya lagi sekalian dengan coklat”


“Baik bu, maaf aku harus mengganggu ibu malam ini, karena sepertinya ibu sibuk di siang hari”


“Gak apa Er, memang, anak-anak mulai mengambil les, aku menjadi supir mengantar mereka.”


“Oh begitu, oh iya bu, saya mendengar dari teman-teman yang masih di CITE, katanya ada pegawai baru di situ dan cukup tampan. Mereka bilang ia masuk karena rekomendasi dari pak Daniel, apa benar begitu bu?”


“Oh ya? saya juga baru tahu, pak Daniel tidak pernah membicarakan masalah kantornya”


“Kalau gak salah namanya Alex, sekarang dia cukup populer di kalangan pegawai wanita di CITE, ada rumor lagi bu”


“Rumor apalagi?”


“Mereka bilang untuk masuk CITE, terkoneksi dengan D’Ritz yang rata-rata pegawainya ex-Dar.co”


“Wahh...rumor ngaco itu,...harus dihentikan. Aku memang mengenal bos CITE, tapi kalau terkoneksi seperti yang kamu bilang, aku takut timbul kesalahpahaman”


“Benar bu, itu sebabnya saya mengumpulkan semua teman-teman ex-Dar.co yang bekerja di kita untuk menetralisir rumor itu.”


“Bagus Er!, aku bingung kenapa mereka cepat menyimpulkan ya?”


“Baiklah bu Rita, saya pamit dulu, sudah malam”


“Iya Erina, terima kasih ya? nanti aku kabari jika pemesanan sudah dilakukan”


“Baik bu, terima kasih!”


“Sama-sama!”


Pembicaraan pun selesai, Rita mengecek CCTV seluruh rumahnya, juga kamar anak setelah merasa aman, ia pun pergi tidur.


Tengah malam, pintu kamarnya diketuk


“tok...tok..tok..”


Daniel sangat sensitif dengan suara, ia terbangun lalu menyalakan lampu kamar, dilihatnya jam menunjukkan pukul 1 pagi. Ia membuka pintu kamar


“Papi?” Raffa berada di depan pintu bersama Michele


“Kenapa Bang?”


“Michele menangis terus, ia ingin pulang” ujar Raffa, ia terlihat masih mengantuk


“Kenapa Michele? Tidur di sini gak nyaman?” tanya Daniel


“Aku mau mama ku!..huhuhuhu...” Michele menangis teringat mamanya.


“hhh...”Daniel membangunkan Rita


“Sayang! Bangun!” panggil Daniel lembut, Rita yang baru saja memejamkan matanya, ia terkejut


“Hah ada apa?”


“Michele minta pulang!” ujar Daniel


“Pulang?” Rita melihat jam dinding, ia menghampiri Michele


“Besok pagi saja ya? di luar masih gelap. Mama mu juga pasti sudah tidur” bujuk Rita lembut


“enggak!, mama juga gak bisa tidur kalau gak ada aku” ujar Michele.


“Ya sudah deh” Rita bergegas berganti pakaian, sebelumnya ia menghubungi mamanya Michele yang seperti Michele bilang mamanya belum tidur.


“Kamu mau mengantarnya?” tanya Daniel setengah mengantuk


“Iya, dari pada dia di sini gelisah terus”


“Aku antar deh!”


“Jangan!, besok kamu ada meeting kan?” cegah Rita


Karena Raffa terbangun, Ranna ikut terbangun begitu juga Rayya. Suasana kembali ramai.


“yahh..kenapa ramai begini sih?” keluh Rita


“Ya udah, kita berangkat rame-rame saja!” ujar Daniel, ia berganti pakaian.


Rita tidak membangunkan para baby sitter, Daniel yang membawa mobil, Rita duduk di depan bersama Rayya, sedangkan Ranna, Raffa dan Michele duduk di kursi belakang supir, Rita memasangkan sabuk pengaman pada mereka.


“Duduk yang tenang ya? terutama kak Ranna, jangan melepas seat belt itu berbahaya kalau ada rem mendadak!” ujar Rita mengingatkan.

__ADS_1


Rita menyetel GPS menuju rumah Michele, mereka pun berangkat. Pencahayaan hanya melalui lampu mobil mereka. Karena jalanan sudah sepi, perjalanan sangat lancar, mereka tiba dua puluh menit di rumah Michele.


“Maaf aku mengganggu malam-malam begini” ujar Rita sambil mengantar Michele sampai depan pintu rumah


“Tidak apa-apa, aku yang minta maaf. Ini kali pertama Michele menginap di rumah temannya, aku pikir dia akan bisa ternyata tidak bisa.” Ujar Erin mamanya Michele


“Baiklah, aku permisi dulu”


“Terima kasih!”


Rita kembali ke mobil mereka, Raffa telah lelap tertidur, ia tidak tahu Michele telah kembali ke rumahnya.


“Kamu mengantuk ya sayang?” tanya Rita mengusap rambut di kening suaminya


“Lumayan, jadi nanti begitu pulang aku langsung tahajud, lalu bisa tidur lagi”


“Mau aku saja yang bawa mobil?”


“Kamu kan megang Rayya, gak apa sebentar lagi kita sampai kok”


“Maaf ya, karena aku gak menolak permintaan Raffa, kamu jadi terganggu kayak begini”


“Jadi orang tua itu memang begini akan selalu direpotkan oleh anak-anak mereka” ujar Daniel


“Iya juga ya, Raffa jarang menuntut, ia sangat pengertian jadi ketika ia meminta aku sulit menolaknya”


“Aku sudah menduganya, tetapi terkadang kita tidak bisa mengabulkan permintaannya terus kan?”


“memang!, sebenarnya aku agak riskan pertemanan Raffa dengan Michele “


“Kenapa?”


“Erin cerita sebenarnya usia Michele 2 tahun lebih tua dari Raffa, tetapi sejak ia sakit dan harus kemoterapi, tubuhnya lebih kecil dari anak seusianya”


“Kemoterapi? Michele sakit apa?”


“Leukemia, sekarang sudah lebih baik tetapi obatnya harus terus diminum untuk pencegahan”


“Lalu, kamu riskan karena....”


“Aku takut terjadi apa-apa dengan Michele, Raffa pasti akan sangat bersedih”


Daniel terdiam mendengar penuturan istrinya.


“Kamu gak usah mengkhawatirkan yang belum terjadi, ingat nih, anak-anak kita memiliki support sistem yang baik dari keluarganya. Dia akan baik-baik saja!” ujar Daniel menenangkan


“Menurut mu begitu?” tanya Rita, Daniel mengangguk


Mereka pun kembali tiba di rumah, perlahan mereka memasukkan anak-anak mereka ke kamarnya, seperti rencana semula, Daniel langsung sholat tahajud, sementara Rita meneruskan tidurnya.


Daniel berangkat lebih pagi dari biasanya, ia dijemput Dickens. Rita membawakannya bekal untuk makan siang serta cemilan kesukaan suaminya.


“Hati-hati di jalan sayang!” Rita mencium bibir suaminya


“Daaahh!!!” mobil pun berangkat meninggalkan rumah. Suasana komplek masih sangat sepi, hari mulai terang, Rita berlari-lari kecil di taman depan rumahnya, ia mengambil beberapa alat olah raga lalu melakukan yoga. Ia melihat pohon dengan ranting menjulur ke bawah, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia menggantungkan bola sasaran di pohon itu, lalu mulai melakukan tendangan ke arah bola sasaran


“Brak!!!” Bola sasaran terjatuh dari ranting pohon, Rita tersenyum sentuhannya belum hilang. Tapi kemudian ia merasa kesakitan, kakinya terluka tergores ranting pohon yang patah.


“Ah..sial!” dengan tertatih ia mengambil obat desinfektan dari laci lemari kemudian menyemprotkan ke bagian yang terluka.


“Menyebalkan!” umpatnya, lukanya agak perih dan melebar, karena darahnya masih terus keluar walau sedikit akhirnya ia pergi ke klinik 24 jam dekat rumah. Ia mendapatkan 3 jahitan di kaki kirinya. Lukanya agak nyeri, ia membeli perban plastik untuk menutupi lukanya agar tidak terkena air. Ia juga meminum obat anti nyeri.


“Mami, kita les hari ini?” tanya Ranna yang telah rapi berpakaian


“Maaf sayang, libur dulu ya? mungkin besok!” ujar Rita , badannya agak sakit.


“Mami kenapa?” tanya Raffa


“Kaki mami luka tuh!” ujar Rita menunjukkan kakinya yang diperban


“huuu...mamiii....maafff” tiba-tiba Raffa menangis


“Kenapa bang?” tanya Rita heran


“Kalau mami gak antar Michele pulang, mami gak akan sakit” ujar Raffa bersedih


Rita merasa tidak enak hati pada anaknya, karena ia terluka karena salahnya sendiri, tetapi di sini lain ia juga malas mengikuti kemauan Raffa untuk terus bersama Michele.


“Gak apa-apa Bang, hari ini kalian main di rumah saja ya?” bujuk Rita


“Mami, tandingnya?” tanya Ranna


“hmm...ayo deh!” Ranna dan Raffa memakai karate Gi, serta perlengkapan pelindungnya, para baby sitter menyiapkan arena pertandingan di ruang tengah, sesuai permintaan Rita. Setelah arena siap, Rita memasang tripodnya, lalu mulai merekam


“Pertandingan 3 ronde!, di sebelah kanan: Ranna Khadijah Kang!, di sebelah kiri: Rafardhan Ahmad Kang!. Ingat jangan menendang kepala dan ************!” ujar Rita yang berperan sebagai wasit. Ranna dan Raffa mengangguk.


“Mulai!” , kedua anak memasang kuda-kuda, keduanya tidak ada yang berani menyerang duluan,


“Pritt!! Hey,...kenapa pada menjauh?” tanya Rita heran


“Kakak dong yang menyerang duluan!” ujar Raffa


“Adek dong!” balas Ranna


“Kalian gimana sih, kalau tandingnya kayak begini gak ada yang menang!” Rita memperingatkan


“Mulai lagi ya? yak!” Rita memberi aba-aba, kali ini Ranna yang menyerang duluan, Raffa berhasil menangkisnya. Kedua anak yang hanya berbeda usia 11 bulan itu, sama kuat


“Pertandingan seri!”


“Seri?” tanya Ranna dan Raffa berbarengan


“iya artinya kalian sama kuat!” ujar Rita menerangkan, kelihatannya Ranna tidak puas, ia melancarkan tendangan ke Raffa hingga ia keluar arena


“Kakak menang!” teriaknya


“gak boleh kak, pertandingan sudah dinyatakan berakhir kalau seperti itu, kakak bisa didiskualifikasi” ujar Rita, tapi Raffa tidak mau kalah, ketika Ranna lengah ia melakukan hal yang sama. Akhirnya keduanya tidak lagi bertanding karate melainkan gulat.


“Ah kalian ini!” dengan tertatih, Rita memisahkan kedua anaknya dengan menarik rompi pelindung mereka.


“kalian,..duduk sini!” ujar Rita tegas, kedua anak duduk di depan maminya dengan kaki dilipat


“Yang namanya bertanding bukan hanya memikirkan menang atau kalah. Kalian juga harus jaga emosi”


“Emosi? Apa itu?” tanya Ranna


“Emosi itu seperti marah, sedih, kesal. Kalau bertanding harus tenang. Kalau curang, nanti malah dikeluarkan dari pertandingan” ujar Rita menerangkan


“Tadi kak Ranna duluan!” ujar Raffa


“Iya, kak Ranna jangan mudah marah ya? nanti marahnya kakak bisa dipakai sama musuh untuk mengalahkan kakak.”


“Tapi tadi adek balas!”


“Nah, abang juga, kalau sudah begitu di pertandingan kamu jangan balas, kalau membalas nanti keduanya yang dikeluarkan”


“Begitu ya mi?” ujar Raffa


“Iya!, sekarang mau bertanding dengan benar?”


“Ya sensei!” teriak kedua anak. Mereka mulai bertanding lagi. Ronde 1 dimenangkan Raffa, Ronde kedua dimenangkan Ranna, ronde ketiga keduanya seri.


“Kalian berdua sama kuat!, sudah ya berlatihnya? Kalian gak capek?”


“Capek mi!” jawab keduanya.


“Ya sudah, pertandingan selesai, kembali ke tempat masing-masing, jangan lupa merapikan peralatannya di tempat semula!” ujar Rita


“Osh Sensei!” jawab keduanya. Dengan tertib keduanya merapikan peralatannya lalu berganti pakaian. Mereka menggantungkan pakaian putihnya di ruang laundry untuk di uap oleh ART. Rita bermain bersama Rayya


“Sudah mi!!” kedua anaknya menghampiri


“nah, tuh di meja mami sudah bikinkan bubur kacang hijau dan roti toast”


“Asyikk!!!” keduanya duduk di meja dan melahap hidangan yang disediakan. Setelah selesai makan keduanya mengerubungi maminya.


“Mami!”


“Ya sayang?”


“Buburnya enak!” Ranna mencium pipi maminya


“Iya mi!” Raffa memeluk maminya dengan sayang.


“terima kasih!, eh kita buka kado ultahnya abang yuk!”


“Oh iya!!” Raffa dan Ranna dibantu para baby sitter mengangkut kado-kado dari teman-teman Raffa yang belum dibuka.


“Eh Bang, mami lupa, kemarin mamanya Michele ngasih kado juga” Rita mengambil kado dari tas besarnya.

__ADS_1


“Asiikkk!!” Raffa menerima lalu membuka mainan dari Michele


“Robot Transformer, Optimus Prime” ujar Rita


“Optimus?” Raffa belum mengenal tokoh transformer


“Oh abang belum tahu ya?”, Raffa menggeleng


“Nanti deh, mami kasih lihat filmnya.” Mereka melanjutkan membuka kado. Ada mainan lego, mobil-mobilan, kostum superman, peralatan gambar, topi, sendal,dan buku cerita.


“Buat kakak mana?” tanya Ranna


“kak Ranna kan ulang tahunnya sudah, inget gak?”


“Oh iya,..Dek, main lego yuk” ajak Ranna


“Ayo!” Ia membuka mainan lego yang baru. Mereka main bersama di tengah rumah. Ranna dan Raffa bekerja sama membangun sebuah rumah dari lego


“Yah,..legonya kurang kak” ujar Raffa


“Tambah lego aku saja!” Ranna berlari ke lantai 2 lalu mengambil kotak mainan, ia menggabungkan legonya dengan lego milik Raffa, sehingga terbentuk bangunan yang tinggi.


“yaaa!!!” keduanya bertepuk tangan kegirangan. Tiba-tiba datanglah Rayya dengan santainya ia menghancurkan bangunan yang dibuat kedua kakaknya


“hiiiyyyyyaaaaa!!!” teriaknya sambil membawa balok


“adeeekkkk!!!!” teriak kedua kakak.


“Rayyazilllaaaa!” ujar Rita tertawa


“Mamiiii!!!” kedua anak mengadu


“Supaya gak dihancurkan adek, kalian ajak adek bangun gedung dong!” ujar Rita


Seperti dugaan semula, Rayya belum mengerti, dia lebih senang menghancurkan daripada membangun. Ranna dan Raffa jengkel dengan kelakuan adeknya.


“Dek, bawa Ayya ke mami saja!” perintah Ranna, Raffa setuju, ia menuntun Rayya dengan sabar, lalu membawa adeknya ke dapur menemui maminya yang sedang kuliah online.


“Kenapa Bang?”


“Adek di sini saja mi!” ujar Raffa, ia meninggalkan Rayya lalu kembali ke ruang tengah. Kali ini Rayya mengganggu Rita .


“Adekk!!! Suster!”


“Ya bu?”


“Tolong dong!, bawa ke lantai 2 ajak main” pinta Rita


“iya bu!”


Rayya dibawa ke lantai 2 oleh suster Eva,


“Anda sibuk sekali ya?” tanya Beatrice


“Hah? Oh ya, begitulah! “ Rita mendengarkan kuliah online dari dosennya. Satu jam kemudian kuliah selesai


“Sudah jam 12,” ia melihat jam di dinding, ia juga tidak mendengar suara anak-anaknya


“Wah gawat ini” ujarnya, setengah berlari karena kaki kirinya sakit, ia masuk ke ruang tengah


“Jangan mami!” teriak Ranna dan Raffa bersamaan..rupanya mereka sedang menyusun bangunan seperti domino, ketika Rita membuka pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah, susunan dominonya langsung hancur berantakan


“yaaahhh.....” ujar mereka kompak


“Kalian sih menempelnya dekat pintu jadi rusak kalau ada yang masuk” ujar Rita, ia kagum dengan kreativitas anak-anaknya.


“Sudah siang, rapikan mainannya, cuci tangan lalu makan!” perintah Rita


Keduanya mematuhi perintah maminya.


Hari itu berlalu dengan cepat. Daniel tiba lebih cepat di rumah.


“Lho katanya pulang terlambat?”


“Iya, ternyata kliennya sudah mempelajari proposal kami, dan hanya meminta keterangan beberapa poin, aku bisa pulang jam normal”


Di kamar mereka Rita menunjukkan rekaman kegiatan anak-anak hari ini, sebenarnya ia ingin menunjukkan rekaman pertandingan, tetapi ia lupa mematikan alat perekam, sehingga rekaman anak-anak membangun lego dan dihancurkan Rayya turut terekam. Daniel tertawa geli melihat rekaman itu.


“Lucu ya?” lalu Daniel melihat kaki istrinya yang terluka


“Sini!” ia mengurut kaki kiri istrinya


“Aduh..enak banget,..memang pegal dari tadi”


“Kamu sih, ada-ada saja cari penyakit!”


“Iya!...aku juga gak menyangka akan luka kayak begitu, sampai dijahit lagi” keluh Rita


“Kamu gak bisa bawa mobil dong?”


“Masih nyeri”


“Jadi anak-anak gak les dulu?”


“Iya, gak apa-apalah, toh mereka juga latihan di rumah”


“hmm...kalau aku sewa supir saja gimana?”


“Percuma juga, aku harus ikut kan?”


“Gak usah, anak-anak kan ada baby sitter nya, untuk apa mereka di sini kalau kamu juga yang turun tangan”


“Begitu ya?”


“Iya, lagi pula kamu bisa konsentrasi dengan kuliah mu dan D’Ritz di rumah”


“hmm...apa anak-anak mau aku lepas?”


“Harus mau toh hanya sebentar. Ingatkan saja sama baby sitter, jangan menuruti kehendak anak-anak kalau gak ada ijin dari kamu”


“Iya deh, kapan kamu mau siapkan supir?”


“Besok aku akan minta Dickens mencarikan orang, dia itu banyak kenalan dan pandai menilai karakter”


“Baiklah!” tiba-tiba timbul keisengan Daniel, tangannya yang tadinya mengurut pergelangan kaki istrinya kini berjalan ke atas


“Hei!...tangannya !” Rita mencubit pipi suaminya gemas,


“Kamu sudah bersih?” tanya Daniel, ia hendak memeluk istrinya


“Belum, baru hari kedua. Lagi pula kaki ku lagi nyut-nyutan “ keluh Rita


“Sudah minum obat nyeri?”


“Sudah tadi, antibiotik juga sudah. Tapi kenapa masih nyut-nyutan ya?”


“Mungkin kamu mau dapat rejeki” ujar Daniel


“Dapat rejeki?”


“Kamu pernah bilang, kalau kejadian sesuatu yang tidak biasa, mungkin pertanda mau dapat suatu berita baik”


“Aaminn saja deh..mudah-mudahan lukanya sembuh sebelum hari Minggu”


“Oh ya, hari pertandingan ya?”


“Iya, aku sangat bersemangat dengan pertandingan anak-anak”


“Iya aku juga”


“Oh iya, aku dengar kabar dari Erina, dia bilang CITE sudah punya idola baru pengganti mu”


“Pengganti ku? Idola? Siapa?”


“Alex! Dia teman mu di interpol kan?”


“Oh dia jadi idola?”


“Katanya banyak karyawati CITE menyukai ketampanannya”


“Begitu ya? Alex memang terkenal playboy sejak dulu, apa dia jadi menikah ya?” gumam Daniel


“Kamu diundang gak?”


“Gak mungkin, ia akan merayakannya di Rusia”


“ohh...jauh ya?”


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2