
Rita dan Daniel berkeliling pasar untuk membeli perlengkapan untuk toko roti mereka.
“Sudah semua Yang?” tanya Daniel, kakinya mulai terasa pegal. Rita memeriksa daftar belanjaannya
“Hmm...sudah semuanya. Nanti agak siang mereka akan mengantarkan langsung ke toko”
“Kita pulang yuk!” Ajak Daniel. Rita tersenyum melihat wajah suaminya setengah memohon.
“Ayo!” ujarnya
Beberapa menit kemudian mereka sampai di area apartemen mereka
“Yang, aku turun di toko ya, kamu langsung ke apartemen saja!”
“Baiklah, kalau butuh apa-apa telpon aku ya?” ujar Daniel
“Oke!” perlahan Rita keluar dari mobil, lalu membuka toko, sedangkan Daniel langsung menuju tempat parkir apartemen. Ia sangat kecapekan, ia heran istrinya sangat kuat berkeliling belanja tanpa mengeluh capek. Ia merebahkan dirinya di sofa, tak lama kemudian ia tertidur. Sementara Rita menerima barang-barang belanjaannya yang baru saja tiba.
Ia sangat bersemangat. Setelah memberikan tanda terima, ia mulai melakukan persiapan. Ia melihat resepnya, kemudian ia menimbang terigu, butter, bread improver, susu dan gula. Bahan-bahan kering ia jadikan satu. Ia melakukannya hingga bahan-bahan tersebut habis. Lalu ia melakukan pencatatan stock. Tak terasa 4 jam sudah ia habiskan waktu di toko.
“Eh sudah jam 5 sore, aku belum sholat!” ia bergegas ke toilet untuk berwudhu lalu melaksanakan sholat di kantor kecilnya. Setelah selesai. Ia menaruh semua bahan di lemari dan menutupnya dengan rapi. Ia juga memeriksa dan mengosongkan cash register dan membawa tabletnya pulang. Beberapa menit kemudian ia tiba di apartemen.
“Yang! Sudah sholat ashar?” tanya Rita membangunkan suaminya
“Hah? Jam berapa nih?”
“Hampir setengah 6!”
“Wah gawat!” Daniel melompat dan segera masuk ke kamar mandi untuk wudhu. Setelah itu ia langsung sholat ashar. Kini giliran Rita menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia mengirimkan pesan kepada lima pegawainya untuk datang 1 jam lebih pagi dari biasanya. Setelah itu, ia segera mandi.
“Yang, aku ke mesjid dulu ya!” teriak Daniel
“Iyaa!!!” teriak Rita dari dalam kamar mandi, Daniel keluar apartemen dan menguncinya. Rita selesai mandi dan berpakaian. Sambil menunggu adzan maghrib, ia mengecek belanjaan hari itu, dan memasukkannya ke catatan kas. Semua ia lakukan secara elektronik menggunakan aplikasi yang dibuat oleh Andi dan kawan-kawannya.
“rrrrrrrrr” ponselnya berbunyi, Rita membuka tasnya untuk mencari ponselnya
“Ya?”
“Rita?” tanya lawan bicaranya
“Iya, siapa nih?”
“Ini kak Andi!, nomor apartemen lo berapa ya? gue sudah ada di bawah apartemen lo nih!”
“hmm..nomor berapa ya? tanya satpam saja Kak, bilang apartemennya Daniel Kang, mereka kenal kok!”
“Oh begitu, iya deh. Gue ke sana ya!”
“Oke!” Rita tersenyum. Ia menyelesaikan pekerjaannya, sambil menanti Andi datang
“Ting-nong!” bunyi bel pintu apartemen
“Yaaa!!!” Rita membuka pintu dengan semangat
“Woy Rit!” sapa Andi
“Kak Andi!!!” Rita sangat kangen hingga memeluk kakak lelaki satu-satunya
“Hey..hey..hey...pelan-pelan! Perut lo tuh!” Rita terkadang lupa kalau ia sedang hamil, Andi jadi ngeri melihat perut Rita yang mulai kelihatan buncit
“Ah iya, aku sering lupa!, Masuk kak! Daniel lagi di mesjid”
“Wah rajin ya, gue sholat di sini saja ya! capek nih baru datang!”
“Iya Kak!” Rita menutup pintu apartemennya, sedangkan Andi langsung duduk di sofa, ia kelihatan sangat capek. Rita menggeser kopernya agar tidak menghalangi jalan, lalu membuat juice jeruk segar.
“Nih Kak minum dulu!”
“Wahh...jadi gak enak hati nih, jadi tamu!” Andi langsung meminum juice jeruk sampai habis.
“Ahhh....nikmat banget!..jeruk dari Jeju kiriman Lo itu, habisnya cepat banget Rit!, kakek ketagihan. Cuma 3 hari langsung habis!”
“Waahh...cepet banget!”
“Iya!, kakek bahkan memonopolinya, dia bilang kiriman ini khusus buatnya jadi beliau ngumpetin”
“Tapi kak Andi mencicipi juga kan?”
“Iya!, si O, diam-diam sudah ambil banyak, terus dia membaginya sama kakak!”
“Baik juga ya dia! Oh iya kak, tumben datang gak bilang-bilang?”
“Sebenarnya ini karena si O”
“Kenapa dia?”
“Katanya dia kurang cocok sama ketua tim proyeknya, kemarin dia nelpon lamaaa banget, sambil marah-marah. Kayak orang stress”
“Jadi Kak Andi sengaja datang untuk dia?” tanya Rita, Andi mengangguk
“Sebenarnya kakek melarang, dia mau menguji mentalnya Mario. Tapi gue gak tega ah, tu anak di sini kayak anak ilang!”
“Memangnya nanti kak Andi mau ngapain?”
“Belum kepikiran sih, tapi setidaknya, dia bisa melihat orang yang dia kenal di sini”
“Padahal dia sudah tahu apartemen ini, dia juga tahu ruangan Daniel, kenapa dia gak ngomong apa-apa ke Daniel?”
“Dia bilang, setiap dia ke lantainya, Daniel lagi meeting sama kliennya. Pas sorenya dia balik lagi, ternyata ia sudah pulang.”
“Memang sih, proyek tahap dua ini, benar-benar menguras pikiran dan tenaganya. Dia juga memegang dua departemen sekarang kak!”
“oh ya? hebat dong? Tapi kalian baik-baik saja kan?” tanya Andi, ia melihat adiknya yang kelihatan berseri-seri
“Alhamdulillah kak!, oh iya. Rita kan dapat tawaran syuting acara masak di TV Cable. Menemani chef Zanet!”
“Chef Zanet yang cantik itu?” ternyata Andi sudah lama ngefans
“Iya!, kakak mau Rita kenalin?”
“Boleh..boleh..kapan syuting lagi?”
“Hari Rabu besok, kakak masih di sini kan?”
“Insya Allah, kalau urusan O selesai, gue balik”
“Kuliahnya gimana Kak?”
__ADS_1
“Tinggal cari waktu untuk tes akhir. Kemarin para profesornya lagi pada keluar negeri semua. Ya gue ikutan lah!” ujar Andi cuek. Ia berkeliling melihat-lihat apartemen adiknya
“Nanti gue tidur di mana nih?” tanyanya, ia tidak melihat ada kamar kosong, kecuali kamar utama, ruang laundry dan gudang di bagian belakang.
“Di sofa ini saja kak! Nyaman kok!. Waktu mamanya Daniel datang, tidurnya juga di sini”
“hmm...padahal apartemen ini luas lho, ukuran studio kan?”
“Iya kak!, rencana kita mau mendekor ulang apartemen ini, kan sebentar lagi ada bayi. Juga ada mamanya Daniel yang akan membantu di bulan-bulan awal kelahiran. Kita sudah minta tolong sama O”
“Oh ya? kapan dia mulai?”
“Daniel bilang, nanti tunggu dia stabil dulu di tempat kerjanya sekarang, baru di weekend dia bisa mandorin orang untuk merombak ini semua”
“Kenapa gak sewa apartemen sebelah saja, terus jadiin satu!”
“Ada penghuninya kak!”
“Tadi kakak lihat, beberapa orang dari jasa pindahan memindahkan barang dari apartemen sebelah!”
“Beneran kak? Wah lumayan kalau begitu. Nanti aku minta Daniel bicara sama pemilik apartemennya.”
“Iya, barang kalian sudah penuh, belum lagi nanti ada tempat tidur bayi dan ruangan menyusui gak mungkin menggeser-geser, walaupun O memang jago. Tapi pasti sempit!”
“iya juga Kak, oh iya sudah adzan maghrib Rita sholat dulu ya?”
“Duluan deh, nanti kak Andi menyusul.” Ia kembali merebahkan tubuhnya di sofa.
Setelah sholat maghrib, Rita membuat makan ringan untuk makan malam mereka. Andi menghampiri adiknya yang tengah sibuk di dapur
“ckckckck...Lo sudah jadi ibu rumah tangga beneran ya Rit?” ujar Andi kagum
“Hehehe..biasa ini mah, dulu waktu sama ayah, Rita juga sering begini”
“iya juga ya, kemarin gue Vcall sama ayah”
“Oh ya? gimana Ayah kak?”
“Agak dekil ya? gak ada yang ngurus sih!”
“Ayah beneran cerai kak?” tanya Rita heran, Andi mengangguk
“Kasihan ya, anak-anaknya masih balita”
“Tapi Rit, gue denger dari tante Saye, anak-anak itu bukan anak biologis ayah” Andi bicara pelan
“Kok bisa kak?”
“Jadi dulu, ayah menikahi istrinya ini, karena ia hamil oleh pacarnya.”
“Tapi kak, bukannya istrinya ayah itu, teman SMAnya ayah?”
“ssttt...bukan! itu sudah cerai!”
“hah? Cerai juga? Serius kak?” Rita kaget mendengar ayahnya yang sering kawin-cerai
“Iya!, jadi waktu lo sakit itu? Ayah kan menikah diam-diam, nah itu nikah dengan teman SMAnya. Karena temannya itu ingin membahagiakan ibunya yang sakit-sakitan. Temannya itu belum menikah sampai usia 45 tahun.”
“Oh ya? terus?”
“Nah, setelah ibunya teman ayah itu meninggal, akhirnya mereka bercerai”
“Katanya istrinya itu mau jadi TKI di Taiwan, jadi mereka pisah”
“Tapi kan sudah 45 tahun kak, memang masih bisa?”
“Mungkin dia punya kenalan di sana!”
“Oh begitu, terus dengan istrinya yang ini gimana?”
“Kalau istrinya yang sekarang ini, katanya tadinya mau bunuh diri, karena hamil 3 bulan. Ia takut sama orang tuanya. Pacarnya belum bekerja, jadi gak berani melamar. Usianya masih muda lho Rit 21 tahun!”
“Jadi ayah yang nikahi?”
“Iya, tapi di atas kertas saja. Kata tante, ia tidak menyentuh istrinya sama sekali.”
“Terus bisa ada anak kedua gimana?”
“Nah tu cewek balik lagi sama pacarnya!”
“Wah parah!!!." ujar Rita geram
"ayah memang berniat menceraikannya, setelah anak keduanya lahir.” sambung Andi
“Kak, sebenarnya ayah kita itu terlalu baik? Atau bodoh? Menurut kak Andi gimana?”
“Ayah itu orangnya idealis, Rit. Beliau bilang ke tante, ketika melihat anak itu nangis-nangis mau menggugurkan kandungan atau bunuh diri, ayah langsung mutusin. Ya udah aku nikahi kamu saja! “
“hhmmm....jadi ayah itu baik banget ya? sekarang kesepian dong sendirian?”
“Biasalah, ayah sibuk di RS gantiin dokter jaga. Padahal beliau kepala RS”
“Kak, gak bilang sama kakek Darmawan, untuk merekrut ayah di rumah sakitnya? Kan ayah jago tuh!”
“Sudah!, tapi beliau bilang gak enak sama kakek Sugi, kan ayah punya sejarah jelek sama kakek Sugi”
“Tapi bukannya sudah dimaafkan?”
“Dimaafkan, tapi tidak dilupakan!”
“Kak, mama tau gak ayah jadi duda lagi?” tanya Rita dengan nada menyelidik
“Tau kok, kan kita ngegibahnya waktu resepsi lo!”
“Terus komentar mama gimana?”
“Mama diam saja, kayaknya dia lagi asyik dengan bisnisnya. Sekarang beliau lagi mempersiapkan Jakarta Fashion Week. Tadinya mau ajak O, tapi keduluan sama kakek Dar.”
“Assalammu’alaikum!” salam Daniel sambil masuk ke apartemennya
“Wa’alaikummussalam!” jawab Andi dan Rita bersamaan
“Wahh!!! Kakak Ipar!!! Hey Bro!! Apa kabar!” Daniel menyalami Andi dan memeluknya akrab
“Baik Niel!, ini lagi nge-gibahin ortu!” ujar Andi
“hah? Gibah?” Daniel bingung
__ADS_1
“Ngomongin!” ujar Rita menerangkan, ia mengambil sajadah dari tangan suaminya lalu meletakannya di ruang kerja
“Ayo kita makan dulu!” ajak Daniel. Mereka makan dengan tenang
“Wahh...Rita masakannya makin enak saja nih!” puji Andi
“Iya kan? Dia suka gak percaya diri. Aku bilang lebih enak dari pada restaurant sunda yang di airport!” ujar Daniel ikut memuji
“hush! Itu restaurannya punya nenek!” ujar Rita
“hah? Serius Lo Rit?” Andi kaget
“Beneran!, nih aku dapat voucher discount 15%. Kakak mau?”
“Kok lo bisa dapat?”
“itu, waktu aku pindah ke Jakarta, yang berantem di restauran, nah dikasih hadiah gituan! Ada 5 lembar nih!” Rita memberikan kupon discount ke kakaknya
“Aku gak dikasih?” tanya Daniel heran
“Memangnya kamu akan ke Jakarta?” tanya Rita, sekarang dia yang heran
“Itu berlaku di semua cabang?” tanya Daniel
“Iya, tapi cabang Jakarta semua” jawab Rita
“Ooo...memangnya Andi akan ke Jakarta?” tanya Daniel
“Biasanya Kak Andi, habis ke sini pasti mampir ke rumah kakek Sugi di Jakarta, kalau enggak pasti kakek marah!” jawab Rita
“oo begitu!” Daniel memberikan sisa kupon discount ke Andi
Setelah makan, Andi pindah ke sofa, ia melihat Daniel membantu Rita mencuci piring bekas makan mereka, sedangkan Rita mempersiapkan bahan makanan untuk sarapan pagi besok.
“Wah kalian, benar-benar tim yang kompak!” pujinya
“Ini membantu supaya makanan cepat turun Ndi!” ujar Daniel sambil tersenyum
“Kira-kira berapa lama lagi babynya lahir?” tanya Andi
“Sekitar 4 bulan-an lah paling lama” ujar Daniel
“Yang, Apartemen sebelah kosong tuh!, kita sewa saja, untuk memperluas apartemen ini” ujar Rita sambil memasukan bahan-bahan makanan ke dispenser.
“Masa? Nanti aku tanyakan deh!”
“Segera Yang, takutnya keburu ditempati orang!”
“Sekarang juga nih?” canda Daniel sambil mengelap tangannya yang basah
“Besok pagi lah!” balas Rita tersenyum. Lalu Daniel menemani Andi duduk di sofa
“So bro, berapa lama di sini?” tanya Daniel membuka percakapan
“Mungkin sekitar seminggu-an. Gue datang, karena khawatir sama si O!”
“Mario? Kenapa dia?” tanya Daniel
“Cerita fullnya gue belum tahu, tapi kemarin eh dua hari lalu deh, dia curhat sambil marah-marah. Kayaknya kurang cocok sama bosnya. Mungkin Lo pernah dengar sesuatu Niel?”
“hmm...aku belum dengar tentang itu sih, beberapa hari terakhir ini aku sering keluar kantor, meninjau proyek langsung. Besok deh aku tanya dengan beberapa orang”
“Kak Andi, besok mau nyamperin Mario di kantor begitu?” tanya Rita, ia menyediakan buah semangka untuk mereka mengemil
“Maunya sih begitu, tapi menurutmu gimana Niel?” tanya Andi
“Aku sih kurang setuju” jawab Daniel
“Kenapa?” tanya Andi dan Rita bersamaan
“Masalahnya begini, O bekerja di perusahaan sebagai tenaga profesional, dan sudah semestinya dia bekerja secara profesional juga. Perkara, cocok atau tidak cocok dengan rekan kerja ya harus ia atasi. Kalau kamu datang, apa malah dia gak malu? Membawa cucu presdir? mau menakuti kepala proyek?” tanya Daniel serius
“Benar juga Kak!” sambut Rita
“Jadi gimana dong?” Andi jadi bingung sendiri, dia tidak pernah kepikiran mengenai hal tersebut
“Kalau mau bertemu Mario, ketemunya secara personal saja, misalnya jam makan siang. Atau jam pulang kantor. Jadi tidak ada kesan kamu mencampuri pekerjaannya!” usul Daniel
“Iya juga ya? Lo tahu apartemennya O, Rit? Neil?” tanya Andi, mereka berdua menggeleng
“Kenapa gak nelpon sekarang saja, minta dia datang?” tanya Rita
“Jangan! Sudah di atas jam 9 malam, biarkan O istirahat, Andi juga pasti lelah kan?” ujar Daniel
“Iya juga!, ya sudah, kalau begitu. Gue akan datang menemui dia pas jam makan siang deh!” Andi memutuskan
“Oh iya, kira-kira babynya cowok atau cewek?” tanyanya lagi
“Kemarin sih dicek, cewek!” jawab Daniel tersenyum, ia kelihatan senang sekali
“Wah saingan mamanya nih, panggilannya apa?”
“Aku papi, dia mami!” Jawab Daniel dengan wajah sumringah, ia terlihat tidak sabar untuk melihat anaknya lahir
“Mami dan papi, gue dipanggil apa ya?” Andi memikirkan
“Ya uncle lah!” jawab Daniel dan Rita bersamaan
“Enggak ah, terlalu ke-barat-baratan. Panggil Uwa saja! Atau Wa Andi!” ujarnya tersenyum
“Uwa? Apa itu?” tanya Daniel heran
“Itu sebutan untuk uncle dalam bahasa sunda” jawab Rita menerangkan
“Ooo,..begitu” Daniel mengangguk-angguk.
Hari telah larut, Rita dan Daniel telah berada di kamarnya, sedangkan Andi, telah terlelap di sofa depan TV.
Daniel masih membaca berita di tabletnya di atas ranjang setelah bosan Ia bangkit dari ranjang dan menaruh tabletnya ke dalam tas kerjanya. Ia melewati walking closet, dimana istrinya sedang berganti pakaian. Rita naik ke ranjang, dan mengusapkan pelembab di kulitnya, Daniel mendekatinya dan mencium lehernya
“Yang, sekarang boleh?” tanyanya
“Jangan! Ada kak Andi di sofa, kalau kedengaran gak enak!” ujar Rita sambil mencium pipi suaminya.
“Aku pelan-pelan kok!” bisiknya Ia menutup pintu kamar.
Karena suasana sangat sepi, samar-samar Andi mendengar suara aktivitas adiknya di dalam kamar.
__ADS_1
“Sialan!” gerutunya, ia mengambil headset dari koper lalu memasangnya di telinga sampai pagi.
-Bersambung-