Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 135: Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Di Minggu pagi Daniel terbangun dari tidurnya, ia agak susah memejamkan mata karena selalu kepikiran tentang kata-kata Ridwan tentang Rita yang ingin meng-ghostingnya. Ia bingung haruskah ia bertemu, atau kembali ke NZ berpura-pura tidak tahu kondisi Rita di sini?


Ia bingung, di satu sisi sangat merindukan Rita, tapi di sisi lain ia takut Rita akan menolaknya. Ia berusaha menetapkan hatinya, setelah mandi dan berpakaian, ia turun untuk sarapan. Seseorang menghampirinya


(Dalam Bahasa Inggris)


“Pak, Kami taxi yang tadi malam bapak hubungi”


“Oh iya, betul”


“Jam berapa penerbangan ke New Zealand?”


“Pukul 10.30 pagi”


“Kalau begitu setelah ini kita harus segera ke bandara pak karena perjalanan ke sana tidak tentu, saya takut terjebak kemacetan”


“Hmm...baiklah!”


Daniel melihat jam tangannya


“Baru pukul 8 pagi, aku sudah harus ke bandara?” gumamnya. Ia mengambil sesuatu dari kantong jaketnya. Kemarin Ridwan menyelipkan nomor ponsel Rita yang baru. Ia menyimpan nomor tersebut di ponselnya, berkali-kali ia berniat untuk memencet tombol hijau tapi ia urungkan


“Ahh..Rita ini membuatku gila!” keluhnya, ia pun segera check out dari hotel dan menaiki taxi itu ke Bandara


Mereka tiba di Bandara satu jam kemudian Daniel segera check in ke counter untuk penerbangannya. Cuaca saat itu tiba-tiba mendung, sehingga penerbangan mengalami penundaan sampai cuaca memungkinkan. Daniel menatap keluar bandara melalui jendela kaca


“Ah, aku harus menunggu berapa lama lagi?” gumamnya, kemudian ia membuka ponselnya, ia mencari kontak Rita, ia memutuskan untuk menghubunginya.


“Ini pertaruhan, kalau Rita masih ada perasaan padaku, ia tidak akan menolakku!” pikirnya. Ia pun memberanikan diri memencet tombol hijau di ponselnya. Hatinya sangat gelisah ia sangat takut Rita tidak lagi mau berhubungan dengannya, beberapa menit kemudian bunyi ponsel tersambung


“Rita?” tanya Daniel deg-degan, awalnya ia tidak mendengar suara apapun hanya terdengar suara nafas yang halus


“Rita?” Daniel melihat nomor di ponselnya,


“Bener ah nomornya, Rita!” panggilnya, kemudian ia mendengar erangan


“Tolong!!!”


“Hah???” Daniel bingung


“Tolong?”, ia segera membuka google translate, tolong dalam bahasa Inggris, setelah ia tahu artinya, ia segera berlari meninggalkan ruang tunggu bandara. Ia menelpon Ridwan tetapi tidak ada jawaban, kemudian ia menelpon taxi yang tadi ia naiki.


“Ke alamat ini Pak!” pintanya kepada supir taxi, taxi pun meluncur menuju alamat yang dituju, kira-kira satu jam kemudian ia tiba di rumah kontrakan Rita yang baru.


“Tunggu ya Pak!” perintah Daniel pada supir Taxi


Daniel mengetuk pagar Rumah, tidak ada respon dari dalam


“Assalammu’alaikum! Rita?” panggilnya, karena tak sabar ia pun membuka pagar dan masuk ke dalam, ia melihat Rita tergeletak di ruang depan


“Rita! Rita!” Daniel mengangkat Rita yang sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya penuh keringat dingin. Daniel membuka jaketnya dan memakaikan ke Rita, ia menggendong Rita keluar dari rumah itu dan membawanya ke taxi. Rita di tidurkan di taxi, Daniel kembali ke dalam untuk mengambil ponsel dan tas kecil kesayangan Rita, lalu mengunci pintu rumah. Ia memangku Rita di taxi


“Ke UGD rumah sakit pak!” pintanya, beberapa menit kemudian mereka telah sampai di UGD rumah sakit, Rita segera dibaringkan di ranjang UGD, Daniel terus memegang tangannya.


“Maaf pak, biarkan kami bekerja” ujar dokter jaga


Daniel melepas tangan Rita, dokter dan perawat memberikan pertolongan pertama, Rita tersadar dan ia memberitahukan letak sakitnya , dokter menekan bagian perut yang sakit


"Aduhhh!!" Rita mengerang kesakitan


“What’s wrong?” tanyanya, dokter melihat ke Daniel, ia kembali menekan


“Akhhh!!!” Rita menjerit kesakitan, Daniel tidak tega melihatnya


“Give her something to relieve her pain!” pinta Daniel pada dokter.


Dokter paham Daniel tidak bisa berbahasa Indonesia, kemudian ia memberikan pereda nyeri melalui infus , sehingga Rita bisa lebih tenang.


(Dalam bahasa Inggris)


“Menurut gejala dan letak sakitnya sepertinya adik Anda mengalami Appedicitis, radang usus buntu. Ia harus segera dioperasi!”


“Baik dokter, lakukan yang terbaik untuknya!”, tiba-tiba ponsel Daniel berbunyi, Ridwan menghubunginya


“Pak Daniel, Anda berubah pikiran?” tanyanya dengan suara riang


“Ridwan segera ke rumah sakit GBU, Rita ada di UGD!” ujar Daniel dengan nada agak tinggi


“Hah? Kog bisa?” tanya Ridwan bingung


“Ia mengalami radang usus buntu, harus segera dioperasi!” ujar Daniel


“Baiklah Pak, kami akan segera ke sana!”


Tidak butuh waktu lama Ridwan datang bersama ambulan, Rita akan dipindahkan ke RS yang lebih besar milik Darmawan. Setelah ia mengurus administrasinya, Rita pun di bawa dengan ambulan, Daniel menemaninya di dalam. Ia terus menenangkan Rita yang merintih kesakitan


“Sabar ya Rit, sebentar lagi kita sampai!” bujuk Daniel lembut ia mengusap rambut Rita dan mengecup keningnya. Rita melihat wajah Daniel lalu memejamkan matanya tangannya menggenggam Daniel lebih kuat. Mereka tiba di rumah sakit, Rita segera masuk ke ruangan khusus dan para dokter segera melakukan beberapa pemeriksaan padanya. Hasil usg menunjukkan hal yang sama, radang usus buntu parah. Ruang operasipun segera disiapkan. Daniel menungguinya di ruang tunggu, tak lama kemudian Darmawan tiba, ia menyuruh Ridwan memanggil Daniel untuk menemuinya di ruang tunggu VVIP.


“Pak Daniel, Tuan Darmawan menunggu Anda di ruang VVIP, mari saya antar!” ajak Ridwan, Daniel mengikuti Darmawan ke ruang lain di RS itu, letaknya lebih dekat dengan ruang operasi dan lebih nyaman. Selain sofanya lebih empuk, juga disediakan kopi dan teh untuk membunuh kantuk saat menunggu operasi.


“Duduk Niel!” Darmawan menyalami Daniel.


“Jujur aku kaget, aku dengar dari Ridwan, kamu hendak membatalkan niatmu untuk bertemu Rita, tetapi sekarang justru kamu yang pertama menolongnya” Darmawan memeluk Daniel dari suaranya ia sangat lega


“Terima kasih sudah menyelamatkan cucu perempuanku!” ujarnya, ia menepuk punggung Daniel dan melepaskan pelukannya

__ADS_1


“Tadinya saya berniat langsung kembali Pak, saya dengar Rita bersikap seperti ini karena ingin bersembunyi dari saya. Jadi saya takut ditolaknya Pak!”


“Lalu apa yang membuatmu berubah pikiran?”


“Saya pikir, saya harus mencobanya, meskipun berakhir kegagalan.Ketakutan saya akan ditolak lebih kecil daripada rasa penasaran saya pak, akhirnya saya memberanikan diri menghubungi Rita melalui nomor yang diberikan Ridwan kemarin Pak”


Darmawan mengangguk-angguk


“Lalu?”


“Ketika ponsel tersambung, saya mendengar suara erangan minta tolong, kemudian saya langsung ke rumah itu”


“Syukurlah Niel instingmu tajam, rasa cintamu mengalahkan egomu. Kalian sudah berapa lama akrab?”


“Sekitar 6-7 bulan pak!”


“Masih baru ya? tetapi sepertinya hubungan batin diantara kalian kuat sekali, apa kalian pernah??”


“Maksudnya pak?” tanya Daniel heran


“Aku bukan orang tua yang kuno Niel, Aku tahu bagaimana pergaulan anak muda zaman sekarang. Jujur saja apa kalian pernah berhubungan layaknya suami-istri?” tanya Darmawan dengan suara tajam


“Belum pernah Pak Sungguh!, Kami memang dekat, tetapi kami tidak pernah melakukan kontak fisik seperti yang Bapak sangka kan!”


“Benarkah? Apa karena kamu takut pada Rita?”


Daniel tersenyum, kemudian ia menjawab


“Buat saya Rita itu istimewa Pak, ibarat Rita itu bunga, karena saya menyayanginya, saya tidak akan memetiknya ataupun merusaknya!”


“Sungguh kah?, Aku bisa minta mengecek tubuh Rita selagi ia sedang tidak sadar” ancam Darmawan


Daniel kaget,


“Silakan Pak, bahkan saya tidak berani menciumnya”


“Kenapa? Takut dipukul?”


“Saya takut tidak bisa menahan diri saya Pak. Saya juga tahu Rita memiliki perasaan yang sama dengan saya, Kalau kami mau kami bisa melakukannya sesering mungkin. Tetapi Kami tidak mau merusak perasaan istimewa kami Pak, jadi kami menunggu hingga Kami resmi direstui Tuhan.”


“Oh ya? Kapan itu? Kamu harus menetapkan Niel, kapan kamu akan melamar Rita?”


“Eh?” Daniel bingung Darmawan seperti menantang Daniel


“Aku khawatir, mungkin kemarin-kemarin kalian bisa menahan diri, tapi Aku ragu kalau kalian masih bisa menahannya, apalagi terpisah jarak seperti ini!”


“Apa Bapak tidak keberatan jika Rita menikah diusia muda?” tanya Daniel heran


“Aku lebih keberatan kalau Dia hamil di luar nikah, di usia muda Niel!”


“Saya mengerti Pak! Setelah Rita sadar Kami akan membicarakan hal ini Pak!”


“Iya Harus itu!, Kamu juga harus bisa berbesar hati jika setelah kalian menikah, Rita ingin melanjutkan cita-citanya, jadi ia belum bisa hamil dulu, misalnya!”


Daniel menggaruk kepalanya


“Apa tidak terlalu jauh berpikirnya Pak?”


“Oh tidak Niel, setelah orang menikah, biasanya tantangan terbesar muncul. Kalian akan diuji lebih banyak dari yang sekarang ini. Dari mulai mertua, keuangan, kesetiaan, anak, cita-cita yang belum terpenuhi banyak deh!”


Daniel menyimak nasehat Darmawan dengan baik, tak terasa operasi Rita telah selesai, ia kini berada di ruang pemulihan.


Dokter menghampiri Darmawan


“Bagaimana Dokter keadaan cucu saya?” tanya Darmawan


“Syukurlah ia di bawa ke RS tepat waktu, jika tidak appedicitis yang pecah akan membuat kuman-kuman menginfeksi organ tubuh yang lain!”


“Alhamdulillah!!!” Darmawan dan Daniel mengucapkan bersamaan, mereka sangat lega.


“Setelah ia buang angin, ia bisa kembali ke kamar rawat inapnya!” ujar dokter, kemudian ia meninggalkan Darmawan dan Daniel


“Kamu akan menunggunya di sini Niel?” tanya Darmawan


“Iya Pak!”


“Baiklah, Aku sudah minta Ridwan menyiapkan kamar Rita di sini dengan ruangan yang cukup besar hingga kamu bisa menemani Rita dengan nyaman”


“Baik Pak, terima kasih!”


“Aku akan kembali besok, Kamu juga kabari saya jika akan kembali ke NZ!”


“Baik Pak!”


Darmawan meninggalkan RS dan kembali ke tempat tinggalnya, sedangkan Daniel masuk ke dalam ruang rawat inap kelas VVIP. Ruang VVIP sangat mewah, layaknya kamar hotel, dengan space yang luas. Terdapat extra bed di ruangan yang sama dengan pasien, sehingga keluarga pasien yang menunggunya bisa mengawasi pasien dengan baik. Daniel menjatuhkan dirinya di sofa empuk yang terdapat di ruangan itu.


“Ah nyaman sekali” tiba-tiba bel kamar berbunyi


“Ya?” Daniel membuka pintu kamar, Ridwan berada di depan kamar


“Pak Daniel ini koper pak Daniel dari supir taxi yang tadi membawa bapak kemari!”


“Oh iya, saya belum membayarnya!” Daniel hendak menuju ke ruang tunggu RS


“Tidak usah Pak, semua sudah dibayar oleh tuan Darmawan, beliau berpesan supaya kami tidak mengganggu Anda di sini”

__ADS_1


“Oh, baiklah!”


“hmm...Pak Daniel, saya harap dengan kejadian ini kalian bisa bersatu kembali. Kalian sangat cocok bersama!” ujar Ridwan tersenyum


“Aamiin, terima kasih banyak Pak!”


Beberapa jam kemudian, dari ruang pemulihan, Rita dibawa masuk ke kamarnya, ia masih dalam kondisi tidak sadarkan diri. Daniel menungguinya di samping ranjang, ia memperhatikan Rita yang masih tertidur. Daniel mengusap rambut di kening Rita yang menutupi wajahnya, ia bergumam pelan


“Maafkan Aku Rita!, Aku tidak akan mengabaikanmu lagi!” gumamnya pelan. Suara Daniel yang berat membangunkan Rita


“Hah? Aku di mana?” tiba-tiba ia terbangun dan melihat sekelilingnya kemudian ia berusaha duduk


“Aduuh!!!”erangnya


“Jangan bangun dulu, kamu baru saja selesai dioperasi!” ujar Daniel dengan suara lembut


Rita melihat ke arah Daniel, wajah Rita saat itu tidak bisa diungkapkan, antara marah, kesal juga sayang


“Kog kamu bisa di sini?” tanyanya agak ketus


“Aku lho yang membawa kamu ke sini” jawab Daniel, ia sudah siap menerima kemarahan Rita


“Apa iya? Seingatku, Aku menghubungi pak Ridwan supaya menjemputku”


“Aku menghubungimu terlebih dulu, lalu aku mendengar kamu mengerang kesakitan. Jadi aku langsung ke rumah itu untuk menjemputmu”


“Kamu dari NZ langsung ke rumah itu?” tanya Rita tidak percaya


“Sebenarnya aku tiba di Jakarta Sabtu sore dan langsung ke rumah mu, tapi kamu sedang ada acara di sekolah.”


“Kenapa kamu mau bertemu dengan ku?” tanya Rita masih dengan suara kesal


“Aku melihat video aksimu di restaurant, jadi Aku tahu ingatanmu telah pulih!, Jadi begitu tahu, aku langsung memesan tiket ke Jakarta”


“Aku berharap ingatanku tidak usah kembali” gumam Rita pelan, tersirat kesedihan di suaranya


“Kenapa?” tanya Daniel


“Supaya aku tidak usah mengingatmu lagi!” ujar Rita, air matanya mengalir deras di pipinya


Daniel menatap matanya dengan tulus,


“Maafkan aku yang telah mengabaikanmu Rita, Aku bodoh! Kakekmu benar Aku terlalu terpengaruhi oleh pendapat orang dari pada perasaanku pada mu! Rita, maafkan Aku!. Beri Aku kesempatan sekali lagi untuk membuktikan kesungguhanku padamu?” pinta Daniel, air matanya juga mengalir di pipinya


Rita menatap mata Daniel dalam, dipikirannya berkecamuk, “Haruskah aku memaafkannya dan menerimanya kembali, setelah perlakuannya padaku?” Rita hanya terdiam, tiba-tiba suara ribut seseorang masuk ke kamarnya


“Rita!!!” panggilnya, ia langsung memeluk Rita, sementara Daniel dengan segera membalikkan tubuhnya dan menghapus air matanya.


“Aduh sakit Kak!” teriak Rita, karena Andi memeluknya dengan erat


“Daniel, kamu jahat kemari tidak bilang-bilang!, Aku baru tahu ingatan Rita sudah kembali dari Lee, begitu tahu aku langsung kemari!, Daniel, kamu jangan mengabaikan Rita lagi. Kamu sudah membuatnya membuatnya menderita batin!” ujar Andi dengan nada keras


Rita menarik baju Andi


“Batin Rita lebih terluka, karena Kak Andi menjadikan wajah Rita sebagai sasaran panah!” ujar Rita ketus


“Hah? Kog kamu tahu?” tanya Andi heran


“Lee yang bilang, ia melaporkan tentang kakak setiap hari. Lee bilang kak Andi kesepian di sana”


“Huh Lee ember!! Awas ya!!!” ancamnya


“Kak Andi langsung kemari begitu tahu Rita dioperasi?”


“Aku gak tahu Lo dioperasi, Cuma tahu Lo sudah ingat lagi, begitu sampai, eh pak Ridwan bilang Lo ada di RS dioperasi Us-Bun”


“Us-Bun?” tanya Rita heran


“usus Buntu!”


“oooh..” Rita mengangguk paham


Andi dan Daniel meninggalkan Rita yang kembali tidur di ruangannya, karena ruang tidur dan tengah di kamar itu terpisah. Mereka membicarakan sesuatu


“Kamu tidak seharusnya menyalahkan Rita atas rumor itu Niel. Mereka hanya iri padamu. Aku yakin mereka akan melakukan hal yang norak jika ada di posisimu!, Jadi aku harap rumor apapun tentang kamu sebagai CEO kamu bisa abaikan!”


“Iya Ndi, aku sudah mendengar alasan Kakekmu mengangkatku sebagai CEO, aku sampai tidak bisa berkata-kata, jujur seumur hidupku Aku membenci Ayahku, karena ia sangat kasar pada ibuku dan Aku. Tapi ternyata kebaikannya justru mengangkat derajatku. Sungguh, aku sangat bersyukur juga bersedih”


“Sudahlah Niel, anggap saja posisi itu merupakan permintaan maaf dari ayahmu yang sudah menyiksamu selama ini, lagi pula masa lalu itu tidak bisa diubah. Kita menjadi seperti ini karena masa lalu!”


“Tumben ucapanmu bijak?” goda Daniel


“Hehehe,..itu ucapannya Rita. Ia selalu bilang, kita gak bisa mengeluh atas kejadian masa lampau, tapi kita bisa memperbaiki masa depan! Makanya Niel, kamu jangan membuatnya bersedih lagi!”


“Iya Kak baiklah!” goda Daniel lagi


“Kak?”


“Oh iya Ndi, apa kamu gak terlalu berlebihan sikapmu pada Rita?”


“Maksudmu?”


“Ya berlebihan, biasanya kakak itu cenderung membully adiknya, tetapi kamu justru seperti tergila-gila padanya”


“Edan kamu Niel, bukan begitu. Ada peristiwa yang membuatku sangat sayang pada Rita” Andi mulai bercerita

__ADS_1


_ Bersambung_


__ADS_2