Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 313: Ngidam


__ADS_3

"Sayang, aku lapar!" Rengek Rita membangunkan Daniel


"Hah? Lapar? Jam berapa sekarang?"


"Masih jam 11"


"Kok tumben?" Tanya Daniel heran


"Bukan aku yang minta, bayi di perut ku"


"Ohh...dia mau makan apa?"


"Mau steak"


"Steak? Di mana jam segini yang buka?"


"Ada kok, yang menuju ke sini itu ada toko daging, yang punya orang Lebanon jadi halal semua dagingnya"


"Oh maksudnya aku yang disuruh masak steak?"


"He eh!, Mau gak? Kalau gak dituruti nanti bayi nya ngiler lho!"


"Ngiler? Apaan tuh?"


"Bayi kalau lahir ileran terus, keluar air liur terus dari mulutnya"


"Perasaan dulu waktu Ranna, Raffa dan Rayya kamu gak begini deh"


"Sama kok, cuma aku gak bangunin kamu malam-malam.waktu Ranna aku minta kue putu, Raffa ketoprak, kalau Rayya Pizza rendang, kamu masa gak inget?"


"Iya ya? Tapi aku ngantuk banget nih, besok pagi saja ya?"


"Yah kalau besok sudah beda lagi keinginannya" ujar Rita setengah memaksa


"Iya deh..iya deh.. aku beli..mau berapa?"


"Hmm...2 , itu buat aku semua lho, kalau kamu mau, kamu beli lagi"


"Iya .iya..." Dengan segan dan masih ngantuk Daniel berganti pakaian, ia membawa mobil ke toko daging yang dimaksud Rita.


Toko daging itu cukup besar dan nyaman, Daniel heran masih ada toko daging yang jualan 24 jam. Selain menjual daging , mereka juga menjual sayur dan buah-buahan.


Daniel mengambil keranjang dan berjalan berkeliling ke tempat daging.


"Saya mau daging untuk steak" pinta Daniel


"Berapa banyak pak?"


"Berapa harga per potong?"


"12 dolar"


"Hmm...aku minta 3 potong, oh iya sausnya?"


"Anda bisa mencari di lorong sebelah sana, di situ juga ada buku resep untuk membuat steak yang enak" tunjuk pramuniaga


"Baiklah!" Setelah menerima bungkusan daging, Daniel menuju rak saus. Ia juga membaca buku resep membuat steak. Ia membelinya lalu membeli semua bumbu yang tercantum dalam buku resep itu.


Selesai belanja ia segera pulang, kantuknya sudah hilang ia mulai berpikir cara membuat steak yang enak berdasarkan yang ia baca dari buku resep.


Sesampainya di rumah, ia segera mengolah daging dan merebus sayuran tak lupa membuat saus untuk steak. Aroma daging di masak menyeruak, Daniel membuka Jendela dapur selebar-lebarnya agar asap daging tidak mengganggu penghuni rumah.


Setelah selesai, ia naik ke lantai 2, membangunkan istrinya.


"Sayang, bangun."


"Hah? Kamu sudah pulang?"


"Sudah dari tadi, yuk ke dapur kita makan steak"


"Tapi aku ngantuk"


"Jangan begitu dong, aku sudah susah payah berbelanja dan memasak seperti yang kamu minta" bujuk Daniel


"Hmm..."Rita terduduk, matanya masih terpejam


"Sayang ayo, nanti steaknya keburu dingin"


"Kamu duluan deh, aku cuci muka dulu"


Daniel lebih dulu ke dapur, Rita mencuci wajahnya untuk menghilangkan kantuk lalu segera turun ke dapur.


"Hmm... wanginya.."


"Silakan..Daniel menghidangkannya di atas piring vulkanik sehingga daging yang dimasak setengah matang bisa matang sempurna.


"Kamu sengaja membeli piring ini?" Rita memperhatikan piring hitam di atas tatakan kayu.


"Iya, sudah lama aku mau beli piring ini, tapi aku lupa terus, nah tadi kebetulan aku lihat satu set piring vulkanik, garpu dan pisaunya, sekalian saja aku beli"


"Kamu memang gak tanggung-tanggung ya orangnya, baiklah aku makan, bismillahirrahmanirrahim" Rita


mengambil 1 potongan kecil


dengan garpu dan menyantapnya


"Bagaimana?" Daniel menunggu reaksi istrinya, memperhatikan istrinya makan.


"Sebentar!" Rita mengunyah daging lalu


"Hmmm.." ia mengambil potongan daging lagi dan mengoleskan ke atas steak. Kemudian ia menyantap sayurannya.


Daniel juga menuangkan minuman untuknya.


"Kamu gak ikut makan?" tanya Rita


"Enggak, kalau makan malam ini aku gak akan bisa tidur"


"Aku juga, tapi keinginan bayi ini tidak bisa ditahan, aku gak bisa tidur karena terus memikirkan steak"


"Jadi bagaimana? Apa keinginan bayi sudah terpenuhi?"


"Untuk sementara sudah!" Rita mengakhiri makannya,


"Alhamdulillah... akhirnya.." Rita hendak membereskan bekas makannya


"Biar aku saja, kamu duduk di situ"


Rita memperhatikan Daniel yang sedang mencuci piring, punggung nya yang lebar, membuatnya tertarik. Lalu ia memeluk punggung suaminya dari belakang.


"Ah..nyaman sekali .. terimakasih ya, aku kenyang" gumam Rita


Daniel tersenyum sambil mencuci piring.


"Sudah selesai, yuk ke atas!"


Rita melepaskan pelukannya lalu kembali ke lantai 2, sementara Daniel mengunci jendela dapur dan memeriksa semua pintu, setelah itu ia kembali ke kamar. Di dalam kamar , Rita telah lelap tertidur, sepertinya rasa laparnya sudah hilang. Daniel pun kembali tidur di sampingnya.


Pagi harinya Rita terbangun, Daniel sudah berangkat ke kantor. Rita kembali tidur setelah sholat subuh, jadi ia tidak mengantar suaminya.


"Ah..sudah pagi" ia memakai jubah kamarnya lalu turun ke lantai bawah, ia merasa malas untuk mandi.


"Selamat pagi!" Sapanya pada Beatrice


"Pagi...Anda kelihatan lelah sekali ya?"


"Iya, aku juga heran, padahal aku sudah banyak beristirahat"


"Oh iya anak-anak mana? Kok sepi?"


" Mereka sudah berangkat les tadi"


"Rayya?"


"Tadi dia menangis ingin ikut kakak-kakaknya, jadi pak Daniel membolehkan Rayya ikut ke tempat les"


"Oh ya?...hoaammm... Beatrice aku ke kamar lagi ya, kalau ada apa-apa bangunkan aku saja!"


"Iya Bu, istirahat saja. Tadi pak Daniel juga mewanti-wanti anak-anak supaya tidak mengganggu Anda"


"Terimakasih.." Rita kembali ke kamarnya, ia melakukan Vcall ke suaminya


"Sayang kamu sudah sampai kantor?"


"Baru sampai, kamu sudah bangun?"


"He eh..tapi aku ngantuk lagi. Badan capek rasanya"


"Mau ke dokter?"


"Nanti saja, hari Minggu kemarin kan sudah diperiksa, mungkin ini cuma lelah saja"


"Ya sudah kamu istirahat saja, kalau perlu jadikan hari ini hari bermalas-malasan nasional"


"Hehehehe...paling bisa ngeledek"


"Aku sungguh-sungguh, aku sudah minta ke para baby sitter untuk full ke anak-anak hari ini karena kamu absen sebentar"


"Mana bisa begitu? Anak-anak pasti akan mencari ku"


"Pokoknya mumpung anak-anak sibuk, lebih baik kamu tidur saja"


"Baiklah.. terimakasih ya sayang, muachh!" Rita mencium ponselnya


"See you!!" Daniel menutup ponselnya dan tersenyum, para staffnya yang sedang menunggu perintahnya tersipu melihat senyum manis bosnya.

__ADS_1


"Maaf, istriku sedang tidak enak badan, dia sedang hamil muda"


"OOO.." para staffnya mengangguk memaklumi


"Baiklah kita mulai rapatnya ya?"


Rita rebahan di Ranjangnya, Beatrice mengantarkan cemilan yang ia taruh di kereta makan depan kamar majikannya.


Rita mencium bau masakan, ia membuka pintu kamar, tiba-tiba perutnya berbunyi


"Ah..aku lupa belum sarapan"


Rita menyeret kereta itu ke dalam kamarnya lalu menyantap semua makanan yang ada di situ


"Alhamdulillah kenyang...kamu sudah kenyang kan dek?" Ujar Rita sambil mengusap perutnya


Ia mengembalikan kereta itu ke tempatnya semula.


Awalnya ia hendak kembali rebahan tetapi rasa penuh di perut membuatnya terjaga.


"Aku bosan!", Lalu ia membuka lemari pakaiannya, ia mulai menyusun pakaian hingga lemari menjadi sangat rapi. Kemudian ia melihat meja riasnya yang berantakan, ia pun merapikannya.


Ia membuka lemari sepatu, ia pun menyusunnya hingga rapi. Setelah beberapa waktu


"Ngapain lagi ya?" Kemudian ia teringat janji nya pada Erina


"Oh iya..Erina!", Ia mencuci muka dan merapikan diri karena hendak meeting online dengan Erina.


"Pagi Erina!"


"Eh..pagi?" Erina tampak heran


"Ah iya..maaf Er di situ sudah siang ya? Aku lupa perbedaan 6 jam"


"Iya Bu..oh iya tentang inspeksi itu kita sudah menerima undangannya Bu"


"Undangan?"


"Maksud saya surat pengantar tugas orang-orang itu"


"Oh.."Rita membuka email dari Erina dan membacanya


"Jadi lusa ya Er?"


"Iya Bu"


"Baiklah, InsyaAllah aku datang. Eh iya paket Cireng dan coklat sudah datang?"


"Sudah Bu, hari Sabtu kemarin, mengejutkan Bu, beberapa orang ibu memborong Cireng katanya mau dibawa ke Belanda, padahal mereka orang Indonesia"


"Oh ya? Berapa banyak mereka beli?"


"Tiga puluh pcs Bu,mereka minta dikirim lewat ekspedisi. Mereka juga sudah membayar pesanan dan biaya ekspedisinya"


"Jadi persediaannya tinggal sedikit?"


"Masih ada Bu"


"Nanti kabari kalau harus pesan lagi ya?"


"Baik Bu"


"Eh Er, aku ingin menjadi D'Ritz badan usaha. Bagaimana menurut mu?"


"Kita sudah berbentuk badan usaha Bu, perusahaan nya perorangan dengan Ibu sebagai pemilik tunggalnya"


"Hah? Kok bisa? Apa kamu yang mendaftarkan?"


"Tidak Bu, ketika saya masuk, D'Ritz sudah berbentuk perusahaan. Mungkin ibu membuatnya ketika membuka cafe dulu"


"Apa iya? Waktu itu aku memang mengurus semuanya sendiri tapi aku lupa apa saja, seingat ku sih cuma perijinan".


"Sepertinya semuanya sudah termasuk Bu"


"Hmm..baiklah .kamu siapkan saja dokumennya, kalau perlu kita datangi cabang satu per satu"


"Baik Bu!"


"Terimakasih Erina, sampai besok!"


Rita mengakhiri pertemuan onlinenya dengan Erina karena ia mendengar suara anak-anaknya yang baru datang.


Suara langkah kaki mereka menuju kamar Rita.


"Mamii!!" Raffa dan Ranna memeluk maminya yang tidak mereka temui pagi ini


"Halo sayang!! Bagaimana lesnya?"


Raffa menunjukkan hasil lukisannya, Ranna menunjukkan rekaman latihan vokalnya


"Mami masih sakit?"


"Mami cuma capek saja, eh adek Rayya mana?"


Suster Eva menuntun Rayya menuju kamar Rita


"Adek...kamu tadi ikut les ya?"


"Tadi dia ikut latihan dengan para bayi Bu"


"Apa boleh? Itu harus bayar kan?"


"Iya Bu, tapi tadi ada seorang ibu yang mengenali Raffa , katanya dia pemilik tempat itu"


"Hubungannya apa?"


"Nah, beliau bilang hari Minggu lalu Raffa membantu menyelamatkan tas nya yang hendak di curi, tadinya Raffa yang mau diberi hadiah tapi ia menolak, lalu ibu itu melihat Raffa menuntun Rayya, lalu ia memberikan tiket gratis latihan para bayi untuk Rayya"


"Wah..hebat dapat gratisan...kamu hebat bang, gak menolak hadiah, mami bangga sama kamu" Rita memuji Raffa, yang tersenyum senang.


"Eh kalian sudah makan?"


"Sudah mi,tadi Grany membekali banyak makanan"


"Oh begitu, kalau begitu kalian ganti pakaian dan istirahat"


"Boleh istirahatnya di sini mi?" Pinta Ranna


"Boleh, asal jangan lompat-lompatan ya?"


"Iya mi!" Keduanya ke kamarnya untuk berganti pakaian di bantu oleh baby sitter


"Suster, biarkan Rayya di sini, suster istirahat saja, kalau saya perlu nanti saya panggil "


"Baik Bu!"


Para baby sitter beristirahat, sementara anak-anak berkumpul menonton film kartun di tv layar lebar di kamar maminya.


Malam harinya..


"Sayang, lusa Aku harus ke Singapura" ujar Rita


"Ngapain kesana?"


Rita memberikan surat dari Pemda setempat tentang inspeksi di toko dan cafenya.


"Apa gak bisa diwakilkan?"


"Karena ini kali pertama inspeksi jadi owner harus datang"


"Kamu sudah menjadikan D'Ritz menjadi badan usaha?"


"Aku pikir belum tapi ternyata sudah mungkin pengacara ku yang mengurus nya sekalian mengurus perijinan"


"Bagus dong, D'Ritz sudah punya 5 cabang, jadi memang harus berbentuk badan usaha"


"Perusahaan pribadi gitu ya?"


"Iya, benar."


"Wah aku benar-benar jadi CEO" Rita tampak bangga pada dirinya.


"Aku boleh pergi kan?" Tanyanya


"Boleh, aku juga akan ikut"


"Hah? Kamu ikut?"


"Iya, aku juga ada urusan di Singapura"


"Apa benar? Ini bukannya dalam rangka mendekati seseorang kan?"


"Kok kamu bisa tahu?"


"Laki-laki apa perempuan?" Tanya Rita cemburu


"Laki-laki dong, sebenarnya aku mau menawarkan Eddy jadi asisten ku di Lexington. Aku bisa bebas bergerak kalau ada dia"


"Oh Eddy, apa dia mau pindah ke Swiss? Aku dengar anaknya perempuan semua dan ABG"


"Memangnya kenapa?"


"Biasanya anak ABG gak mau pindah-pindah karena harus pindah sekolah, kenalan teman baru lagi.. pokoknya ribet deh"


"Kamu dulu ABG kan? buktinya kamu mau ikut pindah-pindah?"

__ADS_1


"Kalau aku lain, ayah bilang kalau gak pindah aku akan diambil kakek Sugi, yah daripada begitu mending ikutan ayah"


"Tapi kamu bilang kakek Sugi memperhatikan mu?"


"Memang, masalahnya kalau sudah tinggal sama kakek, aku gak boleh kembali lagi ke ayah "


"Oh begitu, complicated banget ya?"


"Memang, sudah begitu dulu pengawalnya banyak. Mau ngomong sama kakek saja harus melewati beberapa pengawal."


"Tapi sekarang kan enggak seharusnya bisa dekat lagi kan?"


"Iya, nanti deh aku cari waktu yang tepat. Aku mau kasih tahu tentang adeknya Rayya"


"Kamu belum bilang?"


"Lagi mencari saat yang tepat saja"


"Jadi berapa hari kita di sana?"


"Hmm ..paling lama 3 hari"


"Tiga hari ya? Baiklah"


"Beneran nih kamu gak apa-apa ngikutin aku terus?"


"Gak apa-apa..lagi pula ini kesempatan untuk menguji staff ku mana yang bisa bekerja dengan baik mana yang tidak, dulu aku dibegitukan oleh pak Radian. Kadang beliau pergi hampir 2 minggu meninggalkan ku dengan berbagai masalah tapi akhirnya aku jadi terbiasa menghadapi semua masalah"


"Gak heran ya, kakek ingin kamu memegang perusahaannya" gumam Rita


"Eh Yang, sepulang dari Singapura, akan ada family gathering perusahaan"


"Oh ya? Acaranya apa saja?"


"Aku juga belum tahu, tapi kamu siap-siap saja"


Dua hari kemudian mereka tiba di Singapura, anak-anak berada di apartemen bersama baby sitter, Daniel bertemu dengan Eddy di suatu restoran sedangkan Rita sibuk di tokonya.


"Selamat siang!" Sapa Rita


"Selamat siang Bu Rita, Erina menyambut bosnya"


"Eh iya Bu, ini para kepala cabang d' Ritz" Erina memperkenalkan kepala cabang berjumlah 5 orang yang merupakan eks karyawan Dar.Co


"Halo..kita baru bertemu ya?"


"Iya Bu, oh iya apa kabar pak Daniel Bu?"


"Beliau baik, sekarang sedang ada meeting dengan temannya, eh sebentar ada telepon dari anak saya"


Rita berpindah ke ruangannya menerima telepon dari Ranna


"Bu Rita agak gemuk ya?"


"Isi lagi, anak ke empat" bisik Erina


"Oooh... mudah-mudahan moodnya bagus ya?"


"Memangnya kenapa?"


"Kamu gak ingat? waktu kamu hamil serem banget, sensitif " ujar rekannya


"Masa? Mungkin karena hormon dan anak pertama juga, kalau Bu Rita kan sudah biasa hamilnya..sssst..beliau datang"


"Maaf ya, anakku hanya ingin mengecek keberadaan ku.."


"Ranna ya Bu?"


"Iya!"


"Sudah berapa tahun sekarang Bu? Terakhir saya bertemu Ranna di pernikahan Erina"


"Ranna sudah 3 tahun lebih, dia itu tomboi, kalau bercanda sama Raffa adeknya dia ajak bergulat."


"Raffa nya gimana Bu?"


"Dia hanya mempertahankan diri, papinya mengajarkan karena Ranna itu perempuan jadi Raffa gak perlu membalasnya dengan fisik"


"Wah gentleman sekali, kalau Rayya gimana Bu?" Mereka tampak tertarik dengan kehidupan Keluarga Daniel


"Rayya, kalau melihat kakaknya gulat ia berteriak-teriak kegirangan dia pikir kakaknya sedang bercanda padahal sedang berkelahi"


"Hahahaha..." Mereka tertawa membayangkan keributan diantara para bayi.


"Selalu ramai ya Bu?"


"Begitulah, kalau aku sering geli melihat suami ku kebingungan karena ketika ia memarahi satu anak, kedua anak lainnya kaget dengan suaranya, akhirnya ketiganya menangis bersamaan " Rita bercerita sambil tersenyum, para staf asyik mendengarkan, mereka menyukai Daniel, cerita Rita membuat mereka bisa membayangkan yang dilakukan Daniel sehari-hari.


"Baiklah, sepertinya petugasnya sudah datang, Erina, hanya saya dan kamu yang menemui mereka?"


"Iya Bu, teman-teman akan menunggu di sini"


"Baiklah, yuk kita ke bawah"


Rita dan Erina menemui inspektor dan menemaninya berkeliling toko serta cafe.


Malam harinya


"Bagaimana hasil inspeksi hari ini?" tanya Daniel di kamar tidur mereka


"Baik, besok kita berkeliling ke cabang-cabang D'Ritz, mudah-mudahan gak memakan waktu lama"


"Kamu lelah ya?"


"Iya!, Aku heran kenapa tenaga ku mudah habis, syukurlah tadi ada Erina yang membantuku tetap fokus, kalau enggak bisa gawat"


"Mumpung di sini kamu cek kandungan saja di dokter langganan mu, besok aku antar "


"Tapi besok aku harus mengunjungi cabang"


"Kalau cabang kamu bisa diwakili Erina, sebentar saja dari RS kamu bisa langsung ke cabang itu"


"Aku hubungi Erina dulu bisa gak seperti itu"


Rita menghubungi Erina, beberapa menit kemudian


"Bisa Yang"


"Nah, aku buatkan janji untuk besok"


"Memangnya bisa?"


"Kalau pendaftaran bisa 24 jam"


"Alhamdulillah... bagaimana pertemuan mu dengan Eddy?"


"Dia akan memikirkannya "


"Tapi Yang bukannya kalau menarik Eddy keluar,justru kamu kehilangan orang dalam di CITE?"


"Memang sih, tapi aku kesulitan mencari orang yang bisa ku percaya seperti Eddy"


"Oh ya bagaimana dengan teman mu yang interpol?"


"Ya begitulah, dia sangat menyukai tugasnya di CITE"


"Dia jadi menikah?"


"Enggak"


"Kenapa gak jadi?"


"Ternyata calon istrinya itu hamil oleh orang lain"


"Maksudnya?"


"Calon istrinya itu sudah mempunyai kekasih dan dia hamil olehnya"


"Bagaimana bisa ketahuan?"


"Calonnya sendiri yang membatalkan pertunangan dan mengakui semuanya. Rupanya pacarnya yang akan segera menikahinya"


"Yah..percuma dong dia sudah keluar dari Interpol?"


"Enggak dong, gajinya di CITE lebih besar dari pada di Interpol, dia sangat senang, belum lagi fasilitas apartemen dan kesehatan, happy banget dia"


"Turut prihatin ya, walaupun gajinya lebih besar pasti dia sedih"


"Gak usah kamu pikirkan, calon istrinya memang masih muda banget jadi wajar kalau masih labil"


"Berapa usianya?"


"19 tahun"


"Lebih muda aku kan ketika menikah?"


"Kamu itu beda!" Daniel memeluk istrinya dari belakang


"Bedanya apa?"


"Bedanya? Walau usia mu masih muda tapi pemikiran mu sangat dewasa,malah kadang lebih dewasa dari aku" Daniel mencium pundak istrinya, Rita membalikkan tubuhnya dan memeluk pinggang suaminya.


"Terimakasih ya, mau menemaniku di sini" Rita mencium bibir suaminya


"Tentu dong, istri ku sedang hamil, mana mungkin aku membiarkan sendirian" mereka berciuman dengan mesra dan tidur sambil berpelukan

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2