
“Ah sudah pagi!” Rita membuka matanya, sejak masuk ke hotel ia langsung terlelap, ketika ia bangun ia tidak menemukan suaminya
“Eh iya ya, aku kan di New York, jam berapa nih? Jam 8 pagi? Ya ampun belum sholat subuh!” Rita bergegas ke kamar mandi untuk sikat gigi dan berwudhu. Setelah itu ia sholat subuh.
“Tok..tok..” suara ketukan dari luar kamarnya
“Yes?” Rita membuka pintu kamarnya
“Surprise!!!”Daniel sudah berada di depan pintu kamar, ia langsung masuk ke kamar, Rita heran
“Kog bisa di sini Yang? Kerjaan kamu gimana?” Tanya Rita, ia melihat suaminya yang langsung rebahan di tempat tidur
“Sebentar yang, aku lelah!” Daniel langsung terlelap, perjalanan dari Singapura ke New York membuatnya kelelahan. Rita segera membuka jaket dan sepatu Daniel.
“Tok.tok..tok” suara pintu kembali terdengar, Rita segera membuka pintu
“Hello Darling sudah enakan?” tanya Mario hendak menerobos masuk, tapi dicegah oleh Rita, ia menarik Mario keluar kamar
“Eh, O jangan masuk, laki gue baru datang, sekarang lagi tidur jangan diganggu ya? nanti lo gue susul!” Rita kembali ke kamarnya dan meninggalkan Mario yang terbengong-bengong di luar kamar
“Ah sial! Tu Laki! Ngintil terus kerjaannya! Jadi susah deh Ai PDKT!” gumam Mario kesal, ia mengetuk kamar Ratna
“Ya?” Ratna membuka pintu kamarnya
“Halo Tante! Sudah siap? Kapan kita mulai show?”
“Sebentar ya O, tante lagi koordinasi dengan panitia, tante heran sejak kemarin sulit dihubungi, oh ya, Rita sudah bangun?”
“Sudah segar bugar tante, tapi lakinya masih tidur!”
“hah? Daniel di sini?”
“ Dia baru saja datang, kelihatannya Ritong juga baru tahu”
“Ooo pantas, kemarin dia bersikap mencurigakan”
“Hah, mencurigakan? Maksud tante?”
“Iya, dia bersikap seolah-olah akan melepas Rita pergi selamanya, padahal Cuma seminggu!”
“ooo, yang itu? Ai pikir memang dia begitu orangnya!”
“Feeling laki sama cewek itu beda O!”
“Dari kemarin Ai dibilang laki terus?”
“Yu memang laki!, Rita menegaskan sama kami semua!, Jangan menganggap O cewek ya? kasihan nanti tambah terjerumus!, itu Rita yang bilang!”
“Kapan tuh dia ngomongnya?”
“Kamu lagi dijemput Andi. Rita sampai mengumumkan lewat speaker lho!”
“Ya ampyuunn,..si O!! Bener-bener deh tu orang!”
“Kamu jangan marah ya O!, itu tandanya ia sayang sama kamu! Saye cerita waktu ayahnya mau membawanya pindah sekolah dan rumah, Rita sebenarnya keberatan. Dia bilang kasihan si O, nanti gak punya teman. Tapi Ayahnya meyakinkan, O itu orangnya pintar bergaul pasti deh bisa punya teman banyak!”
“Ritong khawatirin Ai? Kog kelihatannya dia cuek banget?”
“Rita itu memang seperti itu, gayanya itu seperti papanya, kelihatan cool padahal perhatian banget!”
“Beda ya sama Anding!”
“Kalau Andi sama kayak tante, ekspresif. Kalau gak suka ya bilang, kalau perlu meja terbalik-terbalik deh!”
“tok..tok..! suara pintu kamar Ratna
“Ya?” Ratna membuka pintu
“Sudah siap Ma?” tanya Rita
“Eh, neng Rita, masuk Neng!” ledek mamanya
Rita duduk di sofa di samping Mario, tiba-tiba saja Mario berpindah menjauhinya,
“Hei Ritong! Bilangin sama laki yu! Ai sudah gak tertarik sama bininya! Jadi dia bisa pulang dengan tenang!” ujarnya sambil membaca katalog
Rita heran dengan perkataan Mario, ia melihat ke arah mamanya meminta penjelasan
“Rit, katanya Daniel datang? “
“Iya Ma!, tadi dia belum sempat cerita langsung tidur. Kecapekan kayaknya!”
“Hmm..kalau begitu hari ini kamu gak usah ikut mama, biar O saja!. Lagipula mama Cuma mau menemui panitia. Melihat setnya besok. Nanti kamu mama hubungi oke?” Ratna mendorong Rita keluar kamarnya.
“Kabari Rita ya ma?” wajah Rita agak kecewa, karena ia sengaja mengikuti mamanya agar bisa menemukan jati dirinya sebelum anaknya lahir. Dengan langkah gontai, ia kembali ke kamarnya. Daniel masih terlelap. Rita memesan layanan kamar untuk dia dan suaminya. Beberapa menit kemudian layanan kamar datang.
“Ahh...wanginya!!!” Rita mencium aroma beef steak wagyu , aroma masakan menggoda hidung Daniel yang mulai merasa lapar. Ia pun terbangun
“Apaan tuh Yang?” tanyanya
“Beef steak Wagyu!” Rita menyediakan 2 piring, serta garpu dan pisau. Daniel ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia hanya mengenakan kaus singlet putih, kulitnya yang putih bersih terlihat makin bersinar. Rita sampai terpesona melihat suaminya yang tampak lebih tampan dari biasanya.
“Wah gawat ini, bisa-bisa aku tidak menyelesaikan misi di sini!” kemudian ia bergegas ke lemari pakaian dan mengambil kaus jersey
“Yang, pakai ini. Nanti singlet itu kotor terkena saus steak!” Rita memberikan jersey MU , Daniel membuka singletnya di hadapan istrinya, Rita semakin deg-deg-an. Ia segera duduk , memusatkan pikirannya ke makanan di hadapannya. Mereka pun makan dengan lahap.
“Yang, sebenarnya ada apa? kok menyusul? Kenapa gak terbang barengan saja?” tanya Rita, ia memesan layanan kamar lagi, karena masih terasa lapar
“kamu memesan lagi? Belum kenyang?” tanya Daniel heran melihat nafsu makan istrinya yang bertambah
“Aku kan sekarang makan untuk 2 orang Yang!, kalau Cuma steak saja mana cukup?”
“Kenapa tadi gak memesan banyak saja sekalian?”
“Aku tuh nyoba dulu, beneran enak gak, kalau enak ya pesan lagi, kalau enek ya gak usah!”
Daniel mengangguk, kemudian ia mulai bercerita
“Niel, katanya kamu tidak akan ikut tim mu ke Hongkong?” tanya David kepala cabang di Singapura
“betul Pak, istri saya sedang hamil muda, saya takut pergi kesana malah tidak baik untuknya, apalagi ia sangat menyukai atraksi yang ekstrem. Mungkin dianya gak apa-apa tapi sayanya yang tidak tenang!”
“Hahaha!, begitu ya? selamat ya Niel!, aku gak tahu kamu sudah menikah. Aku dengar banyak karyawati di sini yang patah hati setelah kamu membawa istrimu ke pertandingan!” ujar Davis tersenyum
“Apa iya Pak? Wah soal itu saya gak tahu pak!”
“Iya, sudah pastilah, dengan istri secantik dan semuda itu, tidak perlu melihat yang lain lagi bukan?” goda Davis, Daniel hanya tersipu malu
“Kalau begitu Niel, ini voucher untuk menggantikan hadiahmu dan istrimu, gunakan untukmu kemana saja yang kalian mau. Tapi ingat kamu harus kembali dalam 4 hari, karena timmu akan kembali dalam 4 hari juga!”
“Alhamdulillah!, baik pak! Terima kasih banyak!” Daniel mengambil voucher dari Davis dan bangkit dari kursinya
“Oh iya Niel, aku lupa! Cabang kita mendapatkan penghargaan sebagai penyelenggara pertandingan terbaik dan pertandingan paling sportif diantara cabang Dar,Co lainnya. Bahkan kantor pusat pun kalah!”
“Oh ya pak? Siapa yang menilai?”
__ADS_1
“Bos besar!, ia sampai memVC ku berkali-kali meminta rekaman pertandingan kalian. Dia bilang paling seru, ia juga memujimu karena pidato singkatmu tidak mengecilkan tim lain! Dia bilang hanya cabang ini yang mengerti makna Pekan Olahraga tersebut!, Aku bangga lho Niel!, aku baru di sini sudah dipuji bos besar!” Wajah Davis terlihat sangat bangga
“Selamat ya Pak!, saya setuju dengan bos besar, penyelenggara di sini sangat fair. Tidak heran berhasil unggul, bahkan kantor pusat saja kalah!” Daniel tersenyum membayangkan wajah Radian yang mendengar hal tersebut
“Kantor pusat kalah? Hahaha..aku ingin lihat wajah pak Radian ketika kami menerima penghargaan tersebut?”
“Hmm..akan ada ceremonial pak?”
“Oh tidak! Hanya keinginan pribadi aku saja!, pak Radian itu orang yang sulit didekati ya? Aku sangat segan padanya, juga sedikit takut. Aku dengar beberapa asistennya mengalami gangguan mental?”
“Hahaha...tidak semua pak, hanya beberapa saja yang tidak paham kemauan pak Radian!”
“Oh ya? kok kamu tahu?”
“Saya sempat menjadi asistennya pak!, awalnya memang sulit tapi setelah tahu keinginannya, cara kerjanya, justru ia bos yang sangat asyik!”
“hmm...begitu ya? jadi kamu dulu asistennya? Kemudian diangkat jadi kepala divisi proyek ini?” ujar Rita
“Iya Pak, beliau sering mempercayakan saya untuk menggantikannya ke beberapa pertemuan bisnis, hingga proyek ini. Akhirnya ia mempercayakan kepada saya!”
“hmm...dugaannya betul tentang kamu! Bukan tidak mungkin ya Niel, setelah beberapa tahun giliran aku yang memanggilmu pak!”
“hahaha...Anda bisa saja!, baiklah pak, saya pamit dulu!” Daniel bergegas keluar dari ruangan bosnya
“Ooo begitu, jadi kakek yang memilih cabang Singapura sebagai penyelenggara terbaik, tapi cabang itu pelit juga ya, masa kita gak dikasih hadiah ekstra gitu! Misalnya tambahan liburan!”
“Memangnya aku gak cukup di sini 4 hari?” tanya Daniel heran
“Tiga hari dong? Hari ke-4 kamu sudah harus kembali ke sana kan?”
“Iya juga ya? btw, kamu gak bantu mama?”
“Besok katanya, hari ini, aku disuruh di kamar saja, menemani suamiku!”
“Eh Rit, mumpung di sini, kita jalan-jalan yuk ?”
“Eh sudah jam 11? Apa gak kesiangan?”
“Yang dekat-dekat sini saja, Times Square, atau Modern Museum Art!”
“Memangnya ada di dekat sini?”
“Tadi waktu naik taksi kemari, aku melewati tempat-tempat itu, wah aku pikir tempat yang bagus untuk hang out bersama istriku!”
“Hmm...ayo deh!,..kita kembali sebelum malam ya, soalnya besok aku harus bekerja!”
“Siap bu!” Daniel segera berganti pakaian, begitu pula Rita. Beberapa saat kemudian mereka telah meninggalkan hotel, menuju Modern Museum Art.
Daniel membaca katalog dari museum
“Museum ini menjadi satu dari museum seni modern paling berpengaruh dan terkenal di dunia.
Museum ini menyimpan koleksi karya seni seperti arsitektur dan desain, lukisan, pahatan, fotografi, dan ilustrasi. Selain itu, di museum populer ini terdapat perpustakaan yang menyimpan lebih dari 300 ribu buku dan majalah tentang sejarah seni modern dan kontemporer.”
“Wahh..ayo kita buktikan!” ajak Rita. Mereka memasuki museum tersebut, mereka melihat beberapa karya lukisan yang sangat apik, patung-patung yang bergaya kuno serta modern.
“Bagus ya Yang?” Rita melihat Daniel terpaku pada suatu lukisan seorang anak yang membawa seekor kuda
“Kenapa Yang?” tanya Rita ia heran, apa yang membuat Daniel begitu terpaku dengan lukisan itu
“Ah tidak! Aku jadi ingat dengan lukisan anak menangis”
“Oh ya Saveetri berikan ke kamu itu?”
“Iya!, wah lukisan itu benar-benar merepotkan!”
“Karena aku bingung bagaimana menceritakannya, tapi sepertinya cerita tentang lukisan itu benar, karena beberapa kali aku membuangnya, esoknya ia selalu kembali ke tempat semula!”
“Apa benar ia membakar sesuatu?”
“Mungkin juga, aku sampai bosan memindahkan lukisan itu terus, akhirnya aku taruh di gudang. Aku pastikan gudang itu tidak ada barang-barang berharga. Bahkan barang-barang yang harus dibakar!”
“Terus?”
“Besoknya aku dengar gudang itu terbakar, semua barang yang harus dibakar ya terbakar, tapi lukisan itu tidak!”
“Lalu?”
“Ya aku perintahkan orang untuk menaruh benda-benda yang mau dibakar di situ bersama lukisan. Jadi kita gak usah repot membakarnya lagi!”
“hahaha! Jadi justru kamu mengerjai anak dilukisan itu?”
“Habis mau bagaimana lagi?”
“Apa kamu cerita ke pak Charles tentang lukisan itu?”
“Iya, ternyata selama ini mereka sudah mengumpulkan lebih dari 100 lukisan anak menangis. Mereka meletakannya di tempat khusus yang tahan api.”
“Jadi kamu serahkan lukisan itu pada mereka?”
“iya!, tapi malamnya aku bermimpi anak-anak dalam lukisan itu keluar dari lukisan dan kembali ke alamnya. Ternyata lukisan milikku itu merupakan karya terakhir sang pelukis sebelum meninggal!”
“ooo begitu, apa tempat itu masih terbakar?”
“Entahlah, aku gak mau tahu dan tidak tertarik! Tapi melihat lukisan ini yang terlihat begitu hidup. Aku jadi membayangkan kalau lukisan ini benar-benar hidup”
“Memangnya kalau lukisan ini hidup kamu mau ngapain?”
“Aku mau beliin dia pakaian! Kasihan dia telanjang terus!” ujar Daniel konyol
“Hahaha! Suamiku ini lucu sekali!” Rita mencubit pipi suaminya gemas
“Menurutmu, apa semua karya di sini bisa menginspirasimu untuk membuat rancangan perhiasan lagi?” tanya Rita
“Mungkin ya, mungkin tidak!, aku berniat mampir ke toko Frank di sini, ingin tahu saja apa rancanganku di sini sama best sellernya dengan yang di Indonesia?”
“Hah? Sebenarnya Frank itu perusahaan dari Indonesia?”
“Iya! Dia punya lebih dari 40 cabang di Indonesia, di sini ada juga!”
“Kamu kok bisa menjadi perancang perhiasan?”
"Pemilik Frank pernah menjadi klien kami, dulu aku jadi pengawalnya. Beliau melihat aku menggambar perhiasan berdasarkan imajinasiku. ia tertarik, dia bilang akan membeli rancanganku. Setelah rancangan itu dijadikan perhiasan sesungguhnya, ternyata banyak yang suka. sejak itu aku jadi tenaga lepas di situ."
"wah keren banget kamu ya?" puji Rita kagum
“Sebenarnya dari dulu aku suka menggambar, membuat design T-Shirt. Itu kulakukan sejak SMP. Ada beberapa bahkan aku cetak di t-shirt dan aku jual. Alhamdulillah laku. Kebanyakan yang membeli teman-temanku. Aku bahkan membuat merk sendiri”
Mereka kini berada di restauran turki untuk makan siang setelah sholat dzuhur
“Oya? Kamu gak pernah cerita tentang itu?”
“Jadi aku mendesign kaus, kemudian aku cetak. Lalu aku membeli beberapa kaos lalu mencetak di atasnya, aku kasih signature sebagai merek”
“Apa?”
__ADS_1
“D-Nil”
“D-Nil? Kenapa tidak diteruskan?”
“Lalu terjadi kejadian yang membuatku harus meninggalkan itu semua!”
“Kamu tidak pernah cerita tentang penyebab kamu keluar dari Korsel?”
“hmm...kalau mengingat itu aku sangat sedih. Itu masa paling kelam dalam hidupku. Rasanya mau mati saja!”
“Eh Niel, maaf ya, mau tanya, kenapa sih di Korsel orang mudah sekali memutuskan untuk bunuh diri? Sepertinya di sana kurang menghargai hidup?”
“Budaya di sana sangat keras Rit, mereka menuntut standar tinggi pada seseorang. Semua harus menjadi no.1 kalau tidak kamu hanya pecundang!. Jadi kalau tidak menjadi nomor 1 lebih baik mati saja!”
“yahh kog begitu, tapi aku bersyukur kamu bisa keluar dari lingkungan itu!”
“tidak semuanya buruk sih, ada beberapa kok yang bagus. Misalnya di sana itu sangat menghormati orang/ tamu. Hirarki pada orang yang lebih tua itu sangat diperhatikan”
“Tapi Niel, awal kita bertemu, aku memanggil Pak sama kamu! Kok kamu minta dipanggil nama?”
“Karena panggilan Pak terlalu tua untukku. Lagi pula aku gak mau sebutan itu jadi gap antara kita iya gak?”
“Iya juga sih, lalu tentang kamu keluar dari Korsel itu?”
“Aku kurang pintar mengingat hal yang buruk Rit, buatku itu sudah aku simpan jauhh..lagi pula karena kejadian itu, aku bertemu dengan orang-orang hebat, aku juga menemukan jodohku!” Daniel memegang dagu Rita dengan sayang
“Iya juga ya? jadi benar juga ya?”
“Apa yang benar?” tanya Daniel heran, ia menghabiskan minumannya
“Jodoh itu yang se-frekuensi. Aku juga berpikir begitu tentang masa lalu yang gak enak! Mending kita menatap masa depan! Iya gak!” ujar Rita tersenyum
“Yuk, kita ke Times Square, sudah lumayan gelap, katanya di sana akan terlihat bagusnya di malam hari!”
Dari restaurant mereka pergi ke Times Square, berfoto-foto di sana, Rita merasa bahagia sekali.
“Apa mungkin kita tinggal di sini saja Yang?” tanya Rita
“hmmm...enggak ah! Sesekali gak apa-apa di sini. Tapi untuk membesarkan anak di sini? Aku gak mau! Di sini sudah kehilangan akar budaya. Kamu gak mau kan anak kita seperti yang di tv-tv? Kamu sudah dengarkan penembakan masal di sekolah dasar? Atau sekolah yang menggunakan detektor untuk mendeteksi senjata ? wah aku gak mau!”
“iya juga ya? jadi kita di mana dong?”
“Kalau gak di NZ ya di Jakarta. Kalau kamu mau kembali ke Sukabumi aku juga gak keberatan!”
“sungguh?” Rita kaget
“Kenapa? Sukabumi masih terlihat suasana pedesaannya kan?”
“Tapi Niel dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang kayaknya di manapun sama deh. Kamu mungkin gak pernah menyimak anak remaja melakukan hubungan suami-istri di warnet? Apa gak parah itu?”
Daniel terdiam
“Benar juga ya kata kakek, setelah kita menikah dan punya anak akan muncul masalah baru. Aku jadi bingung”
“Soal itu gak usah kita pikirin sekarang Yang, masih ada waktu 9 bulan!” ujar Rita menenangkan suaminya. Daniel merangkul Rita dengan sayang dan mencium jidatnya. Mereka kembali ke hotel.
“Hey couple!” tegur Mario ketika berpas-pasan dengan mereka ketika hendak masuk ke kamar
“Ye, what’s up?” tanya Daniel
“Besok, Yu , Ritong maksudnya prepare ya untuk show !”
“Hah? Show? Aku kan asisten mama?”
“Enggak!, Tante mau kamu jadi modelnya! Beliau gak nyaman bajunya dipakai sama model-model cungkring itu, auranya bajunya gak keluar katanya!”
“Memangnya bajunya seperti apa?” tanya Rita
“Ya kebaya nusantara lah!” jawab Mario
“Hah Kebaya? Aku boleh nonton gak?” tanya Daniel tiba-tiba
“Kenapa? Kamu suka peragaan busana?” tanya Rita heran
“Enggak, aku senang melihatmu berkebaya, sangat cantik!” puji Daniel. Rita tersipu malu. Mario jadi sebal melihat lovey-dovey itu
“Kalau yu mau nonton, minta invitation aja sama mertua Yu! Atau yu jadi crew kita! Gimana?”
“Crew? Enak saja, laki gue di suruh-suruh gak usah ya? nanti gue minta undangan ke nyokap!” Rita menjulurkan lidahnya ke Mario dan menarik Daniel ke kamar mereka.
“Ya udah! Yee!” Mario pergi kembali ke kamarnya
“Memangnya kalau aku jadi crew kenapa Yang?” tanya Daniel, ia baru saja selesai mandi. Ia hanya mengenakan handuk di bagian bawahnya. Rita memberikan piyama ke suaminya
“Aku gak rela suamiku disuruh-suruh! Itu saja!” ujar Rita, suaranya masih agak kesal. Daniel yang telah memakai piyama lengkap memeluknya
“Kamu benar-benar melindungiku ya?”
“Tentu saja! Kita saling melindungi! Kita adalah tim!” Rita mencium bibir Daniel, lalu ia pergi ke kamar mandi
“tok..tok..” suara ketukan pintu kamar
“ya?” Daniel membukanya
“Niel!” Ratna datang ke kamar mereka
“Masuk ma, Rita sedang mandi!”
“hmm..tadi Mario bilang kamu minta undangan?”
“Iya Ma? Ada gak? Kalau gak ada ya jadi crew juga gak apa-apa!”
“Jangan dong, crewnya sudah banyak!, mama butuh bantuan. Kamu jadi model lelakinya ya? mama bingung model di sini hanya beberapa yang bikin mama terpukau. Kamu kan tinggi, wajahmu juga lumayan. Bagaimana niel? Bisa kan?”
“Tapi saya gak bisa cara jalannya gimana?”
“Besok pagi kamu dan Rita latihan dulu. Nanti si O yang mengarahkan kalian. Ternyata dia jago juga lho menata gaya!”
Rita telah selesai mandi, ia keluar dengan piyama lengkap dan membungkus rambutnya
“Eh mama, besok gimana ma?”
“Begitu saja ya Niel, Rita, mama lagi buru-buru nanti suamimu akan menjelaskan semuanya padamu. Istirahat ya sayang!” Ratna segera keluar dari kamar mereka
“Ada apa sih yang? Kog mama buru-buru?”
“Dia minta aku juga jadi modelnya!” ujar Daniel, ia menjatuhkan tubuhnya di ranjang
“Iya? Wah asyik dong! Aku ada yang nemenin!” Rita kegirangan
“Hmm...aku jadi model apa pantas ya?” Daniel meragukan dirinya
“Tentu dong! Suamiku kan paling tampan!” Rita memakai mukena untuk sholat Isya
“oh iya ya, aku juga belum sholat! Kita jama’ah-an yuk Yang!” Daniel segera ke kamar mandi untuk berwudhu, kemudian mereka sholat isya berjama’ah
__ADS_1
_bersambung_