
Daniel terkejut ketika bangun tidur tidak ada Rita di sisinya
“Sayang?” bangkit dari tempat tidur dan mencarinya di kamar mandi, lalu ia keluar kamar dan mencari di kamar anak-anaknya, ia menemukan Rita sedang tidur di bawah tempat tidur Ranna.
“Sayang, kok kamu tidur di sini? Gak kedinginan?” Daniel membangunkan Rita
“Hah? Kok aku di sini?” Rita yang baru bangun belum ingat kalau dia sendiri yang pindah tempat.
“Kamu sleep walker lagi ya? pindah deh tidurnya masih jam 2” bisik Daniel pelan takut membangunkan anak-anaknya
“Sudah subuh ya?”
“Belum setengah jam lagi, aku mau tahajud” jawab Daniel
“Oh iya, aku juga deh. Kita jama’ah ya?”
“Boleh!”
Selesai tahajud mereka tilawah sambil menunggu adzan subuh melalui ponsel.
“Kamu kemarin di rumah tante ngapain saja?” tanya Daniel penasaran
“Kami cuma ngobrol ngalor-ngidul tentang kondisi Dar.co di Zurich sini”
“Itu saja?”
“Ya, bertukar informasi tentang pengasuhan anak”
“Itu saja?”
“Iya, kenapa? Kok tumben kamu kepo?”
“Enggak, aku merasa sikap kamu aneh sejak pulang dari sana, apa karena kalian keliling mall sampai kamu kecapekan atau apa gitu”
“Masa? Aku biasa saja kok, kamu masa gak tahu, perempuan itu moodnya memang seperti itu” jawab Rita ngeles
“Begitu ya? kamu gak lagi PMS kan? Kayaknya masih lama deh tanggal mens kamu?”
“Kamu masih nandain itu ya?” tanya Rita heran
“Tentu saja, berhubungan itu kebutuhan biologis seperti halnya makan dan minum”
“Iya..iya aku ngerti”
“Jadi hari ini kamu rencana kemana?”
“Gak kemana-mana, di rumah saja. Kenapa?”
“Bagus deh, aku takut kalau kamu keluar mood kamu hilang lagi, eh sudah adzan. Yuk kita sholat!”
Daniel mengimami Rita. Waktu sholat subuh di sana pukul 2.30 dini hari. Selesai sholat mereka bercinta.
Rita terbangun agak siang karena kelelahan, ia mendapati Daniel sudah berangkat kerja. Kedua anak batitanya berlompatan di ranjang untuk membangunkannya.
“Mami, kok tidurnya lama?” tanya Ranna
“Mami, why you naked?” tanya Raffa
“Bang, ambilin baju mami di situ!” Rita menunjuk lemari. Dengan sigap Raffa mengambilkan pakaian untuk maminya.
“Kalian sudah makan?” tanya Rita sambil berpakaian
“Belummm....mami belum makan” jawab Ranna
“Adek mana?”
“Sama suster Eni” jawab Ranna, selesai berpakaian Rita mengajak kedua anaknya turun ke lantai bawah
“Selamat pagi!” sapa Rita pada Beatrice
“Pagi, wah sepertinya Anda kesiangan ya?” tegur Beatrice
“Iya, tadi suami ku sudah sarapan?”
“Sudah, ia juga membawa banyak bekal hari ini, katanya akan pulang larut”
“hmmm...begitu ya?”
“Mami aku mau scramble eggs” pinta Ranna
“Mee too!” ujar Raffa
“Mau pakai roti gak?” tanya Rita
“Yess!!!” jawab keduanya kompak
Beatrice membuat scramble eggs agak banyak untuk mereka bertiga, ia melihat sikap Rita yang lebih pendiam dari biasanya.
“I’m done mami!” Raffa membawa piringnya ke tempat cuci piring
“Aku udah!” giliran Ranna membawa piringnya ke tempat cuci piring
“Biar saya saja yang cuci piring, kalian gak usah, nanti bajunya basah!” ujar Beatrice tersenyum
“Kakak, Abang, kalau sudah selesai, sikat giginya dan cuci mukanya, minta tolong sama suster” ujar Rita
“yes mam!” keduanya berlari mencari suster untuk melakukan yang disuruh maminya
“Apa ada yang salah?” tanya Beatrice pada Rita yang kelihatan murung
“Huh? Salah? Siapa?” tanya Rita terkejut
“Saya melihat pagi ini Anda muram sekali, tidak seperti biasanya”
“Oh ya? haha..kelihatan ya?”
“Apa ada pikiran yang mengganggu?”
“hmm...Beatrice, menurut mu bagaimana cara mengetahui suami kita jujur?”
“Maksud Anda?”
“Aku ingin tahu cara Anda mencari tahu kejujuran suami Anda?” tanya Rita
“Biasanya aku memperhatikan gerak-geriknya, Anda tahu Bu. Lelaki itu kalau berbuat kesalahan pasti terlihat dari gerak-gerik yang mencurigakan”
Rita memikirkan sikap Daniel selama ini
“Tidak ada yang aneh” gumamnya
“Selain itu Beatrice?”
“Tanyakan kegiatannya pada orang terdekatnya”
“Kalau suami ku orang terdekatnya siapa?”
“Anda bisa bertanya pada Dickens, aku lihat mereka cukup akrab walaupun pak Daniel baru beberapa bulan di sini”
“Dickens, kapan dia kemari?”
“Biasanya kalau mengantar dan menjemput pak Daniel”
“Oh begitu, baiklah terima kasih Beatrice, scramble Eggsnya sempurna!” Rita meletakkan piringnya di tempat cuci piring lalu meninggalkan dapur. Ia hendak menelpon Daniel untuk meminjam Dickens, tetapi niatnya tertunda
“Bu Rita”
“Ya suster?”
“Rayya menangis sejak tadi”
“Sudah diberi susu?”
“Sudah, agaknya ia masih lapar” Suster memberikan Rayya pada Rita.
“Ah kebeneran!” pikir Rita, ia melakukan Vcall pada suaminya
“Ya?”
“Sayang, aku bisa pinjam supir mu Dickens?”
“Hah? Dickens? Untuk apa?”
“Aku ingin dia mengantar ku ke rumah sakit “
“Siapa yang sakit?” wajah Daniel terlihat khawatir
“Bukan begitu, Rayya memasuki usia 7 bulan, aku mau konsultasi ke dokter anak sini apakah Rayya sudah boleh Mpasi”
“Oh begitu, waktu Ranna dan Raffa bukannya 6 bulan sudah Mpasi?”
“Nah itu, aku mau memastikannya”
__ADS_1
“Baiklah, jam berapa kamu mau berangkat?, biar aku suruh Dickens ke rumah”
“Bisa datang satu jam lagi?”
“Satu jam sudah di situ ya? baiklah, aku akan titipkan kartu kredit ku untuk membayar RS ya?”
“Ah iya! Terima kasih sayang!” Rita tersenyum senang
Rita berganti pakaian dan mengganti pakaian Rayya, ia hendak ke RS.
“Suster Rini, suster Erni!”
“Ya bu?”
“Saya mau pergi ke RS membawa Rayya, saya titip Ranna dan Raffa ya, soalnya agak lama”
“Mami where you going?” tanya Raffa
“Hospital! Abang dan kakak di rumah saja, mami dan adek yang pergi”
“May I come with you?” tanya Raffa sopan
“Kamu mau disuntik?” ujar Rita menakuti
“Nooo!!!” Raffa ngumpet di belakang suster Erni
“Nah kan, kak Ranna jangan nakal ya? ikuti apa kata suster Rini. Eh apa kak Ranna yang ikut saja supaya disuntik dokter?” ledek Rita
“Jangan!! Aku gak nakal deh!” jawab Ranna bersembunyi di belakang punggung susternya
“Nah, kalian main dulu deh, kalau lapar minta kue atau makanan sama Beatrice oke?”
“Yes mami!!” Rita mencium kening kedua anaknya, bunyi klakson mobil memasuki halaman rumah.
“Oke aku berangkat!” Rita memakai kemeja bergaris biru dengan celana jeans dan sepatu kets. Rambutnya diikat ke belakang, Rayya di gendong di depannya. Ia tampak seperti ibu muda yang masih remaja.
“Pagi Dickens!” Rita menyapanya ketika masuk ke mobil
“Pagi, mau ke RS mana bu?”
“Anda yang lebih tahu, kira-kira yang mana yang dokter anaknya bagus?” tanya Rita
“Ah iya, Rosemary Hospital saja, oh ini kartu dari bapak bu” Dickens menyerahkan kartu kredit Daniel pada Rita
“Terima kasih Dickens!”
Selama di perjalanan, Rita memutar otak untuk menanyakan perihal suaminya pada Dickens
“Jadi Dickens, Anda sudah cukup lama ya melayani suami saya?”
“Ya, lumayan bu, hampir 10 bulan”
“Bagaimana menurut Anda?”
“Maksudnya?”
“Apa suami saya pernah berperilaku aneh?” tanya Rita , ia sudah tidak sabar lagi untuk mengorek keterangan dari Dickens
“Perilaku aneh? Pak Daniel? hahaha...tidak pernah! Saya pikir ketika membawa pak Daniel itu seperti membawa bapak-bapak usia 50 tahunan”
“Hah? Maksudnya?” Rita terkejut
“Maksud saya, beliau sangat suka bekerja, padahal orang seusianya pasti lebih suka bersenang-senang!”
“Bersenang-senang? Seperti apa?”
“Ya ke cafe, ke diskotik, tempat karaoke, kemana pun sepulang kantor untuk menghilangkan kejenuhan”
“Apa dia suka pergi ke sana?”
“Setahu saya tidak, selama 10 bulan saya mengantarnya, saya bertemu pagi ia masih segar, dan ketika pulang ia tertidur di mobil sambil mendengkur. Sepertinya beliau lelah sekali”
“Saat weekend apa Anda juga mengantar dan menjemputnya?”
“Tentu! Beliau memberikan ku uang ekstra untuk itu, ia bilang tidak betah libur sendirian di rumah, ia ingin cepat-cepat bertemu keluarganya”
Rita mengangguk, ucapan Dickens mirip dengan ucapan Beatrice.
“Oh iya, Dickens, apa suami ku pernah mengantarkan seorang model?”
“Mengantarkan? Maksud Anda?”
“Ya seperti Anda tahu, mungkin dalam perjalanan pulang atau perjalanan dinas, suami ku bersama seorang model?”
“Tapi kalau pergi ke klien Anda kan yang mengantarnya?” desak Rita
“Tentu saja!, tapi beliau tidak membawa siapa pun. Seperti yang saya katakan, setiap pulang dari klien, beliau pasti lelap tertidur. Saya pernah menanyakan padanya, apa itu suatu penyakit? Beliau bilang, jika otaknya lelah, ia akan tertidur, itu sebabnya ia tidak suka mengajak siapa pun untuk menumpang dengannya karena akan mengganggunya”
“Oh begitu”
“Sudah sampai bu, nanti hubungi saya di nomor ini kalau sudah selesai!” ujar Dickens sambil memberikan kartu namanya
“Baik, Dickens, sampai nanti!” Rita dan Rayya keluar dari mobil dan masuk ke Lobby rumah sakit, setelah mendaftar ia segera menuju lantai tempat praktek dokter anak. Antriannya hanya sedikit, lima belas menit kemudian ia dipanggil dokter. Konsultasi selama tiga puluh menit, ia pun segera pulang dan menghubungi Dickens.
“Wah cepat juga ya bu?”
“Iya, hanya sedikit tadi yang berobat, mungkin karena ini hari kerja”
“Anak Anda sakit apa?”
“Bukan sakit, aku konsultasi untuk mengetahui apakah anakku siap untuk makanan pendamping Asi atau tidak, kakak-kakaknya pada usia ini sudah MPASI”
“Oh begitu, wah kalian orang berpunya, untuk cari tahu anak sudah siap makan saja harus ke dokter, anak-anak saya dulu, langsung diberi makan bubur halus oleh istri saya”
“Putra Anda berapa pak Dickens?”
“Dua, semuanya sudah dewasa, saya sudah punya cucu, perempuan. Usianya 6 tahun, namanya Marion.”
“Anda terlihat masih muda tapi sudah punya cucu”
“hahaha...terima kasih!, saya itu orangnya simple gak mau stres-stress itu sebabnya saya memilih jadi supir pribadi saja. Gak terlalu banyak pikiran.”
“Apa nyonya Anda tidak keberatan?”
“istri saya? Kalau dia, selama saya memenuhi kebutuhan rumah dia tidak akan ribut”
“Sudah berapa lama Anda berumah tangga?”
“Tiga puluh tahun!”
“Wow! Hebat! Itu pasti sulit!”
“Sulit? Itu kalau dibawa sulit, sebenarnya simple. Cukup saling percaya saja dan memahami, semua akan baik-baik saja!”
“Apa semudah itu?” tanya Rita tidak percaya
“Nah kan? Itu tandanya Anda termasuk orang yang tidak mudah percaya”
“Hahaha...maaff!”
“Tak apa-apa, kepercayaan itu memang sulit, tetapi memang Anda harus mengenal orang itu dulu sebelum mempercayainya bukan?”
“Apa Anda mempercayai istri Anda 100%?” tanya Rita
“100%? Tentu tidak! Tapi aku mengenal istri ku, selama aku hidup bersamanya dia gak pernah aneh-aneh”
“Bagaimana dengan godaan dari luar pak?”
“Godaan? Misalnya seperti apa?”
“Misalnya bapak mengenal perempuan yang lebih cantik dari istri bapak?”
“Hahaha...aku sudah tua memangnya masih ada perempuan yang menggoda saya?”
“Maksud saya sewaktu Anda muda dulu?”
“hmm...bagaimana ya? kalau boleh jujur mengagumi wanita cantik itu artinya kita masih normal kan? Hanya sebatas mengagumi tapi tidak ingin memiliki”
“Apa bisa begitu?”
“tentu! Banyak wanita cantik banyak menuntutnya, maaf saya tidak menyinggung Anda!” ujar Dickens
“Hah saya?”
“Anda cantik, saya pikir Anda bukan tipe wanita penuntut”
“Hahaha...terima kasih!”
“Seperti melihat tampilan donat di etalase, kita bisa saja membelinya, tetapi penyakit diabetes melarang kita untuk melakukannya”
“Anda punya diabetes?”
__ADS_1
“Tidak! Kan misalnya!”
“Oh iya ya? hahaha...lanjutkan pak!” Rita sambil menyuapi Rayya dengan bubur dari mangkok kecil yang di dapatkannya dari dokter. Dickens memperhatikannya dari kaca spion
“Anda masih muda tetapi keibuan sekali ya, tidak heran pak Daniel tergila-gila pada Anda”
“Hah? Suami saya? Dari mana Anda tahu?”
“Sebagai sesama laki-laki kita bisa saling memahami, pak Daniel tidak betah berlama-lama sendirian di sini, di otaknya hanya kepikiran rumah, di mana ada Anda dan anak-anak yang menunggunya. Saya bisa melihat senyum bahagianya ketika membaca pesan dari Anda atau ketika anda melakukan vcall padanya, terlihat sekali perbedaan raut wajahnya” ujar Dickens panjang lebar
“selama ini Daniel sangat baik padanya, bahkan ketika ia ngambek, Daniel sabar menghadapinya, jadi kenapa ia harus mempercayai rumor tak berdasar?” pikir Rita
Tak terasa mobil telah tiba di kediaman mereka
“Terima kasih Dickens, oh iya ini kue untuk mu dan yang satu lagi aku titip untuk suami ku”
“Baik bu, terima kasih!”
“Sama-sama!” wajah Rita lebih cerah dibandingkan sebelumnya, setibanya di rumah
“Mami..mami!”panggil Ranna
“Ya sayang?”
“Uwa vcall!!” Ranna memberikan tabletnya kepada Rita
“Ah iya!, halo kak!”
“Hei Rit!, eh itu Rayya ya?” Andi melihat wajah Rayya yang sudah menginjak 7 bulan
“Iya, Rayya itu Uwa!” Rita mendadahkan tangan Rayya ke tablet
“Ya ampun lucu beneeerrrr,.. gemeessss gue mau gendong!!!” ujar Andi
“Kemari dong!”
“ Zurich ya? katanya 2 hari lagi lo pulang?”
“Iya kali gak tahu deh, mungkin diperpanjang”
“Kenapa?”
“Ya gak tahu, aku ikut bapaknya anak ini!” ujar Rita
“Pantesan si O ribut, dia mamerin main sama bocah-bocah, dia bilang gemesin dan lucu banget. Tadinya mau dia culik kalau emaknya gak galak”
“Hahaha...sialan si O”
“Dari mana lo Rit?”
“konsultasi dokter anak kak, Rayya sudah hampir 7 bulan bisa MPASI apa enggak gitu”
“oh, eh katanya kemarin lo ke rumah tante Metha?”
“Iya kak, bagus banget ya rumahnya”
“Itu kan uangnya tante Metha, suaminya itu pelukis tapi pelit banget!”
“Kak Andi tahu dari mana?”
“Beneran, kan sudah terkenal medit, banyak pelanggannya yang bilang, sudahlah pelit perhitungan lagi”
“Tapi kemarin tante bilang ia sering mengadakan pameran di rumahnya?”
“Lo jangan percaya semua yang tante ceritain!, kadang dia toxic tau!” ujar Andi tiba-tiba
“Toxic? Masa sih? Kak?”
“Lo baru kenal dia kan? Kalau gue dari kecil. paham banget deh sifatnya, bagusnya dia itu murah hati suka ngasih duit, tapi dia itu kalau ada masalah suka ngajak-ngajak orang supaya ikut menderita sama kaya dia!”
“terus kak?”
“Makanya kalau dengar kabar dari dia, apapun itu jangan langsung percaya apa lagi masuk pikiran rugi !”
“Kok kak Andi kelihatan kesal sekali, apa pernah ngalamin hal yang gak enak sama tante?”
“Iyalah, banyak! ah sudahlah! Gue Cuma memperingati elo saja. Kemarin gue dapat kabar katanya dia dan suaminya pisah ranjang, anak-anak gantian dibawa kadang sama bapaknya kadang sama tante”
“Kenapa pisah ranjang kak?”
“Katanya sih, Francois, itu nama lakinya kan? Kepincut model yang menjadi obyek lukisannya, malah katanya sempat tinggal bersama di rumah tu cewek”
“Kok Kak Andi bisa tahu?”
“Lo gak tahu Rit? Kakek punya detektif khusus untuk menyelidiki tiap ada rumor gak enak tentang rumah tangga anaknya. Nah itu laporan yang didapat dari detektifnya kakek!”
“oh begitu, kak mmm...”
“Apaan? Kenapa lo ragu-ragu?”
“Kakak pernah dengar rumor tentang Daniel dan model Isabela Montenegro?”
“Oh itu!”
“Oh itu? Jadi kakak tahu?”
“Tahu dong!”
“Kok gak bilang ke aku?”
“Karena gue takut lo malah ribut sama Daniel”
“Lho kok begitu? Aku harus tahu tentang suami ku dong? Memang benar Daniel dan Isabela?”
“Gini Rit, Isabela itu psikopat! Apa ya nyebutnya psikososial kali ya, dia itu terbiasa sama cowok yang kasar, begitu ketemu cowok ramah, baik dia salah sangka disangkanya tuh cowok tertarik sama dia. Nah Daniel itu korbannya. Gue sudah cek kok, dari kakek Sugi juga”
“Hah? Kakek Sugi ikutan?”
“Iya dong! Mana mau dia cucunya dimainin orang!”
“Waduh lebar nih urusannya” gumam Rita
“Jadi memang Daniel dan Isabela itu Cuma rumor?”
“Iya betul!, Isabela yang menyebar rumor kalau dia berhubungan sama Daniel, padahal Danielnya enggak tahu. Ketika ada yang minta klarifikasi, si Danielnya marah”
“Daniel marah?”
“Iya, Isabela hampir ditampar di muka umum, untung saja banyak security di situ”
“Isabela mau ditampar?”
“Sebenarnya bukan Isabelanya tapi temannya yang disuruh Isabel untuk menyebar rumor”
“Terus kak?”
“Daniel gak cerita sama lo?”
“Cerita tapi katanya modelnya sudah minta maaf sama dia”
“Iya memang, setelah ribut-ribut. Daniel hampir mengundurkan diri dari Lexi, tapi ditahan sama bosnya, Isabel juga diperingatkan untuk tidak menyebar rumor lagi atau kontraknya diputus Lexi”
“Daniel sampai mau mengundurkan diri?”
“Iya!, dia marah banget! Oh iya, dia juga menolak pembagian saham dari kakek Sugi”
“Pembagian saham kakek sugi? Maksudnya?”
“Kakek bilang, makin lama usia pernikahan kalian, nilai saham Daniel di perusahaan kakek akan makin besar presentasinya. Dan ia menolak itu, dia bilang dia gak butuh itu untuk membuktikan keseriusannya berumah tangga sama elo!”
“Ah kak Andi beneran gak sih? Kok Rita kayak diawang-awang ya?”
“Ya terserah sih kalau lo gak percaya”
“Percaya deh percaya, eh kak Andi kapan bisa kemari?”
“Nanti deh, kondisi kakek naik turun nih, gue pikir demensia tapi kata dokter enggak.”
“Rita mau ketemu kakek kak”
“Nanti deh, kakak bawa ke Jakarta.”
“Kapan tuh?”
“Nanti gue kabarin!”
“oke kak sipp, terima kasih ya?”
“Oke Rit!”
Mereka mengakhiri Vcallnya
__ADS_1
“Alhamdulillah ya Allah!!” Rita bernafas lega mendengar cerita dari kakaknya
_bersambung_