
“Kiano, bisa jujur sama gue?” tanya Rita suatu hari
“Gue selalu jujur kog sama Lo, Rit” elak Kiano
“bener nih? Tujuan lo semula kan ke Korea, itu jalurnya beda tuh sama NZ, apalagi kalau Cuma untuk 1-2 hari .”
“Jadi maksud lo , gue ada maksud lain?”
“Nah, Elo dong yang ngomong sama gue, cerita yang paling jujur!”
“Oke, tapi gue harap lo jangan marah ya?”
“Apa dulu?”
“Tuh kan, gue gak mau cerita kalau lo belum janji gak akan marah!”
“Kapan gue marah sama Lo?”
“Dulu waktu kelas 6, Elo ngunciin gue di kamar kosong?”
“Kamar kosong? Di mana tuh?”
“waktu itu gue ikutan anak-anak ngeledek Lo yang gak punya mama? Lo marah banget kan?”
“Itu? Gue gak marah karena itu, kan gue punya mama Cuma hidup terpisah.”
“Terus kenapa lo ngunciin gue? Sampai gue hampir pingsan ketakutan?”
“Emang lo pingsan?”
“Gila Lo, itu malam, terus Lo ninggalin gue di kamar kosong?”
“ah itu Lo terlalu penakut, lagipula itu kan rumah lo sendiri, kamar itu di loteng rumah lo, kenapa takut? Seharusnya lo kenalan sama yang jaga kamar itu!”
“Itu kalau punya kekuatan kayak Lo Rit, gue kan orang normal, apa lagi gue masih kecil!”
“Terus lo keluarnya gimana?”
“Tante gue datang, dia bingung gak ada orang di rumah. Gue gedor-gedor pintu kamar, sampai nangis”
“hahaha,....lo sih jail, dijailin lagi gak mau!”
“Janji gak gak bakal marah?”
“Iya janji!”
“maksud gue kesini, pertama ini mau menyampaikan ini!” Kiano memberikan sebuah amplop kepada Rita
“Apaan nih?” Rita membolak-balikan amplop
“Surat dari ayah lo!, beliau bilang surat terakhir yang dari tante Saye belom lo bales!”
“Iya nanti gue buka!” dengan segan Rita menaruh amplop itu di atas meja
“Nah yang kedua begini Rit, Lo kan punya 6th sense. Eh masih gak?”
“Terus kenapa?”
“Jadi Om gue, beberapa bulan yang lalu anak lelaki satu-satunya beliau meninggal dunia”
“Innalillahi wa’innailaihi roji’un”
“iya, dengerin dulu sampai habis ceritanya!”
“Oke, lanjutkan!”
“Nah, istrinya Om gue shock berat, tante gue itu depresi parah, kayaknya beliau merasa berdosa gara-gara kecerobohan beliau, anaknya meninggal”
“Meninggalnya karena apa?”
“Keselek”
“Keselek? Keselek apaan? Aneh banget, emang umur ponakan lo berapa?”
“ tiga tahun, jadi menurut om gue, tante ngasih makan bakso ke anaknya, seharusnya dipotong-potong. Eh namanya anak kecil dia lihat bola-bola, tante gue lengah, dia langsung masukin ke mulutnya. Tahu-tahu mukanya biru, tante gue bingung kenapa nih anak, pas dicek ternyata keselek bakso.”
“Terus?”
“Karena ketahuannya telat, ya lewat deh. Keponakan gue meninggal”
“Agak absurd sih ceritanya, jadi hubungannya sama gue apa?”
“Nah, Om gue itu kenalan sama orang, ya bisa dibilang ‘orang pinter’ dia nawarin boneka arwah. Menurut dia, nyawa ponakan gue bisa dipindahin ke boneka itu!”
“Ah becanda lo!”
“Serius Rit, Om gue sampai ngeluarin duit 30 juta untuk tu boneka”
“Bonekanya hidup?”
“Menurut Om gue sih begitu, kadang dia suka ngebatin sama tu boneka”
“Serem banget ah, terus tante lo gimana?”
“tante gue malah tambah stres, karena menurut beliau arwah di boneka itu bukan arwah anaknya!”
“ Nah lho? Terus gimana?”
“Maksud gue begini Rit, bisa gak lo panggil arwah keponakan gue, supaya dia yang tinggal di boneka itu?”
__ADS_1
“hmmm...bisa...bisa diem gak?” nada suara Rita menjadi ketus
“tuh kan lo marah? Kan sudah janji gak bakal marah?”
“Lo kira gue dukun? Bisa manggil arwah sesuka jidat gue!”
“Lho dulu lo bisa kan?”
“Kapan?”
“Itu di rumah kosong!”
“Itu beda Cuy!, waktu di rumah kosong, gue memang bisa melihat penghuninya, cuma sebatas melihat dan mendengar, tapi gue gak punya kemampuan untuk nyuruh apalagi ngusir arwah, menurut gue mending tante lo di rukiyah deh.”
“Rukiyah?”
“Iya di bawa ke kyai yang bisa me rukiyah, nanti selain di doain juga beliau bakal dinasehatin, arwah yang sudah pergi gak bisa balik, apalagi tinggal di boneka”
“Jadi arwah siapa yang di boneka?”
“meneketehe? Bisa jadi iblis peliharaan tu dukun. Mending lo nasehatin Om lo untuk ngembaliiin tu boneka ke tempat semula, ke dukunnya maksud gue. Sebelum segala sesuatunya jadi parah!”
“Ah jangan nakutin begitu!, memang separah apa?”
“yaa mana gue tahu?, tetapi yang pernah gue dengar, kalau sering berhubungan sama dunia roh kayak begitu, nanti jadi gila beneran. Selain energi tuh roh sama kita beda, alamnya juga beda. “
“kayaknya lo kebanyakan nonton film horor cina ya Rit, dampai ngomong tentang energi segala?”
“Tapi bener Ki, gue nih kalau merasa ada yang muncul, gue merasa energinya. Lama-lama orangnya kelihatan”
“Lo gak takut Rit?”
“Dulu gue gak takut, tapi beranjak gede, lama-lama gue ngeri juga. Ya lo bayangin saja diikutin terus, supaya gue menuruti kemauannya.”
“Terus hilangnya gimana?”
“Gue di rukiyah lah, gue berdoa, supaya gak bisa lihat lagi yang begitu-an”
“Jadi lo sekarang gak bisa lihat lagi?”
“Sudah lama enggak, sejak SMP kelas 3, Lo inget yang gue kabur dari rumah?, nah gue kan nginep di rumah kak Tommy”
“Oo, terus?”
“Nah, kebetulan di rumahnya kak Tommy ada pak De nya, dia ngeliat gue yang selalu gelisah, menurut dia itu pengaruh karena gue melihat hal-hal yang tidak seharusnya.”
“Jadi lo diapain sama dia?”
“beliau menutup mata batin gue”
“Bisa begitu?”
“yaa bisa lah buktinya sejak saat itu gue gak bisa melihat lagi, hidup gue juga lebih tenang dan normal”
“ini anak yang gibahin gue siapa sih? Ntar kalau ketemu gue jitak deh kepalanya. Gibahinnya yang aneh-aneh aja!”
“Iya mereka cerita lo pernah nyelamatin orang yang mau bunuh diri, itu karena lo sudah tau duluan”
“itu dari mimpi Ki, gue juga gak tahu, tiba-tiba saja ilham itu muncul. Biasanya kalau gue lagi tidur nyenyak”
“Dari mimpi? Kayak wangsit?”
“bukan wangsit, tapi lebih seperti perjalanan waktu, jadi sepertinya roh gue bisa melayang, melewati waktu, jadi deh gue bisa tau”
“melayangnya roh lo itu disengaja apa engga?”
“Ya enggak lah!, mungkin kalau frekuensi gue dan orang itu sama, makanya nyambung!”
“Frekuensi? Kayak radio?”
“Emang Lo gak tahu, pikiran kita bisa sinkron sama pikiran orang lain, itu karena frekuensinya sama!”
“Jadi Lo gak bisa bantuin nih?”
“Ya gak bisa lah!”
“Ya udah, gue gak maksa”
“udah begitu saja? Lo jauh-jauh cuma untuk itu?”
“bukan, itu intermezo saja!”
“intermezo?”
Tiba-tiba sikap Kiano berubah, yang tadinya santai berubah menjadi serius. Ia mengambil duduk berhadapan dengan Rita. Sepertinya ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kebenaran kepada Rita.
“Rit, sebenarnya tujuan gue kesini itu, untuk melamar Lo”
“Hah? Uhuk...uhuk...uhuk” tiba-tiba Rita terbatuk-batuk dengan air liurnya sendiri
“tenang dong, nih minum dulu!” Kiano memberikan segelas air putih , Rita meminumnya, ia menatap Kiano dengan tatapan heran
“ Lo nge-prank gue kan?” Rita bangkit dari kursinya lalu clingukan mencari kamera
“Enggak! Duduk dulu ! dengerin proposal gue!” ujar Kiano tegas, Rita terkejut dengan perubahan suara Kiano yang tegas
“Proposal?”
“Sejak dulu gue suka sama Lo Rit, sejak SD sampai SMP, begitu lo pindah rumah, gue sedih banget. Sudahlah gue gak ada nyokap, Lo pun pergi. awalnya gue pikir perasaan ini Cuma kesepian saja, tapi gue ngerti perasaan ini begitu melihat lo bersama Tommy. Iya dia memang keren, gue akui kog, tapi gue yang sekarang juga gak kalah keren!”
__ADS_1
“eeee”
“dengerin gue dulu sampai selesai!” ujar Kiano lagi
“Iya gue dengerin!”
“Gue berjuang keras supaya bisa setaraf sama Lo, Rit. Gue belajar keras supaya dapat sekolah negeri, gue juga membujuk bokap gue supaya bisa tinggal sama tante di sukabumi supaya bisa satu sekolah sama Lo. Eh begitu bisa satu sekolah, Lo malah pindah! Gue sedih banget Rit”
“Lo bilang pindah ke Sukabumi karena dapat gusuran?”
“Rumah di Jakarta memang digusur Rit, Gue gak boong!"
“berarti Daniel benar dong, dari awal lo memang punya maksud sama gue!”
“Kalau iya kenapa? Lagi pula Rit, apa lo mau serius sama Daniel?”
“gue selalu serius kalau pacaran!”
“Tapi Daniel kan orang Korea, budayanya, bahkan agamanyanya saja beda sama Lo. Apa lo mau nikah beda agama?”
“Kalau Daniel mualaf gimana?”
“Ya bagus, tapi apa dia mau? Dia ngerti gak perbedaan antara Lo dan Dia? Gue Cuma ngasih tahu saja sebelum perasaan lo semakin dalam ke dia, mending lo hentikan sekarang!”
“Lo mau gue putus dari Daniel dan jadian sama Lo?”
“Kalau Lo menerima proposal gue, dengan senang hati!”
“Enggak ah, Lo sudah gila, Ki. Ngapain jauh-jauh dari Indonesia cuma mau bilang omong kosong kayak gini?”
“Rasa sayang gue ke elo bukan omong kosong Rit, Lo inget waktu kita kejar-kejaran sama zombie di RS? Gue bersedia mengorbankan diri gue jadi zombie supaya lo selamat Rit!”
“Hah? Bukannya kak Tommy yang menahan diri supaya gue gak digigit zombie lainnya?”
“Yang terakhir Rit, Tommy sudah mulai berubah, gue yang nahan dia untuk lo supaya Lo bisa kabur! Masa lo gak inget?”
“Gak inget gue!, Lo jangan begini dong Ki, jujur deh, selama ini gue menganggap lo itu seperti ya sahabat, saudara pula bahkan dengan sepupu asli, gue gak se-sayang ini . Janganlah mengubah itu Ki” ujar Rita dengan suara memelas
“Gue gak mau memaksakan perasaan gue Rit, tapi gue harap lo mempertimbangkan gue. Mungkin gak sekarang kita jadian, mungkin nanti kalau kita agak sedikit dewasa kita bisa langsung nikah”
Rita hanya termangu mendengar kata-kata Kiano, pikirannya melayang-layang.
Malam itu, Rita tidak bisa tidur, ia keluar ke teras kamarnya dengan selimut menutup tubuhnya dari udara dingin. Ia duduk di kursi teras, tangannya memegang ponsel, ia baru saja membalas pesan selamat malam dari Daniel. Rita memikirkan kata-kata Kiano tentang masa depannya bersama Daniel, ia belum pernah memikirkannya sedalam itu. Ia memang sangat menyukai Daniel, bahkan melebihi rasa sukanya kepada Tommy. Bunyi notifikasi ponsel membangunkan ia dari lamunannya. Ia membaca pesan dari kakek Darmawan, yang memintanya untuk mengurus kudanya karena ia akan lama berada di Dubai.
“Kakek, betah banget di Dubai!” Rita menjawab pesan kakeknya.
Ia melihat jam di ponselnya, sudah jam 11 malam, ia bermaksud masuk kembali ke kamarnya, tapi ia melihat seseorang keluar dari rumah dan melewati pekarangan.
“Siapa tu? Kog malam-malam keluar?”, Rita mengarahkan ponselnya ke arah orang itu dan memotretnya
“Kiano? Ngapain malam-malam keluar?” gumamnya dalam hati, ia mengingat proposal Kiano, tiba-tiba ia merasa kesal
“Bodo amat!” ujarnya dalam hati, ia menutup pintu teras dan kembali ke ranjangnya untuk tidur.
Keesokan pagi
“tok..tok..tok...” suara ketokan pintu kamar membuat Rita terbangun
“Apaan sih, ini hari Sabtu, aku juga lagi halangan!” ia menutup wajahnya dengan bantal
“Rita!..Rita buka pintunya!” Andi berteriak membangunkan. Dengan malas, masih dengan mata tertutup, Rita bangkit dan membuka pintu kamarnya
“Apaan sih kak?”
“Ada berita mencengangkan!” Andi menghambur masuk ke kamar Rita dan menyalakan layar TV besar
“Kenapa gak nonton di kamar sendiri si kak?” protes Rita
“Ssttt..dengerin nih!”
Isi berita di TV :
“Seorang remaja berusia 17 tahun, bernama Kiano Abdulah dilaporkan menghilang dari rumahnya sudah lebih dari seminggu . Ayah Kiano, seorang pengusaha yang tinggal di UEA berkunjung ke kediaman tante Kiano di Sukabumi tapi Kiano tidak berada di tempat, dan tidak pulang semenjak ijin untuk pergi ke sekolah. Bagi yang mengetahui keberadaan Kiano Abdulah, silakan menghubungi nomor di bawah ini!”
“Wahh...Rit,..si Kiano kabur kemari!” ujar Andi
Seketika rasa kantuk Rita lenyap, dengan segera ia berlari ke kamar Kiano
“Hei bocah dablek!” Rita menendang pintu kamar Kiano hingga terbuka, ia masuk ke kamar berniat memarahinya, tetapi ia tidak menemukan siapapun di kamar itu, bahkan tas dan pakaiannnya pun sudah tidak ada. Rita berlari ke lantai bawah, memanggil Lee, staff rumah.
“Lee!”
“Yaa mba?”
“Kamu tahu tamu kita kemana?”
Lee menggeleng, bingung
“Coba cek CCTV! Tadi malam sekitar jam 11 ia pergi dari rumah ini!” ujar Rita, ia menyuruh Lee ke satpam untuk mencek rekaman tadi malam
“ini mba rekaman tadi malam” Lee memberikan ponselnya
Rita melihat rekaman CCTV tadi malam,
“Nih dia, nyelinap! Dasar gak sopan!” umpat Rita kesal
“Rit, ada telepon dari orang yang ngaku bapaknya Kiano!” Andi berteriak dari kamar Rita
“Ihh ni anak bikin susah orang saja!” Rita berlari ke kamarnya dan menerima telepon dari orang yang mengaku ayahnya Kiano
__ADS_1
“Ya Pak, saya Rita, temannya Kiano!”
-Bersambung-