Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Spin Off 2: Mama Tersayang


__ADS_3

“Rita sama siapa tuh? Itu Daniel bukan?...ya Ampun!! Ternyata cewek bergaun hijau itu Rita? Beda banget!. Gue foto Ah!” Sisca diam-diam mengambil foto Rita yang masuk ke dalam mobil Daniel.


“Ternyata Rita bukan orang sembarangan!” Sisca, mengantongi ponselnya dan naik ke bus yang membawanya menuju rumah. Sesampainya di rumah, ia hanya bertemu dengan ART Lee.


“Lee!, kakek mana?”


“Kakek ada pertemuan di kantor, kalau nona masih tidur!”


“Hah?? Jam 3 sore masih tidur? Mama pulang jam berapa Lee?”


“Nona pulang jam 10 pagi, beliau minta dibangunkan jam 5 sore!, Nona muda akan pergi lagi?”


“Enggak, aku di kamar, capek mau tidur!, tolong antar makanan ke kamar ya, aku belum makan siang”


“Baik nona muda!” Lee bergegas melaksanakan perintah Sisca


Di dalam kamarnya Sisca melemparkan tasnya di lantai, ia langsung menuju kamar mandi. Kamar mandi di dalam kamarnya cukup luas, selain ada walking closet, juga ada jacuzi dengan air yang dapat diganti dengan dingin atau hangat. Sisca mengisi jacuzinya, menebarkan sabun dan menyalakan lilin aroma terapi, ia melepaskan seragam sekolah kemudian berendam di dalam jacuzinya. Ia juga memakai masker wajah.


“Ah..surga dunia, kalau di asrama gak mungkin bisa kayak begini” ia menyetel music relaksasi dari ponselnya, selama berendam ia memikirkan apa yang baru saja ia lihat tadi sepulang sekolah.


“Ah iya, gue harus memesan 3 earphone untuk gengnya Megumi!” dengan segera ia membuka aplikasi toko online di ponselnya dan memesan 3 earphone.


“Syukurlah gue inget, kalau enggak, bisa-bisa gak tenang hidup gue!” lima menit kemudian, Sisca terlelap dalam jacuzi , ia tersentak bangun ketika Lee datang membawa makan siang


“Nona muda, makan siang sudah ada di meja, silakan !”


“Iya terimakasih!” teriak Sisca dari dalam kamar mandinya. Setelah tersadar dari mimpinya, ia bangkit dari Jacuzi dan membersihkan tubuhnya


“Ahh...segarr!!!” ia keluar dari kamar mandi berbalut jubah mandi dan handuk melingkar di kepalanya. Kemudian ia membuka tudung saji di atas meja, dan mulai mencicipi


“hmm..enak!” dengan segera ia duduk dan mulai melahap makanannya. Lima belas menit kemudian ia selesai makan lalu menggosok gigi. Setelah selesai, ia memanggil Lee melalui telepon di kamar untuk mengambil piring sisa makannya.


“tok...tok...!”


“Masuk!”


“Nona muda, saya ambil piring kotornya!”


“Iya!, Lee, mama sudah bangun?”


“Sudah, baru saja selesai makan!”


“Oh begitu, apa beliau berencana keluar malam ini?”


“Sepertinya begitu, karena Ellie sudah menyiapkan gaun untuk pesta malam ini!”


“pesta lagi? Kali ini siapa?”


“Nona gak bilang sama saya!”


“Oh begitu, baiklah!”


Lee mengambil piring kotor, lalu keluar dari kamar Sisca.


Sisca telah berganti pakaian, ia mendatangi kamar mamanya


“tok..tok...tok..!”


“Masuk!”


“Ma? Hari ini ada acara lagi?” tanya Sisca, ia melihat mamanya sedang mematut diri di depan cermin dengan gaun cantik berwarna kuning


“Iya, kenapa? Mau ikut?”


“Jam berapa?”


“Jam 8 malam ini”


“Selesai jam?”


“Entahlah, mungkin jam 4 pagi!”


“Ma, apa mama enggak capek?”


“Capek?”


“iya, capek, setiap hari pestaaa terus, pergi malam, pulang pagi, kadang pulang dalam keadaan mabuk!”


“hush!! Anak kecil tahu apa! Kakek gak tahu kan mama mabuk?”


“Kayaknya enggak deh, kalau tahu pasti marah ya?”


“Pasti!, terakhir mama sangat mabuk itu waktu pesta perpisahan SMA di Bandung, wahhh gila!!”


“Gila?”


“iya, karena kami betul-betul lepas kontrol, dan akhirnya mama punya kamu!”


“Oh jadi aku anak hasil mama mabuk ya?”


“kira-kira begitu deh, kamu gak sedih kan?”


Pengakuan mamanya yang memang ceplas-ceplos apa adanya sudah terbiasa di dengar Sisca, mamanya mau ngobrol lebih lama dengannya, ia sangat bersyukur


“Apa aku ikut saja?”


“Kamu mau ikut? Tapi besok sekolah kan?”


Sisca mengangguk


“Jangan deh, nanti kakek marah sama mama, kata kakek cukup mama saja yang rusak, cucunya jangan sampai rusak!”


“Memangnya mama rusak?, menurutku mama cantik!”


Mama melihat Sisca dengan senyum manis


“Ini semua riasan Sisca, kalau kamu agak dewasa sedikit, mama akan mengajarkan kamu berdandan!”

__ADS_1


“Beneran ma?”


Mama tersenyum hangat dan mengangguk, Sisca sangat takjub. Biasanya mama begitu dingin dengannya, tapi hari ini beliau sangat ramah, bahkan hangat.


“Ma, teman mama yang namanya Daniel itu?”


“Iya? Kenapa dia?”


“Mama suka sama dia?”


Mama masih mematut wajahnya di cermin menatap Sisca


“Kamu keberatan?”


“Enggak ma, silakan saja. Mama masih cantik dan muda, Daniel juga. Sepertinya kalian cocok!”


Mama menghentikan kegiatannya


“Daniel memang mempesona, hampir semua teman mama naksir dengannya. Bahkan ada beberapa dari mereka bertaruh siapa yang berhasil tidur dengannya, akan dapat mobil!”


“hah? Serius ma?”


“Iya, itu geng tante borjuis, ngotot banget sama Daniel, padahal suaminya ada di sampingnya, tapi tetap saja”


“Apa Danielnya mau?”


“Daniel pinter menghindar, dia itu kelihatan sekali belum berpengalaman dengan perempuan.”


“Kok mama tahu?”


“Kamu akan kaget berapa banyak pacar mama semasa muda dulu!” mama menyentuh hidung Sisca


“Sekarang pun mama masih muda!”


Mama yang sedang merapikan alisnya, menghentikan kegiatannya


“anak mama sudah 17 tahun, mama sudah 34 tahun. Tidak muda lagi!” mama menyentuh kerutan halus di wajah cantiknya.


“Apa mama mau serius mengejar Daniel?”


“Daniel? Enggak lah! Kan sudah mama bilang, ibarat makanan, Daniel itu seperti cemilan, bukan hidangan utama”


“Tapi mama kemarin kelihatan kecewa melihat Daniel dengan perempuan lain?”


“Bukan mama saja sayang, hampir semua tante pada kecewa, makanya pada pulang cepat!”


“Jam 1 pagi itu cepat ma?”


“Kami biasa selesai jam 5 pagi!”


“ooo, apa mama sedang dekat dengan seseorang?”


Mama tersenyum


“Untuk sekarang mama belum bisa bilang apa-apa dulu, nanti kalau dia sudah menyatakan serius ke mama, akan mama kenalkan ke kamu dan kakek!”


“Sungguh ma?”


Pukul 3 pagi kami mendapat telepon dari kepolisian, mereka menemukan mama di lantai bawah, sepertinya ia jatuh berguling di tangga, kepalanya terluka parah. Ia dibawa ke rumah sakit dalam kondisi koma. Kakek membangunkan Sisca, mereka berdua bergegas menuju rumah sakit untuk melihat keadaan mama.


Mama berada di ruang ICU, ia baru saja selesai dioperasi


“Anda ayahnya?” tanya dokter , ia menghampiri kakek yang melihat mama dari jendela kaca


“Betul dokter, dia anak saya, bagaimana keadaannya?”


“Ayo ke ruangan saya!” dokter mengajak kakek dan Sisca untuk datang ke ruangan dokter


“Begini pak, kami sudah melakukan operasi pada bagian kepala, sepertinya anak anda terjatuh terguling dari tangga, luka di kepalanya akibat benturan dengan anak tangga” ujar dokter menjelaskan


“Apa hanya luka di kepala dokter?”


“ Kedua tangannya juga patah, agaknya, anak anda menggunakan tangan untuk melindungi kepalanya. Kedua kakinya juga terluka.”


“Apa anak saya akan sadar kembali dokter?”


“Kami sudah berusaha pak, Tuhan yang menentukan, keadaan anak bapak disebut dengan koma.”


“Apakah akan ada operasi susulan lainnya dokter?”


“Nah, itu kami belum tahu, operasi pertama untuk meminimalisasi luka dalam otak, kalau keadaannya membaik, maka pasien akan berangsur pulih. Tapi jika ternyata ada muncul pendarahan dibagian otak yang lain, kami gak yakin pasien akan selamat”


“Jadi kondisi anak saya berapa persen dokter?”


“Sekarang masih 50%, syukurlah ia langsung di bawa kemari”


“Siapa yang membawanya dokter?”


“Saya tidak tahu, Bapak silakan tanyakan langsung pada polisi, kelihatannya mereka menganggap ini kecelakaan?”


Setelah dari ruang dokter, Sisca dan kakek melihat Sandra dari jendela kaca yang membatasi ruang ICU. Kondisi pasien tidak memungkinkan untuk dijenguk langsung oleh keluarga, jadi keluarga hanya bisa melihat dari jauh.


Sisca dan kakek pulang ke rumah, sepanjang perjalanan pulang, kakek sibuk menghubungi beberapa kenalannya untuk memberitahu keadaan Sandra, Sisca membisu, hatinya sangat sedih, sore ini mamanya begitu hangat dan terbuka padanya, apa mungkin ini tanda perpisahan darinya.


“Mama!..mama!” Sisca menangis di mobil, kakek melihat ke arahnya, ia menepikan mobilnya dan memeluk Sisca


“Kek, kalau mama meninggal bagaimana?” tangis Sisca semakin kencang. Kakek menggelengkan kepalanya


“Kakek akan berbuat semampu kakek untuk mempertahankan Sandra, sabar ya Nak!” kakek memeluk Sisca dan mencium rambutnya


Mereka kembali ke rumah, Sisca merebahkan dirinya di kamar, ia menangis tak henti, hingga ia terlelap karena kelelahan, hari itu ia tidak masuk sekolah.


Dua hari kemudian, Sisca kembali ke sekolah, hatinya begitu gundah, pikirannya hanya tentang kondisi mamanya yang belum ada perubahan. Dengan segan ia turun dari bus dan berjalan pelan menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah, tiba-tiba tubuhnya ditarik oleh seseorang


“Heh! Lo gak lupa kan?” Megumi bertanya , kedua temannya Elsa dan Anna turut mendesak Sisca ke tembok. Beberapa anak perempuan di toilet segera meninggalkan toilet. Sisca menepis tangan Megumi, ia membuka tasnya dan memberikan 3 earphone yang diminta Megumi. Dengan kasar Elsa menarik kardus dari tangan Sisca, ia membuka kardus itu


“Ini palsu!” teriak Elsa kesal ia membanting earphone itu ke lantai

__ADS_1


“Eh?” Sisca bingung


Megumi menonjok perut Sisca


“Aduh!” erang Sisca


“Kan sudah gue bilang yang asli!” Megumi menarik wajah Sisca dengan kasar


“Muka lo jelek, pasti karena mamanya jelek!” ujar Megumi menghina


Tiba-tiba Sisca marah, ia meludahi Megumi.


“Puh!” Megumi kaget, ia menjambak rambut Sisca, kali ini Sisca tidak tinggal diam, ia membalasnya, keduanya saling menjambak rambut, melihat hal itu Elsa dan Anna tidak tinggal diam, mereka menarik tangan Sisca untuk melepaskan tangannya dari rambut Megumi. Sisca sudah tidak bisa menahan diri lagi, ia menandang bagian paha Elsa dan Anna, sehingga mereka jatuh dan mengerang kesakitan. Tidak cukup sampai di situ, Sisca membenturkan kepalanya ke hidung Megumi hingga berdarah, Megumi pun jatuh. Ketiganya mengerang tak berdaya, Sisca seperti kerasukan setan, tak henti ia menendangkan kakinya ke ketiga anak perempuan yang selama ini membullynya, sampai seseorang memisahkannya.


“Sisca, sudah cukup!” Sisca menghentikan tendangannya, ia tersadar Megumi cs, telah pingsan. Sisca melihat orang yang memisahkannya


“Rita?” kemudian ia menangis kencang dan memeluk Rita dengan erat.


Megumi dan gengnya di bawa ke ruang perawatan, Sisca menghadap kepala sekolah.


Beberapa anak, termasuk Rita juga dihadapkan ke kepala sekolah sebagai saksi. Mereka menceritakan perundungan yang selama ini geng Megumi lakukan kepada Sisca dan anak-anak lain. Karena kesaksian mereka , Sisca tidak dihukum, ia diperbolehkan kembali ke kelas. Rita menemaninya, sebelum ke kelas, mereka singgah dulu di sebuah ruangan.


“Nih!” Rita memberikan air mineral ke Sisca


“Terimakasih!” Sisca membuka botolnya dan meminumnya


“Aduh!!!” erangnya, pukulan Megumi membuat bibir bagian bawahnya berdarah


“Sakit ya?, sebentar!” Rita pergi meninggalkannya, beberapa menit kemudian ia datang dengan membawa es batu dalam plastik lalu dibalut dengan sapu tangan


“Ini untuk ngompres!” ujarnya


“Terima kasih!”


Rita mengusap punggung Sisca


“Kamu hebat bisa melawan, kamu belajar karate?”


“Krav maga!”


“Sudah berapa lama?”


“Baru beberapa bulan ini”


“Megumi bukan sekali ini saja kan kasar sama kamu? Kenapa baru balas sekarang?”


“Itu karena , dia mengatai nyokap gue!. Gak masalah dia ngatai gue, tapi ngatain nyokap??? Dia harus nerima akibatnya!” Sisca meremas botol mineral


“Sabar-sabar! Yuk ke kelas!”


“Rit, makasih ya sudah misahin, aku mungkin bisa membunuh kalau gak ada kamu di sana!”


“Serem banget ih! Yuk masuk ke kelas!, nanti miss Nouval cari gara-gara lagi”


“Enggak lah!”


“Kog yakin? Karena sekarang gak ada pelajaran olahraga!, hehehehe!” Sisca tertawa


“Hehehe!” Rita membalas tawanya tanpa tahu artinya, tapi ia lega Sisca bisa tersenyum kembali.


Sepulang dari sekolah, Sisca kembali melihat Rita dijemput oleh Daniel


“Daniel itu kakaknya? Atau pacarnya? Apa dia gak kerja?” tanya Sisca dalam hati, ia menaiki bus. Dari dalam bus, ia melihat Megumi dan geng , rambut dan wajahnya penuh dengan luka lebam.


“Mudah-mudahan kapok!” ujar Sisca dalam hati.


Di dalam mobil Daniel


“Terima kasih sudah menjemputku Daniel” ujar Rita tersenyum


“Gak apa, ini sekedar penghiburan, di kantor juga bisa di tinggal!”


“Om , kapan pulang?”


“Beliau masih di Swiss, beliau sedang membentuk tim untuk mencari pesawat kakekmu!”


“Om Radian baik sekali ya?”


“Pak Radian sudah menganggap, kakekmu itu sebagai ayahnya sendiri, begitu tahu tentang pesawatnya hilang, beliau langsung terbang ke Swiss untuk menemui bu Metha”


“Tante Metha pasti sedih ya, ibu dan ayahnya hilang!”


“Pak Radian bilang, bu Metha hampir tidak tidur selama 2 hari sejak kabar pesawat yang hilang, sampai ia harus disuntik obat penenang agar bisa istirahat”


“Mudah-mudahan Kakek bisa ditemukan ya?”


“Oh iya, Rita, kamu bukannya punya sixth sense? Andi pernah cerita, katanya kamu bisa menerawang apa yang terjadi, gak dicoba untuk menemukan kakekmu?”


“Gak semudah itu Daniel, semua pertanda itu datang sendiri, aku gak bisa seenaknya manggil kekuatan itu”


“Mungkin kamu butuh perantara Rit!”


“Perantara?”


“Iya, misalnya baju kakek, atau barang apapun yang sering dibawa kakek, aku pernah baca . Kalau pikiran kalian se-frekuensi bisa nyambung!”


“Begitu?”


“Iya coba saja, kalau pak Radian mencoba cara fisik, Rita coba cara batin.”


“Kalau ternyata kakek sudah gak ada bagaimana?” tanya Rita dengan mata berkaca-kaca


“Setidaknya kita bisa menguburkan jenasahnya dengan layak!”


Rita terdiam, ia memikirkan kata-kata Daniel, hilangnya pesawat kakek dan menjadi murid baru di sekolah baru membuatnya melupakan kekuatan batinnya.


“Aku akan coba Daniel!” ujar Rita mantap

__ADS_1


Daniel tersenyum dan memegang tangan Rita


_ bersambung_


__ADS_2