
"ok deh, sekarang tinggal panggang" gumam Rita, ia sibuk di dapur yang ia sebut sebagai laboratoriumnya. Ia sedang mencoba membuat pizza dari tepung kentang dengan toping sosis dan baso
"Huee..huee..." Razan menangis kehausan
"Sebentar nak!" Rita melepas apronnya dan mengangkat Bayi berumur 1 bulan itu dari stroller nya dan menyusuinya.
Seminggu lalu...
"Sus Rini gak bisa lanjut tinggal di sini?" Tanya Rita
"Iya, ijin tinggalnya hanya 3 Minggu" jawab Daniel
"Kok cuma 3 Minggu? Kamu bilang.."
"Iya....ini semua kesalahanku gak mengecek lagi, maaf ya?" Wajah Daniel terlihat sangat menyesal
"Jadi susRini pulang ke Singapura atau Indonesia?"
"Indonesia, ternyata di Singapura ijin tinggalnya sudah selesai."
"Gimana sih, aku bingung"
"Pokoknya begini deh, sus Rini pulang dulu ke Indonesia untuk mengurus surat ijin tinggal di sini, dia bisa tinggal sementara di Jakarta, aku akan minta pak Ridwan yang mengurus ijin tinggalnya di sini. Oh iya, anaknya juga bisa masuk sekolah berasrama untuk anak-anak staf rumah Dar.co"
"Memangnya ada? Aku kok gak tahu?"
"Ada! Baru berjalan setahun. Waktu kakek Dar ke sini beliau melihat anak-anak sus Rini dan menawarkan sekolah berasrama itu"
"apa harus membayar?"
"bayar, tapi tidak mahal karena disesuaikan dengan kemampuan orangtuanya"
"kakek hebat sekali ya?"
"iya, beliau bilang ingin anak-anak yang bekerja padanya terjamin pendidikannya jadi beliau membuat sekolah itu. susRini bekerja sama kita jadi bisa tuh anaknya masuk situ"
"Kamu sudah bilang ke susRini?"
"Sudah, aku juga bilang next dia kesini lagi anaknya gak usah diajak"
"Terus responnya gimana?"
"Dia cium tangan aku, itu kenapa ya?" Tanya Daniel bingung
"Artinya dia berterimakasih sama kamu"
"Oh begitu!"
"Jadi Ican aku yang pegang langsung nih?"
"Kamu gak usah khawatir, aku akan kerja dari rumah kita bisa gantian jaga ican"
"Kamu WFH? Kenapa?"
"Aku berhasil memperbaiki image Lexicon dan meminta WFH sebagai hadiah"
"yah, kenapa gak minta barang mahal gitu"
"enggak ah, barang aku bisa beli sendiri, tapi waktu bersama kalian itu yang tidak bisa dibeli"
"Mereka mengabulkan?"
"Tentu dong! aku kan tetap bekerja walaupun secara online "
"Mulai kapan?"
"Mulai hari ini"
"Tapi kalau WFH jam kerjanya malah gak jelas kan?"
"Itu kalau karyawan biasa, aku kan Dirutnya. Jam kerja seperti di kantor. Aku sendiri tetap akan datang setiap Senin, Rabu dan Kamis, selebihnya di rumah."
"Kamu mengajukan WFH bukan karena bosan kan?"
"Dulu pak Radian sering meninggalkan kantor, kamu tahu sendiri kan? Beliau bahkan sering ke Korea untuk mengikuti konser Blackpink, santai banget kan?"
"Itu karena asistennya kamu dia jadi tenang, kalau di Lexicon apa kamu bisa mempercayai Allan?"
"Itu sebabnya, aku sedang mengujinya. Aku pikir Allan sengaja ditaruh menjadi asisten ku"
"Sengaja?"
"Iya, ternyata dia anak laki-lakinya Mr.Alec. Keduanya sengaja menyembunyikan identitasnya hanya beberapa petinggi saja yang tahu"
"Kamu tahu dari mana?"
"Simon dong, siapa lagi?"
"Pak Simon, apa kabarnya? Di mana dia sekarang?"
"Baik sekali, dia bertugas di Dubai sekarang. Kami bertemu di Singapura waktu itu dia sedang mengunjungi CITE Singapura."
"Mungkin Mr.Alec ingin Allan belajar dari kamu,"
"Belajar dari ku? Apa yang bisa aku ajarkan?"
"Banyak! Cara kamu ambil keputusan, mengatasi masalah, mengatur anak buah, dan lain-lain...dan lain-lain "
"Hmm...kalau Allan bisa mengikuti bagus sekali tapi kalau tidak bukan tanggung jawab ku kan?"
"Apa mereka tahu kalau kamu tahu hubungan mereka?"
"Kayaknya enggak, aku juga biasa saja sama Allan. Dia asisten ku aku gak boleh sungkan menyuruhnya, iya gak?"
"Iya dong!"
"Eh, sudah jam 8 anak-anak belum siap-siap ke sekolah?"
"Kemarin Ranna ijin, dia bilang bosan sekolah. Biasanya kalau satu bosan yang satu lagi ikutan"
"Apa gak jadi kebiasaan?"
"Gak apa-apa, mereka di rumah juga belajar kok. Aku membeli banyak buku aktivitas untuk mereka kerjakan, suster akan membantu mengawasi mereka"
"Mereka jadi seperti papinya ya"
"Papiii!!" Rayya turun ke lantai 1 menghampiri kedua orangtuanya yang sedang ngobrol di ruang tengah mereka baru saja selesai sarapan, susEva mengikuti Rayya dari belakang.
Rayya memberi isyarat minta digendong, Daniel mengangkatnya
"Kak Rayya gak sekolah?" Tanya Daniel
"No! Bocan!"
"Tuh benar kan?"
"Ya sudah, kakak ikut papi kerja saja" Daniel mengajak Rayya ke ruang kerjanya
"Sus Eva, tolong lihat Ican, dia sudah bangun apa belum. Kalau sudah, bisa tolong dimandikan lalu bawa ke sini?"
"Baik Bu" Eva kembali ke lantai 2 untuk melihat Razan, disitu ada sus Rini sedang memandikannya
"Bu Rini kapan kembali ke Jakarta?"
"Nanti siang, aku titip Ican ya, mungkin sebulan lagi aku akan kembali kemari"
"Iya! Apa Ican sudah selesai ? Bu Rita minta aku membawanya"
"Biar aku saja, kamu bisa cek anak yang lain, tadi Ryan ijin keluar"
__ADS_1
"Bu Erni?"
"Dia sedang bersama suaminya sejak tadi malam"
"Waduh pada keluar, apa Bu Rita gak marah?"
"Selama kita ijin gak terlalu lama gak masalah, apa lagi pak Daniel , beliau lebih senang mengurus anaknya sendiri"
"Memang tapi tetap saja kita harus bekerja kalau mereka gak butuh kita lagi, kita bisa jadi pengangguran"
"Nah sudah selesai, Ican!"
"Anak ini tampan sekali ya? Masih bayi tapi sudah terlihat glowing" Eva memperhatikan.
Sus Rini menggendong Razan lalu membawanya ke Rita. Sementara sus Eva ke kamar anak-anak, ternyata Ranna dan Raffa sudah sibuk dengan permainan mereka.
"Kakak-Abang, mandi dulu yuk?" Ajak susEva
Keduanya mengambil mainan karet lalu berlarian ke kamar mandi
"Adek duluan!!!" Teriak Raffa, Ranna menyusulnya di belakang.
SusRini memberikan Razan ke Rita
"Haii..anak tampan?" Rita menggendongnya
"Sus, nanti anak-anak sarapan ya, saya ke lab dulu ada yang mau saya kerjakan, kalau mereka mencari suruh ke lab saja"
"Baik Bu"
"oh iya, jam berapa Sus Rini pergi?"
"jam 11 Bu"
"sudah minta Edna untuk menyiapkan supir yang mengantar ke bandara?"
"saya naik taksi saja Bu!"
"jangan! Nanti aku akan minta supir mengantarkan mu ke bandara, sus siap-siap saja. Ingatkan anaknya jangan sampai tertinggal "
"iya Bu Rita, terimakasih banyak!"
Rita meletakkan Razan di stroller baru hadiah dari Lexicon dan membawanya ke ruangan yang ia sebut lab. Di situ ia bereksperimen untuk membuat resep baru untuk D'Ritz. Sebelumnya ia meminta supir untuk mengantarkan sus Rini ke bandara.
Rita meminjam sebuah kamar di rumah itu untuk dijadikan dapur tempatnya bereksperimen. Alat-alatnya yang dia simpan di Singapura sudah tiba beberapa hari lalu. Seperti oven, timbangan, mixer dan lainnya.
Dengan alat itu ia mulai melakukan eksperimen. Ia ingin membuat pizza dari tepung kentang.
Pertama-tama dia memfermentasi kan ragi dengan tepung terigu setelah mengembang ia mencampurnya dengan tepung kentang. Sambil menunggu Pizza matang, ia menyusui Razan yang menangis kehausan.
"adek! Anak Sholeh jangan gampang menangis ya?" ujar Rita sambil menatap anak bungsunya dengan sayang, Razan meresponnya dengan memegang tangan Rita erat .
"aduuhh..kamu lucu sekalii.. MasyaAllah...kak Rayya sudah agak besar berkurang lucunya" gumam Rita sambil menciumi anaknya.
"Ting!" Bunyi oven tanda Pizza sudah matang.
Ia meletakkan Razan kembali di stroller nya lalu memanggil seorang staf dapur untuk membantunya membawa Pizza ke ruang makan.
"Pagi!!" Sapanya ramah kepada kedua anaknya yang sedang sarapan
"Pagi mi!!" Jawab keduanya kompak
"Itu apa mi?" Tanya Ranna melihat makanan terhidang di hadapannya
"Itu Pizza kentang kak, jangan dipegang dulu masih panas"
"Mami, kalau pizza nya enak kita ke Singapul ya?" Tanya Raffa
"Belum tentu bang, ke Singapura nanti sekalian mami wisuda"
"Wisuda? Apa mi?" Tanya Ranna
"Iya, kamu kok bisa tahu bang?"
"Abang lihat di YouTube mi, nanti kita juga di wisuda kak, kalau mau naik ke TK, ya mi?"
"He eh!"
"Halooo!" Daniel dan Rayya datang bergabung
"Papi!!" Kedua anaknya yang lain menyapanya
"Kalian belajar di rumah ya hari ini?"
"Enggak ah Pi, kakak mau lebahan, ya dek?"
"Heeh!" jawab Raffa singkat
"Rebahan? Kalian ngerti rebahan?" Tanya Rita
"Tidul-tidulan" jawab Ranna
"Hari ini saja boleh begitu ya? Besok-besok gak boleh!" Ujar Daniel memperingatkan
"Papi kelja di lumah ya?" Tanya Raffa mengalihkan
"Iya, tapi papi ada di ruang kerja kalian jangan ganggu ya?"
Keduanya mengangguk mengerti.
Setelah makan mereka main sepeda di halaman, para suster mengawasi mereka.
Rita rapat online dengan Erina di Singapura, mereka rapat selama satu jam. Selesai rapat
"Ah...aku lelah sekali..." Keluh Rita, ia ke halaman melihat ketiga anaknya sedang bermain, kali ini Razan dibawa Daniel ke ruang kerjanya.
Rita mengantar SusRini sampai ia masuk ke mobil, kedua anaknya menyalami susRini
"sustel nanti balik lagi kan?" tanya Ranna
"InsyaAllah kak, nanti suster balik lagi"
"hati-hati ya sus! Kabari kalau sudah tiba di Jakarta!"
"baik Bu Rita, terimakasih banyak!" anak-anak sus Rini mencium tangan Rita
"terimakasih banyak Bu Rita"
"Sama-sama, kalian baik-baik ya sekolah di asrama!" keduanya mengangguk.
Mobil membawa ketiganya keluar dari rumah besar menuju bandara.
"Byeee!!!" teriak Ranna,Raffa dan Rayya bergantian
"anak-anak, makan pizza yuk!"
"ayukk!!" ketiganya berlarian mengikuti maminya ke ruang makan ketiga baby sitter merapikan sepeda anak-anak lalu mengikuti anak-anak ke ruang makan.
Di ruang kerja Daniel, ia melakukan zoom dengan Aldy, konselornya
"Kenalkan ini Razan Ihsan" Daniel menggendong Razan dan menunjukkan ke kamera
"Wahh... selamat ya pak Daniel,dua pasang sekarang "
"Terimakasih!.. mungkin aku akan mulai serius ber KB, aku kasihan sama Rita, Ican lahir secara caesar pasti sakit sekali"
"Bukan itu saja, setidaknya rahim si ibu bisa pulih kembali setelah 2 tahun" ujar Aldy
"Dua tahun? Selama itu?"
__ADS_1
"Kalian tidak berencana menambah anak lagi kan?"
"Kalau aku mau tambah 2 lagi, jadi 6, atau minimal 1 lagi deh"
"Apa kamu membicarakan dengan Rita?"
"Aku sudah pernah bilang ingin punya banyak anak"
"Lalu dia bilang?"
"Gak bilang apa-apa "
"Hmm...kamu harus tetap menanyakan perasaannya Niel. Bagaimanapun juga dia masih muda, mungkin ada keinginannya yang tertunda karena anak-anak "
"Iya, aku akan tanyakan. Aku sangat suka bayi, mereka lucu sekali" Daniel mencium Razan, Aldy tersenyum, ia melihat kliennya yang terlihat begitu bahagia
"Kamu jangan lupa istirahat, ingat sekarang anak mu sudah 4, mereka akan membutuhkan kamu, jangan kerja melulu" Aldy mengingatkan
"Oh iya, ngomongin tentang pekerjaan, bagaimana keadaan mu di CITE?"
"Baik, semua berjalan lancar. Terimakasih ya?"
"Sama-sama! Aku sempat khawatir"
"Khawatir? Ke aku?"
"Iya, kamu terbiasa bekerja sendiri dan sekarang menjadi bagian perusahaan pasti sulit ya?"
"Sebenarnya tidak juga, dari sisi kenyamanan tentunya lebih nyaman. Biaya hidup ku dan keluarga terjamin, anak-anak ku juga bisa meneruskan sekolah."
"Bagaimana dengan istri mu?"
"Dia masih mengajar tapi secara online. Kadang dia juga menerima jasa menerjemahkan dokumen."
"Syukurlah semua berjalan lancar untuk mu"
"Iya Alhamdulillah, oh ya, katanya beberapa Minggu lalu kalian ke Singapura?"
"Iya, Rita sidang skripsi "
"Oh ya? Hasilnya?"
"Alhamdulillah lulus!"
"Alhamdulillah... selamat ya? "
"Terimakasih, akan aku sampaikan ke Rita"
"Apa dia akan melanjutkan studinya?"
"Dia bilang mau istirahat dulu, belum berencana melanjutkan "
"Begitu? Bagaimana dengan mu? Kamu gak mungkin VC hanya untuk mengabarkan tentang Razan kan?"
"Kelihatan ya? Sebenarnya ada yang menganggu ku di kantor "
"Kamu dibully?"
"Hahaha..bukan itu! Asisten ku Allan sebenarnya adalah anak dari Mr.Alec"
"Mr.Alec pemilik mayoritas Lexington?"
"Iya"
"Dan yang mengganggu mu?"
"Aku merasa gerak-gerik ku diawasi, akibatnya aku lebih senang kerja dari rumah dibandingkan di kantor "
"Mungkin Mr.Alec ingin Allan belajar banyak dari mu"
"Rita juga bilang begitu, tapi tetap saja aku merasa gak nyaman"
"Jadi rencana mu apa?"
"Aku menyelesaikan kontrak ku di Lexicon lalu menjalankan usaha restoran ku sendiri"
"Apa Rita tahu tentang rencana mu itu?"
"Belum! Aku baru saja terpikir."
"Kamu tahu kan, banyak orang menginginkan posisi mu? Bisa dikatakan kamu orang yang beruntung Niel, masih 30-an sudah jadi COO" ujar Aldy menasehati
"Kenapa aku merasa seperti kufur nikmat?"
"Bukan begitu Niel, setiap keputusan pasti ada konsekuensinya, mengelola bisnis sendiri itu sulit, kamu akan lebih repot karena waktu mu akan habis mengelola bisnis mu"
Daniel terdiam, ia baru terpikir
"Jadi saran mu apa?"
"Menurut ku selama Lexi masih mempercayai mu lanjutkan saja. Ingat sekarang ini biaya hidup sangat tinggi. Mungkin sekarang tabungan mu masih banyak, tapi setelah beberapa bulan pasti akan banyak berkurang. Lagi pula banyak yang bergantung pada mu kan?"
"Iya sih"
"Lagi pula Niel, kamu mau kembali ke Dar.Co?"
"Hah? Dar co? Tidak ah! Mereka juga sudah merelakan aku"
"Itu karena mereka melihat kesuksesan mu di Lexicon, lain ceritanya kalau kamu keluar dari Lexi, kakek istri mu sudah pasti tidak mau menyia-nyiakan cucu mantunya yang berbakat "
Daniel terdiam sambil menggendong Razan.
"Bagaimana dengan ketidak nyamanan ku?"
"Sebenarnya kamu bisa menggunakan nya Niel"
"Menggunakan? Maksudnya?"
"Kamu bilang dia anak bos kan? Nah kamu bisa memintanya melakukan hal-hal yang sulit dilakukan asisten biasa. Suatu saat kamu pasti butuh. Mencari asisten yang se frekuensi itu sulit Niel, aku terus berganti asisten"
"Berganti asisten? Apa karena tidak cocok?"
"Bukan begitu, rata-rata asisten ku diminta oleh CEO lain, mereka bilang asisten dari ku lebih bisa diandalkan"
"Kenapa kamu gak bikin pelatihan untuk para asisten saja?"
"Aku sudah mengajukan ke bos, tapi sepertinya dia tidak setuju"
"Ternyata kamu kesulitan dengan bos mu ya?"
"Begitulah Niel, setiap orang menghadapi ujiannya masing-masing!"
"Aku akan menuruti saran mu, terimakasih pak Aldy, aku akan transfer pertemuan hari ini"
"Eh gak usah Niel!"
"Kenapa? Aku kan konseling?"
"Anggap saja hadiah untuk Razan! Maaf aku tidak mengirim hadiah!"
"Tidak apa-apa, terimakasih pak Aldy, sampai bertemu lagi!"
"Salam untuk Rita ya?"
"Wa'alaikummussalam!"
Mereka menyelesaikan VCnya. Waktu menunjukkan pukul 12 siang,
Daniel membawa putranya ke ruang makan, di sana semua anggota keluarga nya sudah menunggunya untuk makan siang.
__ADS_1
_bersambung_