
“Rit, besok aku ada tugas luar selama tiga hari jadi aku gak bisa antar jemput kamu” ujar Daniel saat mengantar Rita pulang ke rumah
“Oh ya? ke luar kota?”
“Iya, perusahaan yang aku tuju letaknya di luar kota jadi aku mungkin akan menginap di hotel di sana”
“Hati-hati ya, kabari kalau sudah sampai sana!”
“Pasti dong!” jawab Daniel tersenyum, tak terasa mereka telah tiba di rumah besar
“Terima kasih ya? kamu gak mampir dulu?”
“Gak usah, sudah malam! Aku pergi dulu ya?”
“Daah!! Terima kasih!” Rita tersenyum melepas mobil kekasihnya menjauh dari rumahnya
“Yahh..aku jomblo tiga hari” gumamnya, ia memasuki rumah besar
“siapa yang jomblo?” tanya Andi tiba-tiba
“Eh Kak Andi, kok sudah di rumah? Katanya ada tugas proyek?”
“Sudah selesai dong! Itu Daniel Rit?”
“Iya”
“Kok gak mampir?”
“Sudah malam katanya, lagi pula besok dia harus tugas ke luar kota”
“Jadi benar ya?”
“Benar apa?”
“Katanya Daniel bukan lagi asistennya om Radian, dia sudah menjadi agent”
“Agent apaan?”
“Iya, dia bertugas memasukkan proposal proyek-proyek. Itu gajinya besar lho!”
“Oh ya? bagus dong! Kalau gak jadi asisten lagi, di kantor posisinya apa dong?”
“Mungkin masuk manajer pemasaran.”
“Kak Andi tahu dari mana?”
"Kakek selalu membicarakan tentang kondisi perusahaan ke gue, itu salah satu bentuk ajarannya ke gue.”
“Oh begitu”
“Eh lo pakai apaan tuh?” Andi melihat gelang kain yang dipakai Rita
“Oh ini? Ini gelang persahabatan, aku bikin. Dulu aku sempat kasih ke kak Dewa eh dia hilangin”
“Terus lo kasih lagi?”
“Enggak dong. Gelang persahabatan itu hanya untuk satu orang satu. Kalau hilang berarti sudah tidak boleh lagi”
“Masa? Memang ada aturannya begitu?”
“gak ada sih, menurut Rita, kalau orang itu menghargai persahabatan biasanya gelangnya akan dijaga kan? Kalau hilang berarti orang tersebut tidak tertarik menjadi sahabat kita”
“Memangnya kita merhatiin tangan kita terus, tahu-tahu hilang saja. Bukan berarti itu tidak menghargai persahabatan” sanggah Andi
“Ya bisa juga begitu”
“Lo kasih Daniel gelang itu?”
“Enggak!”
“Hah? Kenapa?”
“Karena dia bukan sahabat, dia pasangan, hehehe...beda dong!”
“oh begitu ya? gue pikir lo itu tipe orang yang menjadikan pasangan itu sahabat”
“Rita ke kamar dulu kak, capek!”
“he eh!” Andi kembali berkutat ke ponselnya
Rita menaiki anak tangga dengan langkah gontai, ia melihat gelang kain yang baru selesai ia buat tadi malam.
Selesai sholat maghrib, ia rebahan di ranjangnya. Pikirannya melayang memikirkan kata-kata Andi tentang pasangan dan persahabatan. Ia memoto gelang itu lalu dijadikan status WA-nya. Tak berapa lama notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
“Itu kamu bikin sendiri?” tanya Daniel
“Iya, bagus gak?”
“Bagus, aku kog gak dibikinin?”
“Kamu mau?”
“Mau dong!”
“Kamu suka warna apa?”
“Warna yang sama kayak punya kamu!”
“Hijau dan putih?”
“Iya, boleh gak?”
“Boleh, nanti ya kalau sudah jadi aku kasih ke kamu”
“Siip..kamu lagi ngapain?”
“Lagi rebahan nunggu waktu Isya”
“Oh begitu, maaf ganggu..selamat istirahat!”
“Daniel!”
“Ya?”
“Besok,....hati-hati ya?”
“Iya!”
“Aku bakal kangen sama kamu” Rita memberanikan diri mengungkapkan perasaannya melalui pesan
“Aku juga,...nanti di sana aku kabari kamu terus ya?”
“Iya? Janji?”
“Iya!”
“Heheheh...terima kasih!” Rita memberikan emoticon senyum dan hati
“Selamat istirahat!” Daniel membalas pesan Rita, ia meletakan ponsel di dadanya,hatinya berdebar kencang.
“Padahal baru ketemu tadi, dia sudah bilang kangen!” Daniel tersenyum, lalu memeluk bantal kegirangan.
Sementara Rita memesan benang khusus secara online, ia ingin membuat gelang couple untuknya dan Daniel. Tanpa terasa malam semakin larut, ia mengunci pintu dan jendela, kemudian tidur
Keesokan paginya,
__ADS_1
“Aku berangkat duluan ya?” Rita pamit kepada Andi yang masih sibuk dengan sarapannya
“Naik apa ke sekolah?”
“Naik bus”
“Hmm..” tiba-tiba Andi bangkit lalu mengetik pesan di ponselnya, Rita sedang sibuk memakai sepatunya
“Oke sudah siap, berangkat dulu ya kak!”
“Ya!, itu Scott sudah menunggu di depan”
“Scott?”
“Iya supir, kakek bilang lo diantar supir!”
“eh, tapii..”
“Sudah lah, mumpung si Scott nganggur. Lagi pula Daniel gak jemput kan pagi ini?”
“iya sih”
“Kalau begitu diantar Scott saja, minta berhenti di mana gitu.”
“Oke kak, terima kasih ya?” Rita meninggalkan rumah dan menaiki mobil SUV putih
“Pagi Scott” sapa Rita
“Pagi! Ke sekolah non?” tanya Scott
“Iya, nanti berhentinya di halte depan, jangan masuk ke dalam sekolah”
“siap non!”
Mobil meluncur dengan kecepatan sedang selama perjalanan Rita memasang headphone di telinganya, ia mendengarkan lagu-lagu favoritnya, di perjalanan ia melihat beberapa motor lalu lalang. Beberapa menit kemudian ia telah tiba di halte depan sekolah.
“terima kasih ya Scott!”
“sama-sama non!” jawab Scott
Rita berjalan menuju gerbang sekolahnya, ia terlihat sangat asyik dengan musik di telinganya, hingga tidak sadar seseorang mengendarai motor sport menghadangnya
“Hey Rita!” ujar pengendara motor, ia membuka helmnya
“Eh?”
“Mau gue bonceng sampai dalam?” tanya Andre si pengendara motor
“Gak usah!, sudah dekat kok!” Rita menolak, ia kembali memasang headphonenya lalu berjalan meninggalkan Andre. Andre menarik tangannya
“Sombong amat sih!” ujarnya
“Masih pagi Dre, jangan ngajak ribut deh” ujar Rita tegas, Andre paham dengan nada suara Rita, ia juga mengetahui kemampuan bela diri Rita, lalu ia melengos dan kembali ke motornya lalu meninggalkan Rita yang kembali asyik dengan headphonenya. Tiba-tiba Sisca memeluknya dari belakang
“Pagi!” ujarnya Riang
“Pagi!” jawab Rita, ia membuka headphonenya
“Tadi Andre ya?”
“Heeh”
“Ngapain dia?”
“Maksa mau ngeboncengin!”
“Wahh...ternyata beneran!”
“Beneran apaan?”
“Si Andre beneran naksir kamu”
“Kalau enggak, kenapa dia maksa begitu? Tadi dia ngeliat aku di jalan dicuekin”
“Ya udah, jangan mengharapkan dia, cari cowok lain saja!” ujar Rita
“Kamu sih enak bilang begitu, memangnya gampang cari cowok?”
“Tuh cowok! Itu cowok! Tegur saja!”
“Enak saja! Memangnya aku murahan!” ujar Sisca sambil menggandeng tangan Rita.
Saat jam pulang, Rita menunggu bus di halte depan
“Kenapa? Gak dijemput Oppa?” tanya Sisca yang menunggu jemputan
“Dia pergi tugas ke luar kota”
“Berapa lama?”
“Tiga hari”
“Jadi kamu tiga hari ini naik bus terus dong?”
“Enggak, tadi pagi diantar supir”
“Terus kenapa gak minta dijemput supir?”
“Males ah, enakan naik bus”
“Eh itu jemputan aku, duluan ya Rit?”
“Iyaa!!”
Mobil Sisca meninggalkan Rita sendirian yang menunggu bus.
Rita sibuk membalas pesan dari Daniel, hingga tidak memperhatikan seseorang menutup hidungnya dengan sapu tangan yang membuatnya pingsan. Ia tersadar di sebuah kamar, kepalanya sedikit pusing.
“Aduuhh..dimana nih?” gumamnya bingung. Kamar tempatnya tidur sekarang ini cukup luas dan bagus. Di depannya tersedia makanan dan minuman. Rita yang sejak sore belum makan, merasa haus dan lapar. Tanpa ragu ia melahap makanan yang disediakan untuknya. Selesai makan, ia mulai memikirkan bagaimana cara melarikan diri dari kamar tersebut. Ia mencari tasnya, dan mencari ponselnya. Ia berusaha menghubungi seseorang melalui ponselnya tetapi sinyal ponsel tidak didapatkannya, sehingga ia meletakan lagi di dalam tas sekolahnya. Rita mengingat chip di bawah kulit yang dulu ditanamkan oleh mamanya. Ia membuka jendela kamar dan mengulurkan tangan kanannya ke luar, ia pikir sinyal chip itu akan memancar dan membuat seseorang mencarinya. Tetapi Rita tidak tahu, seseorang menelpon ke rumahnya untuk mengabarkan tentang kepergiannya untuk tugas sekolah. Karena yang menerima telpon bukan Andi tetapi salah satu staf rumah, sehingga hanya mencatat informasi itu tanpa mengecek keberadaan Rita.
Rita memegang ponselnya dan duduk di pinggir jendela, berharap mendapatkan sinyal, hingga seseorang memasuki kamarnya. Ia segera menyembunyikan ponsel di celananya.
“Anda sudah bangun?” ujar seorang wanita setengah tua, yang membawakan baju tidur ganti
“Maaf saya ada di mana ya?” tanya Rita dalam bahasa Inggris
“Malam ini, Anda beristirahat dulu, besok pagi Anda bisa bertemu dengan ayah Anda” ujar perempuan tua itu dengan aksen Rusia yang kental, lalu meninggalkan Rita sendirian
“Eh! Sebentar!” panggil Rita, perempuan tua itu tidak menghiraukan panggilan Rita, ia justru mengunci kamar. Rita berusaha membuka pintu kamar, ia berkali menendang, tetapi pintu kamarnya cukup kokoh, hingga ia merasa kelelahan. Ia tiduran sejenak di depan pintu kamar
“ah sial, ini pasti kesalahpahaman” gumamnya, setelah berpikir sejenak. Rita membuka jendela, dan ingin keluar dari kamarnya melalui jendela, tetapi sayang, jendela itu sengaja diberi teralis besi, pohon disekitarnya juga sengaja di tebang hingga ia sulit mencari celah untuk melarikan diri. Tapi Rita mengingat ketika ia dulu ditahan, ia menumpuk kursi ke atas, dan mengetok-ngetok langit-langit berharap ada pintu loteng di langit-langit kamar tapi ia tidak menemukannya, tanpa sengaja keseimbangannya hilang, hingga ia terjatuh, dan kursi menindih kaki kirinya
“Aduuhhh...” erang Rita, kakinya kirinya agak bengkak karena tertimpa kursi kayu. Dengan terpincang-pincang ia bangkit dan membereskan bangku-bangku tersebut, lalu ia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kaki kirinya kini bengkak dan memerah.
“sakiittt!” keluhnya, ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang dibawa perempuan tua tadi, lalu berbaring di ranjangnya. Ia sholat Isya sambil duduk karena kakinya sulit untuk berdiri tegak, dalam sholatnya ia berdoa semoga orang-orang sekelilingnya menyadari ketidak beradaannya.
Di rumah besar..
Andi tiba di rumah besar malam hari, karena kelelahan ia langsung masuk ke kamarnya dan terlelap. Pagi harinya, ia bangun dan sarapan sendirian
“Lee, Rita sudah berangkat sekolah?” tanyanya pada kepala pelayan, ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh
“Mba Rita ada tugas sekolah, sejak semalam dia gak pulang” jawab Lee
“Tugas sekolah? Dia menginap di rumah temannya?” tanya Andi
__ADS_1
“Mungkin Mas”
“Hmm...” Andi melanjutkan sarapannya, setelah itu ia kembali ke kamarnya dan membuka ponselnya. Ia mendapat pesan dari Daniel
“Pagi Andi, maaf mengganggu. Rita ada?”
“Rita sedang ada tugas sekolah, sejak semalam dia gak pulang” jawab Andi membalas pesan dari Daniel
“tugas sekolah? Kok dia gak bilang ke aku ya?”
“Apa dia melaporkan semua kegiatannya ke kamu?” tanya Andi
“Bukan begitu, terakhir aku menghubunginya sore kemarin, ia sedang menunggu bus. Dan ia tidak bilang apapun tentang tugas sekolahnya”
“Oh ya? mungkin mendadak” ujar Andi
“apa bisa begitu?” Daniel agak ragu
“Memangnya kamu gak bisa menghubunginya langsung?”
“Dia gak bisa dihubungi sejak tadi malam”
“Mungkin dia sibuk, nanti aku coba menghubunginya”
“Baik, terima kasih Ndi!” Daniel mengakhiri pesannya
“Dasar bucin!” ledek Andi, ia merasa malas menghubungi Rita, ia kembali sibuk dengan urusannya.
Tanpa terasa siang telah tiba, Andi yang telah selesai dengan urusannya merasa lapar lalu pergi menuju dapur, ia melewati kamar adiknya. Tiba-tiba ia teringat pada janjinya untuk menghubungi Rita. Ia memasuki kamar Rita, dan mencari nomor kontak ponselnya yang lain.
“Gak terhubung” keluhnya, lalu ia mencari nomor telepon teman dekatnya
“Kalau gak salah namanya Sisca” gumam Andi, ia mencari di notes milik Rita, dan menemukan beberapa nomor telepon. Pertama ia menghubungi Sisca
“Halo!”
“Ya?”
“Ini Sisca?”
“Betul, ini siapa ya?”
“Saya Andi kakaknya Rita”
“Oh?”
“Apa Rita ada?”
“Rita? Bukannya dia gak masuk sekolah hari ini?” tanya Sisca bingung
“Gak sekolah? Bukannya kemarin dia nginap di sekolah karena ada tugas sekolah?” tanya Andi bingung
“Gak ada!, sekolah kami gak pernah memberikan PR” ujar Sisca
“Oh ya? tapi ada seseorang yang mengabarkan kalau Rita ada tugas sekolah yang membuatnya menginap di sekolah”
“Setahu ku Rita gak ikut ekskul di sekolah, terakhir aku bertemu dengannya kemarin sore di halte depan” ujar Sisca heran
“Oh ya? baiklah, bisa hubungi nomor ini jika bertemu dengannya?”
“Baik, tadi siapa?”
“Andi”
“Oh Andi, baiklah!” mereka mengakhiri percakapannya. Andi makin heran, tidak biasanya Rita pergi tanpa ijin. Ia membuka lemari buku Rita dan mencari paspor dan visanya
“Masih ada, lengkap” gumamnya. Kemudian ia teringat tentang tempat favorit Rita. Tanpa pikir panjang, ia mengendarai mobil listriknya, lalu meluncur ke mall. Rita sangat menyukai permainan di mall itu. Terakhir kali ia kesal, ia bermain seharian di tempat permainan itu. Andi mencari di tempat permainan, dan ia tidak menemukannya.
“Permisi, Anda ingat gadis ini?” Andi menunjukkan foto Rita dari ponselnya
“Oh, iya ingat”
“Apa hari ini atau kemarin dia kemari?” tanya Andi
“Aku gak tahu, sebentar aku tanya teman ku yang tugas kemarin. Tetapi hari ini aku tidak melihatnya” orang itu menanyakan kepada temannya yang bertugas kemarin sambil menunjukkan foto Rita, tak berapa lama ia kembali
“ia tidak kesini”
“Oh begitu, baiklah terima kasih!” Andi mulai merasakan sesuatu yang aneh. Kemudian ia menghubungi mamanya
“Halo ma?”
“Ya Ndi? Kamu di mana?”
“Auckland”
“Oh, kamu sehat?”
“Sehat ma, alhamdulillah”
“Bagus deh, Rita bagaimana? Maaf ya? mama sedang launching busana baru jadi belum sempat menghubungi kalian”
“Iya ma, oh iya. Ma, apa kami masih dipasangi chip di bawah kulit ?”
“Hmm...kenapa?”
“Andi pengen tahu saja”
“Entahlah, nanti mama tanya kakek dulu, chip itu sudah lama apa masih berfungsi atau tidak. Apa ada masalah?”
“itu ma, Rita”
“Kenapa Rita?”
“Dari kemarin sore belum pulang ke rumah”
“Hah? Apa kamu sudah menanyakan temannya? Kalau gak salah namanya Sisca “
“Sudah ma, katanya hari ini dia juga gak ada di sekolah”
“Apa dia kembali ke Sukabumi?” tanya mamanya
“Enggak mungkin ma, paspor dan visanya masih di kamarnya”
“Apa dia bersama Daniel?”
“Enggak ma, Daniel sedang tugas di luar kota sejak kemarin. Tadi Andi dihubunginya, karena ia kehilangan kontak dengannya sejak kemarin”
“Jangan panik dulu Ndi, mama akan tanya ke kakek tentang chip itu, mudah-mudahan belum expired”
“Iya ma, kabari Andi ya?”
“Iya sayang, kamu hati-hati ya?”
Sementara Rita yang masih terkurung dalam kamar, terbangun dari tidurnya. Ketika bangun ia kaget karena kaki kirinya yang tadi malam bengkak kini telah diperban rapi. Di hadapannya tersedia makanan, minuman serta baju ganti.
“Jam berapa nih?” ia melihat hari telah terang
‘’ya ampun gue belum sholat subuh” dengan tertatih ia ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah itu kembali ke ke dekat ranjangnya lalu sholat subuh sambil duduk. Selesai sholat, ia duduk kembali ke meja depan dan menyantap sarapannya.
“Ya setidaknya, gue gak kelaparan” gumamnya sambil menyantap sarapan yang berupa roti isi telur orak arik dan susu segar.
“Alhamdulillah...” ujarnya, ia berjalan terpincang-pincang membuka jendela kamarnya, ia berharap seseorang melihatnya. Ia membuat bendera putih kecil dari seprai yang ia sobek ia tuliskan kata HELP lalu ia ikatkan ke jendela berteralis, ia berharap ada seseorang yang iseng melihat tulisan di bendera kecil itu.
“Ah sial, siapa yang nahan gue di sini?” keluhnya, ia merasa bosan. Ia berkeliling kamar dan melihat-lihat benda yang berada di situ
__ADS_1
“Bahkan hantu saja gak ada di sini” keluhnya, ia membuka tas sekolahnya dan mengambil ponselnya. Ia melihat foto-fotonya bersama Sisca, Daniel. tanpa sadar ia tersenyum sendiri, kemudian ia mulai menangis. Rasa takut mulai menghantuinya, ia merasa kali ini ia tidak bisa meloloskan diri seperti dulu.
_Bersambung_