
"Heran, perasaan sudah jauh meninggalkan rumah itu kog jadi balik lagi ya?" Rita bergumam sendirian. Cahaya senter dari ponselnya semakin redup, akhirnya ia putuskan untuk naik ke atas pohon yang cukup besar. Dengan tangkas ia memanjat pohon, ia terinspirasi dari film the hunger games. Kalau tidur di bawah, resiko ketahuan orang dan diganggu hewan buas lebih besar. Dipilihnya ranting yang cukup besar, kemudian ia membuka kemeja lengan panjangnya, yang tampak hanya kaus singlet. kemejanya ia lingkarkan ke batang pohon lalu ia ikat ke tubuhnya supaya ia tidak jatuh ketika tidur.
Kemudian ia mulai tertidur.
Sementara itu di tempat lain, Dewa dan Andi telah pindah ke apartemen. Hari itu hari kedua Rita diculik. Mama Ratna masih sibuk dengan pekerjaannya, sesekali ia menanyakan perkembangan kasus Rita kepada detektif yang sengaja ia sewa.
"iya, terimakasih, saya tunggu kabar selanjutnya, selamat Malam!" ia menutup percakapan ponselnya. Tak berapa lama ponselnya berbunyi. Untuk beberapa saat ia menatap layar ponsel, tampak enggan ia menjawabnya. Ternyata Ayah Rita menghubunginya.
Sejak Rita hilang, Ratna memang tidak memberi kabar kepada Ayah Rita. Hal itu dilakukannya agar tidak terjadi saling menyalahkan.
"Tuuutttt" ponselnya kembali berbunyi, Kali ini Ratna meninggalkan ponselnya, dan ia pergi untuk mandi. Andi yang datang ke kamar mamanya, melihat ponsel mamanya berdering, ia pun mengangkatnya.
"Halo?"
"Ratna?"
"Andi yah!"
"OO Andi, apa kabar nya di sana?"
"Andi dan mama baik-baik saja Yah, Alhamdulillah, Ayah bagaimana?"
"Alhamdulillah, baik juga, masa sibuk kerjaan sudah selesai. O iya, Rita kemana ya? Ayah nelpon dia berkali-kali ga diangkat? biasanya dia sangat rajin nelpon ayah."
"Hmmm...Ayah...sebentar, mama mau ngomong!" Andi memberikan ponselnya kepada Ratna yang masih pakai handuk di kepala. Ratna memelototi Andi, memberi isyarat mama tidak mau ngomong sama mantan suaminya itu, tapi Andi sepertinya tidak mengerti. Dengan berat hati akhirnya ia menerima telepon tersebut.
"Ya Halo mas?"
"Rita kemana ya? dari kemarin saya telepon dia ga dijawab, akhirnya saya terpaksa menelpon kamu"
"Hmm..mas, jangan kaget dulu ya, jangan panik, jangan marah!" Ratna memutuskan untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Ada apa dengan Rita?"
"Hmmm...begini mas.." Ratna menceritakan secara garis besarnya,
Sugiarto atau Reza mendengarkan dengan serius.
"Kasih tahu Andi besok jemput saya di bandara, Insya Allah besok saya ke sana dengan penerbangan paling pagi!" ia langsung memutuskan hubungan telepon.
Ratna menatap ponselnya dengan pasrah.
"Di, besok pagi kamu ke bandara, jemput ayah!, Dia mau kesini!"
"Benar ma? Asyikk!!" Andi kegirangan, rasa kangennya membuncah.
"Dia mau marahin mama tentang Rita, apa lagi!"
"Nggak lah ma, nanti biar Andi yang jelasin ke beliau."
Di rumah Rita.
Reza menghubungi atasan dan wakilnya.
Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi
"Assalamualaikum,Om"
"Wa'alaikummussalam,Tomi, kebetulan nih"
"Oh, ada apa ya Om?"
"Om mau ke Bali jemput Rita"
"Lho, Rita nya ga pulang sendiri om?"
"Om dapat kabar, katanya Rita diculik, makanya Om mau kesana"
"Saya boleh ikut Om?"
__ADS_1
"Boleh sekali Tom, supaya bisa bantuin saya di sana!"
"Penerbangan jam berapa Om?"
"Nanti Om kabari, kamu ijin mama kamu dulu saja.."
"Baik om, saya tunggu kabarnya!"
Di rumah Tomi
Tomi galau, mencari cara meminta ijin ke mamanya.
Mamanya sedang sibuk membaca laporan penjualan .
Tomi memperhatikan nya.
"Ma!"
"Apa?"
"Ma?"
"Apaan sih Tomi? Dari tadi gelisah aj?"
"Tomi mau ijin pergi boleh ma?"
"Kamu mau kemana?"
"Bali"
"Waduhh..enak dong mama ga diajak?"
"Masalahnya bukan untuk liburan ma"
"Lalu ngapain?"
"Ada teman Tomi yang diculik"
"Iya sih ma, tapi dia teman yang sangat penting, siapa tahu Tomi bisa bantu nyariin"
"Emang kamu tahu wilayah Bali?"
"Ga tahu!"
"Jadi kenapa mau pergi juga?"
"Jadi ga boleh?"
"Emang kapan mau perginya?"
"Ini Tomi lagi nunggu kabar dari ayahnya"
"Hmm...kalau mama ga ijinin, kamu mau apa? Kabur?"
"Engga sih ma" wajah Tomi terlihat sangat kecewa.
Mamanya beranjak dari kursinya dan pergi mengambil amplop putih dan memberikannya ke Tomi.
"Nih,Tom, kamu boleh pergi, cepat kembali ya?"
Tomi menerimanya dengan bingung
"Apaan nih ma?" Tomi membuka amplop putih yang berisi uang ratusan ribu
"Itu, hasil lembur kamu di resto, mama mengumpulkannya, walau kamu ga pernah minta dibayar, tapi mama profesional, siapa tahu kamu pengen liburan kan?"
"Alhamdulillah.. terimakasih banyak ma!" Tomi mengecup pipi mamanya.
Dengan hati riang, ia masuk ke kamarnya dan menghitung uang di dalam amplop.
__ADS_1
"Wah..4 juta rupiah, ada perinciannya pula, ckckck .Mama baik banget." Gumamnya. Segera ia packing dan menunggu kabar dari ayah Rita.
Pukul 8 malam Tomi dihubungi, mereka akan berangkat ke Bandara SoeTa untuk penerbangan pukul 10 pagi.
Pagi-pagi sekali Tomi sudah bersiap ke rumah Rita,
" Tomi berangkat ma!"
"Hati-hati di jalan ya Nak, salam sama calon mantu mama!"
"Hah?, Kog tahu teman Tomi itu cewek?"
"Ya tahulah, ga mungkinkan kamu gelisah kayak mau kabur kalau yang diculik Dewa?"
"Ah..benar juga! "Tomi tersenyum,
"Tomi berangkat ma, Assalamualaikum!"
"Wa'alaikummussalam"
Ayah Rita telah siap dengan taxi online, menunggu kedatangan Tomi. Kira-kira 15 menit kemudian Tomi tiba di rumah Rita. Dengan mobil mereka menuju Jakarta, dan langsung ke Bandara.
Dua jam kemudian, mereka tiba di Bandara. Setelah menunggu kurang lebih 1 jam, mereka naik ke pesawat. Sengaja Tomi tidak memberitahu Dewa tentang kedatangannya, dan sepertinya Reza juga tidak memberitahu Andi tentang Tomi.
Satu jam kemudian pesawat tiba di Bandara Ngurah Rai.
Baik Tomi dan Reza tidak membawa banyak tas, hanya ransel yang mereka bawa di kabin pesawat. Terlihat Andi dan Dewa menunggu di tempat penjemputan.
Andi yang mengenali sosok ayah sambung nya berteriak2
"Ayah! Ayah!" Sambil melambaikan tangan.
Reza menoleh ke arah suara Andi, dan menepuk pundak Tomi memberi isyarat.
"Andi!!" Reza memeluk Andi dengan erat.
"Ayahhh" Andi tak kalah erat memeluknya.
"Andi, ini Tomi temannya Rita!" Reza memperkenalkan Tomi
"Tomi!"Tomi mengulurkan tangannya menyalami Andi.
"Andi!, Kita sudah kenalan kan di VCall Rita?"
"Oh iya ya?hehehe takutnya lupa" canda Tomi
Dewa menghampiri Tomi
"Lo ga bilang mau ikut datang?"
"Engga ah, kan jadi
kejutan!"
Andi membawakan tas Ayahnya, mereka berempat naik taxi menuju apartemen.
Setibanya di apartemen, Andi menempatkan mereka di apartemen sebelah.
"Ayah dan Tomi di sini, Kami, di apartemen sebelah, jadi lebih mudah untuk komunikasi."
"oke, terimakasih, ndi, oya mama kamu mana?"
"Tadi, mama menghubungi kakek untuk masalah Rita, jadi mungkin nanti ayah bisa ketemu beliau."
"hmm..baiklah, ayah istirahat dulu ya, masih jetlag nih"
"iya yah, selamat rehat!"
Andi dan Dewa meninggalkan Reza dan Tomi yang beristirahat di apartemen mereka.
__ADS_1
Hari beranjak siang. Tak terasa Reza dan Tomi terlelap karena kelelahan di perjalanan.