Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 235: Kisah cinta...POV Daniel


__ADS_3

“Niel, kamu suka sama keponakan ku ya?” tanya Radian pada saat makan siang.


“Iya, Andi dan Rita, anak-anak yang baik!” jawab Daniel


“Bukan itu maksud ku, kamu ada hati ya sama Rita?” Radian menyelidik


“Tidak pak!”


“Gak usah takut Niel, jujur saja kalau kamu memang suka. Rita lumayan cantik kan?” pancing Radian


Daniel diam saja, ia tidak terpancing oleh pertanyaan Radian.


“Oh iya Niel, minggu depan ada undangan pernikahan PT.Exact, kamu saja yang hadir ya?”


“Saya pak?”


“Iya kamu saja! Aku ada urusan hari itu jadi gak bisa datang”


“Hmm..undangannya untuk dua orang Pak?”


“Iya, nanti Rita saja yang menemani mu ya?”


“Rita? Apa dia gak terlalu muda pak?”


“Itu bisa diatur, yang penting kamu siapkan saja akomodasinya, oh iya sewa limosin Niel”


“Limosin?”


“PT.Exact itu klien terbesar kita, jangan bikin malu kalau datang hanya membawa SUV”


“Baik pak!”


“Kamu yakin gak ada feeling apa-apa sama keponakan ku, Niel?” Radian penasaran


“Kenapa pak Radian bertanya seperti itu?”


“Menurut ku kamu memberikan perhatian lebih padanya”


“Kan, memang pak Radian yang minta saya untuk mendidiknya? Saya harus meraih hatinya dulu sebelum mendidiknya”


“Hmm..meraih hatinya?”


“Iya, bagaimana dia akan menurut kalau hatinya tidak saya sentuh”


“Begitu ya? jadi hanya sebatas tugas saja?”


“Ya, kurang lebih begitu” jawab Daniel dengan nada suara meyakinkan


“Baiklah, aku agak curiga saja, kemarin kamu jauh-jauh ke rumah ku hanya untuk mengantarnya. Padahal aku cuma minta kamu memberikan petunjuk jalan kepadanya, eh kamu malah datang.”


“Saya agak sangsi mereka akan mengerti arahan saya pak, apalagi jalan ke rumah pak Radian itu hampir mirip. Kalau saya share lock, sama saja saya harus datang kan?”


“Iya juga ya, tapi Rita memang pandai memasak. Aku membandingkan teriyaki yang ia buat dengan teriyaki resto langgananku wah, mereka kalah jauh.”


“Iya pak, apalagi nasi kepalnya. Saya sampai kepikiran bagaimana dia membuatnya”


“Kepikiran nasi kepalnya apa orang yang membuatnya Niel?”


“Ya, dua-duanya. Nasi kepal tidak bisa jadi kalau tidak ada yang membuatnya kan?”


Di lain waktu, Radian memperhatikan gerak-gerik Daniel yang kelihatan senang jika Rita berada bersama mereka.


“Kamu yakin Niel tidak ada perasaan lebih pada Rita?” tanya Radian lagi


“Saya menganggapnya adik pak!” ujar Daniel


“Begitu ya?”


“Maaf pak Radian apa ada yang ingin Anda sampaikan tentang Rita pada saya?” tanya Daniel penasaran karena Radian sering menanyakan hal yang sama padanya.


“Hmm...tidak ada...hanya saja...”


“Kenapa pak?”


“Aku mendengar pak Sugiyono akan menjodohkannya dengan cucu temannya, pengusaha kapal pesiar yang berhasil mengekspansi Dubai”


“Apa pak Darmawan menyetujui perjodohan itu pak?”


“Setahu ku, Om Darmawan itu sangat menurut pada pak Sugiyono, walau mereka mantan besan tetapi sudah seperti kakak dan adik”


“Bagaimana dengan Rita? Apa dia tahu akan dijodohkan?”


“Entahlah, Aku akan mengajak kalian paradigling ke gunung, sekalian mendekati calon klien”


“Calon klien?”


“Iya, dia masih ada hubungan kerabat dengan kerajaan Inggris, hampir semua proyek bisa didapatkannya. Kalau kita berpartner dengannya pasti akan jauh lebih baik kan?”


Daniel tidak mendengarkan kata-kata Radian, pikirannya hanya tertuju pada perjodohan Rita.


“Pak, apa Rita sudah mengetahui tentang perjodohan itu?” tanyanya lagi


“Aku gak tahu Niel, kamu bisa tanyakan langsung padanya”


“Apa gak pak Radian saja yang menanyakannya?” Daniel agak mendesak


“ Kenapa Niel? Kamu bilang tidak ada feeling padanya? Kenapa tertarik pada perjodohannya?”


“Mungkin saya sedikit tertarik padanya, sedikit!”


“Cuma sedikit?” tanya Radian semakin penasaran


“Rita baru 17 tahun, masih sangat muda. Saya hanya ingin menjaganya saja”

__ADS_1


“Kalau cuma ingin menjaganya gak perlu Niel, Rita menguasai bela diri yang sangat mumpuni. Aku dengar pak Sugiyono pernah ingin mendaftarkannya sebagai anggota kepolisian, tapi ia tolak”


Daniel semakin penasaran, ia memutar otak untuk mencari tahu tentang perjodohan itu.


“iya sih, tapi dia tetap seorang perempuan”


“Nah!!! Kamu sudah menganggapnya perempuan Niel! Jadi kamu punya perasaan lebih padanya” tiba-tiba Radian menepuk tangannya. Daniel bingung dengan reaksi Radian yang kelihatan senang.


“Kenapa pak Radian kelihatan tertarik?”


“Hah? Enggak aku selalu penasaran saja sama kamu Niel!”


“Saya pak?”


“Iya, sejak kenal sampai sekarang kamu itu seperti robot. Aku pikir aku sudah paling kaku, tetapi ternyata ada yang lebih kaku dari ku”


“Saya Pak?” Daniel agak tersinggung dengan ucapan terakhir Radian


“Ternyata kamu selera wanita mu lumayan juga Niel! Aku kasih tahu ya, kalau kamu berniat serius dengan Rita, kamu harus menabung dari sekarang atau minimal menemukan pekerjaan sampingan”


“Eh kenapa pak?”


“Rita memang tampak sederhana karena besar di desa dengan Reza yang tidak kaya tapi kamu perlu ketahui pak Sugiyono tidak membiarkan cucunya menderita. Ia menyuport hidupnya selama di desa. Ia tidak pernah mengalami kekurangan dalam hidupnya.”


“Lagi pula kalau kamu menjadi mereka pasti kamu tidak akan melepas cucu kesayangan mu pada orang biasa-biasa saja kan?” ujar Radian lagi


“Saya termasuk orang biasa pak?” tanya Daniel


“Maksud ku, kamu tahu kan kedua kakeknya Rita itu pengusaha kaya raya. Kalau Om Darmawan mungkin masih bisa menerima kalau calon cucu menantunya orang biasa atau bukan keturunan orang kaya asalkan orang itu punya potensi untuk kaya. Tetapi pak Sugiyono lain cerita, beliau sangat keras. Menurutnya cucu menantunya harus yang bisa memberi cucunya banyak hal seperti yang selama ini ia berikan pada cucunya.”


“Tapi bagaimana kalau misalnya kami saling mencintai walau saya tidak kaya?”


“Berat Niel! Itu akan menjadi masalah juga bagi mu kelak. Kamu tahu, Reza, Ayah Rita yang sekarang menikahi Ratna atas dasar cinta. Reza dari keluarga sederhana, Ratna tidak keberatan atas hal tersebut. Tetapi lama kelamaan Reza goyah, ia tidak tahan dengan sekelilingnya yang menganggapnya menumpang hidup pada istrinya. Ocehan orang-orang, akhirnya meruntuhkan pernikahan mereka yang sudah berjalan 9 tahun lamanya”


Daniel mendengarkan cerita Radian dengan serius.


“Akhirnya mereka bercerai?” tanya Daniel


“Iya, mereka bercerai. Setahu ku Ratna akan menyerahkan segalanya agar Reza tidak meninggalkannya, tetapi Reza menyerah. Ratna pernah cerita padaku kalau Reza tidak sanggup tertekan hidup bersamanya.”


“Dan Rita memilih tinggal bersama ayahnya?”


“Iya, menurut ku tanpa Rita, Reza akan kesulitan hidupnya.”


“Apa Rita masih berhubungan dengan ayahnya setelah tahu kalau Reza bukanlah ayah kandungnya?”


“Aku gak mengikuti cerita selanjutnya Niel, kamu bisa menanyakan langsung pada Rita”


“Menurut pak Radian, apa Rita menyukai saya?”


“Aku gak tahu Niel, sudah lama aku gak terlibat dengan urusan asmara”


“Saya pikir, Rita memperhatikan saya. Berkali-kali ia memberi saya bekal makan siangnya”


“Iya juga pak” Daniel tampak sedikit kecewa.


“Oh iya Niel, kemarin Om Darmawan menanyakan tentang pendidikan mu. Beliau bilang sayang jika kamu hanya bekerja sebagai asisten ku. Jadi mulai sekarang kamu akan sering aku kirim untuk mengajukan proposal proyek Dar.Co. Kalau proyek itu berhasil tembus selain gaji kamu juga akan mendapat komisi yang jumlahnya beberapa kali lipat dari gaji mu yang sekarang”


“Pak Radian mempercayakan proposal proyek pada saya?” tanya Daniel senang


“Iya Niel, aku dan Om Darmawan sepakat kamu punya kemampuan manajerial yang mumpuni”


“Apa saya bisa pak?”


“Kamu harus bisa Niel, mungkin ini diluar zona nyaman mu dan harus kamu jalani kalau kamu ingin hidup mu berubah”


“Apa saya boleh memikirkannya pak?”


“Kamu itu terlalu banyak berpikir Niel, gak heran Saveetri meninggalkan mu!”


“Eh, pak Radian mengenal Saveetri?”


“Tentu!, aku mendengar hal-hal lain sebelum merekrut orang. Dan menurut ku kamu kurang cepat sehingga Saveetri diambil orang"


Daniel diam saja, ia tidak menyangka Radian memperhatikan kisah masa lalunya


“Baiklah pak, saya anggap ini tantangan buat saya!”


“Bagus Niel, oh iya..karena hanya kamu yang sudah lama tahu tentang aku, kalau tidak sibuk dengan proyek proposal kamu tetap jadi asisten ku ya?”


“Hmm...baiklah pak!” Daniel tidak keberatan dengan hal tersebut karena dengan menjadi asisten Radian dia akan tetap berada dekat dengan Rita.


Sepulang dari gunung dan mengetahui dari Radian kalau Rita telah selamat Daniel sangat lega. Doanya terjawab. Ia pernah berdoa ketika terjebak di gunung untuk keselamatan dirinya dan Rita. Ia juga berjanji pada dirinya sendiri jika ia dan Rita selamat dari gunung maka ia akan manjadi seorang mualaf. Sejak itu ia mulai serius mempelajari agama Islam.


“Niel!” Radian memanggilnya ke ruangannya


“Ya Pak?


“Mulai sekarang Rita tidak lagi bekerja di sini” ujar Radian


“Eh kenapa pak?” tanya Daniel


“Om Darmawan melarangnya, ia tahu aku yang mengajaknya ke gunung. Aku dihukum untuk menjadi sponsor pertandingan keluarga Sugiyono-Darmawan”


“Sponsor? Maksudnya?”


“Keluarga Sugiyono memiliki tradisi memperlombakan cucu-cucunya, nah tahun ini perlombaannya diadakan di Auckland. Sepertinya pak Sugiyono menghampiri Rita. Ia ingin memperkenalkan Rita pada calon tunangannya”


“Eh? Perlombaan itu seperti apa pak?”


“Aku juga gak tahu, sepertinya ada bela dirinya karena Rita menjadi juaranya tahun lalu”


Daniel begitu khawatir tentang perjodohan itu, ia tidak bisa tidur semalaman.

__ADS_1


“Ah, sudahlah gak bisa ketemu lagi di kantor, sekarang dia harus bertemu dengan calon tunangannya” gerutu Daniel. Ia makin gelisah, takut Rita tertarik pada calon tunangannya. Karena tidak bisa tidur, akhirnya Daniel memutuskan mempelajari contoh proyek proposal yang akan ia tangani. Ia begitu serius sampai tidak sadar kalau hari berganti pagi. Saat jam makan siang ia tidak makan di kantin, tapi di ruangan yang dulu ditempati Rita. Sambil makan ia mempelajari proposal proyek sampai tak terasa tidur di ruangan itu.


“Pak Daniel!” tegur Victor sekretaris pak Radian


“Huh? Ah?” Daniel kaget karena ia tertidur di atas meja dengan kerta proposal sebagai bantalnya


“Ada apa Vic?”


“Sudah waktunya pulang pak!”


“Oh ya? terima kasih. Aku tidak bisa tidur karena memikirkan proposal ini” ujar Daniel


“Oh iya Pak tadi pak Radian berpesan agar pak Daniel bersiap untuk mempresentasikan proposal proyek ini besok di rapat pimpinan”


“Besok ya? baiklah, terima kasih Vic!” Daniel menguap, lalu membereskan berkas-berkas yang ia bawa termasuk kotak makan siangnya lalu ia pulang ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, ia membuka lemari esnya yang kosong, hanya ada susu dan mentega. Ia memutuskan untuk memesan dari restoran terdekat tak berapa lama.


“Ting tong!”


“Sebentar!” Daniel membuka pintu apartemennya, ia sangat terkejut melihat orang yang mengantar makanan untuknya


“katsudon, ramen dan tteokbokki ya pak?” ujar pengantar itu


“Rita?”


“Eh?”


Daniel mengucek matanya, rupanya pengantar makanan yang seorang perempuan itu dilihatnya seperti Rita.


“Maaf, baiklah terima kasih” ia memberi tip kepada pengantar itu, sehabis makan ia pergi ke tempat laundry koin untuk mencuci pakaiannya. Sebelum memasukan pakaian kotor ke mesin cuci ia memeriksa kantong-kantong bajunya. Ia menemukan earphone hijau milik Rita yang sengaja ia simpan.


“Hmm...baterainya habis” sepulang dari laundry ia mengisi baterai earphone hijau itu, setelah terisi ia menggunakannya untuk mendengarkan lagu sambil menyiapkan proposal proyeknya.


Pukul sepuluh pagi, rapat para petinggi Dar.Co, setelah mendengar beberapa proposal tibalah giliran Daniel, ia memakai earphone hijau itu untuk menjadi penyemangatnya.


“Pak Daniel, giliran Anda!” panggil staf wanita yang mempersilakan Daniel masuk.


“Kalau proyek ini gol, berarti kita berjodoh Rit!” ujar Daniel pada earphone itu sambil memasukan ke tasnya.


Dari beberapa proposal yang dipresentasikan, proposal Daniel adalah salah satu yang disetujui forum, sehingga ia dikirim untuk mengajukan itu ke klien mereka.


“Bagus Niel! Sudah ku kira kamu memang berbakat!”


“Terima kasih pak! Oh iya, kapan pertandingan keluarga Sugiyono itu pak?” tanya Daniel


“Tiga hari lagi, kamu ingin ikut melihatnya Niel?”


“Tentu pak!, saya penasaran dengan pertandingan itu”


“Aku juga, Aku juga mengundang Lucas dan keponakannya. Mereka sangat menantikan pertandingan itu”


Tiga hari kemudian, hari yang ditunggu Daniel. Ia tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Rita. Ia begitu bersemangat ketika menyampaikan proposal proyek pada klien. Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya dan pergi menemui Rita. Setelah tugasnya selesai, ia menghubungi Radian.


“Niel, aku sudah di rumah Om Darmawan, bersama Lucas dan Edward. Kamu langsung kemari saja. Sebentar lagi acaranya dimulai”


“Segera pak!” Daniel berlari memanggil taksi dan pergi ke rumah pak Darmawan. Ia sangat takjub dengan kemegahan rumah yang lebih cocok disebut istana. Ia jadi paham kenapa Radian mengatakan hal ‘yang luar biasa’ padanya.


“Selamat siang!” sapa Daniel


“Selamat Siang, ada yang bisa kami bantu?”


“Saya Daniel, asistennya pak Radian.”


“Oh iya tadi pak Radian sudah berpesan. Silakan Anda naik ke mobil golf itu yang akan mengantarkan Anda ke arena balap” ujar staf rumah itu


Daniel dan staf rumah tangga menaiki mobil golf dan tiba di arena balap yang letaknya cukup jauh dari rumah besar.


Suara sorak sorai terdengar, Daniel heran banyak penonton yang melihat pertandingan itu.


“Penontonnya dari mana?” tanya Daniel pada staf rumah tangga


“Itu para staf yang bekerja di rumah besar pak, juga staf yang dibawa pak Sugiyono dari Jakarta” jawabnya


“Oh!” Daniel mencari tempat duduk Radian dan menemukannya.


“Siang Pak!” sapanya


“Niel! Ingat Edward, Simon dan pak Lucas?”


“Hello!” Daniel menyapa ketiga orang itu dengan ramah


“Daniel! apa kabar??” sapa Simon


“Sudah lama gak ketemu ya?” Lucas menyalami Daniel dengan ramah.


Suara operator mengumumkan peserta pertandingan,


“Rita bertanding Niel!” ujar Radian, ia menunjuk ke papan layar besar. Rita memakai pakaian balapnya, dan melambai pada para penonton yang bersorak-sorai. Daniel tersenyum senang melihat wanita yang telah lama ia rindukan.


“Rita keren banget ya?” ujar Edward kagum


“Dia senang balap juga?” tanya Lucas


“Balap go-kart ini yang pertama baginya” ujar Radian.


Para pendukung Rita berteriak memberinya semangat.


“EH, Daniel? Kenapa pada ngumpul di sini?” batinnya, ia sempat kehilangan konsentrasi hingga terhempas dari gelanggang.


“Sial!!” umpatnya, para staf membantu go kartnya kembali ke track, ia pun melanjutkan pertandingan dan berhasil menempati posisi ketiga.


-Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2