Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 259: Menuju Fitri


__ADS_3

“Sayang, tahun ini Idul Fitri pertama atau kedua untuk kamu?”tanya Rita pada suaminya


“Kalau di Indonesia, ini Idul Fitri pertama ku”


“Oh ya? kamu sudah tiga tahun kan jadi mualaf?”


“Iya, tapi dua tahun yang lalu kan gak di sini, tapi di jalan sudah ramai ya? apa lagi di pasar”


“Di Indonesia, Idul Fitri disebut hari raya karena maknanya yang besar. Kita akan bersilaturahim bertemu para saudara, ngumpul di rumah, makan-makan pokoknya seru deh!” Rita meletakan Rayya di boxnya, ia sudah terlelap


“Kenapa di sini idul Fitri di sebut lebaran?”


“Itu dari bahasa Jawa Kuno, lebaran bisa berarti sudah selesai, kan kita baru saja selesai melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Lebaran juga berarti tertumpah atau lebar, kita melebarkan hati untuk saling bermaafan”


“Oh begitu? “


“Iya, tetapi kita juga menyebut lebaran Idul Adha untuk hari raya qurban. Pokoknya sesuatu yang melibatkan banyak orang dan perayaan kita bisa sebut lebaran”


Daniel mengangguk paham


“Selamat pagi pak Daniel, mba Rita!” sapa Ridwan


“Selamat pagi pak Ridwan!” jawab Rita


“Saya sudah menyiapkan kamar tamu di lantai 2.”


“Oh ya? terima kasih pak Ridwan!”


“Sama-sama mba, saya permisi dulu!”


“Iyaa” jawab Rita


“Siapa yang mau datang?” tanya Daniel heran


“Tante Metha dan keluarganya akan menginap di rumah ini, nenek juga”


“Oh, mereka akan berlebaran di sini?”


“Iya, ini tradisi. Untuk tante disebut mudik atau pulang kampung. Walaupun kampungnya di Cirebon. Tapi beliau bilang hari pertama lebaran dia akan di sini, lebaran kedua ia serta keluarga akan pulang ke Cirebon. Kakek Darmawan juga ikut”


“Mudik?”


“Iya artinya kembali ke udik atau kampung untuk menemui sanak saudara dan kerabat. Tradisi mudik ini populer ditahun 70-an. Biasanya dilakukan oleh orang yang bekerja di kota-kota besar. Mereka memanfaatkan libur lebaran untuk pulang ke desa mereka untuk bertemu keluarganya. Nanti kamu lihat deh di TV orang berbondong-bondong mudik”


“Berarti kalau aku mudik ke Korsel dong?”


“Betul! Atau Kanada juga bisa”


“Iya, tapi gak akan seramai di sini ya? tadi pagi aku lihat beberapa karyawan sudah pergi, katanya mereka cuti seminggu”


“Iya, syukurlah pak Ridwan orang Jakarta asli jadi gak usah mudik”


“Lho bukannya dari Temang...apa tuh?”


“Temanggung? Itu daerah istrinya, tapi katanya orang tua istrinya sudah meninggal, jadi meraka sudah tidak lagi mudik kesana. Pak Ridwan juga hanya cuti lebaran 4 hari”


“Kamu bakal repot dong ditinggal pak Ridwan?”


“Tenang saja, beliau sudah menyiapkan penggantinya, kalau gak salah namanya Anton.”


“Anton gak mudik juga? Atau lebaran?”


“Anton nasrani, jadi dia mudiknya kalau merayakan natal saja”


“Bagaimana dengan para staf dapur? Aku dengar kamu meminta mereka memasak banyak?”


“Di sini ini ada tradisi makanan yang dimakan saat lebaran, seperti ketupat atau lontong sayur labu atau pepaya, opor ayam, sambal goreng kentang hati, nah aku meminta staf dapur membuat itu semua. Selain untuk kita juga untuk para staf di sini”


“Ketupat itu apa?”


“Ketupat itu beras yang dimasak dalam lembaran daun kelapa yang dianyam berbentuk persegi. Nanti dimasaknya dengan cara dikukus, nanti rasanya seperti nasi kepal tapi ini tidak ada isinya”


“kalau lontong aku sudah tahu, kalau opor ayam?”


“Itu ayam dengan bumbu kunyit dan rempah, serta diberi santan”


“Semua serba santan ya? pantas tadi aku lihat banyak kelapa diantar dengan mobil truk kecil”


“memang, butuh santan lumayan banyak. Oh iya juga ada rendang”


“Rendang?”


“Itu makanan khas Sumatra Barat, tapi sudah menjadi masakan umum yang ada pada saat lebaran. Terbuat dari daging sapi yang dimasak sekitar 8 - 9jam, ditambah bumbu rempah dan santan. Tetapi santannya dibiarkan kering hingga meresap ke daging”


“Wah..wah...selain banyak kalori, biaya nya pasti besar. Berapa biaya yang dihabiskan untuk semua hidangan itu?”


“Memang tinggi kalori, nanti makannya sedikit-sedikit saja sekedar mencoba. Hidangannya kan dalam bentuk prasmanan, jadi kita makannya bisa pilih-pilih. Soal biaya memang lumayan menguras kantong tapi ini hidangan setahun sekali biasanya orang ngebela-belain untuk memasak itu semua”


“Aku jadi penasaran. Oh iya, kita juga ke tempatnya kakek Sugiyono?”


“Tentu! Lebaran kedua kita kesana. Kalau kakek Sugi hidangannya lebih banyak. beliau menambahkan menu timur tengah, seperti nasi kebuli, nasi mandhi juga kebab!”


“Nasi kebuli? Itu nasi yang kamu bawa waktu akekahnya Ranna kan?”


“Iya betul!”


“Kenapa kamu gak menambahkan nasi itu di hidangan kita? Aku suka sekali?”


“Kamu mau?”


“Iya!”


“Kalau itu gak usah nunggu lebaran, aku akan minta staf dapur untuk membuatnya hari ini. Untuk kamu berbuka puasa!”


“Alhamdulillah!...oh iya, tadi aku sudah membayar zakat fitrah ke mesjid, juga zakat maal”


“Alhamdulillah, semoga rejeki kita dilancarkan ya?”


“aamiin...oh iya Ranna dan Raffa mana? Kok sepi saja di sini?”


“Kak Andi membawa mereka ke rumah kakek Sugi. Katanya kakek Sugi kangen sama mereka, jadi kak Andi membawa mereka dan para suster kesana”


“kok tumben kamu ijinkan? Apa mereka gak akan rewel?”


“hari ini rumah akan sibuk. Aku akan sibuk mengawasi dapur. Kamu kan menjaga Rayya, jadi aku pikir gak apa-apalah toh nanti sore mereka pulang kemari”


“Bagaimana dengan tante Metha, kapan beliau datang?”


“Kayaknya nanti malam deh, tadi beliau sudah mengabari.”


“Rumah ini bakal ramai ya?”

__ADS_1


“Kenapa? Kamu gak senang? Kalau terlalu ramai kamu diam saja di sini? Toh kamar kita ini paling luas diantara ruangan lainnya di rumah ini. Privasi kamu gak akan terganggu”


“Iya sih, nanti kalau aku merasa kelelahan dengan keramaian, aku akan diam di sini saja bersama Rayya”


“Sekarang aku mau ke dapur dulu ya?”


“Oke!”


Rita meninggalkan suaminya di kamar dan menuju ke dapur. Sementara Daniel, mengambil Rayya dari kamarnya dan meletakan di ranjang mereka. Ia menonton TV untuk mengikuti berita.


“Wah ramai banget ya? ckckckck....”


“Heeee...ehh...hheee” tangis Rayya. Daniel menggendongnya


“ssttt...adek...tuh banyak yang mudik naik motor! Adek mau ikut mudik?” Daniel mengajak putri bungsunya mengobrol. Lalu ia bangun dari ranjang sambil menggendong Rayya


“Kamu bosan ya dek di kamar? Yuk kita keluar!”. Daniel mengambil gendongan baby new born dan meletakkan Rayya di dalamnya.


“Masih jam 4 sore dek, masih lama ke maghrib. Temani papi keliling rumah ya?”, Daniel mengambil sepeda dari garasi. Dengan Rayya di gendongan, ia berkeliling rumah besar, ia bertemu beberapa pekerja yang sedang membersihkan taman.


“Selamat siang pak Daniel? jalan-jalan pak?” tegur beberapa pekerja


“Iya, kalian sibuk sekali ya?” tanya Daniel basa-basi, bahasa Indonesianya sudah lancar


“Lumayan pak”


“Baiklah silakan lanjutkan, saya tinggal ya?”


“Iya pak!” mereka mengangguk dan tersenyum, Daniel melanjutkan bersepeda, selang beberapa waktu ia kelelahan dan beristirahat di bawah pohon rindang . Ia menyenderkan sepedanya, lalu menaiki ayunan yang terpasang di taman itu, Rayya terlelap tidur dalam gendongan Daniel.


Tak lama, bunyi telepon menghentikannya mengayun


“Sayang, kamu di mana?” tanya Rita


“Di taman belakang, ada apa?”


“Aku lupa bilang, kita belum mentransfer THR untuk para staf rumah ya?”


“THR? Apa itu?”


“Itu seperti hadiah atau bonus untuk hari raya. Biasanya berupa uang”


“Berapa besarnya?”


“Besarnya tergantung kebijakan kita, tapi aku sudah mendapatkan pengajuan proposalnya dari pak Ridwan, tadi dia gak enak memintanya langsung”


“berapa jumlah totalnya?”


“Seluruh staf?”


“Iya”


“hmm....200 juta!”


“Rupiah kan?”


“Iya dong!”


“Sebentar!” Daniel membuka m-banking untuk melihat saldo tabungannya


“wah, gaji sudah masuk” ia tersenyum senang melihat jumlah gaji pertamanya dari Lexi. Dengan segera ia melakukan transfer ke rekening istrinya.


“Oke!, eh sayang, aku dan anak-anak juga dapat THR dong!”


“Kamu minta juga?”


“Iyaaa”


“Apa harus?”


“Untuk istri harus, itu di luar uang bulanan ya?” ujar Rita dengan suara manja


Daniel melemah jika mendengar suara manja istrinya, dengan segera ia mentransfer lagi


“Sudah! 50 juta, cukup ya? kalau lebih dari itu, bisa-bisa kita gak makan bulan depan!” ujar Daniel dengan nada setengah serius


“Terima kasih sayang!” Rita menutup teleponnya


“ckckck...gajiku memang naik, tapi pengeluaran juga naik” keluhnya, tak berapa lama notifikasi dari bank masuk ke ponselnya


“Anda menerima 20000 USD untuk royalty dari Frank corp” bunyi notifikasi


“Alhamdulillahhh...ada juga pemasukan” ujarnya lega


Setelah beristirahat, ia kembali ke rumah. Seluruh staf tampak senang, mereka berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Daniel


“Terima kasih pak THRnya semoga bapak sekeluarga sehat-sehat selalu!”


“aamiin!” jawab Daniel, ia tampak senang. Baru kali ini ia merasakan hatinya penuh dengan kebahagiaan. Ia menemui Rita di kamar mereka


“Sayang, kelihatannya kamu sudah membagikan THR ya?”


“Iya!”


“Mereka senang sekali”


“Kok kamu juga kelihatan senang?” tanya Rita heran


“Ternyata berbagi itu asyik juga ya? hati ku rasanya full..gak kosong”


“Memang! Kalau kita berbagi, biasanya Allah memberikan rejeki yang berlipat ganda”


“Aamiin..eh ini Rayya tadi nyenyak sekali tidurnya” Daniel menyerahkan anak bungsu berusia seminggu itu yang telah bangun


“Hai!! Kamu habis pergi kemana?” tanya Rita, Rayya hanya menggerak-gerakan kepalanya


“uhh..kamu bau keringat! Keringat siapa nih?” Rita mencium baju Rayya, Daniel mencium bajunya yang berpeluh


“Hahaha...bau keringat papi!” Daniel jahil ia hendak mengusapkan keringatnya ke baju Rita, paham dengan keisengan suaminya, Rita buru-buru pergi ke kamar Rayya untuk memandikannya, sehingga Daniel gagal melaksanakan maksudnya. Ia membuka kaos atasannya yang berkeringat, dan duduk di teras depan sambil membuka tabletnya. Tubuhnya yang bagus, membuat para staf wanita, bolak-balik melewati teras kamar, tetapi Daniel tidak menyadarinya, ia sibuk dengan tabletnya.


Rita selesai memandikan Rayya, dan menggendongnya , ia melihat kesibukan para staf wanita yang bolak-balik melewati teras kamarnya. Ia merasa curiga, lalu keluar


“Hmm...pantas!” gumamnya yang melihat suaminya bertelanjang dada. Ia segera mengambil handuk dari lemari pakaian


“Sayang! Lap keringat mu dengan handuk ini! Jangan terlalu lama bertelanjang dada, nanti kamu masuk angin!" ujarnya memperingatkan, sambil memberikan handuk ke suaminya


“Iyaa...sebentar lagi”


“Kamu ngapain sih? Bukannya masih cuti?”


“Sebentar, game ini tanggung!” ternyata ia main game di tabletnya, beberapa menit kemudian

__ADS_1


“Yahhh....aku kalah deh” keluhnya


“Sejak kapan main game itu?”


“Ini? Oh ini, game keluaran terbaru perusahaan gamenya Andi. Dia mempromosikannya, aku main sejak kemarin, nanti aku review”


“Boleh saja main game, asal jangan lupa waktu!, apalagi telanjang dada begitu!” ujar Rita dengan nada agak kesal


“Oh ini? Habis gimana aku kan keringatan. Kalau langsung mandi malah masuk angin”


“Tapi kalau mandinya pakai air hangat enggak!” ujar Rita masih kesal, ia cemburu dengan tatapan genit para staf wanita ke suaminya


“Iya, sayaaang jangan kesal terus! aku mandi deh, sebentar lagi buka puasa kan?”


“Iya! Nasi kebuli pesanan mu sudah matang!”


“Beneran? Asyikk!!...aku diberkati hari ini!” Daniel kembali ke kamarnya dengan riang sambil mengalungkan handuk ke lehernya. Rita menggendong Rayya, salah satu tangannya penasaran dengan game yang dimainkan suaminya.


“Kok aku gak di share linknya?” gumamnya, ia meletakan Rayya di kursi lalu membuka tablet suaminya, ia pun mulai memainkan gamenya. Tanpa terasa ia asyik dengan gamenya, begitu asyiknya ia tidak mendengar Rayya terbangun dan menangis kehausan. Daniel telah selesai mandi dan rapi berpakaian, ia mendengar suara tangisan Rayya, lalu menghampirinya


“Ckckck...sayang!! kamu terlalu asyik, sampai gak dengar anaknya nangis” Daniel mengangkat Rayya dari kursi


“Eh iya, wah gamenya seru ya? aku mau minta linknya ah!”


“Jangan deh!, nanti kamu lalai sama tugas kamu!, kasihan anak-anak”


“Assalammu’alaikum...” suara Andi dan anak-anak menghentikan Rita membantah suaminya


“Wa’alaikummussalam!” jawab Rita dan Daniel bersamaan, kedua anak batitanya langsung menomplok ke maminya


“Mami!!!” ujar mereka


“Kalian dari mana?” tanya Daniel


“Dari rumah Eyang Aki!” jawab Ranna


“Ngapain saja di sana?” tanya Rita


“Swimming!!!” Raffa menjawabnya kegirangan


“Mereka jago berenang ya? padahal belum 2 tahun, gue kewalahan dengan kelincahan mereka di air” keluh Andi


“Mereka aku ikutkan les berenang sejak bayi kak, supaya paru-paru mereka berkembang baik” jawab Rita


“Papi, adek taruh!” Ranna mengampiri Daniel, ia minta dipangku papinya.


“Nih mih!” Daniel memberikan Rayya ke Rita


“Sini sama Uwa saja!” pinta Andi


Ranna memeluk papinya seperti sudah lama tidak bertemu, lalu mencium bibirnya


“Papi! I love you!” ujarnya


“EH???” Daniel kaget, ia melihat ke istrinya yang sedang bercanda dengan Raffa


“Papi! I love you!!!” kali ini Ranna setengah berteriak


“I love you too,...kak Ranna!” jawab Daniel tersenyum, ia mengusap kepala anak pertamanya yang tingkahnya tidak bisa ditebak


“Mami...Raffa love mami too” ujar Raffa


“Mereka kenapa sih?” tanya Daniel ke Andi heran


“Tadi mereka bertemu banyak orang di rumah kakek Sugi, mereka asing dengan para tamu kakek”


“Tamu kakek? Siapa kak?” tanya Rita


“Biasa, adiknya kakek. Mereka baru datang, jadi rumah heboh!”


“Kok kak Andi gak nginep di sana?”


“Enggak ah!, lagi pula aku gak gitu kenal dengan mereka. Maaf ya, mereka agak kampungan. Norak banget deh. Mereka kesempatan banget mainin semua fasilitas di rumah kakek!”


“Ya gak apa-apa kak, toh setahun sekali”


“Iya sih, mudah-mudahan Cuma setahun sekali, jangan keseringan” ujar Andi sambil bercanda dengan Rayya


“Memangnya kenapa?” tanya Daniel heran


“Yah, gue cuma merasa nih, mereka datang karena kakek kaya. Coba waktu kakek lagi susah, boro-boro datang”


“Memangnya kakek pernah susah?”


“Pernah!, waktu itu hampir semua aset kakek disita KPK karena dianggap menyuap pejabat. Ada kali beberapa bulan kakek kesusahan.”


“Aku baru dengar, terus yang bantu kakek Sugi siapa?”


“Ya kakek Darmawan lah, ia juga membantu melepaskan tuduhan itu. Wah rame itu!”


“Itu kapan kak?”


“Kapan ya? waktu gue 12 tahun!”


“Kak Andi 12 tahun? Aku di mana?”


“Lo sama ayah Reza dipedalaman. Gue inget tuh, kakek Sugi pernah sampai jatuh sakit karena khawatir sama Lo. selain dia gak punya kuasa atas hartanya, beliau juga kehilangan cucunya. Asli deh gue baru lihat kakek Sugi nangis seperti anak kecil” cerita Andi


Rita trenyuh mendengar cerita kakaknya.


“Sayang, lebaran kedua, kita menginap di rumah kakek Sugi ya?” ujarnya tiba-tiba


“Eh, memang kita akan kesana kan?” jawab Daniel


“iya tapi aku gak berencana menginap, kita menginap saja di sana beberapa hari”


“Kenapa lo? merasa bersalah ya?” tanya Andi


“Habis, sejak dulu aku merasa kakek Sugi itu galak sama aku, jadi aku gak begitu suka tapi ternyata kakek sayang sama aku ya?” Rita terharu, tanpa terasa air matanya menetes


“Mami don’t cry!” ujar Raffa, ia mengucap air mata dari pipi maminya, lalu memeluknya


“Iya deh kita nginap ya?” ujar Daniel melihat reaksi istrinya


Suara adzan terdengar


“Eh sudah adzan!, yuk kita berbuka!” ajak Daniel.


Masing-masing mereka menggendong anak kecil dan pergi ke ruang makan untuk berbuka puasa.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2